Penjahat Itu Kekasihku!

Penjahat Itu Kekasihku!
Basecamp


__ADS_3

EPISODE 22


Namun mau bagaimana lagi, aku juga tidak bisa membela diri karena pada dasarnya memang akulah yang salah sehingga akupun hanya diam dan menundukkan diri saja ketika dosen killer berkata seperti itu.


Setelah jam pelajaran sudah selesai, akupun buru-buru berlari keluar untuk mencari tempat yang sunyi agar bisa melepaskan kesedihanku akibat perlakuan si dosen killer tadi. Aku pergi ke pojokan kelas yang tak terisi, disitulah aku duduk berjongkok sambil menangis.


‘Hiks, Hiks, Hiks’


Aku terus menangis karena tak kuasa menahan kesedihanku. Tapi, tiba-tiba saja seseorang pun memegangku dari belakang sehingga membuatku pun terkejut.


“Aghhh” Teriakku terkejut sembari mengusap air mata yang membasahi pipiku.


“Kamu kenapa?” Tegur orang itu dan pada saat aku menoleh ternyata orang itu adalah Verel.


“Kamu ngapain di sini?” Ucapku panik.


“Kamu yang ngapain di sini..?” Jawab Verel membalikkan perkataanku, sehingga akupun terdiam sejenak tak tahu harus memberi alasan apa padanya.


“E-ewh gak apa-apa, aku… e-eh cuman pengen menyendiri ajah” Pungkasku mengada-ngada.


“Menyendiri sambil menangis gitu?” Tutur Verel.


“Menangis? Siapa yang menangis. Aku gak menangis kok?" Jawabku berusaha menutupi.


“Alahh gak usah bohong deh, itu pipi kamu ajah masih basah.” Ucap Verel lagi sehingga aku yang tidak ingin Verel terus melontarkan pertanyaan itu, akupun buru-buru pergi meninggalkan dia.


“Udah deh gak usah banyak tanya! Minggir-minggir! Ganggu ketenangan orang ajah!” Pungkas ku buru-buru pergi, namun hal yang tak terduga pun terjadi lagi.


Verel menarik tanganku lalu memelukku dan berkata:


“Aku tahu kamu lagi sedih, jangan tutup-tutupi kesedihan kamu lagi tolong ceritakan ke aku apa yang membuat kamu menangis?” Tanya nya dengan penghayatan sehingga aku yang terhanyut dalam pelukannya itupun melepas tangisku.


‘Hiks, Hiks, Hiks’


“Udah-udah gak apa-apa, kalau menangis bisa membuat hati kamu lebih tenang, menangislah sekeras-kerasnya. Keluarkan semua belnggu yang mencekam hatimu” Tutur Verel dan akupun semakin melepaskan tangisan ku dipelukan nya.


Setelah beberapa menit menangis dipelukan Verel akupun melepaskan pelukan Verel itu sehingga Verel yang melihat wajahku basah karena air mata. Iapun mengusap air mata yang membasahi pipiku dengan lembut.


“Udah ya, jangan nangis lagi. Lihat tuh cantiknya luntur” Ungkap Verel sehingga perasan aneh pun muncul dan membuat jantungku berdetak cepat.

__ADS_1


Verel pun menarik bangku yang ada di dalam ruangan itu lalu menyuruhku untuk duduk di bangku itu dan sepertinya ia mau aku menceritakan tentang kesedihan ku itu.


“Ayo duduk dulu” Tutur Verel dan akupun tidak menolak pintanya itu.


Verel membungkukkan posisi duduknya lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku dan berkata:


“Sekarang kamu cerita, apa yang buat kamu menangis seperti ini?” Tanya nya serius.


Awalnya aku ragu untuk menceritakan namun karena aku melihat ketulusan di mata Verel sehingga membuat bibirku dengan sendirinya mengucap dan menceritakan perkara tadi.


“Dosen ku” Ucapku sehingga membuat Verel pun tercengang.


“Hah dosen..? Jadi maksud kamu dosen yang bikin kamu begini?” Tanya nya.


“Emangnya apa yang udah dia lakuin ke kamu?” Lanjutnya bertanya berekspresi penasaran.


“Dia buat aku malu dihadapan teman-teman kelas ku. Dia ungkit-ungkit permasalahan minggu lalu, katanya aku gak tahu cara menghargai waktu!” Ulasku menjelaskan kepada Verel sehingga Verel pun kembali bertanya.


“Siapa nama dosen itu?” Tanyanya.


