Penjahat Itu Kekasihku!

Penjahat Itu Kekasihku!
“Dosen killer


__ADS_3

Episode 17


“Mel… Melly” Ujarku memanggil Melly, dan seketika akupun tersadar jika Melly tadi sempat berkata akan berangkat sendiri jika aku tidak mau bangun.


Sehingga, dengan cepat akupun beranjak dari tempat tidur untuk mencari Melly diseluruh ruangan rumah.


“Melly…” Teriak ku terus memanggil Melly, namun tidak ada juga balasan Melly sehingga akupun berlari keluar rumah untuk melihat motor Melly.


Dan benar saja motor Melly sudah tidak ada didepan, sehingga akupun yakin jika Melly sudah pergi ke kampus tanpa membawa ku.


“Ihh Melly… tega banget sih ninggalin aku!” Ungkapku merasa kesal.


Akupun segera berlari kedalam rumah untuk melihat jam, dan setelah memastikan ternyata aku masih ada waktu kurang lebih setengah jam untuk memulai jam perkuliahan, sehingga akupun buru-buru mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampus.


Setelah selesai bersiap-siap aku yang bingung harus naik apa untuk ke kampus itupun memutuskan untuk menunggu taxi atau ojek dipinggir jalan. Namun setelah hampir 10 menit menunggu, taxi maupun ojek tidak juga kunjung kelihatan. Sehingga akupun mulai putus asa dan berpikir jika aku mungkin tidak akan sempat mengikuti mata perkuliahan hari ini.


“Aduh gimana ini… kok dari tadi gak ada ojek sama taxi ya yang lewat, mana perkuliahan bentar lagi dimulai” Ucapku mengeluh.


“Ihh lagian Melly tega banget sih ninggalin aku!” Ucapku kesal dan menyalahkan Melly.


Pedahalkan seharusnya aku tidak menyalahkan dia, karena dia sudah mencoba membangunkanku tadi tapi akunya saja yang susah untuk dibangunkan.


‘Bermmm, Bermmm’


Dan tiba-tiba pada saat aku sudah mulai putus asa karena akan keterlambatanku ke kampus, tiba-tiba saja dari belakang terdengar suara motor yang begitu berisik dan menganggu ditelinga ku.


‘Pit! Pit! Pit!’ Motor itu membunyikan klakson nya beberapa kali, lalu menyinggahi ku.


Seketika pada saat motor itu berhenti, akupun kaget ketika mengetahui ternyata orang yang mengendarai motor itu adalah Verel. Sehingga pada saat dia menegurku, akupun bersikap jutek dan dingin terhadapnya.


“Hai cewek gila… mau ke kampus ya?” Tegurnya menanyakan ku.


Namun aku tidak menjawab melainkan aku membuang muka untuknya, sehingga iapun kembali berkata.


“Kok jutek banget sih..? Mau nebeng gak?” Ucapnya menawariku untuk dibonceng olehnya.

__ADS_1


“Gak butuh!” Jawabku dengan jutek.


“Ehm… yakin gak mau..? Pedahalkan aku juga mau ke kampus” Ucapnya mencoba menggodaku.


“Udah pergi ajah sendiri… gak usah sok baik mau antarin aku!” Lanjutku tetap bersikap dingin.


“Ya udah… pedahalkan niat aku baik. Tapi… ya udahlah” Ucapnya lagi dan sepertinya dia juga tidak ingin memaksaku.


Namun seketika Verel melihat ekspresi wajahku semakin gelisah, dan beberapa kali aku melirik jam tanganku sehingga iapun kembali berkata:


“Benar gak mau ikut..?” Tanya nya lagi ingin memastikan.


Aku yang semakin gelisah itupun kembali melihat jam tanganku,dan benar saja jam perkuliahanku sebentar lagi dimulai sehingga akupun berkata.


“Ya udah aku ikut…”


“Tapi ingat, aku itu cuman terpaksa!” Ujarku tidak ingin jika ia berpikir yang tidak-tidak.


“Iya bawel ah.. udah naik sini!” Ucapnya.


Setibaku dikampus, akupun buru-buru turun dari motor Verel sehingga Verel yang baru saja menurunkan standar motornya itupun menegurku.


