Penjahat Itu Kekasihku!

Penjahat Itu Kekasihku!
“Merasa Bersalah”


__ADS_3

EPISODE 24


Pada hari berikutnya aku yang sedang duduk di kantin bersama Melly. Seketika, aku panik pada saat Verel datang menghamipirku. Tentu saja aku yang tidak ingin Melly mencurigai aku telah berbaikan dengan Verel itupun kembali bersikap jutek kepada Verel, dan tentunya dengan sikapku yang tiba-tiba jutek itupun membuat Verel bingung.


“Rat, lihat deh. Sepatunya bagus banget kan” Ucap Melly memperlihatkan aku sepatu online shop.


Melly memang suka sekali mengkoleksi sepatu bahkan di rumahnya terdapat bergbagai sepatu yang ia koleksi. Sehingga ketika ada sepatu baru yang ia gemari, iapun akan memperlihatkan kepadaku.


“Iya ini bagus ni” Jawabku.


“Tuh kan, ya udah aku masukin ke keranjang dulu ah, ntar kalau ada budget tinggal aku bayar ajah” Ucapnya berekspresi senang.


Dan, tiba-tiba saja seseorang dari belakangku pun menyapaku.


“Hai Ratih” Pungkasnya dan akupun menoleh yang ternyata itu adalah Verel, sehingga akupun mulai panik.


“Waduh, gimana ini? Kok Verel datang si disaat-saat Melly lagi sama aku!” Ungkapku dalam hati. Dan, terlihat Melly mengode aku yang mungkin saja dia penasaran mengapa Verel datang menyapaku.


“Ada apa ya?” Tuturku memperlihatkan sikap dingin padanya.


“Ntar sore jalan yuk?” Ucap Verel mengajakku pergi bersamanya.


Aku terdiam dan tak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi aku ingin sekali menerima ajakannya. Namun, disisi lain juga aku tetap harus jaga sikap didepan Melly.


“Gimana Rat, mau gak?” Ucap Verel lagi menunggu jawabanku sehingga Melly pun menyentuhkan kakinya ke kaki ku.


“Rat, Verel tuh” Tegur Melly.


“Ah,” Bingung.


“Gak usah sok akrab deh, udah to the point ajah. Kamu pasti mau cari ribut lagi kan sama aku?’ Tuturku. Sehingga Verel pun terkejut mendengar ucapanku itu.


“Loh, kok ngomongnya gitu Rat?” Tanya Verel. Namun aku yang tidak ingin Melly mengetahui kedekatan kami itupun buru-buru mengajaknya pergi dari situ.


“Ayo Mel kita pergi ajah dari sini” Pungkasku sambil menarik tangan Melly.

__ADS_1


“Loh-Loh Rat, tunggu. Ini makanan nya belum abis ni” Ucap Melly. Namun aku tetap saja menarik dia pergi.


Sebetulnya aku sangat merasa bersalah dengan Verel karena sikapku barusan. Namun, mau bagaimana lagi aku juga tidak ingin jika Melly mengetahui tentang kedekatan kami berdua sehingga dengan sangat terpaksa akupun bersikap begitu kepada Verel.


“Kamu kok tega banget sih gituin Verel tadi?” Tutur Melly.


“Udah gak apa-apa, dia emang pantas digituin” Ucapku berpura-pura.


“Tapi kan, kasihan Rat. Lihat deh wajah dia itu tulus banget loh tadi” Ujar Melly lagi yang sepertinya tidak tega melihat Verel aku gitukan.


“Udah gak usah dipikirin. Lagian kenapa sih Mel? Bukannya dulu kamu sendiri ya yang bilang kalau aku itu harus jauhin Verel” Ucapku mengingatkan pekataan Melly tempo dulu.


“Iya juga sih. Hmm, ya udahlah. Ayo kita pulang” Tutur Melly tidak mau membahas itu lagi.


Namun aku yang merasa bersalah kepada Verel itupun tiba-tiba berkata:


“Mel, kayaknya kamu deluan ajah deh. Aku masih ada urusan” Ucapku bermaksud ingin menemui Verel untuk meminta maaf.


“Urusan?


“Emangnya kamu ada urusan apa lagi sih?” Tanya Melly penasaran.


