
Senja yang sangat indah dengan warnanya yang nampak keemasan, yang menyilaukan netra setiap yang memandang. Azizah menikmatinya suasana ini di atas balkon kamarnya. Dengan di temani suara sholawat Nabi yang ia putar lewat handphone nya. Sungguh rasa syahdu di bawah naungan kasih sayang Sang Maha Pencipta.
Beberapa saat kemudian, pandangannya menangkap mobil sang suaminya. Yang terlihat memasuki gerbang. Cepat-cepat ia bersiap dan turun. Untuk menyambut kedatangan sang suami tercinta.
Senyumnya mengembang sempurna di wajah manisnya. Ia letakkan handphone nya di nakas. Dan bergegas turun ke bawah.
Ia telusuri setiap tangga dengan hati-hati. Suasananya cukup sepi. Entah, mungkin Mama Ratih sedang di kamarnya.
Saat bersamaan ia di depan pintu. Al membukanya. Seketika terlihat oleh Al, sosok sang istri yang tampil anggun dan kalem itu.
Memang pesona yang Azizah miliki, dapat membuat setiap mata yang memandangnya. Menjadi damai dan tentram hatinya.
Seketika rasa penat dan lelahnya sirna, saat ia mendapat senyum manis dan tatapan sayu dari wanita yang selalu ia rindukan.
"Assalamualaikum Sayang. " Ucapnya penuh kasih .
"Waalaikum salam Mas.. "
Azizah mengalami tangan suaminya. Ia mencium punggung tangan suaminya dan membawahkan tas kecil milik Al.
"Eum.. Istriku cantik banget hari ini. " Al terlihat berjalan dengan mendekap bahu istrinya. " Wangi lagi. " Ucapnya menggoda Azizah.
"Iya dong. Yang bau asem itu Mas Al.. "Ucap Azizah terkekeh.
Al seketika melepaskan tangannya dari bahu istrinya dan berhenti. Kemudian terlihat menciumi bau badannya.
" Eum. Iya Sayang. Asem.. hehehe.. " Ia pun ikut terkekeh.
Azizah pun tersenyum, melihat tingkah suaminya.
_____
"Mas, aku sudah siapkan air hangat di bathtub. Cepat mandi ya." Azizah seraya membuka Almari. Mencarikan baju ganti untuk Al.
Sedang Al masih terlihat memainkan ponselnya.
Saat Azizah menoleh ke arahnya. Al masih fokus dengan benda pipi di tangannya.
"Mas, ! " Tegur Azizah.
"Iya Sayang. Apa..?" Sambil mendongak ke arah si empunya.
"Iya kan.. Gak dengerin aku ngomong apa..? " Azizah terlihat memanyunkan wajahnya.
"Ini loh sayang. Masih bales pesan chat dari taman bisnisku. " Seraya menunjukkan layar ponselnya ke wajah sang istri, yang terlihat cemberut.
__ADS_1
"Eum.Ada yang ngambek. " Al mencubit gemas pipi Azizah.
"Bukannya ngambek, cuma Mas dari tadi aku bicara tapi gak jawab. " Gerutunya.
"Iya.. iya. Maaf ya Sayang. " Al tanpa sungkan mendaratkan kecupannya di pipi sang istrinya.
"Airnya sudah siap." Ucap Azizah.
"Iya Sayang. Aku mandi dulu ya. " Ucap Al sambil menyambar handuk yang Azizah siapkan di tempat tidur.
Azizah mengangguk. Kemudian ia terlihat keluar kamar, saat Al tengah mandi.
Beberapa menit kemudian, ia kembali ke kamarnya dengan membawa nampan isi segelas susu dan camilan kesukaan Al.
Selesai dengan ritual mandinya. Al keluar dengan memakai handuk yang ia lilitkan di pinggangnya. Nampak oleh netra Azizah, dada bidang dan bentuk tubuh sixpack .
"Ganti di kamar mandi Mas.. " Sambil mengulurkan baju untuk Al.
"Memangnya kenapa Sayang, kalau ganti di sini..? " Tanya Al dengan nada menggoda istrinya.
Pipi Azizah seketika memerah.
"I-iya Enggak papa.. "
"Bener gak papa...? " Al terkekeh. Sedang Azizah sendiri tak sedikitpun memandang ke arah suaminya.
Sedang Al hanya menggoda istrinya. Kemudian ia berlahan kembali ke kamar mandi dan membawa baju gantinya.
Sementara Azizah masih saja membelakangi Al. Mengira bahwa suaminya masih di belakangnya.
Selesai berganti baju Al kemudian mengambil sajadah di nakas yang sudah di siapkan oleh Azizah.
