Pengagum Rahasia Bidadari Pesantren

Pengagum Rahasia Bidadari Pesantren
Memadu Cinta


__ADS_3

Akhirnya hari ini Azizah sudah di bolehkan untuk pulang. Setelah di cek seluruh kondisinya. Maka Dokter Ken mengizinkan pulang. Hanya saja masih harus melakukan kontrol rutin.


Al terlihat mengemas semua barang istrinya. Sedang Azizah, duduk di ranjang pasien. Tengah membenarkan jilbabnya. Al juga menyiapkan kursi roda.


"Mas aku jalan saja. Gak usah pakai kursi roda. Toh juga badanku sudah enak. Kepalaku gak pusing lagi. " jelas Azizah yang tak mau naik kursi roda.


"Tapi Sayang.. "


"Enggak Mas. Aku jalan saja ya.. " pintanya .


" Ya sudah kalau gitu. Tapi kita tunggu Mama sama Papa dulu. Lagi ngurus semua adminitrasi. " Jawab Al sambil mengembalikan kursi roda di sudut ruangan.


"Akhirnya aku boleh pulang juga. " Ucap Azizah sambil menurunkan kakinya dari ranjang.


"Bosan ya..? " Jawab Al dan menghampiri istrinya untuk membantu Azizah turun.


"Iya Mas. Jenuh ada di dalam terus. " Ucapnya lega .


Ceklek...!


Suara pintu terbuka. Terlihat Umi dan Mama . Umi pun ikut menjemput kepulangan putrinya.


"Gimana nduk. Sudah sehat beneran kok maksa pulang.? " Tanya Umi sambil menghampiri Azizah.


"Sudah Umi. Azizah sudah sembuh kok.. " Jawabnya dengan meyakinkan semua keluarga.


"Ya sudah ayo. Papa sudah menyiapkan mobil di depan. " Ajak Mama Ratih sambil membantu Azizah berjalan.


"Pakai kursi roda Sayang..? " Tawar Mama Ratih.


"Enggak usah Ma. Azizah jalan pelan-pelan saja. " Ucapnya sambil melangkah.


Al pun berjalan di belakangnya dengan membawa tas isi baju dan barang milik Azizah.


_________


Mobil pun sudah melaju dengan tenang. Menuju pulang.


"Papa tadi langsung bawa mobil sendiri. Soalnya mau rapat penting. Jadi gak ikut pulang. " Ucap Mama Ratih.


Al dan Azizah hanya mengangguk. Sedang Abi dan Umi Azizah pun, membawa mobil sendiri.


Selang satu jam lebih perjalanan . Akhirnya kedua mobil tersebut memasuki halaman rumah Jaya Pratama.


Al cepat-cepat turun lalu membuka pintu mobil untuk istrinya. Al membantu Azizah untuk turun dan menuntunnya.

__ADS_1


"Pak Jono. Keluarkan koper istri saya. Biar di bawah ke atas sama Bi Ijah." Titah Al pada sopirnya . Dan Bi Ijah pun sudah standby di depan teras rumah.


"Ayo Sayang. " Ajak Al dengan mengandeng tangan Azizah.


"Langsung ajak istrimu ke kamar Al. Biarkan dia istirahat . " Ucap Mama Ratih.


"Iya Ma.. " Jawab Al.


Abi dan Umi pun di persilahkan duduk oleh Mama Ratih.


"Sebenarnya saya sedikit khawatir dengan kondisi mental putri kami Bu Ratih. Perihal kandungannya. " Umi terlihat menghela nafasnya. " Tapi untunglah jiwanya sangat kuat. Hingga dia sanggup menerima kenyataan ini. " Sambung Umi.


"Sama Bu Nur. Saya juga sangat cemas dan takut dia kembali Syok. " Jawab Mama Ratih.


"Tapi, setidaknya kita harus selalu mendukungnya kembali. Agar dia tidak bersedih dengan keadaan. " Sambung Mama Ratih.


"Iya Bu Ratih. "


Beberapa menit Umi dan Mama Ratih berbincang-bincang masalah kondisi Azizah. Bu Nur pun berpamitan untuk pulang. Bu Nur, juga berpamitan ke putrinya.


"Jaga dirimu ya Sayang. Nanti Umi bakal kesini lagi. " Ucap Umi sambil mengelus kepala putrinya " Jangan lupa minum obat sayang. " Sambung Umi.


