
Selepas sholat maghrib Al mengajaknya jalan-jalan. Dan menghabiskan waktu berdua dengannya.
"Sayang.Bawahkan jaketku ke bawah ya. Aku keluarin motornya dulu. Kamu jangan lupa bawah jaket juga. " Ucapnya seraya turun ke bawah. Sedang Azizah tengah merapikan jilbabnya.
"Siap Mas.. " Jawabnya dengan senyum.
Saat Azizah menuruni tangga, Mama Ratih sedang duduk di ruang tengah.
"Mau kemana Sayang..? "
"Mau jalan-jalan Ma , sama Mas Al. " Ucapnya.
"Oh. Jangan pulang terlalu malam ya. "
"Iya Ma.. " Azizah pun terlihat menyalami tangan mertuanya.
___
"Ayo naik.. " Saat Al sudah menghidupkan mesin motornya.
"Pelan-pelan ya Mas.. " Azizah naik dan berpegangan dengan kuat pada jaket Al.
"Sayang. Gak usah takut segitunya. " Ucap Al sambil meletakkan tangan Azizah di perutnya.
"Rileks Sayang. " Sambungnya.
"Iya iya ... " Azizah hanya menahan tawanya karena malu pada suaminya.
Al pun melajukan motornya dengan pelan.
Melusuri setiap jalanan yang nampak remang-remang dengan terpaan lampu jalanan.
Suasana indah dan hangat dalam dekapan tangan Azizah dari belakang. Membuatnya tak ingin menghentikan motornya.
Apalagi saat Azizah menaruh kepalanya di pundaknya. Serasa keindahan dunia hanya lah milik mereka berdua.
"Sayang. Mau beli sesuatu..? " Tanya Al di saat menjumpai penjual makanan di kios-kios samping jalan.
"Eum.. Mau.. " Jawab Azizah.
"Mau beli apa Sayang.. " Tanya Al lagi
"Terserah mas Al saja. " Ucapnya.
Al pun mengajak istrinya berhenti di depan penjual martabak mini.
"Sayang mau ini...? " Tanya Al pada Azizah.
"Mau mas. " Jawabnya sambil mendekat ke penjual.
__ADS_1
"Satu porsi mas. Sama ice jusnya 2 gelas. " Pesan Al pada penjual.
"Siap Mas. " Jawab sang penjual.
Al kemudian mengajak Azizah duduk di bawah pohon rindang.
"Sayang.Kamu gak papa aku ajak makan di sini. "
"Memangnya kenapa..? Toh ini juga makanan. " Jawab Azizah.
"Tapi kalau gak nyaman, kita ke kafe saja Sayang. " Tutur Al, yang merasa khawatir Azizah tak nyaman di tempat seperti itu.
"Enggak Mas. Aku malahan suka kok di sini. Sama menikmati lembab nya sang malam. " Ucapnya tersenyum.
Beberapa saat sang penjual datang menghampiri Al dan menyodorkan 1 porsi martabak mini dan 2 gelas ice jus.
"Ini Sayang. " Ucap Al sambil mengambilkan untuk Azizah.
Bagi Azizah rasanya momen seperti ini jauh lebih indah dan menyenangkan.
Merasa sudah mulai malam, Al mengajak istrinya untuk pulang. Ia menghidupkan mesin motornya dan melaju pulang.
____
Sesampainya di rumah, Al merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Mama Ratih pun duduk di sana.
"Cuma putar-putar di jalanan sini saja Ma.. " Ucap Al, sambil memeriksa ponselnya.
"Al, gimana kata dokter Riska.? Mama gak nanya sama istrimu langsung. Mama takut membuatnya risau. "
Al kemudian duduk.
"Kata dokter Riska . Kandungan Azizah lemah Ma. Kondisinya tidak memungkinkan Azizah mengandung dalam waktu dekat. " Ucapnya khawatir.
"Kata dokter Riska juga, Azizah sebenarnya memaksa untuk mengikuti progam hamil lagi. Tapi dokter Riska melarangnya dan menyarankan untuk melakukan penyuburan terlebih dahulu, pada rahimnya. " Sambung Al.
"Ya Allah.. " Mama menghela nafasnya.
"Kalau begitu, bilang sama dokter Riska. Jangan sampai membiarkan Azizah ikut progam hamil dulu. Tunggu benar-benar rahimnya siap Al. Jangan sampai kita menyesal akhirnya. " Ucap Mama pada Al dengan wajah cemasnya.
