Penjahat Itu Kekasihku!

Penjahat Itu Kekasihku!
Botol Melayang


__ADS_3

EPISODE 6


“Ibu itu gak abis pikir ya sama kamu Rat… emangya apa sih yang membuat kamu gak mau terima perjodohan ini? Pak Tarmajid itu pengusaha sukses, jika kamu berhasil menjadi menantunya, sudah pasti kekayaan nya itu akan diwariskan ke anaknya” Ucap ibuku.


Sungguh aku tidak bisa mengerti jalan pikiran kedua orang tua ku yang bersikeras untuk menjodohkan ku dengan anak pak Tarmajid hanya dikarenakan pak Tarmajid memiliki kekayaan. Sehingga, akupun lagi dan lagi menentang ucapan ibu dan ayahku itu.


“Ayah dan ibu apa-apaan sih? Masa hanya karena pak Tarmajid memilki banyak harta ibu dan ayah mau menjodohkan aku dengan anaknya!” Ungkap ku penuh kekesalan.


“Jelas… jika kamu menikah dengan anaknya, kehidupan kamu gak bakalan melarat nantinya!” Pungkas ayahku dengan tegas.


Aku terdiam sejenak, hati ku rasanya betul-betul terpukul karena sikap ibu dan ayahku yang sudah tega mengorbankan ku hanya karena kehidupan keluaraga pak Tarmajid yang berkecukupan. Sehingga merekapun tega menjodohkan ku dengan anaknya.


“Pokoknya ayah gak mau tahu… kamu harus nurut dengan keputusan ayah dan ibu!” Lanjut ayahku menegaskan.


“Gak… Ratih gak mau yah!” Jawabku sedikit membentak.


Seketika suasana pun menjadi semakin tegang pada saat aku berkata seperti itu, ayahku melototi ku dengan sorotan mata tajamnya. Seakan-akan sedang ingin menerkamku, namun aku tetap berusaha kuat dan tetap menentang keputusan mereka.


“Ratih!!” Bentak ibuku tidak suka dengan sikap yang ku perlihatkan kepada mereka.


“Apa-apaan kamu bersikap kayak gitu ke orang tua!” Lanjutnya memarahiku, sehingga aku mengalihkan pandangan ku arah ibu dan menjawab.


“Kenapa bu!” Jawabku seakan menantang.


“Pokoknya kalau ibu dan ayah tetap bersikeras menjodohkan aku… aku gak segan-segan untuk minggat dari rumah lagi!” Pungkas ku mengancam akan pergi dari rumah jika mereka masih tetap ingin menjodohkan aku dengan anak pak Tarmajid itu.


Dan sontak, ayahku yang semakin marah dengan sikap ku itupun spontan mengiyakan ucapan ku barusan.

__ADS_1


“Silahkan! Kalau kamu mau pergi dari rumah, silahkan pergi!” Ucap ayahku semakin emosi.


Namun aku yang juga masih dalam suasana emosi itupun tidak berpikir panjang lagi, sehingga dengan cepat aku menuju kamar ku untuk mengambil pakaian dan kebutuhan-kebutuhan ku yang lainnya.


“Ok… Ratih pergi!” Ucapku.


Aku yang sudah selesai mengemas barang-barang ku itupun berjalan menuju pintu keluar, dan terlihat ayah dan ibuku masih berada di ruangan depan dan sepertinya karena masih dalam suasana emosi ayahku pun kembali berkata kepadaku.


“Ingat… kalau kamu berani melangkahkan kaki keluar dari rumah ini, jangan harap ayah akan membantu perekonomian kamu!” Ucap ayahku mengancam untuk tidak akan memfasilitasi ku lagi dari segi finansial.


Aku terdiam sebentar menghentikan langkah ku yang sudah berada di muka pintu dan seketika akupun mempalingkan wajah ku kearah mereka dan berkata.


“Silahkan yah! Kalau emang ayah gak mau lagi ngebiyaain Ratih… Ratih gak bakal maksa ayah!” Ucapku dengan tegas, dan terlihat ibuku pun mulai gelisah, sepertinya dia tidak ingin jika aku pergi.


“Ayah, udah dong ayah” Ucap ibuku mencoba untuk menenangkan ayah. Namun, ayah yang sepertinya sudah tidak tahan lagi dengan sikap ku itupun sepertinya sudah tidak bisa ditoleransi lagi oleh ibuku.


