Pengagum Rahasia Bidadari Pesantren

Pengagum Rahasia Bidadari Pesantren
Jiwa yang Bangkit


__ADS_3

"Mas aku mau minum.. " Ucap Azizah.


"Sebentar aku ambilkan ya.. "


Tangan Al membantu Azizah untuk meminum air putih dari gelas.


"Em.. sudah Mas... "


Al pun mengambil tisu dan mengelap bibir istrinya.


"Istirahat lagi Sayang. " Ucap Al sambil membenarkan posisi tidur Azizah.


"Iya Mas. "


Al terlihat masih tak mau melepaskan genggaman tangan istrinya. Jika teringat kejadian yang kemarin. Rasanya sangat trauma bagi Al. Dan apa jadinya dirinya jika sampai dirinya kehilangan Azizah.


"Mas, terlihat kurusan. " Ucap Azizah sambil meneliti perubahan badan suaminya.


Memang semenjak kecelakaan itu Al tak pernah memikirkan dirinya. Dia juga jarang makan dan tidur. Hingga tubuhnya terlihat sedikit kurusan.


"Enggak kok Sayang. Masih seperti kemarin. " Jawab Al.


"Mas, maafin aku ya. Jika membuatmu khawatir. " tutur Azizah.


Al kemudian meletakkan jarinya di bibir istrinya. Bermaksud untuk menghentikan pembicaraan istrinya.


"Jangan berbicara seperti itu sayang. Sudah aku bilang, jangan meminta maaf. Tidak ada yang salah. Malahan sebenarnya, aku yang bersalah. Aku yang ceroboh, jika bukan karena kecerobohan ku, ini semua tidak akan terjadi. " Jawab Al.


Al kembali menyesali kesalahannya.


"Gak Mas.. Jangan menyalakan diri Mas. " Azizah memegang pipi Al dan tersenyum pada Al.


"Ana Uhibbu ilaik Sayang. " Ucap Al kemudian mengecup kening istrinya.


Mendengar ucapan Al dengan bahasa Arab membuat Azizah terkekeh. Ia merasa gemas melihat ucapan suaminya.


"Belajar dari mana...? " Ucap Azizah sambil tersenyum.


"Salah ya Sayang.? " Al menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal. Hanya karena malu karena istrinya terlihat menahan tawa.


"Mas.. Umi ada di luar. Azizah ingin ketemu umi... " Lirihnya pelan.


"Em.Sebentar ya Sayang. Mas lihat dulu. " Ucap Al pelan sambil beranjak dari duduknya.


Al pun berjalan keluar, membuka pintu. Di sana sudah nampak semua orang menunggu mereka.


"Bagaimana Nak Al Azizah...? " Pertanyaan Umi penuh harap sambil beranjak dari kursinya dan menghampiri menantunya.

__ADS_1


"Alhamdulillah Umi. Azizah sudah siuman . Dan malahan sekarang dia ingin ketemu sama Umi. " Ucap Al dengan mata berbinar penuh kebahagiaan.


"Iya Nak Al. " Lalu Umi bersujud syukur, atas kesembuhan dari putri semata wayangnya.


"Alhamdulillah ya Allah. Kau sudah memberi kami pertolongan. " Umi menyeka air matanya yang meniti karena bahagia.


"Abi.Umi yang masuk duluan ya.? Umi sudah sangat rindu dengan senyuman putri kita Abi. " Sambung Umi. sambil menoleh ke Abi.


Abi pun mengiyakan langkah Umi.


Umi membuka pintu dengan pelan. Azizah nampak menatap ke arah pintu yang terbuka. Terlihat olehnya Uminya yang masuk dan menghampirinya.


"Nduk.. Bagaimana keadaanmu nak.. Apanya yang masih sakit nduk..? " Tanya Umi sambil mengelus kepala putrinya.


Azizah menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada Umi. Cuma tinggal pusing sedikit saja. " Ucapnya pelan.


"Umi sangat khawatir nduk. Umi takut sekali. " Air mata Umi pun tak dapat di tahan.


Azizah pun memegang tangan Uminya.


"Umi jangan takut lagi. Zizah sudah sembuh. Zizah tidak akan meninggalkan Umi sama Abi. " Azizah menghapus air mata Uminya.


"Iya nduk.. " Umi kemudian mengecup kening putrinya dengan lembut.


"Nanti saja Umi. Azizah rasanya belum lapar. " Jawab Azizah dengan senyum.


______


Beberapa hari kondisi Azizah semakin membaik. Namun Al memang sengaja tidak mau meninggalkannya.


"Mas. Hari ini Mas masuk kerja ya. Aku sudah gak papa. Nanti biar Umi yang jagain aku. " Ucap Azizah yang duduk di ranjang pasien.