“Pak Samsul” Jawabku dengan lempeng.


“Hah..? Mau kemana?” Tanyaku penasaran.


“Udah ikut ajah… yang pasti kamu bakalan suka deh” Ucapnya membuatku semakin penasaran.


Namun anehnya, aku yang biasanya kesal dan marah ketika dekat dengan Verel kali ini tidak merasakan hal itu lagi. Sehingga akupun tanpa penolakan ikut menuruti pintanya untuk ikut bersamanya meskipun aku tidak tahu dia ingin membawaku kemana, tapi yang pasti aku merasa senang ketika bersamanya.


Aku yang terus mengekor dibelakangnya itupun seketika panik pada saat melihat Melly baru saja kelur dari arah perpustakaan. Sehingga aku yang tidak ingin Melly melihatku pergi bersama Verel. Akupun dengan cepat meminta Verel segera menghidupkan motornya.


“Waduh Melly tu!” Ucapku dalam hati panik.


“Buruan-buruan Ver” Pintaku.


“Kenapa sih?” Tanya Verel bingung.


“Udah-udah ayo buruan hidupin motornya” Tegasku lagi semakin panik dan aku pun berusaha mentutupi wajahku menggunakan tas bawahan ku.


‘Berm Berm’ Verel pun menghidupkan motornya lalu menancap gas sembari berkata:

__ADS_1


“Ciyyelah gak sabar banget sih” Ucapnya namun aku mendengarnya agak samar-samar karena suara motornya begitu rebut ditelingaku.


“Haah?”


“Enggak! Kamu pegangan yang erat” Teriak Verel lalu memintaku untuk memegangnya. Namun aku yang tidak sadar itupun tiba-tiba saja menyosor pinggang nya.


Entah apa yang ada dipikiranku, mengapa aku begitu polosnya mau ikut bersama Verel. Pedahalkan seharusnya aku tidak terima begitu saja pada saat dia mengajakku pergi, namun tidak tahu kenapa hatiku susah untuk menolak ajakan nya tadi. Dan, anehnya lagi setiap dekat dengan Verel hatiku berdetak begitu kencang seperti gendering mau perang.


Ciyyaelah kayak judul lagu ajah. Hemm tapi mungkin aku begini karena aku sudah mulai suka dengan Verel, dan kalaupun memang aku benar-benar suka sama Verel. Lantas, alasan apa yang akan aku berikan kepada Melly nanti, karena pada saat Melly mencurigai aku, aku terus saja tidak membenarkan curigaan nya tersebut, yang pedahalkan kecurigaan nya itu memang benar.


‘Berm Berm’ Kami pun sampai yang ternyata Verel membawaku ke sebuah tempat yang dimana tempat itu terlihat seperti basecamp atau tempat perkumpulan gitu sehingga pada saat sampai disitu Verel pun memintaku untuk masuk ke dalam basecamp tersebut.


“Ayo masuk” Ucap Verel mempersilahkan aku masuk.


“Kita mau ngapain di sini Ver?” Tanyaku sedikit cemas.


“Udah masuk ajah dulu, ntar kamu juga tahu kok”


“Tapi…” Ucapku belum selesai berbicara iapun memotong.


“Udah gak usah khawatir, aku gak bakalan macam-macam kok”


Pokoknya kamu tenang ajah, aku gak sejahat itu kok” Lanjutnya meyakinkan aku, sehingga akupun mempercayai ucapan Verel itu dan lalu masuk ke dalam basecamp tersebut.


Setelah berada di dalam basecamp itu, aku melihat banyak sekali buku-buku di dalam sana yang tersimpan rapi dan juga beberapa buku yang berserakan di dilantai.


“Ini tempat apaan Ver?” Tanyaku penasaran.


“Ini itu tempat aku meluahkan kekesalan, kesedihan, kegalauaan dan lain sebagainya. Pokoknya tempat ini itu menjadi tempat penenang pikiran aku jika aku lagi banyak masalah” Tutur Verel menjelaskan.


“Oh jadi ini itu bukan basecamp ya?” Tanyaku.


“Hem… kalau dibilang basecamp enggak juga sih. Tapi anak-anak juga kadang-kdang datang kok ke sini” Jawabnya.


“Owh aku pikir ini itu tempat perkumpulan kalian” Ucapku.


“Hehe enggaklah, ini tempat pribadi aku kok” Jawab Verel.


“Eh maaf ya, berantakan soalnya” Lanjut Verel tidak enak denganku karena banyak buku-buku yang berserakan di atas lantai.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2