Pengagum Rahasia Bidadari Pesantren

Pengagum Rahasia Bidadari Pesantren
Kuasa Allah


__ADS_3

Al menjatuhkan dirinya di lantai samping ranjang Azizah. Ia menjongkok kan dirinya di samping istrinya. Ia genggam tangan Azizah dengan isak tangisnya.


Baginya dunia ini sudah berhenti. Tiada lagi udara yang dapat ia hirup. Dadanya sudah di penuhi dengan kesesakan. Air matanya sudah tak dapat di tahan.


Kenyataan yang begitu sangat pahit dan menyakitkan baginya. Jika ia harus berhenti untuk memperjuangkan istri tercintanya.


Seakan-akan sudah tak dapat lagi ia berkata-kata lagi. Ia hanya menciumi setiap inci di wajah istrinya. Ia genggam tangan lemah itu. Ia kecup punggung tangan istrinya.


Hatinya dan pikirannya sudah tak dapat di stabilkan. Rasa bersalah, rasa marah pada dirinya semakin bergejolak. Ingin rasanya ia memutar waktu kembali. Agar ini semua tidak terjadi.


"Arrggh... !! " Suaranya memecah keheningan. Mama Ratih dan Papa Jaya pun berusaha masuk ke dalam. Namun sayang, Al mengunci kamar rawat Azizah.


"Al... Mama mohon Sayang. Buka pintunya.! " Ucap Mama sedikit berteriak.


"Al . Buka pintunya. Kita bisa bicarakan baik-baik. Kita tidak akan memaksa Al. " Ujar Papa sambil berusaha membuka pintu.


Melihat ada sedikit keributan. Para dokter dan perawat berkerumun melihatnya. Dokter Ken juga nampak berjalan ke arah kamar Azizah. Dan membubarkan kerumunan.


"Ada apa ini Pak Jaya.? " Tanya dokter Ken heran.


"Al dok. Dia belum bisa menerima kenyataan tentang istrinya. " Jawab Papa Jaya sambil menundukkan kepalanya.


"Sebentar Pak. Coba saya yang membujuk Al. Supaya pintunya mau di buka. " Ucap Dokter Ken.


Dokter Ken kemudian maju dan mengetuk pintu pelan.


"Tuan Al. Tolong anda buka pintunya. Saya mau mengecek keadaan istri tuan Al. " Suara dokter Ken sengaja di keraskan agar Al mendengar .


Namun saat Al mendengar suara dokter Ken. Ingatannya kembali ke perihal tentang Alat bantu pernafasan Azizah yang akan di cabut.


Al seperti orang linglung yang sudah kehilangan akal sehatnya.


"Sayang. Aku mohon bangun Sayang. Tunjukkan pada orang-orang. Kalau kamu kuat. Kamu bisa melewati ini semua. Aku mohon Azizah. Aku mohoooonn..... " Al menangis sambil memeluk tubuh lemah istrinya.


Tak dapat di tolak air mata Al membasahi wajah istrinya. Ia rupanya pun sudah mulai putus harapan. Ingin rasanya pun membawa Azizah lari sejauh mungkin. Agar tak seorang pun yang dapat menyentuh istrinya.


Namun Kuasa Allah dan Kasih Sayang-Nya. Masih berpihak padanya.


Jari-jemari Azizah terlihat bergerak dan juga bibirnya terlihat sedikit bergerak. Al yang menyaksikan langsung berteriak histeris saking bahagianya.

__ADS_1


Memanggil Dokter Ken dan membuka pintu kamar Azizah.


"Dok...!!! " Al menggeret tangan dokter Ken.


"Ayo dok. Cepat lihat kondisi istriku. Tadi dia menggerakkan jarinya. " Ucap Al spontan saking bahagianya.


"Apa..? Benarkah. Keluarlah akan saya periksa. " Jawab Dokter Ken. Kemudian masuk dan di ikuti perawat.


"Saya boleh masuk Dok...? " Tanya Al yang langsung di tutupi pintu oleh perawat.


"Maaf Pak. Bapak tunggu di luar. Biar kami periksa Bu Azizah. " Ucap perawat tersebut.


