
EPISODE 23
“Udah santai ajah, gak apa-apa kok” Jawabku.
Verel kemudian bergerak mengambil sebuah buku yang terletak atas di meja lalu memberikan kepadaku.
“Coba deh kamu baca ini” Ucapnya sembari menyodorkan buku tersebut.
Buku yang berjudul sebuah seni untuk bersikap bodoh amat karya Mark Manson itu ia berikan padaku. Meskipun aku tidak suka membaca namun aku tetap mengambl buku itu untuk menunjukkan sikap menghormati.
“Ini buku apa Ver?” Tanyaku.
“Buku ini cocok untuk kamu. Lihat deh, dari judulnya ajah kita udah bisa tahu kalau buku ini itu mengajak para pembaca bagaimana caranya untuk bisa menjalani hidup yang bahagia” Pungkasnya menerangkan.
“Oh jadi maksud kamu aku gak bahagia gitu?” Tanyaku bercanda.
“Bukan gitu maksudnya” Jawab Verel buru-buru takut aku tersinggung dan kemudian iapun kembali menerangkan mengenai buku tersebut.
“Pokoknya dari isi buku ini itu bakal mengajari kita 5 hal tentang seni untuk bersikap bodoh amat.” Tuturnya.
“Apaan tuh?” Tanyaku penasaran.
“Yang pertama, tentang kebahagiaan. Kedua, tentang hal-hal yang seharusnya bisa kita abaikan tapi kita memilih untuk fokus ke hal tersebut sehingga kita menghabiskan banyak waktu untuk lari dari masalah kita daripada berdamai dengan masalah itu sendiri”
Verel terus menerangkan mengenai buku itu dan begitupun aku terus memperhatikan dan mendengarkan penjelasan Verel meskipun sebenarnya aku tidak paham dengan apa yang dia katakan. Tapi aku pura-pura saja seolah-olah mengerti tentang penjelasannya tersebut.
“Ketiga, tentang bagaimana caranya mencari tahu apa yang sebenarnya layak dipedulikan dan diinginkan. Keempat, fokus pada hal yang lebih penting dan yang kelima, semua akan baik-baik saja dengan bersikap bodo amat!” Ujarnya selesai menerangkan 5 hal yang mendasari buku tersebut.
“Waduh kalau aku jelasin semua, nanti kamu jadi gak penasaran lagi dong sama bukunya.” Lanjut Verel.
“Gak apa-apa kok, aku suka liat kamu” Tuturku salah ucap sehingga Verel pun tercengang.
“Hah, maksudnya?” Tanya nya sehingga akupun panik.
“Ma-maksudnya, aku suka sama bukunya! Ya gak apa-apa kalau kamu mau jelasin semua” Ucapku buru-buru menjawab.
“Owh. Ya udah, ini ambil” Tutur Verel memberikan buku itu.
Tak terasa waktupun semakin larut sehingga pada saat aku menoleh ke jam tanganku ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Sehingga, akupun meminta Verel untuk mengantarkanku pulang.
“Aduh, kayaknya kita harus balik deh Ver, soalnya udah jam 5 sore ni. Takutnya Melly ntar nyariin” Tuturku.
“Owh kamu tinggal bareng Melly?” Tanya Verel.
__ADS_1
“Ehm iya gitu deh” Jawabku singkat.
“Oh pantesan kamu sering bareng dia” Ucap Verel yang kemudian melanjutkan ucapannya.
“Ya udah ayo kalu gitu aku antar kamu pulang” Lanjut Verel.
Sehingga Verel pun mengantarkan aku pulang. Tapi aku yang tidak ingin Melly mengetahui jika aku jalan berdua dengan Verel itupun meminta Verwl untuk menurunkan aku sedikit jauh dari rumah Melly.
“Stop, Stop!” Pungkasku buru-buru menepuk punggung Verel.
Verel memberhentikan motornya lalu bertanya:
“Kenapa Rat?” Tanya nya penasaran.
“Aku turun di sini ajah ya” Ucapku.
“Loh kenapa? Kan rumah Melly masih di depan?” Tanya nya lagi berekspresi bingung.
“Udah gak apa-apa, kebetulan aku mau print makalah di situ” Ucapku memberi alasan sembari menunjuk ke jasa printer yang berada di dekat situ.
“Oh ya udah kalau gitu, ayo aku temenin” Ujar Verel.
