
Pagi itu suasana akademi tak seperti biasanya mereka sedang menjadi peserta di pertandingan akhir smester, mereka yang top sepuluh besar akan memperoleh surat rekomendasi dari akdami untuk memasuki lima universitas top. Universitas itu telah menjadi harapan untuk para siswa untuk masuk, namun mereka tidak tahu jika ada yang lebih kuat dibandingkan dengan lima Universitas besar. Bahkan kepala sekolah akan menghormati bahkan jika itu siswa terlemah. Di arena ada seorang siswa berdiri menanti lawannya, kata katanya yang buruk membuat marah satu kelas. Karna lawannya berada di kelas itu dan belum hadir
" peserta nomer 1986 Ardhius, apakah ada ?"
" jika dari hitungan sepuluh belum muncul maka aku akan menganggap kekalahan." lanjut wasit mulai menghitung
siswa murid tiga puluh berwajah jelek dan guru Luo He diam diam mengutuk namun ketika hitungan hampir habis terdengar suara keras tak jauh. Guru Luo He tersenyum senang dan terlihat kegembiraan di sorot mata Tiang Yang
" Ardhius..."
Bang...bang...bang
Mereka di kejutkan dengan suara berdebum, nampak seorang remaja menaiki srigala android berlari dengan cepat, ketika hampir sampai arena di melompat, dia masih menggunakan baju kamuflase perang membuat beberapa penonton bertanya tanya. Bahkan dia. Memiliki aura yang kuat matanya tegas dan penuh misteri, mereka yang tak mengenalnya pasti akan mengatakan omong kosong jika Ardhius adalah sampah
" lihat itu...itu Ardhius dia datang " beberapa siswa kelas tiga puluh berteriak kegirangam
Ardhius merupakan idola bagi kelas bawah, dia adalah terbawah yang mengalahkan Chu Tian, sebagai guru di kelasnya dirinya juga mendapati Ardhius adalah sosok yang berbahaya ini bukan membuatnya takut melainkan senang.
Di arena pertempuran masih terjadi golok emas terus menyerang dan Ardhius dengan mudah menghindar.
" keluarkan serangan terkuatmu jika tak ingin kalah dengan mudah " kata Ardhius datar
Kata katanya membuatnya marah namun dia masih berpikir jernih dan melakukan serangan terkuatnya. Dirinya tahu Ardhius tidak meremehkannya setelah dirinya melawannya, namun dia mengatakannya di depan umum setelah dirinya berteriak menghina Ardhis tadi
" Waterfall Storm..." teriaknya
Beberapa siswa yang pernah melawan nampak kegirangan skill itu banyak membantunya melawan musuh musuhnya kemenangan sudah di pastikan, banyak bilah bermunculan menyerang Ardhius yang diam
" cepat menghindar " teriak Tian Yang melihat Ardhius hanya diam
Bahkan sang penyerang Xi Chu mengerutkan dahi melihat Ardhius hanya diam. Papapapa
__ADS_1
jubah dan kotak di belakang punggungnya hancur memperlihatkan sesuatu dan dengan cepat menyerang. Saking cepatnya hanya memperlihatkan bayangan, Ardhius diam hanya memandangi
Xi Chu terdiam dirinya tak menyangka begitu Ardhius menyerang dia tak bisa berbuat apa apa, terlihat di wajahnya yang syok dengan apa yang terjadi. Dia melihat senjata yang di pegang Ardhius,
" Aku...kalah." katanya
Pengakuannya membuat yang menonton menjadi heboh bahkan wasit yang mengawasi mengerutkan kening, dia tak mau mengakui jika serangan Ardhius juga tidak dapat melihatnya. Xi Chu tak mendengarkan cemoohan yang di dengarnya namun ketika seseorang yang lebih lemah juga menyemoohnya dia menghentikan langkahnya melihat kelompok itu
" apakah sebencinya kamu kepadaku hingga mengharapkan kematianku. "
Mendengar yang di katakannya semuanya terdiam dia memperlihatkan tanda silang di lehernya
" jika seperti itu kenapa tidak melakukan pertaruhan hidup mati denganku, kalian semua dengan aku yang sendiri " katanya menunjuk dirinya dengan pasti
Kelompok itu diam pura pura tidak dengar dan melihat ke arah lain
" berapa persen kekuatan yang kamu gunakan Ardhius..."
mereka kembali heboh dan mengannggap yang di katakannya hanya sebuah omong kosong.
