
EPISODE 21
“Kamu tunggu bentar disini ya” Ucapku dan setelah itu akupun buru-buru ke apotik.
Setelah membelikan obat oles di apotik akupun segera kembali, dan terlihat Verel masih duduk di tempat itu sambil memegang wajahnya yang lebam dan memar.
“Eh kamu mau ngapain..?” Ucap Verel.
“Udah kamu diam ajah, mana sini aku obati” Pungkasku memaksa.
“Agh-aghh pelan-pelan dong!” Rintih Verel kesakitan.
Setelah selesai mengoles semua memar di wajahnya. Verel pun menatapku dengan curiga lalu berkata:
“Kok kamu bisa ada di sini?” Tanya nya sehingga akupun panik karena tidak tahu harus memberi alasan apa kepadanya.
Dan juga mana mungkin aku katakan yang sejujurnya jika daritadi itu aku mengikuti dia, sehingga akupun berpikir keras untuk mencari alasan apa yang harus aku berikan padanya.
“Ehm…” Mendehem sehingga Verel pun kembali menyorotiku dengan curiga.
“Kok kayak mikir gitu..? Apa jangan-jangan kamu emang sengaja ngikutin aku ya daritadi?” Titur Verel mencurigai aku sehingga akupun dengan cepat membalas:
“Ih ke-pede-an banget sih…”
“Lah terus… kalau gak? kenapa kamu tiba-tiba datang nolongin aku?” Tanyanya penuh curiga.
“Eh kamu itu harusnya bersyukur aku udah nolongin kamu! Ini bukannya terima kasih malah nuduh yang enggak-enggak!” Jawabku dengan nada judes.
Aku tentunya tidak ingin jika Verel mengetahui aku mengikutinya daritadi sehingga akupun berusaha sebisa mungkin memberi alasan dan memasang ekspresi wajah kesal kepadanya agar dia tidak mencurigai aku.
“Ehm…” Verel mendehem.
“Udah ahh! Nyesal aku nolongin kamu! Kalau tau gini aku gak bakal nolongin!” Ujarku dan seketika Verel pun tersenyum lalu menyeringai.
“He-heh…”
“Kenapa ketawa! Gak ada yang lucu!” Ucapku kesal.
“Ehm… kamu cantik juga ya kalau lagi marah” Ucap Verel sehingga membuat pipiku pun memerah.
“Apaan sih, gak jelas!” Jawabku malu-malu.
“Udah ah! Ini ambil! Olesi sendiri memar kamu!” Jawabku buru-buru pergi karena perasaanku semakin tidak karuan ketika Verel mengatakan hal barusan.
“Eh mau kemana?” Ucap Verel sambil menahan pergelangan tanganku.
“Lepas gak!” Ujarku.
__ADS_1
“Kok buru-buru banget sih..? Udah di sini ajah temenin aku” Ucap Verel tidak ingin aku pergi, namun aku yang semakin tidak tahan karena merasakan perasaan yang aneh ketika dekat dengan dia itupun melepas paksa tangannya yang memegangi tanganku sehingga dengan cepat akupun pergi.
“Eh jangan pergi…” Teriak Verel namun aku tetap saja pergi dan tidak menghiraukannya.
Setelah itu akupun pulang ke rumah Melly, dan setibaku di rumah Melly. Terlihat Melly sedang asik-asiknya berbaring di sofa ruangan tamunya sembari memainkan ponselnya.
“Eh Ratih, kamu udah pulang” Tegur Melly ketika melihatku.
“Iya Mel” Jawabku sembari berjalan menuju sofa tempat Melly berbaring.
“Gimana kondisi nyokap kamu Rat..?” Tanya Melly sehingga dengan terpaksa akupun harus berbohong lagi kepadanya.
“Oh iya udah mendingan kok Mel” Jawabku berbohong.
“Owh syukur deh kalau gitu”
“Terus nyokap kamu di mana sekarang? Masih di rumah sakit atau udah pulang?” Tanya Melly lagi sehingga akupun lagi dan lagi harus berbohong.
“Oh udah pulang kok tadi Mel, udah gak apa-apa kok” Jawabku penuh kebohongan.
Sebetulnya aku tidak tega juga membohongi Melly, tetapi aku juga tidak mungkin jika mengatakan yang sebenarnya. Yang dimana Melly tahu kalau aku itu benci dengan Verel, dan bagaiamana tanggapan dia seandainya aku mengatakan yang sebenarnya.
“Mel aku ke kamar dulu ya” Tuturku.
“Ok Rat...” Jawab Melly sehingga akupun sedikit legah karena sudah tidak membohongi Melly lagi.
