Penjahat Itu Kekasihku!

Penjahat Itu Kekasihku!
Apa Yang Terjadi Dengan Verel?


__ADS_3

EPISODE 27


Di ke esokan harinya. Melly yang sudah siap untuk berangkat ke kampus pun bertanya padaku.


“Rat, kamu gak ke kampus?” Tanyanya.


Namun aku yang masih saja kepikiran kejadian kemarin itu rasanya takut jika harus keluar rumah. Aku betul-betul takut jika polisi akan menangkapku sehingga akupun menjawab:


“Enggak lah Mel, aku di rumah ajah” Jawabku yang masih belum bergerak dari tempat tidur.


Melly kemudian mencemplungkan bokongnya di atas kasur dan duduk di pinggir kasur tempat aku berbaring lalu berkata:


“Kamu masih kepikiran soal kemarin ya?” Tanyanya, dan kemudian akupun mengiyakan dengan cara menganggukkan kepala.


Dan Melly yang sepertinya tidak tega melihat aku seperti itupun kemudian ia meletakkan tangannya dibahuku lalu mengusap-usap bahuku dan berkata:


“Kamu yang sabar ya Rat, percaya sama aku kalau kamu pasti akan baik-baik ajah” Tutur Melly meyakinkanku.


Namun mau bagaimana lagi. Aku yang benar-benar memiliki hati yang mudah rapuh dan mudah menangis inipun kembali tak bisa membendung air mata karena kecemasan berlebih yang aku rasakan.


“Tapi Mel…” Belum selesai aku berbicara akupun tak bisa menahan air mata sehingga akupun menangis pada saat itu juga.


‘Hiks, Hiks, Hiks’


“A-aku benar-benar takut Mel.” Lanjutku sambil menangis.


“Udah-udah, percaya deh sama aku. Kamu bakalan baik-baik ajah. Aku bisa pastikan itu” Ujar Melly terus mencoba menenangkanku.


Lagi-lagi Melly selalu saja ada untuk aku. Pedahal jika harus dipikir, Melly seharusnya sudah menjauhi aku atau mungkin mengusir aku dari rumahnya karena kini aku sudah menjadi buronan. Namun hal itu tidak dia lakukan, melainkan dia tetap saja ada disampingku dan terus menjadi support system ku ketika aku benar-benar berada dalam keterpurukan.


“Ya udah kalau gitu, aku berangkat ke kampus dulu ya” Ujar Melly ketika melihatku sudah mulai tenang.


“Iya Mel, kamu hati-hati ya” Jawabku.


Setelah itu Melly pun pergi ke kampus, dan kini aku hanya seorang diri di rumah Melly. Meskipun kini perasaanku agak sedikit tenang berkat Melly. Namun tetap saja aku masih memikirkan nasib Verel kni seperti apa.


“Nasib Verel sekarang gimana ya? Apa dia baik-baik ajah?” Tanyaku dalam hati.

__ADS_1


Jika dipikir-pikir. Aku semestinya tidak harus memikirkan Verel lagi ataupun mencemaskannya, karena aku tahu jika dia itu memang bukanlah pria baik. Namun tidak tahu kenapa hati ini rasanya mendorong perasaan aku seolah-olah memintaku untuk memikirkan Verel.


“Come-on dong Rat, kamu itu seharusnya gak mesti mikirin dia lagi!” Tuturku dalam hati mencoba memberontak pada pikiranku.


Namu tetap saja pikiran dan hati ini terus memikirkan dia.


“Ah, Ratih… kamu kenapa si mikirin Verel terus” Lanjutku kesal dengan diriku sendiri.”


Karena pikiran ini tidak mau menuruti pintaku, akupun kemudian beranjak dari tempat tidur lalu keluar ke ruangan tamu. Namun, karena masih agak parno. Sehingga, akupun sesekali mencoba mengintip ke jendela untuk memastkan situasi diluar. Namun apa yang aku lihat tidaklah seperti apa yang ada dibayanganku karena situasi yang ada diluar itu tenang-tenang saja.


“Kok sepertinya aman-aman ajah ya?” Tanya ku seorang diri.


“Apa mungkin polisi belum dapat mendeteksi keberadaanku saat ini?” Lanjutku lagi.


“Tapi…” Bingung.


“Gak mungkin, kalau memang aku udah ditetapkan sebagai DPO (Daftar Pencarian Orang). Seharusnya, dalam kurun waktu semalam polisi pasti udah bisa nemuin aku.?” Tuturku berbicara sendiri mencoba untuk menganalisis.


