
EPISODE 18
Akupun dengan sangat terpaksa meninggalkan kelas dan tidak mengikuti mata kuliah hari ini, hingga pada saat aku bermaksud ingin pulang tiba-tiba aku melihat Verel sedang asik-asiknya bercanda tawa bersama teman-teman nya di luar fakultas teknik. Sehingga aku yang kesal itupun menghampirinya dan bermaksud akan melampiaskan kekesalan ku kepadanya.
“He! Ini semua gara-gara kamu!” Ucapku tiba-tiba memarahinya.
Verel tercengang dan bingung karena aku yang baru datang itupun tiba-tiba marah dan menyalahkannya.
“Hah? Maksudnya..?” Tanya Verel dengan ekspresi wajah bingung.
“Iya ini semua gara-gara kamu… gara-gara kamu aku gak dibolehin masuk kelas!” Ucapku menyalahkannya.
Verel pun berdiri lalu mendekatiku lalu berkata:
“Terus salah aku dimana?” Tanya nya.
Dan seketika akupun bingung harus menjawab apa, karena memang sebenarnya keterlambatanku tadi bukanlah karena Verel. Melainkan itu karena kesalahanku sendiri, aku yang telat bangun sehingga tidak dapat mengikuti mata kuliah hari ini, namun karena kesal akupun melampiaskan kekesalanku itu padanya.
“Eh… pokoknya ini semua salah kamu! Titik.” Jawabku tegas.
Namun tiba-tiba hal yang tak terduga pun terjadi, karena salah satu teman Verel tiba-tiba menjailinya dengan cara mendorong Verel ke-arahku sehingga Verel pun terdorong dan membuat bibir nya seketika menempel dibibirku.
“Hiyyaa!” Teman Verel mendorong Verel.
“Eh…” Kejut Verel berusaha menahan namun karena jaraknya terlalu dekat denganku sehingga iapun terpaksa mencemplungkan bibirnya ke bibirku.
“Huahahahah” Teman-teman Verel pun menertawai kami ketika melihat adegan yang terjadi.
Sontak akupun mendorong Verel dan berteriak histeris karena tidak menyangka bibirku dicicipi oleh orang yang aku anggap sebagai musuh.
“Ahh!!!” Teriak ku histeris setelah berhasil melepaskan bibir Verel yang menempel di bibirku lalu berkata:
“Ihh… gila kalian ya!” Ucapku penuh kekesalan sembari mengelap bibirku.
“Huahahahah” Teman-teman Verel pun kembali menertawaiku, dan begitupun Verel dia juga ikut tertawa.
Sungguh aku begitu gusar dan marah dengan kelakuan teman-teman Verel, begitupun aku juga marah dengan Verel karena dia bukannya menyalahkan teman-teman nya. Melainkan ia ikut tertawa dan sepertinya senang karena telah mencicipi bibir mungilku ini.
“Bibir kamu manis ya” Ucap Verel tersenyum sembari memegang bibirnya
“Kalau bibir aku gimana..? Manis juga gak?” Lanjutnya menanyakan.
Sehingga akupun dengan cepat membuang ludah dan berkata:
“Najis…” Ucapku jijik.
Namun Verel sepertinya memang sengaja ingin membuat aku semakin kesal dan dia memang suka membuat kemarahan ku memuncak dengan berkata:
__ADS_1
“Udah deh gak usah malu-malu, akuin ajah kalau kamu suka bibir aku”
“Kalau emang suka tinggal bilang ajah kok, ya kali ajah kan kita bisa cari tempat yang lebih bagus lagi” Ucapnya.
Sontak emosiku pun memuncak lalu melototinya dengan tajam, dan seketika akupun menginjak kakinya dengan sekuat tenaga sehingga membuat dia teriak histeris pada saat itu juga.
“Oh mau cari tempat?” Ucapku, dan terlihat dia pun masih senyam-senyum.
“Makan ni tempat!” Lanjutku.
“Aghhhh” Teriaknya buru-buru mengangkat dan memegang kakinya yang sudah aku injak tadi.
Sehingga setelah melakukan itu akupun dengan cepat pergi meninggalkan tempat tersebut, dan buru-buru pulang ke rumah Melly.
“Dasar cewek sinting… awas ajah kamu!” Teriak Verel marah tidak terima dengan apa yang sudah aku lakukan kepadanya barusan.