Aku yang memutuskan untuk minggat dari rumah meninggalkan ibu dan ayahku seketika berhenti disebuah taman untuk beristirahat sebentar sembari memikirkan nasib ku yang sepertinya akan luntang-lantung karena sudah tidak bersama orang tua. Aku sungguh tidak tahu harus kemana sekarang, tapi yang jelas aku harus membuktikan kepada ibu dan ayahku bahwa aku bisa hidup tanpa harus bergantung kepada mereka.


Aku pun terus merenungi nasib ku di taman itu, dan sesekali terbayang-bayang tentang kejadian tadi. Sehingga, aku yang merasa kesal itupun bermaksud akan melampiaskan kekesalan ku itu ke sebuah botol kosong yang terbaring dihadapan. Aku yang gusar dan marah pun berdiri lalu menendang botol tersebut sekuat tenaga, namun tiba-tiba saja seseorang berteriak dari arah depan ku dan sepertinya botol yang aku tendang barusan mengenainya. Sehingga pada saat melihat orang itu datang menghampiriku, akupun panik dan tak tahu harus memberi alasan apa kepadanya.


“Aghhh!!” Teriaknya sambil memegangi kepalanya karena botol yang aku tendang tepat mengenai kepalanya, dan dia pun berteriak.


“Woy! Siapa itu?” Teriaknya sambil mencari tahu siapa dalang dibalik melayangnya botol tersebut di kepalanya.


“Waduh… mati aku” Ucapku kaget dan berusaha menyembunyikan wajahku menggunakan tas bawahan ku.


Namun, orang itu sepertinya tahu jika aku yang sudah menendang botol tersebut. Sehingga dengan cepat dia pun menghampiriku dan aku pun semakin panik ketika melihat dia berjalan menuju arah ku sambil memegangi botol yang aku tendang tadi.

__ADS_1


“Heh… kamu ya yang udah nendang botol ini? Pungkasnya dengan nada kesal, dan akupun masih saja berusaha menutupi wajah menggunakan tas ku.


“Ma.. maaf mas, a.. aku gak sengaja” Ucapku merasa bersalah dan perlahan menurunkan tas yang menutupi wajahku. Namun, ketika aku melihat wjah orang itu, akupun kaget ternyata orang itu adalah Verel si lelaki tidak bertanggung jawab.


“Loh… kamu!” Ucapku terkejut.


“Oh… jadi kamu perempuan yang nyebrang jalan gak pake mata itu!” Sahutnya yang juga terkejut ketika mengetahui ternyata aku yang sudah menendang botol tadi.


“Pas banget… cepat minta maaf!” Ucapku yang tiba-tiba berubah dari panik menjadi kesal ketika melihatnya, sehingga iapun melongo ketika aku berkata seperti itu.


“Hah? Kok aku yang minta maaf, jelas-jelas kamu yang udah mengenai kepala ku menggunakan botol ini!” Pungkasnya mulai kesal.


“Ya gak bisa gitu dong… jelas-jelas kamu yang tempo dulu udah nabrak aku! Pokoknya aku gak mau tahu, kamu harus minta maaf sekarang juga!!” Lanjutku mendesaknya agar mau meminta maaf kepadaku.


Verel pun kembali tercengang, dan seketika iapun menertawaiku karena aku yang terus mendesaknya untuk meminta maaf. Sehingga, melihatnya tertawa itupun membuatku semakin kesal. Seolah-olah dia sedang mengejek dan mempermainkan ku.


“Heh! Tutup mulut mu itu… dasar cowok gak tahu malu!” Ucapku mengtainya.


“Jelas-jelas udah salah, gak mau ngakuin lagi” Lanjutku berbisik kecil.


“Apa... gak tahu malu? Heh! Yang ada kamu yang gak tahu malu” Sahutnya berbalik mengataiku.


“Ini loh botol buktinya… kalau ajah botol ini bisa ngomong, udah masuk penjara kamu” Lanjutnya sambil mengangkat botol itu tepat di wajahku.


Sikap Verel yang begitu belagu pun membuat emosi ku semakin memuncak, dan rasanya ingin aku banting juga dia pada saat itu karena sikapnya yang begitu membuatku jengkel serta tidak mau mengakui kesalahan nya tempo dulu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2