
EPISODE 31
“Di taman pas itu kamu nendang botol.” Terang Verel sehingga akupun tertawa lepas ketika mengingat kejdian itu.
“Hahahahh…”
“Iya-iya aku ingat.” Ucapku dan kemudian melanjutkan lagi ketawaku.
“Hahahahh”
“Tuh kan.” Tutur Verel.
“Iya aku minta maf deh.” Ucapku masih tertawa tipis.
“Tapi, itu mah gak seberapa. Cuman botol doang kok.” Sambungku lagi.
“Ih gak sebarapa apanya. Nih kepalaku sampai benjol.” Jawab Verel bercanda.
“Oh jadi gak terima?” Ucapku.
“Hahaha enggak kok aku bercanda ajah.” Ujar Verel.
Setelah mengingat-ngingat kejadian pada waktu wala ketemu. Verel pun kembali bertanya kepadaku:
“Oh iya Rat…”
“Ah, gimana?”
“Ngomong-ngomong dulu kan kamu benci banget tuh sama aku. Tapi sekarang kok kamu mau sih jalan sama aku?” Tanya Verel terlihat serius.
“Ya awalnya sih emang aku gak suka sama kamu, soalnya kamu nyebelin orangnya.” Jawabku dan kemudian Verel pun kembali bertanya dengan ekspresi penasaran.
“Terus sekarang?”
“Sekarang aku suka sama kamu.” Ungkapku dan sepertinya aku salah ucap sehingga membuat Verel pun tercengang.
“Hah, suka?” Tanya Verel penasaran.
__ADS_1
Aku yang menyadari jika barusan aku salah ucap itupun seketika mengalihkan perhatian Verel agar ia tidak salah menafsirkan perkataanku. Walaupun sebenarnya aku memang menyukai dia, namun tidak mungkinlah aku mengungkapkan perasaan ku terang-terangan kepadanya.
“Ah-anu, maksud aku. Aku suka kok kamu ajak aku ke sini.” Ucapku buru-buru memberi alasan.
Untung saja pada saat itu matahari pun mulai terbenam sehingga sunset pun sudah mulai kelihatan. Sehingga aku bisa mengalihkan pembahasan tadi agar Verel tidak mencurigai jika aku memang menyukai dia.
“Eh lihat deh, sunsetnya cantik banget.” Tuturku menunjuk ke-arah sunset.
“Wah iya, indah banget sunsetnya.” Ujar Vere.
Kami pun menyaksikan keindahan sunset pada sore itu. Betul-betul momen yang sangat menyenangkan bisa berdua dengan Verel dan aku berharap momen seperti ini tidak hanya berlalu sekali saja. Kalau bisa momen-momen yang seperti ini akan terus aku rasakan bersama Verel.
Seketika, pada saat sunset sudah mulai hlang. Verel pun tiba-tiba berdiri lalu menghadap ke-arah ku dan tentunya jantungku seketika berdetak cepat. Terlebih lagi ketika Verel berlutut di atas pasir lalu mengambil kedua tanganku dan berkata:
“Ratih…” Ucapnya memegang tanganku dan menatapku dengan serius.
Akupun terdiam dan tak berkutip sama sekali ketika Verel melakukan itu pada ku sehingga aku hanya bisa menelan liur sembari menunggu apa yang ingin dia lakukan.
“Mungkin awal pertemuan kita tidaklah menjadi pertemuan yang indah. Namun, meskipun begitu, aku sangat bersyukur dengan pertemuan kita itu.” Ucap Verel mulai merangkai kata.
“Dan, aku begitu yakin jika hidupku akan jauh lebih baik lagi ketika aku bersamamu. Kamu membuatku bahagia bahkan jika aku merasa sedih dan rendah. Senyummu adalah alasan untuk semua kebahagiaanku dan tanpamu hidupku akan sangat membosankan. Maukah kamu bersamaku?” Sambung Verel.
Benar-benar gila, inilah yang aku tunggu. Ungkapan Verel inilah yang aku nanti-nantikan, dan akhirnya hari ini dia mengungkapkan perasaanya kepadaku. Sunggu aku tidak menyangka jika Verel juga menyukaiku, yang awalnya aku sempat ragu dan takut jika aku saja yang merasakan hal itu. Namun kini semuanya terjawab, ternyata Verel juga menyukaiku.