"Gak Sayang. Sebelum kamu boleh pulang. Aku akan tetep di sini di setiap waktu. Menemanimu. " Jawab Al sambil menganti bunga di Vas meja pasien.


"Kamu suka kan sayang bunga ini. " Sambung Al sambil menunjuk Vas bunga yang berisi bunga yang baru saja ia beli.


Azizah pun mengangguk.


"Iya aku suka banget sama bunganya. Tapi Mas harus ke kantor ya. Aku sudah gak papa Mas. " Bujuk Azizah meyakinkan Al.


"Enggak. Kalau enggak ya gak. Sudah diam di situ. Ok.. Aku punya sesuatu buat kamu. " Ucap Al sambil membuka paper bag yang ia bawa tadi pagi.


Al terlihat mengeluarkan sebatang coklat .


"Ini Sayang. Aku tadi beliin kamu coklat kesukaan kamu. " Sambil mengulurkan coklat yang sudah ia buka.

__ADS_1


"Mas, tapi nanti kalau ketahuan perawat bisa di marahi . Kalau makan makanan dari luar. Apa lagi coklat. " Ucap Azizah ragu menerimanya.


"Enggak Sayang. Gak bakal ketahuan. Tenang saja. Kamu makan saja. Biar mas yang jaga di sini. " Ucap Al sambil duduk di samping istrinya.


"Em. gitu yaa. Gak papa ya aku makan.? " Tanya lagi Azizah.


"Iya Sayang. "


Azizah memakannya perlahan. Dan Al memandang wajah istrinya dengan penuh bahagia. Jika teringat kejadian kemarin, rasanya ini sudah tak kan terjadi.


Tiba-tiba tangan Al mengusap bibir Azizah yang sedikit comot terkena coklatnya.


Azizah terdiam dan memerah pipinya. Saat Al semakin mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Mungkin Al saking rindunya, hingga ia lupa bahwa ini rumah sakit. Dak dik duk jantung Azizah yang merasakan nafas suaminya sudah menerobos ke wajahnya. Hampir saja tidak ada jarak. Kemudian..


Ceklek..!


Suara pintu terbuka, ternyata Kak Sonya datang menjenguk Azizah. Melihat pemandangan di depannya. Kak Sonya merasa telah menganggu mereka dan merasa malu sendiri. Dan dengan nada kikuk kak Sonya menyapa Azizah.


"He.hem.. Apakah Kakak datang di waktu yang salah. " Suara kak Sonya sedikit menggoda mereka.


Melihat Kakaknya datang Al dan Azizah tergelagap membenarkan posisi mereka.


Al spontan berdiri.


"Enggak Kak. Gak Kok.. " Ucap Al. Mukanya sudah ikut merah padam. Begitu juga dengan Azizah. Wajahnya terlihat malu dan memerah sekali.


"Maaf ya. Kakak sudah ganggu kalian. " Kakak sambil sedikit terkekeh.


"Gak Kak. Kita gak ngapa-ngapain kok." Jawab Azizah dengan salah tingkah.


Kak Sonya kemudian berjalan menghampiri Azizah. Kakak bawah kan buah-buahan segar nih dik. " Ucap Kak Sonya sambil meletakkan satu ranjang yang penuh aneka buah.


"Em. Makasih ya Kak.. " Senyum Azizah.


"Gimana sekarang kondisimu..? " Tanya kembali kak Sonya.


"Alhamdulillah kak. Semakin baik. " Jawab Azizah.


Namun saat matanya menatap ke arah perut kak Sonya, yang terlihat semakin membesar. Ia menunduk dan memegang perutnya sendiri. Rasa kehilangan calon bayinya kembali hadir di pikirannya. Melihat perubahan wajah istrinya. Al mendekat.


"Sayang.Kamu gak papa..? " Al masih takut, takut jika Azizah kembali syok dengan keadaannya.


"Dik.. " Kak Sonya memegang bahunya.


"Ah iya, Kak aku gak papa kok. " Ia berusaha menutupi kesedihannya.


Azizah tak ingin terlalu memikirkannya, ia sudah berjanji pada dirinya. Ia harus secepatnya sehat dan kembali mengikuti progam ibu hamil.

__ADS_1


Memang saat mengingatnya. Rasanya sangat perih. Jika harus menerima kenyataan, harus kehilangan calon bayinya. Namun, bagaimana juga ini sudah kehendak Allah. Yang harus ia terima dengan Ikhlas. Dan yang harus ia lakukan selanjutnya adalah secepatnya ikhtiar dan memohon pertolongan dari Allah. Agar secepatnya ia kembali bisa mengandung.


__ADS_2