Melihat Melly sudah pergi, akupun buru-buru berlari untuk mencari Verel. Tapi, setelah sampai di kantin tadi. Aku tidak melihat Verel berada disana, sehingga akupun memutuskan untuk mencari dia di fakultas teknik. Dan, setibaku di fakultas teknik. Akupun tidak menemukan Verel juga, bahkan beberapa mahasiswa yang aku tanyakan juga tidak tahu keberadaan Verel.


“Kak, maaf kak.” Ucapku kepada salah satu mahasiswa fakultas teknik.


“Kakak tau Verel gak?” Tanyaku.


“Iya tau, emangnya kenapa kak?” Ucap mahasiswa itu kembali bertanya.


“Kakak lihat dia gak?” Tanyaku lagi.


“Aduh gak tau gak, tadi sih ada cuman sekarang gak tau ada di mana” Jawabnya.


Karena tak kunjung menjumpai Verel akupun berpikir mungkin saja dia sudah pulang. Sehingga, akupun memutuskan untuk pulang saja dan akan meminta maaf ketika bertemu dengan dia lagi nantinya. Namun, pada saat aku mau keluar gerbang kampus. Akupun melihat Verel baru saja keluar dengan motornya. Sehingga, akupun dengan cepat memanggil salah satu tukang ojek yang ada di situ untuk mengejar Verel, persis seperti yang aku lakukan pada saat mengikuti Verel secara diam-diam tempo dulu.

__ADS_1


“Verel, Verel!” Teriak ku tapi sepertinya Verel tidak mendengar teriakan ku itu sehingga akupun memanggil si bapak tukang ojek.


“Pak ayo pa kantar saya…” Ucapku belum selesai berbicara langsung di potong oleh si bapak tukang ojek.


“Ingikutin motor itu lagi neng?” Tanya nya. Dan, ternyata si bapak tukang ojek yang ini adalah orang yang sama yang mengantarku untuk mengikuti Verel tempo dulu.


“Iya-iya pak, ayo buruan” Tuturku mendesak.


“Oke siap, pegangan neng” Ucap si bapak tukang ojekmenancap laju gas motornya.


Kami memang sudah tertinggal jauh dibelakang Verel. Dan seketika akupun melihat Verel berhenti memparkirkan motornya di dekat sebuah gang. Dan, aku pikir kali ini Verel akan terlibat perkelahian lagi sehingga akupun buru-buru menyusulnya dengan berlari setelah si bapak tukang ojek menurunkan ku tepat disamping motor Verel diparkir.


Verel pun memasuki gang tersebut. Sehingga, akupun dengan cepat berlari menyusulnya sambil meneriaki dia.


“Ver, Verel!” Teriakku dengan kencang sehingga Verel yang mendengar teriakan ku itupun menoleh.


“Loh, kamu ngapain ke sini Rat?” Ujarnya bertanya dengan wajah kebingungan ketika meliahtku.


“Huff hah hufft” Suara nafasku ngos-ngosan ketika sudah berada dihadapan Verel, dan kemudian akupun berkata:


“Tadi aku manggil kamu pas baru keluar dari gerbang kampus. Tapi, kamu gak dengar. Ya udah makanya aku ikutin” Tuturku menjelaskan. Namun, Verel terlihat bimbang dan kemudian berkata:


“Rat, mending kamu pulang ajah deh” Ucapnya dengan wajah cemas.


“Kok gitu? Terus, kamu ngapain di sini, Jangan bilang? Kamu mau berkelahi lagi ya?” Ucapku mencurigai.


“Enggak-enggak kok. Tapi, lebih baik kamu pergi ajah deh” Tutur Verel lagi mengusirku tapi dengan ekspresi yang begitu gelisah.


Dan, tiba-tiba saja seseorang pun datang menyapa Verel. Seorang laki-laki bergaya preman serta memiliki tatto dikedua lengannya itu berkata:


“Kirain kamu sendirian Rel. Oh, jadi sekarang udah ada asisten ya?” Ucap orang itu.


Namun anehnya Verel bukannya menjawab orang tersebut, melainkan ia terlihat semakin gelisah seoralh-olah ia menyembunyikan sesuatu dari ku sehingga akupun semakin curiga padanya.


“Mana barangnya?” Tutur orang itu lagi sehingga kecemasan Verel pun semakin bertambah dan hal itu sangat jelas terlihat di wajah Verel. Sehingga akupun bertanya:

__ADS_1


“Barang..? Maksudnya?” Tanyaku penasran dan penuh kecurigaan.


Bersambung


__ADS_2