“Gak usah Ver. Udah kamu pulang ajah soalnya ini udah mau malam loh, lagian rumah Melly dekat kok dari sini, jadi kamu gak usah khawatir” Jawabku buru-buru memberi alasan kepada Verel.
“Agh, untung ajah dia udah pergi” Ucapku dengan perasaan legah saat Verel sudah pergi.
Setelah itu akupun buru-buru pulang ke rumah Melly. Sehingga, Melly yang melihatku baru datang itupun menegur:
“Rat, kamu darimana ajah sih?’ Tanya nya sepertinya mencemaskanku karena seharian aku tidak pulang.
“Oh, tadi aku ada urusan Mel” Jawabku berusaha terlihat santai. Namun, sepertinya Melly menaruh kecurigaan lagi terhadapku sehingga iapun kembali bertanya.
“Urusan apa?” Tanya nya dengarn sorotan mata penuh kecurigaan di dalamnya.
“Ewh, i-itu Mel. Kebetulan organisasi extra kampus lagi mau adakan pengkaderan, jadi aku ikut thecnical meeting mereka” Pungkasku berbohong.
“Hah, tumben Rat? Bukannya kamu gak suka ya ikut-ikut yang kayak gitu?” Tanya Melly lagi sehingga akupun dengan sangat terpaksa harus kembali berbohong lagi.
“Ehm iya sih awalnya aku emang gak suka ikut-ikut yang kayak gitu. Tapi, setelah aku pikir-pikir ternyata penting juga untuk melatih publik speeking Mel” Ujarku yang kembali berbohong.
Dan untungnya Melly percaya dengan perkataan ku itu sehingga akupun mulai legah pada saat ia tidak melontarkan pertanyaa-pertanyaannya yang penuh kecurigaan itu.
“Oh, ya udah deh kalau gitu. Tapi,” Ucap Melly.
__ADS_1
“Lain kali kalau pergi kayak gitu kabarin aku dulu, biar aku gak cemasin kamu” Ungkapnya melanjutkan.
“Iya Mel, maaf. Lain kali aku janji bakal ngasi tau kamu dulu” Jawabku.
Di malam harinya, aku yang sedang duduk di sofa bersama Melly itupun membuat Melly tercengang pada saat melihatku yang tiba-tiba membaca buku sehingga iapun menegur:
“Tumben baca buku gituan Rat?” Tanyanya.
“He-heh iya Mel, katanya buku ini bagus untuk aku” Jawabku sambil tersenyum.
“Hah, kata siapa?” Tanya Melly penasaran.
“Aduh!” Ketuk ku dalam hati dan buru-buru menjawab pertanyaan Melly itu.
“Kata senior yang aku temuin pas ikut thecnical meeting tadi” Jawabku kembali membohongi Melly.
“Widih, hebat kamu Rat, baru ajah ikut thecnical meeting udah di kasi buku ajah” Ujar Melly tak menyangka.
“Bukan dikasi, tapi di pinjamin doang Mel” jawabku.
“Iya sama ajah”
“Hmmm” Melly mendehem dan kemudian kembali bertanya.
“Ngomong-ngomong, senior kamu itu cakep gak?” Tanya nya penasaran sehingga akupun dengan senang hati menjawab.
“Orangnya cakep, baik hati dan peduli.” Jawabku sambil memikirkan Verel.
“Ya walaupun kadang nyebelin, tapi aku suka sama tingkahnya itu” Lanjutku senyam-senyum sendiri.
“Kamu suka sama dia?” Sahut Melly kembali bertanya dan akupun membenarkan dengan cara menganggukkan kepala.
“Serius? Namanya siapa Rat?” Ucap Melly semakin penasaran.
“Ehm ada deh” Jawabku membuat Melly semakin penasaran.
“Ih Ratih, kasi tau dong namanya siapa? orangnya yang mana? Apa aku kenal sama orangnya?” Tanya Melly lagi.
“Kepo deh” Ujarku tidak ingin memberitahu.
“Please Rat, kasi tahu dong” Ujar Melly tetap ngotot ingin tahu siapa laki-laki yang aku maksud tadi.
Tentu saja aku tidak mau memberitahukan Melly karena orang itu adalah Verel, kalau sampai dia tahu aku pasti bakal malu dan pasti Melly akan mengejekku sehingga akupun berusaha sebisa mungkin untuk merahasiakan hal tersebut kepada Melly.
__ADS_1
Bersambung