
4 bulan kemudian,
Hari ini adalah hari istimewa untuk Al. Dimana hari ini Al di lahirkan . Azizah pun ingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Namun, ia berpura-pura lupa dan tak ingat sama sekali, hari ini hari Apa.
Dia sudah dari kemarin memikirkan, kado apa untuk Al. Yang pasti kado terindah untuk Al. Hingga ia tidak akan melupakan kado dari istri tercintanya.
Ia tampak tersenyum sendiri.' Ah, semoga ini berhasil dan menjadi kado terindah untuk Mas Al. ' batin Azizah.
Sejak bangun tadi, Al berharap Azizah akan menjadi orang pertana yang mengucapkan selamat padanya. Ia tak butuh kado. Ia hanya mengharap ucapan Selamat meluncur dari bibir mungil istrinya. Namun, ternyata Azizah terlihat biasa dan melupakan hari ini. Selesai sholat pun ia juga tak kunjung mengatakannya. Hingga membuat Al sedikit ngambek dan kecewa.
Saat di meja makan. Ia memasang wajah datar, Al sebenarnya pun menunggu ucapan selamat dari istrinya. Namun, rupanya Azizah seakan lupa hari ini , hari istimewa untuknya. Ia terlihat biasa dan tak ada yang berbeda. Sedang Mama pun juga sama , biasa saja. Apalagi Papa yang terbiasa dengan sifat cuek nya.
'Ah, semuanya sama saja. 'pekiknya kesal.
"Apa Al..? " Mama Ratih mendengar suara pelannya.
"E_Enggak Ma.. Gak Papa... " Ia membuang mukanya.
Ia terlihat cepat-cepat menghabiskan sarapannya dan menyeruput susu dalam gelas hingga tandas.
"Mas, pelan-pelan dong Nanti tersedak. " Ucap Azizah tanpa beban.
"Eum.. Gak kok. " Suaranya agak terdengar beda. Menahan kecewa pada istrinya dan juga Mama .
"Aku berangkat dulu ya.. " Ucapnya seraya menyambar tas di sampingnya.
Lalu Azizah ikut berdiri dan berjalan di belakangnya. Saat Al di ambang pintu, Azizah memanggilnya. Hingga membuat Al berhenti dan berharap Azizah ingat hari ini. Tapi ia hanya bisa menelan kekecewaan.
"Mas... "
"Iya .. " Ia berhenti dan menoleh ke arah istrinya.
"Ponsel Mas, tertinggal. " Seraya mengulurkan benda pipi di tangannya.
__ADS_1
"Oh.." Jawabnya kecewa.
"Iya." Azizah tersenyum gemas melihat wajah suaminya.
"Hanya itu..? " Tanya nya kembali , mencoba memberi tahu.
"Iya Mas.. " Azizah kemudian meraih tangannya dan mencium punggung tangan Al.
Al menghela nafas panjang.
"Assalamualaikum.. "
"Wa'alaikum salam.. " Ia hampir saja kelepasan tawanya. Menatap punggung suaminya yang masuk ke dalam mobil.
Azizah melambaikan tangannya. Namun, respon Al kali ini sedikit berbeda. Mungkin, karena kecewa dengan Azizah.
______
"Assalamualaikum dok.. " Suara Azizah saat panggilannya dengan Dokter Riska tersambung.
"Bagaimana ini dok. "
"Apakah mbak Azizah sudah mencoba mengetesnya . Dengan alat tes kehamilan.? " Tanya dokter Riska dari sebrang.
"Belum dok. Habis ini paketnya datang. Tadi masih pesan dok. Mau pesan dari kemarin, gak ada waktu Mas Al. Seharian di rumah. " Jelas Azizah.
"Kalau saya, mendengar keterangan dari mbak Azizah. Kayaknya memang positif mbak. Tapi karena mbak Azizah belum bisa kesini. Gak papa di tes pakai alat tes dulu. Nanti, saya yang akan ke sana. " tutur dokter cantik itu.
"Iya dok. Tapi tunggu aku lihat hasilnya dulu ya dok. Biar pasti dulu. "
"Iya mbak Azizah. "
Setelah di rasa cukup berbincang dengan dokter Riska ia mematikan sambungannya. Dan menaruh ponselnya di atas nakas.
__ADS_1
"Tok.. tok...
" Iya sebentar. " Ia turun dari ranjangnya dan membuka pintu.
"Ini Non. Ada pesanan Non. " Bi Ijah seraya mengulurkan satu kantong kresek kecil berisi pesanannya.
"Iya bi. Makasih ya bi.. " ia menerima nya.
"Iya Non. " Bibi pun kembali dan ia menutup pintu.
Ia mengeluarkan isi pesanannya dan ia ambil dua alat tes berbeda itu. Hanya untuk meyakinkan , agar tidak ada keraguan.
Akhir-akhir ini, ia sering sekali mual dan pusing. Hanya saja ia berusaha menutupi semua dari Al. Hingga tiba saat yang tepat. 'Semoga saja memang positif ' batin Azizah, seraya membawa alat tadi ke kamar mandi.
Dengan hati berdebar dan jiwa gemetar. Ia mencelupkan alat tes tadi. Saat mengambilnya. Ia tak langsung melihatnya, ia masih menutup matanya. Mengatur nafasnya yang naik turun. Saking gugupnya.
"Bismillah... " Ucapnya seraya membuka matanya berlahan.
Rasa bahagia, haru dan tak percaya. Memenuhi pikirannya. Air matanya meleleh dengan sendirinya.
Ia terduduk di sana, karena rasa bahagia ini seakan-akan ia tak mampu membendungnya. Ia ingin berteriak girang dengan tanda Dua garis merah di kedua alat tes ini. Hatinya terasa melompat dan tak dapat di tahan. Namun, ia harus tetap ingat kandungannya masih rentan dan harus berhati-hati.
"Alhamdulillah ya Allah... " Ia mencium alat tes itu dengan air mata bahagianya. Ia berjalan pelan ke tempat tidur dan duduk di sana. Rasanya masih tak percaya. Sekali lagi ia membolak-balikkan alat itu.
Ia kembali tersenyum dalam tangis bahagianya. Ini adalah kado yang ia nantikan, untuk ia hadiahkan pada suami tercintanya.
Ah, semuanya terasa sangat indah. Ia masih mendekap alat itu.
Lalu berlahan ia mencari sebuah kotak kecil dan ia masukkan benda pipi itu di dalam kotak kado tadi. Ia bermaksud ingin memberikan kejutan untuk suaminya. Ia juga sudah memesan kue dan tak lupa ia juga memesan baju baru untuknya. Rencananya nanti malam ia akan berusaha tampil paripurna di depan suaminya.
Juga mengingat tadi Al, berangkat dengan wajah kecewanya. Sebenarnya ia juga tidak tega , tapi ini semua demi surprise nanti malam. Masih terbayang wajah kesal Al di meja makan tadi. Ia kembali tersenyum.
Ia pun bersikap biasa di depan semua orang di rumah. Ia hanya akan memberi kabar pertama untuk Al . Setalah itu tunggu kedatangan dokter Riska . Agar dokter Riska saja yang mengabarkan pada semua orang.
__ADS_1
_____