" Ardhius bertambah kuat..." guman Tian Yang
Kini mereka tahu yang di dalam kotak adalah tombak merah kehitam hitaman membuat merinding bagi mereka memiliki mental yang lemah. Akhirnya wasit pun mengumumkan kemenangannya, tuan Yu melihat Ardhius terkejut walau hanya sekilas. Dia tersenyum senyum,
" Lihat tuan Yu murid Lu Chao naik ke arena " kata kepala sekolah Guo menunjuk dengan semangat
yang tak tahu jika orang yang dihormaatinya sedang melihat Ardhius, membuatnya mengerutkan kening. Dirinya tahu jika kepala sekolah Guo sedang menyedotnya namun dia juga seharusnya melihat kondisi
Ardhius kembali ke teman kelas tiga puluh dirinya disambut dengan antusias, entah pelatihan apa yang telah di alaminya namun nampaknya sesuatu yang berbahaya dan dia berpikir untuk berteri makasih pada keluar Chu. Dirinya pasti akan membalasnya namun untuk saat ini dia akan menjalani apa yang di depannya
" Benda apa ini ? " Tanya Tian Yang membuyarkan lamunannya
__ADS_1
Yang lain banyak yang melihat srigala android mata mereka bersinar kagum dan membayangkan untuk memiliki satu
" hanya mekanik untuk alat transportasi " kata Ardhius singkat sambil tersenyum
mungkin diantara mereka tak menginginkannya hanya terkesan namun tidak dengan orang lain itu hanya membawa kerugian bagi mereka jika mengetahui jika benda itu terkenal kuat di jamannya dan memiliki har jual yang tinggi bagi orang orang kolektor
" aku belum pernah melihat benda seperti ini sebelumnya..." Tian Yang menggeleng dan tidak terlalu peduli lagi
Tentu saja dia tak tahu tak banyak buku yeng menceritakan tentang zaman mecha, jadi banyak siswa tidak tahu. Masih ada pertandingan untuknya dan Ardhius mengistirahatkan tubuhnya duduk bersandar pada pohon dan tertidur dengan pulas, di bawah pohon yang rindang. Dia tak sadar namanya di pangging, temannya pun menghampiri mengatakan kali ini namanya di panggil. Dengan wajah yang canggung di bangun. Karna lawan lawannya lemah dia pun memasuki jajaran peringkat lima puluh besar. Banyak diantara mereka beranggapan Ardhius mendapat lawan lawan mudah.
" Dia benar benar beruntung..." gumam salah seorang murid
Di salah satu tempat duduk tribun seorang pria paruh baya meremas pegangan kursi dia tak menyangka jika Ardhius dapat selamat dari tugas pembersihan. Dialah pemimpin yang menyuruh agar Ardhius melakukan misi pembersihan di garda depan bersama militer, keluarganya merupakan bawahan dari keluarga Chu karnanya ketika melihat kesempatan untuk menjilat jeluarga Chu dia tak melepaskan begitu saja.
Dia tak menyangka Ardhius dapat bertahan di tempat itu bahkan menjadi lebih kuat,
" bagaimanapun dia harus mati atau tuan Chu Mubai akan memberikan hukuman mati padaku " gumannya
Dia berwajah jelek mendengar kemenangan seorang siswa yang di bencinya berturut turut dan dia pun memutuskan untuk memanipulasi hasilnya, di jelompok siswa kelas tiga puluh kegirangan dengan kemengan remaja yang perlahan turun dari arena
" Ardhius kembali menang..."
" namun sayang aku hanya memenangkan satu pertandingan. " lanjut Tian Yang sambil mendesah pelan
" Selamat, kita kan memasuki final besok " guru Luo He senang
Dari puluhan ribu siswa hanya seratus besar yang dinyatakan lulus memasuki babak final, dan di kelas mereka ada siswa yang bepartisipasi besok. Ardhius yang menyadari dirinya di lihat seseorang, dia menoleh arah firasatnya disana seorang remaja memandanginya dingin dan wajahnya berubah jelek ketika dia tahu apa yang dikatakan Ardhius dengan senyum menyeringai
" Lihat lihat, pertamdingan besok telah diputuskan " kata Tian Yang
Mereka melohat ke proyeksi 3D di tengah, di daftar acak itu apan dapat terjadi bahkan lemah bertemu dengan kuat juga terjadi. Tian Yang tertawa melihat lawan Ardhius yang merupakan senior walaupun kekuatan mereka di Shohisya menengah namun mereka memiliki pengalaman tempur yang tinggi, tentu tak mudah untuknya mengalahkan mereka
__ADS_1
Ardhius kembali ke asramanya untuk beristirahat namun dia ingat jika memiliki poin untuk memutar roulet kotak hadiah