Kemudian ia sholat ashar. Gini, kehidupan Al sudah berubah 100 persen dari dulu. Sekarang sudah tidak menunggu ocean dari siapapun. Jika sudah masuk waktu sholat, ia akan menunaikannya. Dan ini semua terjadi, karena hadirnya Azizah dalam hidupnya.
Merasa Al tak juga berbicara atau menghampirinya. Azizah membalikkan badannya. Saat netranya mendapati sang suaminya tengah sholat di samping ranjang, di tempat yang memang ia biasa gunakan untuk sholat.
Ia menatapnya dengan senyum bahagia dan syukur pada Yang Kuasa. Karena kehendak-Nya lah suaminya gini benar-benar sudah berubah.
Selepas sholat dan berdzikir. Al bangkit, melipat sajadahnya lalu meletakkan kembali ke tempatnya.
Lalu berjalan menghampiri istrinya yang masih duduk di ranjang dengan memegang ponselnya.
Al lalu meletakkan kepalanya di pangkuhan istrinya. Azizah membulatkan mata melihat tingkah suaminya.
"Aku buatin Mas susu, pumpung masih hangat di minum ya.. " Ucapnya sambil mengelus rambut suaminya , yang masih sedikit basah.
__ADS_1
"Habis ini saja Sayang. " Al mendongakkan wajahnya ke arah sang istri. Hatinya begitu damai dan nyaman saat berdua dengan istrinya.
"Sayang.. "
"Iya Mas. " Azizah kemudian menaruh ponselnya.
"Gimana tadi , kata dokter Riska..? "
Azizah lalu teringat ucapan dokter Riska. Seketika raut wajahnya berubah nampak sedih.
"Kenapa Sayang. ? " Merasa Azizah tidak baik-baik saja. Al beranjak dan duduk di samping istrinya.
"Kata dokter Riska. Rahim Azizah masih lemah mas . Kondisinya belum stabil. " Lirihnya pelan. Ia nampak menundukkan kepalanya.
"Sayang.. " Al meraih janggut istrinya. Dan menghadapkan ke wajahnya.
"Kok kamu sedih. ? Terus gimana lagi, Kata dokter Riska.. " Ucap Al pelan.
"Saran dokter Riska. Aku harus melakukan penyuburan untuk rahimku. Dan menunda kehamilanku dulu mas.. "
"Bagus dong Sayang.. " Suara Al lantang.
Mendengarnya Azizah heran. Lantas menatap suaminya dan bertanya.
"Kok bagus Mas.. Aku kan kepingin secepatnya hamil lagi. " Ucapnya dalam keheranan.
Lalu Al tersenyum.
"Iya lah Sayang. Bagus. Kan kita bisa bulan madu lebih lama. " Ia terkekeh menggoda sang istri.
Memang semenjak kecelakaan itu, Al berusaha menjauhkan Azizah dari pikiran negatif dan ketegangan. Jadi sebisa mungkin Al selalu menciptakan tawa di wajah sang istrinya.
"Mas Al.. Mulai lagi kan. Aku serius Mas... "
"Aku juga serius Sayang.. " Ucapnya sambil menggenggam kedua tangan Azizah.
"Sayang, bagiku saat ini adalah kesehatanmu. Untuk masalah kehamilan, kita bisa menundanya sampai rahim kamu benar-benar siap. Aku atau pun Mama dan Papa tidak ada yang memaksa untuk kamu secepatnya kembali hamil. Sekarang yang terbaik adalah memikirkan kesehatanmu harus kembali sepenuhnya. Jika kamu tetap memaksa dan nantinya berakibat fatal. Maaf Sayang , aku gak sanggup untuk itu. " Jelas Al panjang lebar untuk meyakinkan Azizah.
Karena tadi saat jam istirahatnya. Al tanpa sepengetahuan Azizah, telah menghubungi dokter Riska. Menanyakan perihal hasil diagnosa rahim Azizah. Yang selalu Al ingat adalah perkataan dokter Riska. Jika Azizah memaksa untuk hamil kembali sebelum rahimnya benar-benar pulih. Maka akan berakibat fatal bagi ibu dan bayinya .
Yang tentunya membuat pikiran Al sedikit gelisah. Ia takut jika istrinya tetap bersih kokoh akan secepatnya hamil kembali.
"Tapi Mas..."
"Gak ada tapi Sayang. Aku akan selalu mendukungmu. Tapi tidak untuk saat ini. " Ucap Al. " Aku mohon Sayang, untuk saat ini. Dengarkan keinginanku. Jika sudah tiba waktunya, Aku akan selalu mendukungmu. " Ucapnya berusaha meyakinkan istri tercintanya.
__ADS_1
Al menarik istrinya dalam pelukannya. Berusaha menghadirkan ketenangan di dalam jiwa istrinya.
Sedang Azizah masih dalam pikiran dilemanya..