Pengagum Rahasia Bidadari Pesantren

Pengagum Rahasia Bidadari Pesantren
Guratan sedih Abi


__ADS_3

"Bagaimana dok..? " Tanya Azizah dengan hati berdebar.


Dokter Riska masih terdiam dan menjawab pertanyaan Azizah.


Ia terlihat menghela nafas panjang.


"Mbak Azizah, sepertinya rahim anda belum benar-benar pulih betul. " Tutur dokter cantik yang mengunakan jilbab warna pink itu.


Azizah sudah menyiapkan mental dan dirinya untuk jawaban dari dokter Riska ini.


"Kalau begitu, apa saya masih belum bisa mengikuti progam hamil lagi dok.? " Pertanyaan keduanya, sedang Ummi hanya mendengarkan dan sekali-kali Ummi terlihat menepuk lembut bahu putrinya. Mungkin sekedar untuk menguatkan putrinya.


"Eum... Bisa mbak Azizah, tapi jelas di sini, ada resiko yang akan kita ambil. "


"Resiko...? " Suara Ummi sontak membuat Azizah memandang sendu ke arah Umminya.


Azizah memegang tangan Ummi.


"Resiko apa Dok..? " Ummi pun bertanya pada dokter Riska.


"Begitu Bu, akan saya jelaskan. Kandungan Mbak Azizah saat ini masih dalam kondisi lemah. Jikapun Mbak Azizah bersih kokoh untuk hamil lagi, ada 2 resiko yang harus kita waspadai . Pertama rentan untuk janin nya tidak dapat bertahan dalam rahim ibunya. Kedua kelahiran prematur pada nya. " Jelas Dokter Riska .


"Lalu dok , apa itu pun berdampak pada kesehatan putri saya. "


"Jelas Bu. Ibu yang hamil dengan keadaan rahim lemah, biasanya akan mengalami. Pendarahan ringan, kram di perut, merasakan sakit di punggung dan juga tekanan pada panggul. Namun, semua itu bisa di hilangkan sedikit demi sedikit rasa sakit itu bu. "


"Dok, Saya yakin bisa melewati itu semua. " Ucap Azizah tegas pada dokter Riska.


"Tapi nduk.. " Ummi menampakkan wajah khawatirnya.


"Tenang Ummi, Azizah yakin bisa melewati ini semua. " Azizah menggenggam tangan Ummi nya sambil tersenyum menyakinkan Ummi nya.


Ummi pun tak bisa melarang keinginan yang sudah bulat di dalam diri putrinya.


"Mbak Azizah yakin dengan keputusan ini.? " Tanya dokter Riska.


"Yakin saya dok. Saya hanya minta dokter bersedia mendukung saya. "


"Pasti mbak . " dokter Riska pun tersenyum .


"Makasih dok.. "


"Iya mbak.. "

__ADS_1


_____


Sesampai di rumah , Ummi sengaja ingin mengajak putrinya untuk berbicara masalah tadi.


"Nduk, apa kamu sudah yakin..? Apa gak di tunda dulu.. "


"Azizah sudah yakin mi. Keputusan Azizah pun sudah bulat. Azizah ingin secepatnya mempunyai momongan Mi.. "


"Apa suamimu sudah tau nduk..? "


"Belum Ummi, "


"Loh, terus bagaimana kalau suamimu tidak setuju nduk. "


"Ummi tenang saja ya. Mas Al pasti setuju Mi.. "


Ummi hanya terdiam. Namun, sebenarnya ia kasihan melihat putrinya. Di satu sisi demi kesehatan putrinya, di sisi lain putrinya pun berhak bahagia.


____


Sore pun telah tiba, Azizah duduk di depan rumah nya. Menikmati suasana yang selalu ia rindukan. Hari ini ia harus pulang kembali ke rumah Al. Karena tidak bisa berlama-lama di rumah Umminya. Mama mertuanya, sudah berpesan untuk tidak lama-lama di sini.


Ia sudah menyiapkan semuanya, jika Al sudah pulang dari kantor. Nanti tinggal berangkat untuk pulang ke rumah Mama Ratih.


"Injih Abi... Sebenarnya Azizah masih sangat betah berlama-lama di sini Bi. Tapi mau bagaimana .. " Ia menggantung ucapannya.