“Gimana Rat? Kamu mau kan terima aku jadi pacar kamu?” Tanya Verel lagi ingin memastikan.
Dan, akupun kembali menelan liur dengan perasaan yang begitu senang dan gembira akupun menjawab dengan tegas:
“Iya aku mau.” Jawabku dengan terang sehingga membuat Verel pun berdiri lalu loncat-loncat di atas pasir seperti seorang anak kecil yang mendapatkan mainan baru dari ibunya.
“Beneran Rat?” Tanya Verel memancarkan senyuman kebahagiaan dan akupun membenarkan dengan cara menangnggukkan kepala.
Verel pun berdri lalu meloncat ke sana ke mari. Mungkin perasaannya begitu senang sehingga kegembiraannya pun dicurahkan dengan cara seperti itu, dan akupun hanya bisa tertawa meliht dia seperti itu.
Setelah merasa lelah meloncat-loncat. Verel pun kembali padaku lalu berkata:
“Huff hah huff…”
__ADS_1
“Makasih Rat, makasih udah mau nerima aku.” Tutur Verel ngos-ngosan.
“Hemem, iya sama-sama.” Jawabku canggung.
Tak tahu kenapa setelah resmi berpacaran, akupun merasa canggung. Sepertinya sangat berbeda pada saat sebelum berpacaran. Mungkin karena baru beberapa menit yang lalu kami berpacaran sehingga mungkin karena hal itulah yang membuat aku canggung terhadapnya. Tapi meski begitu mengapa hanya aku saja yang canggung sedangkan Verel tidak terlihat canggung sama sekali. Apa karena dia laki-laki? Tapi entahlah aku juga tidak bisa memastikan hal tersebut.
“Udah malam ni Ver, yuk kita pulang.” Ucapku mengajak Verel pulang karena memang saat itu sudah mulai gelap.
“Loh kok masih panggil nama sih?” Ucap Verel sepertinya ingin memancingku.
“Terus panggil apa dong?” Tanyaku pura-pura tidak mengerti maksud Verel tersebut.
“Gimana sih, kan kita udah resmi pacaran. Jadi mulai sekarang panggil sayang ya.” Tutur Verel sehingga membuat pipiku pun terasa memerah.
“Hihih iya.” Ujarku malu-malu dan disusul dengan kata:
“Sayang.”
“Nah gitu dong.” Ucap Verel merasa puas dan setelah itu Verel pun memegang tanganku lalu berkata:
“Ya udah ayo kita pulang sayang.” Ucap Verel.
Betul-betul Verel terlihat begitu lempeng saja memanggilku dengan sebutan sayang. Mengapa dia tidak canggung sama sekali, pedahalkan kami baru saja berpacaran. Mestinya dia juga merasakan hal yang seperti yang aku rasakan. Tapi ya sudahlah, yang penting sekarang kami sudah resmi berpacaran, seiring berjalannya waktu perasaan canggung ini juga pasti akan hilang dengan sendirinya.
Setelah mengantarkan aku pulang ke rumah Melly. Akupun buru-buru mengemas barang-barangku karena ingin pulang ke rumah orang tuaku. Dan selesai mengams barang, akupun meminta Melly untuk mengantar aku pulang ke rumah orang tua ku.
“Mel, aku udah selesai ni.” Pungkasku memberitahukan Melly.
“Ya udah ayo kalau gitu.” Jawab Melly dan kemudian Melly pun mengantarkan aku pulang ke rumah orang tua ku.
Setibanya aku di rumah. Terlihat ibu dan ayah sudah menunggu aku di depan pintu, ibu yang merindukan kepulangan anaknya itupun dengan cepat memelukku lalu berkata:
“Akhirnya kamu pulang juga nak, ibu sudah ribdu banget sama kamu.”
Begitulah seorang ibu, walaupun tadi kami sudah bertemu pada saat di kampus. Tapi masih saja dia merasakan rindu yang begitu mendalam terhadapku dan hal itu terasa sekali ketika dia memelukku. Aku merasakan bagaimana dia sangat merindukan ku. Pelukan hangatnya itu seakan-akan memberitahukan ku bahawa ibu sangat rindu akan kehadiranku di rumah.
Bersambung
__ADS_1