Pengagum Rahasia Bidadari Pesantren

Pengagum Rahasia Bidadari Pesantren
Haruskah....?


__ADS_3

Lebih dari 1 minggu, Azizah pun belum juga sadar.


Rasa cemas dan was-was sudah memenuhi semua pikiran keluarga Jaya Pratama dan Pak Nurhasim.


Apalagi saat dokter menyarankan untuk melepas alat bantuan nafas untuk Azizah. Bukan maksud dokter Ken. Untuk mengakhiri hidup Azizah. Tapi, karena memang sudah sangat tipis sekali, harapan untuk Azizah bisa bertahan dalam komanya.


"Begini Pak Jaya. Usaha apa pun sudah kami lakukan, hanya untuk sekedar memancing respon dari tubuh pasien. Tapi kami sama sekali tidak mendapati respon dari tubuh pasien. Hari bertambah hari, tubuhnya semakin melemah dan detak jantungnya pun mulai tidak stabil. Jika memang keluarga mengizinkannya.Kami akan segera melakukan tindakan.Kami mohon maaf sebelumnya Pak Jaya. Tapi ini semua demi kebaikan kita semua. Agar kita tidak seakan memaksa pasien. " Jelas panjang lebar dokter Ken.


Seketika rasanya runtuh lah, harapan untuk Azizah bisa kembali sadar. Air mata Mama Ratih pecah saat mendengar penjelasan dari dokter Ken. Bagaimana jika Al mendengar keputusan dokter Ken. Apa yang akan terjadi pada Al.


Tapi harus bagaimana, Al lah yang harus memberi jawaban. Karena ia sekarang yang lebih berhak atas Azizah.


"Apakah tidak ada cara lain dok..? " Tanya Papa ragu dengan jawaban Dokter Ken.


Dokter Ken menghela nafas panjangnya.


"Segala cara sudah saya lakukan Pak Jaya. Tapi tetap hasilnya Nihil. " Ucap Dokter Ken.


"Saya berharap keluarga Bapak akan segera memberi jawaban. Setidaknya Bapak dan yang lainnya juga harus memikirkan kondisi pasien. Yang tentunya tidak bisa di paksakan. " Sambung Dokter Ken.


Kemudian dokter Ken meninggalkan Mama dan Papa yang tertunduk dalam kesedihannya.


"Bagaimana ini Pa..? Apa yang akan kita katakan pada Al dan juga orang tua Azizah.? " Tanya Mama di sela isak tangisnya.


"Apa yang harus kita lakukan Pa..? " Sambungnya sambil mengoyak bahu suaminya.


"Tenang Ma. Tenang..! " Bentak Papa Jaya.


"Papa masih mencari jalan keluarnya. " Sambung Papa sambil mengambil ponselnya.


"Mama tunggu di sini. Jangan temui Al atau orang tua Azizah dulu. Papa akan menghubungi seseorang. " Titah Papa Jaya.


Mama Ratih hanya pasrah dengan perintah suaminya.


______


Sementara itu di ruangan Azizah. Al terlihat duduk di sampingnya. Masih sama seperti kemarin. Duduk termenung di samping kekasih hatinya yang semakin pucat dan lemah.

__ADS_1


Tadi pagi ia sempatkan keluar sebentar. Untuk ke toko bunga. Ia membeli bunga Mawar putih yang sangat indah. Ia taruh di Vas bunga yang ada di meja samping Azizah.


Ia terlihat mengelus lembut kepala istrinya.


"Sayang. Sudah ya ngambeknya . Hari ini kamu harus bangun. Aku mohon Sayang. Please kamu harus bangun. Aku mau ngajak kamu muter-muter lagi. Keliling lagi bawa motor kayak dulu. " Lirih nya pelan di samping istrinya. Tapi tak dapat di tahan air matanya jatuh. Cepat-cepat ia menyeka air matanya.


"Aku janji sama kamu sayang. Aku bakal jadi seperti apa yang kamu mau. Apapun akan aku lakukan asal kamu sudahi ini semua. Kamu bangun Sayang ....! " Sambungnya.


Mama Ratih yang mendengarkan dari balik pintu, tak dapat menahan air matanya. Bagaimana jika Al mengetahui kenyataan, jika istrinya tidak bisa tertolong. Bagaimana ini cara untuk mengatakan pada Al.


