
EPISODE 34
Dikemudian hari, saat itu adalah hari weekend. Yang dimana aku telah menyelesaikan UAS (Ujian Akhir Semester) sehingga waktu libur pun telah tiba. Dan, aku yang baru bangun kala itupun masih dalam suasana indah seperti biasanya yang aku rasakan yang dimana aku menikmati sarapan pagi bersama ibu dan ayahku di meja makan kami tercinta. Namun tiba-tiba akupun kaget ketika ibuku berkata:
“Ratih.” Tegur ibuku.
“Ehm iya bu.” Jawabku.
“Ibu mau ngomong sesuatu sama kamu.” Sambung ibuku.
“Iya ngomong apa bu?” Tanyaku penasaran.
Dari ekspresi wajah ibuku, kelihatan nya dia sangat serius dan sepertinya akan mengatakan hal yang sangat penting kepadaku.
“Ibu diagnosis kanker.” Ucap ibuku sehingga membuatku pun kaget dan tak mempercayai ucapannya itu.
“Hah?”
“Ibu ngomong apa sih? Jangan bercanda deh bu.” Ujarku masih belum mempercayai, namun ibuku pun mencoba meyakini ku.
“Ibu serius nak, ibu terkena kanker hati.” Sambungnya meyakinkanku.
“Enggak-enggak. Ibu bercanda kan?” Ujarku masih belum bisa mempercayai, dan tiba-tiba ayahku pun membantu ibu untuk meyakinkan ku.
“Betul Ratih, ibu kamu diagnosa kanker oleh dokter.” Sahut ayahku, akupun terdiam dan tak dapat memercayai hal tersebut.
Aku benar-benar tidak dapat mempercayai apa yang dikatakan oleh kedua orang tua ku, rasanya hatiku begitu terpukul ketika mendengarkan ucapan mereka.
“Kata dokter, umur ibu udah gak lama lagi.” Ucap ibuku sehingga hatiku pun semakin tak karuan, rasanya sakit sekali ketika mendengarkan itu dari bibir ibuku.
“Enggak-enggak. Ibu harus sembuh, gimana pun caranya ibu harus sembuh.” Ucapku.
Tentu saja aku begitu terpukul. Bagaimana mungkin bisa seorang anak mau kehilangan ibunya. Sehingga akupun mencoba meyakinkan ibu dan diriku jika ibuku itu masih bisa sembuh.
“Kecil kemungkinan nak, sangat kecil kemungkinan ibu kamu bakal sembuh, kankernya udah parah.” Ungkap ayahku.
“Enggak-enggak, yah, enggak. Ibu masih bisa sembuh kok.” Jawabku.
Tiba-tiba ayahku pun beranjak dari meja makannya dan lalu menuju ke kamarnya. Dan setelah kembali dia pun memberikan aku sebuah kertas yang dimana isi kertas tersebut menyatakan bahwa ibuku memang benar-benar terkena kanker sehingga akupun tak dapat menyangkal lagi jika memang benar Ibuku itu terkena kanker.
__ADS_1
Akupun kembali terdiam dan tak kuasa menguatkan diri ketika membaca isi keterangan yang ada di kertas tersebut. Aku begitu terpukul, hancur dan rasanya hatiku begitu tercabik-cabik. Sehingga akupun tak bisa lagi membendung air mataku hingga menetes di pipiku.
“Ini gak benar kan bu?” Ucapku berharap jika ibuku membenarkan ucapanku.
“Itu keterangan dari dokter nak, maafkan ibu nak” Jawab ibuku.
‘His, Hiks. Hiks.’
“Enggak bu Enggak, pokoknya ibu harus sembuh.” Tuturku sambil menangis.
‘Hiks, Hiks, Hiks.’
“Ayah, ibu masih bisa sembuh kan yah?” Tanyaku penuh kesedihan, dan kemudian ayahku pun menjawab.
“Kita doain ibu ya semoga ibu bisa sembuh.” Ucapnya seolah-olah sudah pasrah dengan apa yang sudah terjadi dengan ibu.
“Enggak yah, pokoknya kita harus usahain agar ibu bisa sembuh.” Sambungku.
“Iya, kita usahain ibu sembuh ya.”Jawab ayah.