Setibaku di rumah Melly, akupun buru-buru masuk ke kamar. Namun entah mengapa kejadian pada saat bibir Verel menempel di bibirku itu terus terngiang-ngiang dipikiran ku. Aku terus membayangkan adegan yang terjadi tadi, dan rasanya sulit sekali untuk aku hilangkan bayangan itu dikepala ku. Sepertinya aku sudah terkena sihir akibat bibir Verel sehingga membuatku pun terus membayangkan hal tersebut.
“Ratih…” Teriak seseorang dari luar dan dengan cepat akupun menghampiri suara yang memanggil namaku itu untuk memastikan.
“Ratih…” Suara itu lagi memanggil lagi, dan setelah memastikan ternyata itu adalah Melly.
“Iya-iya…” Balasku buru-buru menghampirinya.
“Rat gimana masalah kamu sama pak Samsul?” Tanya Melly yang sepertinya cemas ketika melihatku terlibat cekcok dengan dosen killer tadi.
“Ih Ratih… sumpah aku tegang banget loh tadi liat kamu dimarahin pak Samsul” Ujar Melly.
“Ya mau gimana lagi Mel… soalnya aku juga sih yang salah karena telat” Jawabku.
Seketika Melly pun berekspresi sedih ketika aku mengatakan itu, sehingga iapun berkata:
“Rat maafin aku ya, seharusnya aku gak ninggalin kamu tadi. Harusnya aku itu lebih sabar lagi untuk bangunin kamu” Ujarnya merasa bersalah.
“Udahlah Mel bukan salah kamu kok, kamu kan udah berusaha bangunin aku. Tapi akunya ajah yang susah dibangunin” Jawabku tidak ingin jika Melly menyalahkan dirinya sendiri.
“Iya tapi…”
“Udah ah Mel, lagian baru sekali ini juga kok aku absen mata pelajaran pak samsul. Kan jatah bolos ada 3 kali, jadi kamu gak usah khawatir” Ujarku tiba-tiba memotong perkataan Melly.
Aku yang tidak ingin Melly terus menyalahkan dirinya itupun seketika mengalihkan pembicaraan.
“Jogging yuk Mel..?” Tuturku dan dengan cepat Melly pun menanggapi.
“Ayo… udah lama juga gak jogging ni” Jawabnya setuju.
“Iya tapi gak usah jauh-jauh lah, sekitaran sini ajah” Ucapku lagi.
__ADS_1
“Ehm.. aku mah ngikut ajah deh” Jawab Melly tidak mempermasalahkan.
Sore hari pun tiba, sehingga aku dan Melly pun bergegas untuk bersiap-siap pergi jogging.
“Mel ayo Mel...” Ucapku memanggil.
“Ayo… aku udah siap ni” Jawab Melly dan kami pun bergerak.
Sembari berlari santai akupun mengajak Melly untuk berbincang-bincang dan membahas tentang kejadian memalukan yang terjadi antara aku dan Verel tadi.
“Mel…” Tegurku.
“Ehm” Balas Melly dengan mendehem.
“Aku mau cerita sesuatu sama kamu Mel” Ujarku.
“Apa tuh?” Jawab Melly sepertinya penasaran.
“Tapi jangan ketawa ya..?” Tuturku sedikit ragu.
“Iya gak kok, lagian ngapain aku mau ketawa” Jawab Melly.
“Janji ya..?” Ujarku lagi ingin memastikan.
“Iya janji” Jawab Melly menegaskan.
Sehingga aku yang agak malu untuk menceritakan itupun memberanikan diri untuk mengatakan kejadian yang sudah terjadi antara aku dan Verel tadi.
“Verel cium aku” Ucapku sehingga membuat Melly pun terkejut dan menghentikan langkahnya.
“Hah..? Apa?” Ucap Mely kaget.
“Ih Melly tuh kan, pasti mau ledekin deh” Ucapku mulai curiga.
Melly yang penasaran itupun seketika mengajak ku untuk bersitirahat sebentar dan sepertinya dia ingin memastikan hal itu ditempat yang lebih tenang.
“Gak-gak kok Rat… ya udah kita istirahat dulu yuk disitu” Ujar Melly mengajak ku duduk dipinggir jalan.
Setelah duduk mendapatkan tempat duduk, Melly pun kembali memasang wajah penasaran dan kembali menanyakan hal tadi.
“Maksud kamu gimana sih Rat..? Verel cium kamu?” Tanya nya.
‘Huffsst’ Aku menghela nafas lalu berkata.
“Iya… Verel cium aku, sumpah aku jijik banget tau!” Ucapku kesal.
Melly kembali tercengang seperti sulit mempercayai ucapanku barusan dan iapun kembali menanyakan.
__ADS_1
Bersambung