
Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu kamar rawat Azizah terbuka.
"Ceklek..!
Terlihat Bu Nur dengan deraian air mata berhambur ke arah putri semata wayangnya. Yang kini terbaring lemas tak berdaya.
Memeluk Azizah dalam isak tangisnya. Hati seorang ibu yang mana tidak hancur, saat putri semata wayangnya. Harus terbaring lemah dan tak berdaya.
" Hiks... hiks.. " Tangisnya semakin pecah saat ia mengecup kening putrinya.
"Bangun nduk. Umi mohon, cepatlah sadar nduk.. " Lirih pelan Umi di telinga Azizah.
Begitu pun dengan Abi. Matanya berkaca sambil mengelus kepala putrinya.
Abi tak mengeluarkan sepatah kata pun, Beliau hanya terlihat tertegun dalam kesedihannya.
Mama pun menatap Azizah dengan sendu. Hilang sudah rasanya kebahagian dalam dua keluarga itu. Hanya ada harapan akan adanya suatu mukjizat untuk putri mereka.
"Bu Nur... " Ucap Mama Ratih pelan sambil mengusap punggung Umi Azizah.
"Sabar ya Bu Nur. Kita semua akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Azizah. " Sambung Mama Ratih dengan suara kesedihannya.
Bu Nur hanya menganggukkan kepalanya dan masih tetap menangis.
Saat dalam kesunyian, tiba-tiba Papa Jaya membuka pintu.
Ceklek.. !
Papa Jaya berjalan menuju Pak Hasim yang terduduk di sofa. Wajah orang tua itu tergurat kesedihan.
Papa Jaya tak pun memilih diam, karena beliau juga masih dalam keadaan yang sama. Cemas dan khawatir memenuhi hati dan pikiran ke empat orang tua tersebut.
Selang beberapa menit. Seorang perawat datang dan memberi tahu, jika Al sudah sadar.
Mendengar nya Mama dan Papa Jaya, secepatnya menuju ke ruangan Al.
"Bu Nur, kami lihat kondisi Al dulu ya. Nanti saya akan kembali ke sini. " Ucap Mama Ratih
__ADS_1
"Iya Bu Ratih. "
"Maafkan kami Bu Nur.. " Lirih Mama Ratih.
"Tidak Bu Ratih, ini semua sudah kehendak yang kuasa. Yang terbaik sekarang bukan saling menyalahkan. Tapi kita saling berdoa untuk kesehatan Al dan Azizah agar secepatnya sadar. " Ucap Bu Nur, sambil menyeka air matanya.
"Iya Bu Nur. "
Selepas itu Mama ke ruangan Al. Terlihat dokter Ken masih di dalam untuk memeriksa keadaan Al.
Saat dokter keluar.
"Bagaimana Dok..? " Tanya Mama Ratih.
"Alhamdulillah Bu. Tuan Al sudah siuman. Ibu bisa menengoknya."
"Iya dok terima kasih dok. "
"Iya Bu. Kalau begitu saya tinggal dulu. "
___
Al pun menatap ke arah Mama. Belum Mama berbicara, Al sudah mengajukan pertanyaan.
"Ma. Bagaimana kondisi Azizah. Dimana dia Ma..? " Suara Al terdengar lemah.
"A-Azizah.. baik-baik saja Sayang. Iya dia juga sudah membaik. " Suara Mama terbata. Mama merasa gugup, apa yang harus ia katakan. Jika ia bilang kondisi Azizah yang sedang Koma. Mama takut jika Al syok mendengarnya.
"Ma, Mama jangan berbohong. Al faham dengan Mama. Mama menyembunyikan sesuatu dari Al. Azizah istri Al Ma. Al bisa merasakan jika Azizah sedang tidak baik-baik. " Ucap Al, yang tak percaya dengan apa yang di katakan Mamanya.