‘Kamu cantik juga ya kalau lagi marah’ Terbayang-bayang.
“Aghh Come-on dong Ratih… kok kamu mikirin itu terus sih..?”
‘Kamu cantik juga ya kalau lagi marah’ Kata-kata Verel itu seolah-olah mengantui pikiranku. Sungguh aku bingung dengan diriku sendiri kenapa aku terus membayangkan ucapan Verel tadi.
Beberapa kali aku mencoba menghilangkan bayangan itu namun tetap saja tidak bisa, ucapan Verel tadi itu terus terngiang-ngiang dipikiran dan seperti masih terucap dengan jelas ditelingaku.
Bahkan karena ucapan Verel itu juga aku kadang tersenyum-senyum sendiri, sampai-sampai akupun tidak tahu ternyata Melly sudah ada di kamar. Sehingga Melly yang melihatku bertingkah aneh itupun menegur.
“Kamu kenapa Rat.? Kok senyum-senyum sendri?” Tanya Ratih sehingga akupun kaget karena sebelumnya aku tidak tahu ternyata Melly sudah ada di dalam kamar.
“Haah..? E-eh gak kenapa-kenapa kok, emangnya kenapa Mel?” Tanya ku pura-pura tidak tahu.
Tiba-tiba Melly pun menjatuhkan dirinya disampingku lalu berkata:
“Ayo ngaku… kamu lagi mikirin apa?” Tanyanya penasaran.
“Gak mikir apa-apa kok, lagian kenapa sih Mel?” Tegasku berusaha menutupi.
“Bohong! Mana mungkin kamu senyam-senyum sendiri kalau lagi gak mikirin apa-apa” Tiba-tiba Melly pun berekspresi kaget.
__ADS_1
“Owh aku tahu… kamu pasti lagi mikirn Verel kan?” Ucapnya menebak.
“Ih apaan sih Mel! Jangan sok tahu deh” Jawabku pura-pura risih pedahalkan memang benar aku memang lagi pikirkan Verel.
“Udah ngaku ajah deh… gak usah malu-malu gitu” Ujar Melly sehingga aku yang tidak mau Melly terus mencurigaiku pun berdiri dan berkata.
“Terserah kamu deh! Udah aku mau mandi dulu” Ujarku buru-buru.
“Loh Rat… Ratih!” Tutur Melly sepertinya belum puas.
Di hari berikutnya pada saat itu aku sedang berada di kampus untuk mengikuti mata kuliah dan hari itu adalah mata kuliahnya dosen killer yang tidak mengizinkan aku mengikuti kelasnya tempo lalu. Sehingga, kali ini aku sudah tepat waktu hadir dikelasnya karena aku tidak ingin kejadian tempo lalu terulang lagi.
“Selamat pagi adik-adik mahasiswa” Ucap sang dosen menyapa para mahasiswa nya.
“Selamat pagi pak” Jawabku dan para mahasiswa lainnya.
“Baik sebelum bapak memulai materi perkuliahan hari ini, bapak mau absen terlebih dulu” Ucapnya ingin mengabsen para mahasiswa nya.
“Sialahkan yang namanya saya sebut angkat tangan ya” Pintanya.
“Baik pak” Jawabku dan para mahasiswa lainnya.
“Melly..?”
“Hadir pak” Jawab Melly kemudian si dosen pun melanjutkan untuk nama selanjutnya.
“Misna..?”
“Saya pak”
Sang dosen pun terus menyebut satu per satu nama-nama mahasiswa nya, dan terakhir namaku pun disebut:
“Ratih..?”
“Saya pak” Jawabku sambil mengangkat tangan, namun seketika si dosen itu memperhatikan aku lalu berkata:
“Kamu yang kemarin gak saya izinkan masuk kelas saya kan?” Tanya si dosen sehingga akupun menjawab dengan nada malu.
“Iya saya pak” Jawabku malu-malu.
“Gimana..? Udah belajar caranya untuk menghargai waktu?” Tanya si dosen seolah-olah ingin mengintimidasi aku.
‘Hihihihi’ Beberapa mahasiswa yang ada dikelas pun tertawa kecil ketika si dosen berkata seperti itu.
Rasanya aku betul-betul malu dan rasanya aku ingin lari keluar ruangan kelas pada saat itu juga. Aku tidak habis pikir kenapa dosen killer itu mengungkit-ungkit permasalahan tempo lalu, pedahalkan dia itu seroang dosen harusnya dia bisa mengerti bagaimana perasaanku ketika diperlakukan seperti itu.
Bersambung
__ADS_1