Penjahat Itu Kekasihku!

Penjahat Itu Kekasihku!
Mengikuti Verel


__ADS_3

EPISODE 20


“Gak tau ah Rat… aku bingung!” Jawab Melly.


“Awas kamu ntar nyesal loh..? ntar perasaan Tito keburu kadaluarsa kalau nunggu terlalu lama” Ujarku menakut-takut kan Melly.


“Ya enggak lah, kalau emang kayak gitu ya mau di apa, berarti itu bukan jodoh aku” Pungkas Melly yang lagi dan lagi ada-ada saja dalam menjawab.


Sebetulnya aku senang ketika mengetahui ternyata ada laki-laki yang menyukai sahabatku ini, karena pada saat kenal Melly hingga sekarang, aku tahu jika dia tidak pernah menjalin hubungan dengan laki-laki. Mungkin karena takut untuk berpacaran, dan mungkin juga karena dia tidak suka dengan laki-laki. Hem tapi itu hanya pikiran liar ku saja.


Namun karena pikiran liar itu jugalah mengapa aku bersikeras memaksa Melly untuk menerima cinta Tito, sebab jika pikiran liar ku itu ternyata benar. Tentunya aku yang akan dalam masalah karena aku tinggal serumah dengan Melly.


*Beberapa hari kemudian*


Pada hari itu aku yang baru selesai mengikuti perkuliahan, tidak tahu menagapa pada saat aku ingin pulang tiba-tiba perasaan ku tidak tenang ketika melihat Verel. Sehingga akupun memutuskan untuk menguntit dia secara diam-diam.


“Ratih…” Tegur Melly menunggu diatas motor.


Namun karena aku memperhatikan Verel itupun tidak menyadari jika Melly memanggilku barusan, sehingga Melly pun kembali memanggilku lagi.


“Ratih… kamu ngapain sih.?” Tegurnya sehingga akupun tersentak.


“Hah…” Seperti orang linglung.


“Iya-iya Mel” Ujarku buru-buru menjawab.


“Ayo buruan! Daritadi dipanggilin juga!” Ucap Melly mulai kesal.


Namun ketika aku ingin menaiki motor Melly, tiba-tiba saja hatiku seperti ragu karena penasaran dengan Verel. Sehingga akupun berkata kepada Melly:


“Mel kamu deluan ajah ya, aku masih ada urusan ni” Ucapku berbohong.


Melly seketika tercengang sepertinya menaruh kecurigaan ketika aku berkata seperti itu, karena Melly tahu tentang semua kesibukanku dan walaupun aku ada tugas perkuliiahan pasti aku memberitahukan dia, dan itu juga tidak mungkin karena Melly satu kelas dengan ku sehingga ketika ada tugas pasti dia juga mendapatkan tugas yang sama denganku.


“Urusan apa?” Ujar Melly sehingga membuatku pun berpikir keras untuk mencari alasan apa yang akan aku berikan padanya.


“A-ah-anu Mel… tadi bokap nelpon katanya ibu aku lagi sakit” Tuturku mengada-ngada.


“Ya udah kalau gitu… ayo sama-sama kita jenguk nyokap kamu” Balas Melly dan membuatku pun semakin panik.


“En-enggak u-usah Mel…” Jawabku yang belum selesai berbicara tiba-tiba dipotong oleh Melly.

__ADS_1


“Loh kenapa?” Penuh curiga.


“Enggak, bukan nya aku gak mau kamu ikut. Tapi aku gak mau bokap sama nyokap aku tahu kalau aku itu tinggal bareng kamu” Ucapku memberi alasan penuh kebohongan.


“Ehm…” Melly mendehem.


“Ya udah deh, tapi kamu yakin ni mau berangkat sendri?” Ujar Melly ingin memastikan.


“Iya yakin kok Mel, udah gak apa-apa kamu deluan ajah” Jawabku sedikit legah.


“Ya udah kalau gitu… aku deluan ya” Tutur Melly dan kemudian iapun kali ini betul-betul pergi sehingga akupun merasa legah.


Seketika pada saat Melly sudah pergi, Verel pun menghidupkan motornya sehingga pada saat dia baru saja keluar gerbang kampus akupun buru-buru berlari ke pinggir jalan dan segera meminta ojek yang sedang mangkal disitu untuk mengikuti Verel.


“Pak, pak… ikuti motor itu pak” Pungkas buru-buru.