"Iya Umi. Umi dan Abi juga baik-baik saja ya. " Ucap Azizah sambil memeluk Uminya.


"Iya nduk. "


"Iya Abi. "


"Umi pulang ya. Titip Azizah ya Nak Al. "


"Iya Umi. "


"Assalamualaikum.. "


"Waalaikum salam. "


______


"Sayang.Kamu makan dulu. Baru setelah itu minum obat. " Al mendekatkan dirinya di samping Azizah, yang tengah terduduk di tempat tidur.


Ia terlihat menyuapi istrinya dengan lemah lembut.


"Lagi Sayang.. "


"Sudah ya Mas. Rasanya sudah kenyang. Nanti malah muntah, kalau di paksa. " Ucap Azizah kemudian menutup mulutnya rapat-rapat.

__ADS_1


"Em.Sayang . Baru juga sedikit, masak sudahan. Biar cepat sembuh Sayang. " Bujuk Al.


"Enggak Mas. gak mau aku . Sudah ya.. " Rengek Azizah.


"Ok.Kalau gitu. Tapi minum obat ya. " Al menaruh piringnya dan beralih mengambil tablet obat dan segelas air putih.


"Ini Sayang. " Al menyodorkan obat yang sudah ia racik dan air putih.


"Gluk.. gluk.. . Makasih Mas. " Azizah pun mengulurkan kembali gelas tersebut.


"Em.Cuma makasih doang Sayang. Gak ada yang lain. " Ucap Al menggoda istrinya.


"Yang lain..? Apa..? " Ucap Azizah yang belum faham.


Tiba-tiba saja Al mendekat dan melingkarkan tangannya di pinggang istrinya , dengan posisi menyamping. Wajahnya bisa dengan leluasa berhadapan dengan wajah cantik istrinya.


Azizah pun merasakan getaran kerinduan pada diri Al. Hingga ia hanya diam saja, menerima perlakuan Al.


Al mulai membelai pelan pipi istrinya. Ia mencubit pucuk hidung istrinya dengan gemas.


"Auw... Mas.. " Azizah pun merasa terkejut.


"Kamu diam saja Yang. " Ucapnya terkekeh.


"Kan aku menikmati kasih sayangmu Mas. " Azizah dengan pipi merah semu nya.


"Ah, iyakah..? " Tanya Al gemas pada istrinya.


Dengan tiba-tiba Al melayangkan kecupannya di kening istrinya. Tak cukup hanya di kening. Ia mulai nakal lagi. Ia turun ke pipi merona Azizah. Hingga saatnya ia pun memanggut pelan bi*ir ranum istrinya.


Azizah seakan selalu terhipnotis dengan belain lembut dari Al. Caranya yang merasa bahwa Al selalu memperlakukannya bak seorang ratu. Yang juga merasakan bahwa Al sangat memanjakannya.


Tiba-tiba Al membisikkan sesuatu di telinganya dengan suaranya yang mulai terdengar parau .


"Sudah kah siap kamu Sayang...? Aku sangat merindukanmu... " Ucapnya membisik, hingga nafasnya membelai pelan Wajah Azizah.


Azizah hanya terdiam. Dan bingung plus malu ingin menjawab apa..


"Sayang... " Ucap Al membuat Azizah seketika menganggukkan kepalanya.


" Terima kasih Sayang.. " Al pun berlahan membuka jilbab istrinya. Terlihat oleh Al mahkota yang terurai dengan Anggun .


Al pun menelan salivanya. Lalu ia mulai masuk di leher jenjang istrinya. meraih tengkuk Azizah. Menyapu leher jenjang yang sudah membuatnya kencanduan, dengan wangi Jamsin dari tubuh istrinya.


Berlahan-lahan pun tangannya bekerja di bawah sana untuk melepas semua baju keduanya. Lalu menarik selimut dan membawa istri tercintanya, untuk kembali bercinta di bawah selimut tebal.

__ADS_1


Rasanya kebahagiaan Al sudah kembali. Saat ia dan istrinya kembali bersatu untuk memadukan cinta mereka berdua.


Langit biru di luar balkon, serasa mengintip mereka. Serpihan angin pun turut menikmati indahnya ibadah mereka. Mengajak dedaunan untuk bergoyang. Seolah menari dengan kebahagiaan kedua insan, yang saling mencintai karena Allah.


__ADS_2