
Hari demi hari telah berlalu, keadaan Azizah pun masih sama. Belum ada tanda-tanda untuk siuman.
Al terduduk di samping istrinya. Wajahnya pun terlihat pucat dan hilang harapan. Sesekali ia terlihat menyeka air matanya.
Kepedihan dan kecemasan sudah memenuhi jiwa dan pikirannya. Ia genggam tangan istrinya, yang sama sekali tidak ada respon.
Terlihat ia menciumi tangan lemah milik Azizah. "Apa kamu sedang menghukum ku Dik. Jika iya . Aku mohon sudahi ini dik. Aku benar-benar gak sanggup untuk melewati ini semua. Aku gak mampu untuk menerima ini semua." Ucapnya pelan di telinga istrinya.
"Aku mohon Sayang. Please... " Ia tertunduk dalam kesedihannya. Ia merasa bahwa dunia ini sudah berakhir.
Tiba-tiba suara pintu terbuka. Ternyata Kak Sonya yang datang. Kak Sonya menghampiri Al yang masih setia di kursi samping ranjang Azizah.
"Dik.. " Sapa pelan kak Sonya sambil mengelus punggung adiknya.
"Apa Azizah akan pergi meninggalkanku Kak..? " Suara Al menyayat hati dan perasaan Sonya.
"Jika begitu, bisakah aku melanjutkan hidupku..? " Sambungnya.
"Jangan bicara seperti itu Dik. Istrimu kuat. Dia akan secepatnya sadar . " Kak Sonya berusaha menenangkan Al.
"Apa Azizah marah ke Al kak...? "
"Marah.. ? marah untuk apa. Bukankah Azizah sangat mencintaimu Dik. Dia tidak akan bisa marah ke kamu. "
"Tapi kenapa dia belum sadar juga Kak..?! "
"Dik, coba lihat lekat-lekat istrimu. Saat ini dia sedang berjuang, dan itu demi kamu. " Kak Sonya membuat Al sadar dalam pikiran frustasinya.
"Aku sangat mencintainya Kak... " Al kembali menangis. Bukan karena cengeng ia menangis. Tapi itu bukti betapa ia sangat mencintai Azizah.
"Iya Kakak tau. " Lirih Sonya.
"Dik.. " Sambung Sonya. "Kakak bawakan makanan buat kamu. Kamu makan dulu ya. Biar Kakak yang ganti jaga istrimu. " Ucap Kak Sonya dengan mengeluarkan rantang isi masakan Mama. " Ini Mama dik yang masak. Habis ini Mama juga nyusul ke sini. " sambung kak Sonya.
__ADS_1
Al hanya menggelengkan kepalanya.
"Dik.. " Kak Sonya mengulang ucapannya.
"Al gak lapar kak." Jawab Al datar tanpa semangat.
"Tapi kamu juga harus minum obat dik. " Bujuk kak Sonya.
"Al sudah sembuh Kak..! Al gak butuh obat. Yang Al butuhkan saat ini. Azizah sadar. Itu saja Kak.. " Lirih Al.
"Iya dik. Tapi kalau kamu begini terus. Kamu bisa sakit juga dik.. "
"Sudah lah Kak. Tolong jangan bujuk Al untuk apa-apa ."
Akhirnya Sonya pun terdiam. Dan duduk di sofa. Tidak ada suara apapun di dalam sana. Hanya ada keheningan dan kesedihan.
"Aku gak nyangka Al akan seperti ini.Kasihan Adikku. Cepatlah sadar Azizah.." batin Kak Sonya.
Sudah pukul 11 siang Kak Sonya pamit untuk pulang.
Al hanya mengangguk. Saat Kak Sonya hendak membuka pintu. Umi dan Abi Azizah datang.
"Tante . Om.. " Sapa kak Sonya.
"Oh iya Nak Sonya. Mau kemana..?" Tanya Umi. Saat Sonya menyalami tangan Umi dan Abi.
"Sonya mau pamit pulang dulu tante. "
"Oh iya.. Hati-hati ya nak Sonya. " Ucap Umi.
"Iya Tante. Assalamualaikum... "
"Waalaikum salam.. "
__ADS_1
Abi dan Umi pun berjalan menghampiri Al dan Azizah. Umi juga merasa tak tega melihat Al. Terlihat guratan kesedihan di wajah menantunya.
"Nak Al. " Sapa Umi.
Al berusaha menstabilkan dirinya.
"Iya Umi. "
"Biar Umi yang ganti jaga istrimu. Nak Al istirahat dulu. " Ucap Umi.
"Gak Umi. Gak papa. Al di sini saja. "
"Tapi dari semalam nak Al di sini. Nak Al sudah makan. " Tanya Umi kembali.
"Al belum lapar Umi. "
"Nak Al. Ini memang berat, bukan hanya nak Al. Umi dan Abi juga merasakan apa yang tengah Nak Al rasakan. Istrimu itu satu-satunya putri Umi. Bagaimanapun Umi juga tidak ingin kehilangan Azizah. Tapi kita tidak boleh menghukum diri kita, kita harus bangkit untuk memperjuangkan Azizah. Jadi Umi mohon sama Nak Al. Jangan menghukum diri nak Al. " Jelas Umi panjang lebar. Umi pun terlihat menitihkan air mata.
"Umi melihat , nak Al seolah-olah menghukum diri nak Al sendiri. Ini bukan kesalahan kamu nak... " sambung Umi dengan menyeka air matanya.
"Tapi Umi. Jika Al gak ceroboh. Ini tidak akan terjadi. Azizah dan kandungannya akan baik-baik saja. Sekarang lihat Umi. Aku sudah kehilangan calon bayi kita. Dan Azizah pun terbaring tak berdaya. Aku ceroboh Umi. " Jawab Al.
Umi pun kaget, dari mana Al tau soal kandungan Azizah yang tak bisa di selamatkan.
"Nak Al sudah tau perihal kandungan istrimu. " Tanya Umi ragu.
"Iya Umi. " Al menganggukkan kepalanya.
"Dari siapa..? " Umi merasa heran , karena 2 keluarga sudah berusaha untuk menutupi dari Al. Bukan karena apa.. Tapi hanya mencari waktu yang tepat untuk memberi tahunya.
"Dokter Ken. Al mendesak dokter Ken, agar mau menceritakan dengan detail soal kondisi Azizah. Dan kata dokter Ken. Janin dalam perut Azizah tak bisa di selamatkan, karena terjadinya pendarahan yang di sebabkan benturan hebat . " Ucapnya dengan sedih. " Ini semua salah Al umi. Ini semua karena Al ceroboh. " Sambungnya sambil menahan kesedihannya.
"Tidak Nak Al. Jangan menyalahkan dirimu. Ini semua sudah kehendak Allah. Kita yang menerimanya harus sabar dan memohon pertolongan dari Allah. " Ucap Umi menenangkan hati Al.
__ADS_1
"Semuanya sudah terjadi. Tidak ada gunanya untuk menyalahkan diri sendiri. Yang terbaik saat ini. Selain kita ikhtiar demi keselamatan Azizah. Kita juga harus memohon akan adanya Mukjizat dari yang Maha kuasa. " Sambung Umi.
"Iya Umi. " Al tak bisa membohongi dirinya. Betapa marahnya Al pada dirinya sendiri. Saat ia mengetahui kenyataan, yang begitu sangat pahit. Kecelakaan itu telah merenggut calon bayinya. Buah hatinya telah tiada karena kecerobohannya. Kini istrinya pun harus terbaring lemah tak berdaya. Juga karena kesalahannya.