Tentunya hal ini membuatku bingung. Yang dimana jika memang aku sudah ditetapkan sebagai DPO, daftar pencarian orang. Polisi memang sudah seharusnya menemukanku karena aku tidak melakukan pelarian jauh ke luar kota maupun ke luar negeri.


“Apa mungkin Melly benar ya?”


Dan, tiba-tiba saja aku yang masih mengintip di jendela pun seketika dikagetkan ketika melihat sebuah mobil taxi berhenti tepat didepan gerbang rumah Melly. Sehingga pikiranku pun kembali parno karena cemas dan takut jika mobil taxi yang singgah didepan rumah Melly itu adalah polisi yang sudah mengetahui keberadaanku.


Dengan perasaan cemas dan gelisah akupun terus mengintip dibalik jendela kaca Melly, dan seketika seseorang pun keluar dengan kaki yang diperban serta memakai sebuah tongkat yang ternyata itu adalah Verel.


“Hah, Verel?” Tuturku dalam hati terkejut melihat Verel.


‘Ting Tung’ Suara bel pun berbunyi. Namun aku yang masih cemas dan parno itu tidak menghiraukan bunyi bel tersebut. Melainkan aku tetap berdiam diri dibalik jendela sambil mengintip ke-arah Verel.


‘Ting Tung’ Bunyi bel pun kembali dibunyikan oleh Verel dan kemudian disusul dengan suara Verel:


“Ratih…”


‘Ting Tung’


Sebenarnya aku ragu jika harus membukakan pintu untuk Verel. Karena aku takut jika Verel hanyalah dijadikan umpan oleh polisi untuk mengetahui keberadaan atau tempat persembunyianku.

__ADS_1


“Ratih, aku tahu kamu di dalam.”


“Tolong bukakan pintunya Ratih.” Tutur Verel terus memanggilku.


‘Ting Tung’


“Ratih…” Lanjut Verel lagi. Namun aku tetap saja tidak mau membukakan pintu untuknya.


Setelah beberapa kali membunyikn bel dan memanggil namaku namun tidak juga dibukakan olehku. Sehingga Verel pun mulai menyerah dan bermaksud ingin pergi. Namun tiba-tiba saja aku merasa kasihan dan tidak tega dengannya. Sehingga akupun dengan cepat membuka pintu dan lalu meneriaki Verel yang sudah mau keluar gerbang ruamh Melly.


“Verel…” Teriakku memanggil sehingga Verel pun menoleh lalu cepat-cepat menghampiriku dengan kaki pincangnya.


“Ratih” Ucap Verel terlihat senang ketika melihatku.


“Kamu gak apa-apa Rat? Gimana keadaan kamu?” Lanjut Verel bertanyadan terlihat mengkhawatirkan ku.


“Iya aku gak apa-apa kok.” Jawabku.


“Kamu sendiri gimana? Apa yang terjadi, bukannya kemarin kamu tertangkap ya?” Tanyaku penasaran.


“Panjang ceritanya Rat.” Ujar Verel berekspresi serius sehingga aku yang penasaran dengan kejadian itupun meminta Verel untuk masuk ke dalam rumah.


“Ya udah kalau gitu masuk ajah dulu.” Tuturku memintanya masuk ke dalam rumha.


Setelah berada di dalam rumah akupun menawarkan minuman kepada Verel:


“Kamu haus gak?” Tanyaku.


“Hmm, iya. Sedikit agak haus sih” Jawab Verel sembari menyentuh tenggorokannya.


“Ya udah kalau gitu aku buat air duu, kamu mau minum apa?” Tanyaku lagi.


“He he, bebas deh. Apa ajah yang penting buatan kamu.” Jawab Verel menggombaliku dan akupun tersenyum lalu berkata.


“Hahah, kamu bisa ajah deh.” Ucapku sedikit malu-malu.


Aku yang tidak sabar mendengar cerita Verel itupun buru-buru menuju ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Verel. Sehingga, pada saat sudah selesai membuatkannya minuman iapun meminum minuman itu dengan lahap dan tak menyisahkan setetes pun di gelasnya.

__ADS_1


“Heheh, kayaknya kamu emang haus banget ya?” Tuturku tercengang melihat Verel ketika meneguk minuman begitu lahap.


Bersambung


__ADS_2