Penjahat Itu Kekasihku!

Penjahat Itu Kekasihku!
Pikiran Yang Membunuh


__ADS_3

EPISODE 26


“Mel maafin aku Mel” Ucapku.


“Loh kok minta maaf? Emangnya ada apa sih Rat?” Tanya Melly penasaran.


“Mel, sebenarnya…” Tuturku ingin menceritakan namun rasanya bibirku susah untuk mengucapkan.


“Iya apa Rat?” Ekspresi wajah Melly pun semakin terlihat penasaran.


“Sebenarnya aku lagi dalam masalah Mel”


“Masalah apa Rat?” Tanya Melly. Namun bibirku masih saja berat untuk mengucapkan sehingga Melly pun mengambil tanganku dengan lembut dan berkata:


“Ratih… kalau lagi ada masalah itu diceritain, gimana aku mau bantu kalau kamu ajah gak mau cerita” Tutur Melly yang sepertinya terlihat tulus. Sehingga akupun berkata:


“Tapi kamu janji gak bakalan marah ya?” Tanyaku ingin memastikan.


“Lah, ngapain aku mau marah sih Rat? Udah sekarang kamu cerita ke aku ya” Ucap Melly meyakinkan aku.


“Janji dulu tapi” Pungkasku masih ragu.


“Iya aku janji gak bakal marah” Jawab Melly.


Dengan hati yang berat dan perasaan yang takut, kali ini akupun benar-benar mengatakan ke Melly:


“Aku tadi dikejar polisi Mel, aku benar-benar dalam masalah sekarang” Pungkasku mengatakan sehingga Melly pun terkejut.


“Hah, kamu serius Rat?” Tanyanya kaget.


“Iya aku serius Mel, kayaknya aku sekarang jadi buronan deh” Tuturku lagi dan membuat Melly pun kembali berekspresi kaget.


“Loh, kok bisa sih Rat? Gimana ceritanya kamu jadi buron..? Emangnya kamu abis lakuin apa Rat?” Tanya Melly penasaran.


“Kamu mencuri?” Ujar Melly menebak.


“Bukan Mel!” Jawabku.


“Bunuh orang?”


“Bukan!”


“Atau jangan-jangan kamu terlibat perkelahian antar geng?” Tutur Melly asal menebak.


“Ih bukan Mel, enggak gitu.” Jawabku tidak membenarkan.


“Terus apaan dong?” Tanya Melly ingin memastikan.

__ADS_1


“Ih makanya jangan main potong-potong ajah, dengerin dulu aku ngomong” Pungkas meminta Melly untuk mendengarkan sampai selesai aku menceritakan semuanya.


“Iya-iya, ya udah cerita gih” Ucap Melly, sehingga akupun kembali melanjutkan ceritaku itu.


“Tadi aku ngikutin Verel…” Ucapku yang belum selesai Melly pun kembali terkejut dan berkata:


“Hah..? Kamu ngikutin Verel?” Pungkasnya penuh tanda tanya.


“Tuh kan!” Ujarku menatap Melly kesal karena dia terus saja memotong ceritaku.


“Iya-iya maaf Rat, ya udah lanjut gih ceritanya” Tutur Melly, sehingga akupun kembali menceritakan.


“Verel masuk ke sebuah gang untuk menemui seseorang. Eh tau-taunya mereka sedang melakukan trnasaksi” Tuturku.


“Transaksi? Transaksi apa Rat?” Ucap Melly semakin penasaran.


“Transaksi narkoboy.”


“Hah..? Kamu serius Rat?” Kaget Melly.


“Iya, dan aku ada disitu” Ucapku kemudian melanjutkan lagi:


“Setelah selesai bertransaksi tiba-tiba polisi datang, dan pada saat aku sama Verel kabur. Verel ketembak” Ucapku sehingga Melly pun kembali terkejut dengan tangan menutup setengah wajah.


“Hahh, ya ampun. Terus-terus?” Ujar Melly lagi masih penasaran.


“Ya ampun Ratih. Kok kamu bisa sih ngkiutin Verel ke sana?” Ucap Melly.


“Sebenarnya, aku merasa bersalah waktu pas di kantin tadi. Makanya aku pergi nyusul dia untuk minta maaf” Tuturku menerangkan.


“Ah, jadi urusan yang kamu bilang itu?” Ucap Melly.


“Iya maaf Mel, aku malu kalau harus katakan yang sebenarnya ke kamu” Ucapku merasa bersalah dengan Melly.