Papa Jaya menepuk bahu Mama Ratih dari belakang.


"Ma... " Suara Papa pelan.


"Iya Pa.. " Suaranya serak dan berusaha menyeka air matanya.


"Usap air mata Mama. Jangan tunjukkan kesedihan Mama. Biar Papa yang mencoba menjelaskan pada Al. " Titah Papa Jaya.


Papa Jaya kemudian membuka pintu dengan pelan. Terlihat oleh netra kedua orang tua nya . Al terduduk di samping istrinya.


Al pun menoleh dan menatap ke arah orang tuanya.


Melihat raut wajah Papa dan Mamanya nampak sedih. Al merasa ada yang mengganjal.


"Papa mau bicara penting sama Kamu Al. " Ucap Papa Jaya yang tanpa menatap mata Al.


Papa Jaya kemudian keluar dan Al mengikutinya di belakang.


"Ma, jagain Azizah dulu ya. " Ucapnya sebelum keluar mengikuti Papanya.


Mama Ratih hanya mengangguk sambil menahan tangisnya.


"Duduk sini Al. " Ucap Papa sambil menunjuk kursi di depan ruangan Azizah.


"Ada apa Pa..? " Tanya Al saat ia duduk. Karena merasa ada hal yang tidak baik.


"Bagaimana menurutmu Azizah.. ?. " Pertanyaan Papa. Yang tidak ke inti permasalahannya.

__ADS_1


"Mengapa Papa bertanya seperti itu. Sudah pasti, Al yakin Pa. Azizah akan secepatnya sadar. " Jawab Al mencoba meyakinkan Papa tentang keadaan Azizah.


Papa menundukkan kepalanya. Mengisyaratkan kesedihannya.


"Sebenarnya ada apa Pa..? Kenapa Papa dan Mama terlihat sangat bersedih.? " Al mulai was-was dan cemas.


"Begini Al, ada yang ingin Papa sampaikan . Ta-tapi ini semua jika kamu menyetujuinya. Jika pun kamu menolak. Dokter Ken tidak akan memaksa. " Ucap Papa pelan.


"Soal Apa Pa. Jangan membuat Al bingung. Katakan.. Apa yang dokter Ken sampaikan ke Papa. "


"Papa harap kamu harus kuat Al. " Papa menghela nafas panjang dan meneruskan ucapannya. " Dokter Ken. Menyarankan kita untuk menyabut alat bantu pernafasan dan alat lainnya di tubuh Azizah.. Karena... "


"Apa Pa...!!! " Belum sempat Papa menyelesaikan ucapannya. Al terbawa emosinya. Al seketika bangkit dari duduknya. Dengan Amarah dan kesedihan yang menyatu dalam pikiran dan hatinya.


"Tega sekali mereka. Ingin mengakhiri hidup istriku..!. Siapa mereka yang berhak melakukan itu..!. Lihat Pa sekarang istriku tengah berjuang untuk hidupnya. Mala dengan seenaknya mereka ingin mengakhiri hidup istriku. !! "


Mendengar Al bicara dengan marah dan mengeraskan suaranya. Mama Ratih pun menghampirinya.


"Sayang... Al. Dengarkan dulu penjelasan Papa. " Bujuk Mama Ratih dan mencoba menenangkan emosi Al.


"Aarrghh... " Dia terlihat menghantamkan kepalanya ke tembok.


"Al.. " Papa dan Mama berusaha menenangkan Al.


"Cukup Al. Jangan seperti ini. hiks..hiks.." Suara Mama dengan tangisannya.


Al menjatuhkan dirinya ke lantai dan mengacak rambutnya.


Rasanya jiwanya hancur dan tak dapat lagi berpikir jernih.


Terlintas bayangan Azizah setiap bersamanya. Seakan-akan memenuhi otaknya. Rasa nya bayangan itu menari-nari di dalam pikirannya .


"Apa ini.....!!! " Ia terlihat frustasi yang dalam.


Seketika ia beranjak dan berlari kembali menemui istrinya, ia menatap wajah Azizah yang sudah terlihat pucat dan....


_______

__ADS_1


__ADS_2