“Eh-eh mau kemana..?” Ucapnya sambil menahan tanganku.


“Lepasin gak! aku udah telat ni!” Ucapku menyuruhnya untuk melepaskan tanganku.


“Buru-buru banget sih… baru juga turun!” Ujarnya dan sepertinya dia ingin mencari masalah lagi denganku. Sehingga akupun melepas paksa tangannya yang menahanku dan dengan cepat aku berlari menuju kelas tanpa menanggapi perkataan nya barusan.


“Dasar cewek gak tau diuntung!” Ucap Verel kesal.


“Setidaknya terima kasih kek dulu! Ini malah main pergi-pergi ajah” Lanjut Verel mengoceh sendiri.


Akupun terus berlari menuju ruangan kelas tanpa menghiraukan Verel lagi, dan sesekali aku melihat jam tanganku untuk memastikan apakah aku masih bisa mengikuti pelajaran hari ini.


“Aduh udah telat 10 menit lagi” Ucapku dalam hati semakin cemas.

__ADS_1


Sehingga pada saat aku sudah berada didepan kelas, ternyata benar saja mata pelajaran sudah dimulai. Namun aku tetap memberanikan diri untuk masuk ke dalam kelas. Sehingga teman-temanku pun tercengang pada saat dosen ku memasang wajah masam kepadaku.


“Maaf pak saya telat, apa saya masih bisa mengikuti kelas bapak?” Ucapku meminta izin.


Dosenku pun melototiku dengan tajam nan sinis dan ingin rasanya ku colok matanya itu, namun mau bagaimana lagi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa melainkan hanya menunggu dia berbicara.


“Kamu tahu sekarang sudah pukul berapa?” Tanya dosenku sepertinya ingin mengintrogasiku.


“Tahu pak…” Jawabku.


“Pukul berapa?” Tanya dosenku lagi, sehingga akupun buru-buru melihat jam tanganku dan mengatakan.


“Pukul 9.11 menit pak” Jawabku, lagi dan lagi dosenku pun kembali bertanya.


“Kamu tahu kelas saya dimulai pukul berapa?”


“Pukul 9.00 pak” Ucapku menjawab.


Sesekali aku melirik ke-bangku Melly dan menyorotinya karena aku pikir ini semua salahnya karena telah meninggalkan aku sehingga akupun harus berhadapan dengan dosen killer ini.


“Itu artinya kamu udah telat 11 menit” Ujar dosenku.


“Jadi… sekarang silahkan keluar!” Lanjutnya mengusirku, namun aku yang tidak mau ketinggalan pelajarannya itupun tetap bersikeras meminta dia untuk mengizinkan aku mengikuti mata pelajarannya.


“Pak tolong pak… saya cuman telat 11 menit loh pak, tadi itu saya benar-benar ada kendala pak! Tolong pak izinkan saya mengikuti mata pelajaran bapak” Tuturku tetap berusaha meminta izin.


“Gak usah banyak alasan, saya gak suka sama mahasiswa yang gak bisa menghargai waktu” Jawabnya.


“Asal kamu tahu… waktu itu sangatlah penting bagi saya, jadi silahkan keluar, dan silahkan belajar bagaimana caranya untuk menghargai waktu jika kamu mau mengikuti mata pelajaran saya minggu depan” Ujar dosenku panjang lebar menceramahi aku.


Sungguh rasanya ingin aku smackdow dosen itu dan ingin ku Tarik moncongnya itu agar tidak bisa lagi berkata-kata. Tapi, apalah dayaku yang hanya seorang mahasiswa tentunya tidak bisa berbuat apa-apa selain menurutinya. Karena sesungguhnya dalam peraturan dosen dan mahasiswa, yaitu pasal 1 dosen selalu benar, pasal 2, jika dosen salah, maka kembali ke pasal satu.


Tentu saja dari pasal tersebut, aku tidaklah memiliki celah untuk melawan atau menentangnya. Sehingga dengan sangat terpaksa akupun harus mengikuti keinginan nya. Walaupun aku tidak bisa terima dengan caranya mengusirku, tapi ya mau bagaimana lagi selain mecoba untuk lebih sabar menahan emosi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2