Pengagum Rahasia Bidadari Pesantren

Pengagum Rahasia Bidadari Pesantren
Kado Terindah


__ADS_3

Senja di luar sudah hampir menghilang. Hari pun mulai gelap. Azizah berdiri di balkon kamarnya. Menanti kedatangan suaminya.


Sesaat kemudian terdengar suara adzan maghrib. Ia khawatir mengapa suaminya juga belum pulang. Sedang Papa mertuanya sudah pulang sejak tadi.


'Ah, apa Mas Al marah sama Aku. ' pekiknya. Lalu ia berjalan ke dalam dan mengambil benda pipi di atas nakasnya.


Ia mencoba menghubungi nomer Al. Tapi tak di angkat.


'Apa mas Al masih di jalan, hingga tidak bisa mengangkat telfon dariku. 'Gumamnya.


Sesaat kemudian ia menerima chat dari Al.


"Sayang, aku pulang telat. Kayaknya agak malam. Soalnya tugasnya numpuk banget. Ponselku ini masih di cas, gak bisa angkat telfon . Ok Sayang. 😘"


Azizah merasa bersalah. Apakah suaminya ngambek dan marah ke dia. 'ih mas Al. '


Ia pun terlihat mengetik sesuatu.


"Mas, gak boleh malam-malam pulangnya. Aku tungguin.! "


Lalu ia menaruh ponselnya kembali di nakas samping ia duduk.


Azizah ganti memanyunkan wajahnya.


____


'Siapa suruh melupakan hari ini. 'Gumam Al sambil tersenyum .


Al terlihat merapikan semua berkas-berkasnya. Dan menutup laptopnya. Lalu mengeluarkan kunci mobilnya. Dan menenteng tas kecilnya Al keluar meninggalkan ruangan kerjanya. Ia bergegas masuk ke mobil dan melajukan dengan kecepatan sedang.


Setalah satu jam lebih akhirnya mobilnya memasuki gerbang rumahnya.


Suasana sepi dan hening. Padahal ini juga baru jam 7 pikirnya.


Ia turun, dan berjalan masuk ke dalam rumah. Tak kala sepi dari di luar, didalam pun seakan tak ada kehidupan.


Saat bersamaan Bi ijah melihat Al.


"Sudah pulang Den.? " Tanya bi Ijah pada Al.


"Iya bi. Kemana semua kok sepi. "


"Tuan sama Nyonya ke rumah Non Sonya den. "


"Oh, istriku ikut juga. "


"Enggak den. Non Azizah mungkin di atas Den. Dari tadi Bibi gak melihatnya turun. "


"Eum, " Aneh bagi Al. Biasanya Azizah selalu menyambutnya saat datang. Tapi hari ini pun ia tidak turun.


Al pun bergegas ke atas . Ia berlahan membuka pintu kamarnya.


Sepi, matanya tak mendapati orang yang ia cari.

__ADS_1


"Sayang..... " Panggil Al.


"Iya Mas, aku masih di kamar mandi. " Suara Azizah terdengar dari dalam kamar mandi.


Al pun duduk di sofa. Melepas jaket dan sepatunya.


"Cepat Sayang. Aku mau mandi ini. " Suaranya terdengar keras.


"Iya Mas. Ini sambil aku siapin air hangatnya. "


Azizah menyiapkan air hangat di bathtub untuk Al. Seraya menuangkan sabun cair kedalamnya. Selepas itu Azizah keluar dengan memakai baju kimono.


Al menatapnya dari kejauhan. Al melihat wajah istrinya masih sama, seperti pagi tadi.


"Sayang.. " Panggil Al.


"Hem... " Jawabnya tanpa menoleh ke arah Al. Saat ia mencari sesuatu dalam almari.


"Hari ini , " Ucapan Al terpotong.


"Oh iya Mas, aku lupa.... " Azizah menggantungkan ucapannya. Hingga membuat Al mengira Azizah akan mengatakan bahwa ia lupa hari ini ulang tahunnya.


"Sebenarnya hari ini aku kan ada janji sama Dokter Riska. " Azizah menyambung ucapannya seraya menarik jilbab dari almari.


Wajah Al yang tadinya penuh harap. Seakan langsung layu dengan jawaban dari istrinya. Ia pun tak menjawab satu katapun. Dan langsung ke kamar mandi.


Azizah cekikikan melihat suaminya. Selama Al di kamar mandi, Azizah berusaha menyiapkan semuanya. Untung juga Al mandinya agak lama. Jadi Azizah bisa menyiapkan semuanya.


Ia menaruh kue ultah tadi di ranjang . Dengan kotak kado kecil tadi. Ia juga cepat-cepat mengganti bajunya. Dan sedikit memakai make Up di wajahnya. Ia cepat-cepat mematikan lampu dan hanya menyalahkan lilin aromaterapi di sekeliling ranjangnya.