Setelah drama yang di suguhkan dengan kesedihan di meja makan itu. Aku yang sudah berada di dalam kamar ku pun mencoba mencari tahu tentang kanker yang dialami oleh ibuku. Aku searching dan mencari artikel tentang kanker tersebut, namun dari beberapa artikel yang aku baca. Disitu menyatakan bahwa orang yang terkena kanker tersebut memang sangat kecil kemungkinan nya untuk bisa sembuh. Sehingga kecemasan ku pun semakin bertambah akan hal tersebut.
‘Hiks, Hiks, Hiks’
Aku terus menangis di dalam kamar. Dan, tiba-tiba ibuku pun masuk dan kemudian duduk di sebelah ku.
‘Hiks, Hiks, Hiks’
“Ratih…” Tutur ibu lalu mengusap-usap punggungku.
“Kamu kenapa nak?” Tanya ibu, namun aku tidak menjawab melainkan terus menangis walaupun ibu sudah mencoba menenangkan aku.
‘Hiks, Hiks, Hiks’
“Nak, kamu gak boleh sedih. Ibu gak apa-apa kok.” Tutur ibu kembali.
“Mungkin ini takdir yang sudah diberikan ke ibu, dan mau gak mau ibu harus terima takdir ini.” Sambung ibu lagi sehingga akupun berkata dengan nada terbata-bata.
“Eng-enggak bu, enggak. Pokoknya gimana pun caranya ibu harus sembuh, Ratih gak mau kehilagan ibu.” Ujarku sambil menangis, dan kemudian ibu pun menarik ku lalu memelukku.
__ADS_1
‘Hiks, Hiks, Hiks’
“Maafkan ibu nak, maaf kan ibu.” Ucap ibuku yang juga ikut menangis.
“Ratih gak mua kehilangan ibu, bu. Ratih gak mau.” Ujarku menangis dipelukan ibu.
Pelukan yang aku rasakan saat ini begitu hangat. Pelukan dari seorang ibu yang begitu hangatnya bagaimana mungkin bisa aku kehilangan pelukan ini nantinya. Dan tentu aku tidak ingin jika hal itu terjadi dan tak akan pernah mau jika harus kehilangan ibu.
Setelah air mata rasanya sudah habis tak tak ingin keluar lagi, ibuku pun melepas pelukannya lalu berkata kepada ku.
“Ibu sebenarnya udah lama pengen nimbang cucu nak, kalau seandainya ibu pergi sebelum punya cucu pasti ibu bakalan sedih banget.” Tutur ibuku dengan ekspresi sedih.
“Kamu mau kan nak, menikah sebelum ibu benar-benar pergi.” Sambung ibuku dan kemudian akupun terdiam dan tak rau harus menjawab apa.
“Tapi kalau emang kamu belum siap menikah, gak apa-apa kok nak. Ibu ngerti kok.” Sambung ibuku lagi, dan aku yang tidak ingin membuat ibu kecewa pun menjawab.
“Iya bu, Ratih menikah kalau begitu, dan Ratih janji bakal ngasi ibu cucu.” Jawabku dengan sangat terpaksa karena tidak ingin mengecewakan ibuku, sehigga ibuku pun tersenyum bahagia ketika mendengar ungkapan ku barusan.
“Beneran nak, kamu mau?” Tanya ibuku ingin memastikan.
“Iya bu, Ratih mau.” Jawabku membenarkan.
Dan benar saja senyum bahagia pun terlihat jelas diwajah ibuku. Aku benar-benar merasa ibu megitu bahagia ketika mendengar ucapan ku barusan dan bagaiaman mungkin aku tidak menuruti permintaan ibuku itu jika itu yang membuat dia bahagia.
“Kamu punya pacar nak?” Tanya ibu sehingga akupun tercengang.
“I-iya bu, Ratih punya pacar.” Jawabku malu-malu.
“Bagus dong, siapa namanya nak?” Tanya ibuku penasaran dan akupun menjawab:
“Verel bu.” Jawabku lempeng saja.
“Ya udah kalau gitu suruh pacar kamu datang temui ibu dan ayah.” Ujar ibuku yang sepetinya tidak sabaran bertemu dengan pacarku.
“Iya bu, nanti Ratih kabarin Verel untuk datang temui ibu dan ayah.” Jawabku.
Sebenarnya di satu sisi aku juga bahagia jika ibu dan ayahku ingin mengenal Verel. Namun di sisi lain aku juga sedih karena kedatangan Verel nantinya yaitu untuk memenuhi permintaan ibuku yang katanya umurnya tidak lama lagi.
Bersambung
__ADS_1