
EPISODE 32
“Ah, Ratih.” Ucap Melly. Sehingga akupun melepaskan pelukan ibuku.
“Iya Mel.” Jawabku.
“Kayaknya aku harus balik deh, soalnya udah malam ni.” Ujar Melly yang bermaksud ingin pamit untuk pulang ke rumahnya.
“Ih kok mau pulang sih? Udah kamu di sini ajah nginap nya.” Ujarku.
“Udah lain kali ajh ya.” Ucap Melly tetap ngotot ingin pulang.
“Kamu inginap disini ajah Mel, tante juga kebetulan udah masak. Biar kita makan malam bareng.” Sahut ibuku sehingga akupun kembali menahan Melly agar tidak pulang.
“Iya di sini ajah ya Mel.”
“Nginap di sini ajah ya, lagian ini udah malam loh. Gak baik anak cewek pulang malam-malam sendiri.” Sahut ayahku juga sehingga Melly pun terlihat berpikir keras.
“Tapi…” Ucap Melly belum selesai berbicara akupun tiba-tiba memegang pergelangan tangannya lalu menarik paksa dia untuk masuk ke dalam.
“Denger tuh Mel, udah ah ayo masuk.” Ujarku sehingga Melly pun tidak bisa menolak lagi ketika aku menarik dia masuk ke dalam rumah.
Akupun menarik Melly masuk ke kamar ku, dan pada saat sudah berada di dalam kamar akupun berkata:
“Pokoknya kamu harus rasakan nikmatnya tidur di kasur aku ini.” Ucapku.
“Alah lebay kamu Rat.” Ujar Melly bercanda.
“Hahahah, benear loh Mel. Kasur aku ini dijamin bakal buat kamu nyaman dan betah.”
“Alahh, enakan juga kasur aku.” Ungkap Melly tidak mau kalah.
“Enak apanya, springbet nya udah keras gitu.” Tuturku mengejek dengan candaan.
“Hahaha sok banget sih.” Ujar Melly.
Seketika akupun memperhatikan seisi kamarku. Kamarku yang sudah lama aku tinggalkan itu sepertinya membuat aku betul-betul rindu ketika melihat se-isi dalamnya sehingga akupun berkata:
“Ya ampun kamar, aku rindu banget.” Ungkapku penuh kerinduan sehingga akupun melompat dengan tinggi dan lalu mencemplungkan badanku ke atas kasur.
__ADS_1
‘Plakk, puak, puak, puak’
Setiap dentuman yang bunyi dari kasur begitu terasa empuk dan membuat badanku yang sudah sangat merindukan kehangatan kasur yang telah lama aku tinggalkan itu terasa nikmat.
Setelah melepaskan rindu di atas kasur. Tiba-tiba ibu pun datang menghampiri aku dan Melly di dalam kamar.
“Ratih…” Tutur ibu.
“Iya bu.” Jawabku.
“Ayo keluar dulu, kita makan malam yuk.” Ucap ibu mengajak aku dan Melly untuk makan malam sehingga aku dan Melly pun bergeas menuju ke meja makan.
“Wah kelihatannya enak ni.” Ujarku ketika melihat menu makanan di atas meja yang telah disediakan ibuku.
Sungguh aku begitu rindu masakan ibu. Setelah beberapa minggu meninggalkan rumah. Aku tidak lagi pernah merasakan masakan ibuku sehingga pada saat aku melihat masakan ibu itupun membuatku terngiur dan tak tahan lagi untuk segera menyantapnya.
“Ayo-ayo, silahkan dimakan Mel.” Ujar ibuku mempersilahkan Melly.
“Iya gak usah malu-malu Mel, anggap ajah rumah sendiri.” Sahutku dan kemudian melanjutkan:
“Asal jangan di jual. Hihihi.” Sambungku bercanda.
Sungguh ini pertama kalinya aku melihat Melly canggung seperti itu. Yang sebelumnya dia orangnya lepas-lepas saja ketika bersamaku. Tapi kali ini di meja makan keluargaku bersama ibu dan ayahku dia memperlihatkan tingkah canggungnya itu.
Usai makan malam bersama. Aku dan Melly pun mengisi waktu dengan saling mengobrol, ya mesikpun memang selalunya kami selalu mengobrol namun obrolan kali ini berbeda dengan obrolan-obrolan sebelumnya ketika aku bersamanya yang dimana Melly pun membuka obrolan dengan peraktaan:
“Aku iri deh sama kamu Rat.” Ucap Melly sehingga membuatku pun tercengang.