Mama Ratih dan Papa Jaya yang mendengarkan kabar dari Al pun ikut merasakan kebahagiannya yang tiada duanya. Pikiran was-was dan cemas pada kedua orang tua tersebut. Mulai hilang dan tergantikan rasa bahagia dan bersyukur pada yang Maha Kuasa.


"Ma... Azizah Ma... " Ucap Al dengan senyum mengembang.


"Iya Sayang. " Mama pun memeluk putranya dengan tangis bahagia.


Menunggu Dokter Ken di dalam untuk memeriksa kondisi Azizah. Terasa begitu lama dan membingungkan.


"Ma.. Mengapa lama sekali..? " Tanya Al mulai khawatir.


Mama Ratih terlihat meremas jemarinya. Sedang Al berjalan mondar-mandir menanti keluarnya dokter Ken. Dan Papa hanya terdiam membisu dengan wajah cemasnya.


Beberapa menit kemudian.


Ceklek.. !


Suara pintu terbuka. Dokter Ken berjalan keluar dan menutup kembali pintunya.


"Bagaimana Dok..? " Al langsung bertanya melihat dokter Ken keluar.


"Iya dok. Bagaimana kondisi Azizah. " Mama Ratih pun memberondong pertanyaan.


"Alhamdulillah.Suatu Mukjizat dari yang Maha Kuasa. Pasien bisa melewati masa koma. Yang hampir saja , Saya sendiri sudah berputus harapan. Tapi Kehendak yang Kuasa jauh di atas pengetahuan hambanya. " Ucap dokter Ken dengan wajah berbinar-binar.


" Pasien sudah siuman. Dan bisa di jenguk, tapi mohon di mengerti. Hanya satu orang saja yang bisa menemuinya. Secara bergantian. Karena pasien masih mengalami trauma pikirannya. Dan harap di jaga mengenai apapun jangan sampai pasien mengalami syok kembali." Sambung dokter Ken.


"Iya dok. Saya faham. Kalau begitu saya akan masuk dulu dok. " Ucap Al dengan langkah bahagia.

__ADS_1


Mama dan Papa pun menitihkan air mata syukurnya pada Sang Kuasa. Mama memeluk Papa dengan air matanya.


"Alhamdulillah Pa.. Menantu kita akhirnya siuman. " Ucap Mama.


"Pa.. tolong hubungi orang tua Azizah. " Sambung Mama.


"iya Ma... " Jawab Papa Jaya.


Dokter Ken pun kemudian berlalu.


___


Tangan Al bergetar hebat saat membuka handle pintu kamar rawat Azizah.


Netranya menatap ke arah istri tercintanya. Ia mempercepat langkahnya. Air matanya pun ikut menetes tak tertahankan.


"Sayang... " Sambil mengelus pucuk rambut istrinya dan sebentar memeluk tubuh yang masih lemas itu.


Kemudian ia mengecup kening istrinya, lalu beralih mengecup punggung tangan istrinya.


"Sayang.Aku Sangat merindukanmu... " Bisiknya pelan di telinga istrinya.


Azizah pun tersenyum walau masih terlihat lemah. Tangannya mencoba bergerak memegang pelipis suaminya. Yang masih ada sedikit perban di kepala suaminya.


"Mas baik-baik saja..? " Ucapnya pertama kali saat melihat suaminya.


Al cepat-cepat memegang tangan istrinya. Dan menaruhnya dalam dekapannya.


Ia menganggukkan kepalanya.


"Aku baik-baik saja Sayang. " Ia kembali menciumi tangan itu. Ia sangat merindukan Azizah. Rasanya sudah seperti bertahun-tahun ia tak bertemu istrinya.


"Maafkan aku Sayang. " Lirih Al. "Aku mohon berjanjilah. Jangan ulangi lagi seperti ini. Aku bisa gila Sayang. " Al terlihat cepat-cepat menyeka air matanya.


Azizah pun tersenyum kembali dan menganggukkan kepalanya.


"Aku juga merindukanmu Mas.. " Ucapnya lemah.


"Kamu janji tak akan membuatku takut lagi.? Aku benar-benar takut Azizah. " Ucapnya memelas..

__ADS_1


"Iya Mas... "


__ADS_2