"Iya Ma. Al sudah mengatakan semua pada dokter Riska. "
___
Sedang di dalam kamar Azizah sedang mencari buku novel, yang kemarin ia beli. Ia lupa menaruhnya. Ia mencoba mencarinya di setiap sudut di ruangan itu. Di setiap laci di meja sofa juga di nakas. Tapi juga tak kunjung ia dapatkan.
Dan saat ia berusaha menemukan bukunya. Matanya menatap sebuah paper bag. Dan tak sengaja, saat mengambilnya beberapa buku jatuh dari dalam paper bag tersebut.
Bersamaan Al membuka pintu kamar. Mata Al seketika terbelalak saat tangan Azizah memungut sebuah novel. Yang tentunya milik Azizah sendiri. Yang dulu Al beli di acara Bazar di Ponpes Azizah.
__ADS_1
"Sayang... " Tegur Al.
"Eum.. Mas. Ini gak sengaja jatuh. Tadi aku cari buku yang baru aku beli . " Azizah mengambilnya. Dan betapa ia terkejut. Matanya membulat melihat yang ia pegang adalah novelnya dulu.
Al pun seketika diam membisu di tempatnya.
"Loh.. inikan novelku. Bukannya waktu itu,? " Azizah terlihat berusaha mengingat sesuatu.
"Mas.. Jadi, " Ia menggaruk tengkuknya. Karena masih heran.
"Jadi beneran.. Aku pernah ketemu Mas sebelum kita menikah...? " Ucapnya sambil mendekat.
"Motor merah yang selalu di depan ponpes tapi cowoknya selalu pakai jaket dan helm. Itu beneran Mas Al..? " Azizah memberondong Al dengan banyak pertanyaan. Rasanya wow Amazing, "berarti Mas sudah tau aku sebelum kita menikah..? Tanya nya kembali, sedang Al tak menjawab satu kata pun.
" Mas... " Ucapnya sambil memegang bahu suaminya yang terdiam di tempat.
"Iya... " Ia rasanya malu sekali saat harus mengungkap segalanya. Tapi Azizah terus mencari alasan Al.
"Duduk sini. Mas akan ceritakan semua sama kamu. Juga tentang novel itu. "
Al mengajak Azizah duduk di sofa samping almarinya.
"Begini Sayang. Sebelumnya aku sama sekali tidak tau atau pun menyangka. Kalau gadis yang Mama jodohkan dengan ku adalah kamu. " Jujur Al dari awal.
"Terus, Mas kok bisa hampir tiap hari loh, aku lihat di depan ponpes.? " Tanyanya kembali belum faham.
"Iya Sayang. Sebenarnya, jujur ya . Mungkin kamu sudah lupa atau masih ingat. Aku pernah hampir menabrak belanjaan kamu pas lagi jalan sama teman dekatmu itu lo sayang. " Al mencoba mengingatkan kejadian pertama Al bertemu Azizah.
Yup, Azizah seketika mengingatnya .
"Iya, aku ingat Mas. Terus..? " Ia tambah penasaran.
"Entahlah sejak saat itu, aku selalu terbayang-bayang wajah manis dan kalem itu. Hingga membuatku penasaran dan tak tenang. Sampai-sampai setiap hari aku selalu menyempatkan ke sana. Supaya aku bisa memandang mu, ya walau dari kejauhan. Tapi itu pun mampu membuatku tenang. " Al menceritakan semuanya dengan mengenang masa lalunya.
"Benarkah..? padahal mas belum tau jika aku Azizah gadis yang akan di jodohkan dengan Mas..? "
"Iya Sayang. Malahan ya sayang. Aku sudah hampir putus asa dan frustasi, saat aku mendengar kabar bahwa kamu di jodohkan. Bodohnya aku waktu itu sayang. Kenapa aku tak mencari tau, calon istriku. Seandainya aku tau jika itu kamu. Tak ada drama dalam hidupku. " Al tersenyum-senyum mengingat semuanya.
Begitu juga Azizah, ia juga tersenyum.
"Ih.. masak sih Mas .?
" Iya Sayang. Aku sudah jatuh hati pada pandangan pertama. Saat melihatmu waktu itu. " Ucapnya sambil menarik bahu istrinya.
"Tapi kenapa, ketika selesai menikah. Mas terlihat cuek.? " Balik bertanya.
"Bukan cuek Sayang. Cuma masih malu-malu Aku Sayang.. " Al terkekeh .
" Aish. Mas Al.... "
__ADS_1