“Hah, iri?” Ucapku dan kemudian melanjutkan dengan candaan.
“Oh iya wajar sih, soalnya kan aku lebih cantik dari kamu.” Ungkapku.
“Ih apaan sih. Bukan itu maksudnya.” Tutur Melly.
“Lah terus apaan dong?” Tanyaku penasaran.
Kemudian Melly pun mengungkapkan maksudnya tadi. Ia bercerita penuh dengan penghayatan sehingga akupun serius mendengarkannya.
“Aku iri karena kamu punya ibu dan ayah yang sayang sama kamu.” Ungkapnya penuh penghayatan.
__ADS_1
“Kamu ada ibu dan ayah yang sayang sama kamu. Setiap hari dimasakin oleh ibu.”
“Ketika ingin berangkat ke kampus, ada tangan ibu dan ayah yang kamu cium. Dan, begitupun kalau pulang.” Sambung Melly mengungkapkan.
Dari nada suara dan wajah Melly sangat terlihat jelas tentang kesedihannya. Aku mengerti mengapa Melly mengatakan itu kepada ku, karena dari matanya saja sangat terpancar jelas jika dia mungkin sedang merindukan sosok kehadiran orang tua di rumahnya. Yang dimana kedua orang tua Melly sudah lama tidak menemuinya karena pekerjaan yang harus memisahkan mereka sehingga wajar saja jika Melly mengungkapkan kesedihannya itu.
“Aku pengen kayak kamu Rat, aku rindu momen-momen yang seperti tadi pas di meja makan.” Ujar Melly lagi dan kini air matanya pun mulai menetes sehingga akupun berkata:
“Mel, aku ngerti kok perasaan kamu. Mungkin untuk saat ini kamu belum mendapatkan momen yang seperti aku rasakan di keluarga aku. Tapi, aku yakin kok suatu saat nanti kamu pasti akan merasakan momen yang seperti ini juga.” Pungkasku mencoba menenangkan Melly.
“Ta-tapi kapan Rat? Kapan aku rasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan di keluarga kamu?” Ucap Melly sembari menangis.
‘Hiks, hiks, hiks’
“Aku rindu sama ibu dan ayah aku Rat.” Tuturnya mencurahkan kesedihannya dihadapanku. Sehingga akupun dengan sigap memeluk Melly sambil mnegusap-usap punggungnya dan berkata:
“Kamu yang sabar ya Mel, kamu jangan nangis. Aku juga ikut sedih loh.” Ujarku terus mencoba menenangkan Melly.
Aku tahu perasaan Melly saat ini seperti apa, aku yang sudah menganggap Melly lebih dari sahabat itupun bisa merasakan apa yang dia rasakan. Sungguh, melihatnya menangis juga membuatku ingin menangis juga.
Di sela-sela drama yang terjadi di kamarku, tiba-tiba ibuku pun datang. Dan, ibuku yang melihat Melly menangis itupun terkejut dan bertanya:
“Loh, Melly kenapa nangis nak?” Tutur ibuku buru-buru mendekat ke samping Melly.
Melly yang melihat ibuku datang itupun segera mengusap air matanya lalu berkata:
“Eng-enggak apa-apa kok Tante.” Ucap Melly mencoba menyembunyikan kesedihannya.
“Kamu lagi ada masalah ya?” Tanya ibuku penasaran, dan kemudian menoleh ke-arahku untuk memastikan.
Aku yang tidak ingin ibu cemas itupun menceritakan apa yang terjadi kepada Melly dan apa yang membuatnya menangis. Sehingga, pada saat ibu sudah mendengar ceritaku. Ibu pun seketika memeluk Melly.
“Ya ampun, sini nak. Kamu jangan sedih lagi ya.” Ucap ibu sembari memeluk Melly dan kemudian kembali berkata:
“Mulai sekarang kamu bisa anggap ibu sebagai orang tua kamu.” Ucap ibuku.
“Ibu juga sudah anggap kamu sebagai anak sendiri kok. Ya meskipun tidak sama dengan ibu kandung, tapi setidaknya ibu ingin memberikan kasih sayang seorang ibu kepada kamu Mel.” Sambung ibuku dan terlihat Melly pun senang ketika mendengar ucapan ibuku itu.
Bersambung
__ADS_1