"Ya gak papa nduk, Sebagai menantu dan istri harus nurut sama Suamimu juga sama mertuanya. Pokoknya nurut bukan untuk hal yang salah. " Ummi menyahut dari dalam, dengan membawa makanan kecil dan teh hangat.


"Nah, itu benar kata Ummimu. Rumah kita juga tidak terlalu jauh nduk. Kamu bisa dengan mudah datang ke sini.. " Imbuh Abi seraya memasukkan kue ke mulutnya.


Azizah pun tersenyum dengan perkataan kedua orang tuanya. Kasih sayang mereka yang selalu ia rindukan. Namun, setidaknya beruntunglah dia. Mendapatkan mertua seperti Papa Jaya dan Mama Ratih. Keduanya tak pernah menganggap Azizah orang lain. Di rumah mewah itu, Azizah bukan seperti menantu, melainkan putri dari sang tuan rumah. Ah, kehidupan yang bisa di bilang sempurna baginya saat ini. Apalagi jika ia segera mempunyai buah hatinya.


Tak selang lama Al, sudah terlihat membelokkan mobilnya di pekarangan rumah Azizah.


Wajahnya terlihat tersenyum, saat matanya bertatapan langsung dengan wanita yang selalu ia rindukan. Ia pun bergegas turun dari mobilnya.


"Assalamualaikum.. " Suara yang pernah keluar dari nya saat mendekat ke arah Azizah.


"Wa'alaikum salam... " Azizah pun meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan suaminya. Kemudian Al melanjutkan menyalami kedua mertuanya.


"Nduk, buatkan minum dulu suami mu.. " Titah Ummi pada Azizah.


"Iya Ummi. " Seraya menerima tas dari tangan Al.

__ADS_1


Lalu Azizah masuk ke dalam di ikuti Al.


"Gak usah Sayang. Tadi aku sudah minum di kantor. Kamu juga tau kan aku gak terlalu suka minum. " Ucap Al saja melihat Azizah akan keluar dari kamarnya.


"Eum.. ok.. " Dia pun kembali ke arah tempat tidur dan mengemas tas Al kedalam koper kecil yang sudah ia siapkan.


"Habis ini kita pulang ya Sayang. " Suara Al sambil melepas sepatunya.


"Iya, tapi Mas Al mandi dulu ya, asem banget baunya. " Azizah terkekeh pelan.


"Iya dong Sayang. Baju ganti aku mana Sayang.? "


"Itu sudah aku siapin Mas. " Azizah menunjuk ke tepi ranjang. "Sholat Ashar dulu, terus kita pulang. " Sambungnya.


"Kamu sudah sholat Sayang..? "


"Sudah dong mas.. "


Lalu Al terlihat mengambil handuk dan baju ganti dan bergegas ke kamar mandi, menghilangkan penat dalam badannya yang terasa gerah.


Selesai dengan ritual mandinya dan berwudhu' Al kembali ke kamarnya. Sajadah untuknya sudah terpasang rapi. Namun, matanya tak mendapati istrinya. 'Kemana dia' batin Al.


Sayup-sayup terdengar suara Azizah sedang berbincang dengan Ummi, mungkin sedang berpamitan dengan Ummi dan Abi.


Al pun langsung Sholat, mengingat waktu ashar juga segera habis.


Selesai sholat ia keluar, mencari Azizah. dan melihat istrinya duduk di ruang tamu, dengan memegang kitab kecil di tangannya.


"Sayang, .." panggil Al seraya duduk di samping istrinya.


"Sudah selesai sholatnya..? " Tanya Azizah.


"Sudah, "


"Mau langsung pulang ..? " tanya nya lagi.


"Boleh... " Jawab Al datar.


Bersamaan Abi keluar dari kamarnya.


"Jadi pulang sekarang nduk..? " Tanya Abi yang ikut duduk di sebelah menantunya.


"Iya Bi.. kapan-kapan Azizah menginap di sini lagi Bi... " Jawabnya dengan senyum.

__ADS_1


"Iya nduk, " Terlihat dari wajah orang tua itu, menahan sesuatu. Entahlah, mungkin karena rasa rindu pada putri semata wayangnya, yang belum terobati sepenuhnya. Terlebih umurnya yang sudah lebih dari paru bayah . Mungkin ingin rasanya di jika putrinya selalu dengannya. Namun, apalah daya . Sekarang, putrinya adalah milik Al. Dan ia tak berhak sepenuhnya lagi.


__ADS_2