"Sayang.... "


"Selamat Ulang tahun Mas Al..... " Ucap Azizah duduk di depan kue ultah yang sudah menyalah lilinnya.


Al berjalan ke arah istrinya.


"Sayang, kamu.... "


"Apa..? Mas Al kira aku lupa, ini hari apa .. Ya enggak dong. " Azizah seraya menarik suaminya ke sampingnya.


Al pun duduk di samping istrinya.


"Mabruk Alfa Mabruk Mas Al. Happy yaumil milad. " Azizah mengecup pipi suaminya yang masih sedikit basah.


Al meraih tengkuk Azizah , lalu ia membalas mengecup kening istrinya. "Makasih Sayang. "


"Sama-sama Mas Al."


Lalu Azizah mengulurkan kotak kecil tadi.


"Surprise ke dua.. " Ucapnya.


Al menerimanya dengan penasaran.

__ADS_1


"Apa ini Sayang. " Di tengah-tengah cahaya remang-remang lilin Al membuka kotak itu. Saat ia berhasil membukanya. Terpampang benda pipi kecil di dalamnya. Lalu ia mengambilnya


"Sayang, " Wajahnya seketika berubah menatap ke arah Azizah.


"Eum, sebentar Mas.. " Azizah turun dan menyalahkan lampu.


"Sayang, ini... " Suara Al seakan membeku.


"Iya Mas.. " Azizah mendekat. Matanya menyemburatkan aura bahagia . Wajah cantik dengan make Up sederhana itu, melayangkan senyum manisnya.


Al meraup wajah istrinya, ia mengecupnya berkali-kali. Bibirnya tak mampu berkata apa-apa, hanya sinar matanya yang berkaca-kaca menampakkan kebahagiaan tengah membuncah di hatinya.


Ia menatap benda pipi di tangannya, lalu ia menciumnya. Kembali lagi ia mendekap tubuh istrinya . Aroma jasmin yang selalu ia rindukan. Kini menyeruak ke dalam aliran darahnya. Jantungnya berdetak lebih kencang. Desiran bahagia memenuhi seluruh saraf dan pikirannya. Jiwanya seakan melambung tinggi dengan kebahagiaan ini.


Namum, saat ingatannya kembali pada dokter Riska.


"Tapi Sayang.. " Wajah cemas dan khawatir pun seketika menghampirinya.


"Apa kata dokter Riska. Apa memang sudah memungkinkan untuk ini semua. " Sambungnya seraya menatap lekat-lekat istrinya.


"Mas... " Azizah meraih tangan suaminya. Berusaha meyakinkan.


"Aku sudah konsultasi dengan dokter Riska. Ini semua juga hasil dukungannya mas.. Mas harus percaya dan selalu mendukungku. Agar aku bisa lewati semua ini. Yang terpenting saat ini bagiku. Adalah dukungan dan kepercayaan dari kamu Mas. " Jelasnya.


"Iya Sayang. Aku akan selalu di sampingmu untuk mendukungmu. Hanya saja hatiku masih cemas dengan ini.. " Al tampak gundah.


"Ih.. apanya yang harus di cemaskan. Aku baik-baik saja. Aku juga kuat mas. Mas percaya sama Aku. " Ia melihatkan bahwa dirinya mampu untuk melewati ini semua.


"Ok sayang. " Al kembali mengecup pucuk rambut istrinya, yang kini tengah tergerai bebas tanpa jilbabnya.


"Eum... "


"Apa...? " Ucap Al masih penasaran.


"Ada lagi hadiahnya.. " Sambung Al.


"Ada Dong... " Senyum gemas Azizah.


"Apa...? " Al menggodanya..


Azizah memutar matanya dan menahan sesuatu. Ada yang tiba-tiba membuat pipinya merah . Saat al berhasil menebak hadiah terakhir.


Al memindah kue tadi keatas nakas. Lalu ia menarik istrinya yang sedari tadi sangat menantang baginya.


"Mas.. pelan-pelan ya kasian debay nya... " Ia tersenyum malu saat mengutarakannya.


"Tenang Sayang. Papa akan selalu berhati-hati. " Seraya mengecup perut Azizah.


Keduanya pun kembali di mabuk dalam muara lautan cinta. Penampilan Azizah yang tak seperti biasa, membuat gairah Al menggebu dan tak sabar menerobos gerbang kenikmatan dengan bidadari cantiknya.


Langit malam yang dingin, membuat keduanya tak ingin melepaskan dekapan satu sama lain. Suasana lembab di luar sana. Menyaksikan dua insan yang sedang memadu cinta Ibadah terindah dengan sang pujaan hati .


Hingga waktu pun tak mampu menghentikannya.

__ADS_1


_____


__ADS_2