"Bawah Azizah ke sini. Jika memang dia baik-baik saja. Atau Al sendiri yang menemuinya. " Suara Al sedikit mengeras. Karena kekhawatirannya pada Azizah jauh lebih besar, dari pada dirinya sendiri.
"Al.. Al.. sabar Sayang. Jangan banyak gerak. " Mama Ratih mencoba membujuk Al.
"Kalau begitu aku mohon Ma. Bawah Azizah ke sini. " Al terdengar sedikit memelas pada Mamanya.
"Ok. Mama akan antar kamu menemui istrimu. Tapi Mama mohon, kamu harus kuat demi istrimu. " Ucap Mama.
__ADS_1
"Kuat...? Memang Azizah kenapa Ma... ! " Al pun semakin tak terkendalikan. Emosionalnya semakin memenuhi jiwanya.
"Sayang. Dengarkan Mama dulu. Mama mohon Al. "
"Apa Ma...?! Al mohon Ma. Katakan.. ! bawah Al menemui istri Al Ma..! " Al berusaha bangun dan turun dengan memaksa, dengan kepalanya yang terasa berat. Akhirnya ia ambruk di lantai. Untuk Papa sigap menangkap tubuh Al.
"Al. Jangan seperti ini. ! " Ujar Papa sambil membopongnya kembali ke ranjang.
"Azizah Pa... " Al terlihat meneteskan air matanya.
"Ma, ambilkan kursi roda. " Titah Papa Jaya ke Mama ratih. " Biarkan Al menemui istrinya. " Sambung Papa Jaya.
Mama Ratih pun menurut mengambilkan kursi roda dan membantu Papa Jaya, untuk mendudukkan Al di kursi roda.
"Biar Papa bantu kamu menemui istrimu. " Ucap Papa Jaya. Dan kemudian mengantar Al keruangan Azizah.
___
Saat pintu terbuka, netra Al mencari keberadaan istrinya. Matanya menangkap sosok yang sangat ia cemaskan, sedang terbaring tak berdaya, dengan beraneka alat medis yang menempel di tubuhnya.
Seketika tangis Al pecah saat mulai mendekati jiwa yang sangat ia cintai itu. Melihat orang yang begitu ia sayangi, dalam keadaan tak sadar dan lemah.
"Sayang... "
Ia memegang tangan istrinya dan menciumi punggung istrinya.
"Maafkan aku Sayang. Maafkan aku... " Ia tak dapat menahan kesedihannya. Tidak peduli di depan siapapun saat ini. Ia meluapkan air mata kesedihannya. Ia pun tak dapat berbicara apa pun . Ia menciumi wajah istrinya yang terlihat pucat tak berdaya. Hingga air matanya pun jatuh menetes di punggung tangan Azizah.
"Aku mohon Sayang. Kamu harus bangun. Aku mohon Azizah. Kamu harua kuat. Demi aku dan jagoan kita... Aku mohon Azizah. Maafkan Aku... " Ia meletakkan kepalanya di punggung tangan istrinya. Ia terus berucap Nama Azizah dan mencium tangan istrinya.
Melihat kondisi Al dan Azizah Mama Ratih dan Bu Nur pun ikut menangis.
Mama Ratih mendekati putranya dan mengelus punggung putranya.
"Ma, Azizah Ma... Maafkan Al Umi. Maafkan Al Ma.. Al gak bisa jaga Azizah. Al ceroboh Ma. Al ceroboh. " Ia terlihat frustasi dalam kesedihan nya.
"Jangan menyalahkan dirimu nak Al. Ini sudah kehendak Allah. Bukan kesalahan siapa-siapa.. " Ucap Umi sambil mengusap punggul Al.
__ADS_1
"Kita harus sabar dan tabah menghadapi ini. Kita memohon agar Allah secepatnya menyadarkan kembali Azizah. " Sambung Umi.
"Maaf kan Al Umi.. Al gagal jadi suami yang baik. Al tidak bisa menjaga istri Al dengan baik. Maafkan aku Sayang. " Ia kembali mengalihkan pandangannya pada istrinya.