“Ayo pak buruan…” Tegasku lagi.


Si tukang ojek itupun menuruti perintahku sehingga kami terus mengikuti Verel dari belakang, dan setelah lumayan jauh kami mengikuti tiba-tiba saja Verel berhenti disebuah tempat lalu memarkirkan motornya ditempat itu. Sehingga akupun buru-buru meminta tukang ojek tersebut berhenti sedikit jauh dari Verel.


“Stop! Stop pak” Tuturku sambil menepuk-tepuk bahu tukang ojek tersebut.


Verel pun menaruh helm nya diatas motor lalu pergi melangkah ke sebuah lorong, sehingga akupun buru-buru memberi ongkos ojek ku kepada bapak tukang ojek itu lalu mengikuti Verel lagi belakang.


“Aku pikir kamu gak datang” Pungkas pria yang ada di lorong itu menegur Verel.


Sehingga akupun dengan cepat bersembunyi dibalik tembok dan memperhatikan serta mendengarkan pembicaraan mereka berdua.


“Aku bukan pengecut!” Jawab Verel.


“Ck… kita buktikan ajah apa omonganmu sebesar nyalimu!” Tutur pria yang sedang bersama Verel.


Dari dialog mereka berdua, sepertinya Verel sedang terlibat masalah dengan orang tersebut. Sehingga akupun mulai panik dan cemas serta takut jika mereka nantinya akan berkelahi.


“Udah lebih baik kita selesaikan ajah hari ini!” Pungkas Verel.


Seketika pada saat Verel baru selesai mengucap. Sontak, beberapa orang pun datang dan sepertinya itu adalah teman-teman dari si pria tersebut. Sehingga akupun semakin panik ketika melihat orang-orang itu dan sepertinya orang-orang itu akan mengeroyok Verel.


“Ck…” Verel membuang ludah.


“Pengecut kalian, beraninya keroyokan!” Ujar Verel sembari mengkeret-kretek jari-jarinya dan sepertinya sudah siap memulai pertarungannya dengan orang-orang tersebut.

__ADS_1


“HAJAR!!!” Teriak orang itu memerintahkan teman-temannya untuk menghajar Verel.


“Hya…”


‘Plak’


‘Bughh’


‘Gedubrak’


Verel terkapar dan terbaring ketika terkena pukulan orang-orang itu. Sehingga orang-orang tersebut pun dengan leluasa menghajar Verel yang sudah sudah terbaring ditanah.


‘Puaghhh’


‘Bughh’


‘Bughh’


Apalah daya Verel yang hanya seorang diri melawan beberapa orang tersebut, sehingga aku yang melihat Verel dihajar habis-habisan itupun semakin cemas dan khawatir. Namun aku juga tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak bisa membantu Verel selain berdiam diri ditempat persembunyian sampai pada saat orang-orang itu benar-benar pergi.


“Sudah cukup!” Ujar si pria kekar itu meminta teman-temannya untuk menyudahi.


Orang tersebut mendekati Verel lalu meletakkan kakinya diatas perut Verel dan berkata:


“Sekali lagi kamu berani cari masalah! Aku gak bakal segan-segan lakuin yang lebih parah lagi dari ini!” Ucap pria itu memperingati Verel.


“Aghhhh” Rintih Verel kesakitan.


“Ayo cabut!” Ujar pria itu lagi memerintahkan teman-temannya untuk segera meninggalkan tempat itu.


Sehingga pada saat orang-orang itu sudah pergi, akupun dengan cepat keluar dari tempat persembunyian ku untuk menghampiri Verel.


“Verel…” Teriakku sambil berlari.


“Kamu gak apa-apa?” Tanyaku dengan ekspresi wajah panik melihat kondisi Verel.


Dan dengan cepat akupun membantu Verel untuk berdiri dan membawanya keluar dari lorong itu untuk mencari tempat agar bisa mengobati memarnya.


“Pelan-pelan” Tuturku sembari merangkul Verel berjalan.


Setelah keluar dari lorong akupun memperhatikan sekeliling untuk mencari bangku, dan aku yang melihat ada tempat duduk didekat situpun segera membawa Verel duduk di tempat tersebut, dan untungnya ditempat tersebut juga terdapat sebuah apotik sehingga dengan cepat aku berlari ke apotik itu untuk membelikan Verel obat untuk mengobati benjolan dan memar diwajahnya akibat pukulan orang-orang tadi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2