“Astaga Ratih…” Tutur Melly melongo.


“Sebenaranya…” Tuturku ingin menerangkan secara terprinci lagi.


“Aku udah lama baikan sama Verel, tapi aku gak berani cerita sama kamu Mel.” Ungkapku dengan perasaan bersalah.


“Hah, sejak kapan?” Tanya Melly penasaran.


“Pas aku bawa buku yang waktu itu” Jawabku.


“Oh jadi, buku itu tuh dari Verel?” Ucap Melly dan akupun membenarkan dengan cara menganggukkan kepala.


“Oh, jadi kesibukan kamu akhir-akhir ini itu jalan berdua sama Verel?” Tanya Melly lagi dengan raut wajah tak menyangka.

__ADS_1


“Iya, maafin aku Mel. Maafin aku” Jawabku tegang dan merasa bersalah.


“Ya ampun Ratih… kok kamu gak mau cerita sih sama aku kalau kamu itu udah dekat dengan Verel” Tutur Melly lagi tak menyangka.


“Yah aku pikir kamu bakal ledekin aku kalau aku cerita yang sebenarnya” Ucapku berekspresi bersalah.


“Ya gak mungkin lah Rat, aku ini sahabat kamu loh. Kok kamu bisa sih kepikiran kayak gitu” Ucap Melly.


“Iya aku minta maaf Mel…” Pungkasku dengan nada manja.


“Terus gimana sekarang? Apa yang mau kamu lakuin setelah ini?” Tanya Melly.


“Aku gak tau Mel, aku benar-benar bingung harus ngapain?” Jawabku tak bisa berpikir jernih.


Seketika Melly pun terdiam sepertinya sedang berpikir keras mengenai permasalahanku itu.


“Mel, gimana kalau polisi datang ke sini..? Gimana kalau aku masuk penjara Mel?” Ujarku mulai panik.


“Aku gak mau masuk penjara Mel, Melly. Tolong aku Mel, tolong aku” Lanjutku memohon kepada Melly. Sehingga Melly yang melihatku semakin panik itupun berkata:


“Udah kamu tenang dulu, jangan langsung ambil kesimpulan kayak gitu. Pokoknya tenangkan pikiran kamu ya” Ucap Melly mencoba menenangkan aku.


“Gak bisa Mel, pikiran aku benar-benar terganggu Mel. Aku gak bisa ngebayangin gimana nasib aku kalau sampai masuk penjara”


“Terus, teman-teman yang lain.? Teman-teman kampus dan keluarga aku pasti menceritakan aku yang enggak-enggak” Tuturku semakin panik membayangkan itu sehingga aku yang begitu cemas dan panik pun tak bisa membendung air mataku lagi.


‘Hiks, hiks, hiks’


“Aku lebih baik mati daripada harus masuk penjara” Ungkapku.


“Kok kamu ngomong gitu sih Rat?”


“Pokoknya jangan ngambil kesimpulan begitu dulu, yang penting sekarang kamu tenangin pikiran dulu ya” Tutur Melly terus menenangkan aku.


“Kamu percaya sama aku, semuanya pasti akan baik-baik ajah.” Ucap Melly lagi.


Sungguh aku begitu cemas dan panik serta tidak bisa membayangkan jika hal yang memalukan itu akan terjadi kepadaku. Terlebih lagi orang tuaku pasti malu jika mengetahui anak semata wayangnya ditangkap karena terlibat perdangangan narkoboy. Walaupun aku tidak ada keterkaitannya sama sekali dengan barang haram itu. Tetapi polisi pasti akan memperoses karena aku ada pada saat transaksi antar Verel dan orang itu berlangsung.


Aku betul-betul bingung dan tak tahu harus berbuat apalagi selain menunggu penangkapanku terjadi. Kini, pikiran ku benar-benar kacau. Sikologisku terganggu, rasanya aku ingin gila dan tak mau hidup lagi jika hal itu benar-benar terjadi.


“Ratih…” Ucap Melly masih mencoba menenangkan aku.


“Kamu baring dulu gih, tenangin pikiran kamu ya” Lanjut Melly dan kemudian Melly pun membantuku berjalan menuju kamar.


Dengan perasaan yang kalut dan kacau balau. Rasanya aku betul-betul tidak ada tenaga pada saat melangkahkan kaki. Untungnya Melly masih mau membantuku dan terus memberi support moral kepadaku sehingga akupun masih bisa bertahan. Coba saja kalau Melly tidak ada, mungkin aku benar-benar telah bunuh diri saat itu juga.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2