Pengagum Rahasia Bidadari Pesantren

Pengagum Rahasia Bidadari Pesantren
Rasa sakit ini


__ADS_3

Hari berlalu, minggu pun berganti bulan. Perut Azizah pun sudah mulai terlihat membuncit. Ia terlihat duduk di balkon kamarnya. Semilir angin, membelai wajahnya pelan. Di tangannya ada sebuah mushaf kecil.


Al pun terlihat berjalan ke arahnya, kemudian duduk di sampingnya.


Melihat Al duduk di sampingnya, ia mengakhiri bacaan Qur'annya dan kemudian menutupnya.


"Mas Al sudah sholat dhuhur..? " Tanya nya seraya meletakkan mushaf nya di atas meja sampingnya.


"Sudah sayang. " Jawab Al. " Gimana nih jagoan Ayah...? " Al mengelus perut istrinya lalu menciumnya dengan kasih sayang.


Azizah pun tersenyum,


"Kamu gak jenuh Sayang..? " Al kembali bertanya, karena semenjak Azizah mengandung. Ia tidak pernah keluar dari rumah. Hanya balkon dan mungkin menonton tv, itu saja kegiatannya sehari-hari.


"Enggak Mas.. Demi buah hatiku Mas, tak ada kata jenuh atau apapun. Semuanya aku ikhlas untuk ke baik kan buah hatiku. " Ia pun mengelus lembut perutnya.


"Mas, aku mau buah dong." Rengek nya manja di pundak Al.


"Buah apa Sayang, biar mas ambilkan. "


"Eum.. Apel saja mas. Tapi yang manis ya. "


"Iya Sayang. " Al pun beranjak ke bawah mengambilkan buah untuk istri tercintanya.


____


"Ada apa den..? " Tanya bi Ijah.


"Ini bi, istriku minta di ambilkan buah.. " Jawab Al seraya membuka kulkas.


"Mau bibi kupasin den. " Saat melihat Al memegang apel di tangannya.


"Gak bi, biar Al kupas sendiri. "


"Oh iya. Ini den, pisaunya . " seraya mengulurkan pisau buah pada Al.


"Iya bi. Makasih bi. "


Al pun kembali ke kamar Dan Azizah masih setia menunggu Al di tempat duduknya.


"Lama ya nunggunya.? " Tanya Al seraya duduk di samping istri tercintanya.

__ADS_1


"Eum.. "


"Ini Sayang. " Al mengulurkan apel yang sudah ia kupas bersih.


"Gimana, manis apelnya.? " Sambung Al, sambil meneruskan mengupas apel di tangannya.


"He.em manis mas .. " sambil memasukkan apel di ke dalam mulutnya.


"Besok ada jadwal sama dokter Riska Mas.. " sambung Azizah .


"Iya sayang. Dokter Riska juga sudah mengabari mas kemarin. " Seraya mengulurkan apel ke pada Azizah.


"Kamu baik-baik saja kan Sayang.? " Wajah Al tergurat kecemasan.


"Tentu mas, aku baik-baik saja. "


Al pun berdiri dan berjalan tepat di depan istrinya. Ia lalu berjongkok.


"Terima kasih Sayang. " Ia mencium perut Azizah , lalu menatap ke arah wajah sang istri yang nampak sendu.


Azizah pun menganggukkan kepalanya dan membelai rambut suaminya yang masih menempelkan kepalanya di perut Azizah.


***


Pagi pun tiba dengan surya ceria, Al bersiap menuju kantor.


"Sayang, aku tadi sudah bilang sama Mama, kalau dokter Riska mau ke sini. " Ucap Al seraya memakai sepatunya .


"Iya Mas," Azizah duduk di depan cerminnya sedang menata kerudungnya.


"Kita sarapan dulu sayang .. " Ajak Al seraya menenteng tas kantornya.


Azizah menatap lekat pada lelaki, yang sudah hampir 3 tahun ini menikahinya. Ia tak pernah menduga sama sekali. Jika laki-laki yang menikahinya atas dasar perjodohan ini. Begitu sangat mencintainya, ia tersenyum dan beranjak berdiri berjalan di belakang suaminya.


Berlahan keduanya menuruni anak tangga, nampak Mama dan Papa sudah duduk di depan meja makan.


"Pagi Ma, Pa... " Sapa Azizah dengan lembut.


"Pagi Sayang... " Ucap Mama sumringah menatap menantu kesayangannya.


Al dan Azizah pun duduk bergabung dan sarapan bersama.

__ADS_1


"Jam berapa dokter Riska mau kesini Sayang. ? " Tanya Mama.


"Jam 9 Ma katanya... "


Sedikit ada rasa sembelit di perutnya. Wajah Azizah seketika terlihat masam.


"Sayang,, kamu gak papa..? " Tanya Al yang merasa ada perubahan pada wajah Azizah.


"Enggak mas. Aku gak papa kok.. " Azizah berusaha menutupi rasa sakit yang semakin menjalar ke bagian belakang punggungnya.


"Sayang, ada yang sakit..? " Mama Ratih pun bertanya.


"Enggak Ma.. Aku baik-baik saja kok.. " Ia berusaha menstabilkan keadaannya.


"Beneran sayang.. " Tanya Al kembali seraya memandang wajah sang istri dengan cemas.


Azizah menganggukkan wajahnya.


Sarapan selesai, Al dan Papa pun berangkat ke kantor.


"Sayang, Mama mau keluar sebentar saja gak lama. Gak papa kan Mama tinggal..? "


"Iya Ma, gak papa. Ada bik Ijah yang jagain aku Ma.. "


"Iya Sayang."


Mama Ratih juga berpergian. Kemudian Azizah berjalan ke arah ruang tengah Rasa sakit itu sedikit mereda, ia merebahkan punggungnya di sofa ruang tengah. Ia ambil remote tv dan menyalahkannya.


Namun, tak dapat di tahan. Rasa sakit itu tiba-tiba datang kembali dan lebih terasa. Wajah nya terlihat berusaha menahan. Ia tak ingin membuat orang rumah panik di usia kandungannya yang masih berjalan 7 bulan .


Ia terlihat memegangi punggungnya. Melihat keadaan Azizah, bik Ijah yang berjalan di depannya langsung mendekati nya.


"Non... Non ada yang sakit..? " Tanya bik Ijah cemas.


"Iya bi sedikit... " Azizah sudah tak bisa menutupi rasa sakit ini.


"Saya telefon kan Den Al ya.. " Tawar bik Ijah.


"Enggak bi. gak usah . Bentar lagi dokter Riska juga kesini kok.. " Elak Azizah.


"Beneran non gak usah di telefon kan den Al..? "

__ADS_1


"Iya bi, "


____________


__ADS_2