
EPISODE 25
“Udah mana sini barangnya Re!” Ucap orang itu lagi mendesak Verel.
Sungguh aku bingung dan tak tahu tujuan Verel menemui orang tersebut. Karena, Verel masih terlihat berusaha menutupi hal tersubut dariku. Sehingga akupun semakin curiga dengan tingkah laku Verel tersebut yang seolah-olah tidak ingin jika aku mengetahui apa yang sebenarnya ingin dia lakukan dengan orang tersebut.
Dan tiba-tiba orang itupun merebut tas Verel secara paksa. Mungkin, karena lama menunggu Verel yang belum juga memberikan barang yang dimaksud tadi. Sehingga orang itupun merebut paska tas Verel.
“Lama ah, mana sini biar aku yang ambil sendiri.” Pungkas orang tersebut sembari mengambil tas slemapang milik Verel.
“Eh, eh bang jangan!” Ujar Verel dengan ekspresi wajah panik.
“Lama kamu”
Orang itupun membuka tas slempang Verel dan mengotak-atik barang-barang di dalamnya untuk mencari barang yang dia inginkan tadi.
Dan tiba-tiba saja pada saat sudah menemukan barang yang dia maksud orang itupun mengembalikan tas Verel. Dan, aku melihat barang yang di ambil dalam tas Verel itu butiran kecil putih serta dibungkus menggunakan plastik transparan dan dari bentuknya sepertinya itu adalah barang haram sehingga kecurigaanku pun semakin bertambah.
“Bagus gak ni barangnya?” Tanya orang itu ketika sudah memegang barang yang di ambil dalam tas Verel tadi.
“Abang kan tau, kualitas barang aku gimana” Jawab Verel dengan nada datar.
“Hahaha, iya-iya. Ya udah ini uangnya” Ujar orang itu terlihat puas dengan jawaban Verel dan kemudian diapun memberikan sejumlah uang kepada Verel.
“Oke makasih” Ucap Verel mengambil uang tersebut.
“Oke, nanti kalau masih kurang aku hubungi kamu lagi” Tutur orang itu lagi dan kemudian diapun pergi dari gang tersebut.
Setelah orang itu pergi, akupun buru-buru menanyakan tentang barang tadi kepada Verel.
“Ver, lebih baik kamu jujur deh. Itu tadi barang apa?” Tanyaku serius. Namun, Verel tidak menjawab melainkan ia hanya diam membisu.
“Verel! Kok kamu diam ajah sih. Tolong jawab Ver, itu tadi barang apa?” Pungkasku lagi memaksa Verel untuk menjawab.
Tetapi Verel masih saja diam dan tak mau menjawab pertanyaanku itu. Sehingga, aku yang mulai pitam itupun berkata:
“Itu barang haram kan? Kamu ngedarin barang haram itu kan? Sumpah, aku gak nyangka banget kamu orangnya sehina itu!” Tuturku tak tertahan lagi mengatai Verel seperti itu.
Dan mungkin Verel tersinggung dengan kata-kata ku barusan sehingga iapun berkata:
__ADS_1
“Iya memang ngedarin barang haram itu? Kenapa memangya? Kamu nyesal kenal sama pengedar kayak aku” Ucap Verel.
“Asal kamu tau, aku hidup itu di dunia gelap dan inilah kerjaan aku. Uang yang aku hasilin dan untuk makan sehari-hari. Itu semua dari uang haram” Ucapnya lagi.
Dan akupun terdiam, tak tahu harus berkata apalagi ketika melihat Verel mengatakan itu dengan ekspresi wajah penuh emosi.
“Kenapa diam ajah? Ini kan yang kamu mau, kamu mau aku katakan yang sebenarnya! Sekarang aku udah katakan, apa kamu puas?” Ujar Verel penuh emosi.
“Kenapa diam ajah Rat? Apa sekarang kamu puas?
“Jawab Rat, Ratih jawab! Apa kamu udah puas hah!” Ujar Verel dengan nada membentak.
“Oh, apa mungkin sekarang kamu juga mau bilang kalau aku itu bukan sekedar hina. Tapi juga makhluk yang menjijikkan hah!” Lanjut Verel terus mempojokkan diri sendiri sehingga akupun tak bisa berkutik lagi.
Dan tiba-tiba saja, aku dan Verel pun panik ketika sirene polisi terdengar di depan gang. Dan sepertinya mereka akan melakukan penangkapan kepada Verel. Sehingga, aku yang panik itupun berkata:
“Polisi!” Tuturku. Dan Verel yang juga menyadari hal itupun seketika memegang tanganku dan menarik aku ikut berlari bersamanya.
“Lari-lari Rat” Pungkas Verel, dan kami pun kalangkabut berlari mencari tempat persembunyian.
“Kerjar-kejar!” Seruh polisi dari depan gang mengejar kami berdua.
Namun tiba-tiba saja hal yang tak diinginkan pun terjadi. Sang polisi melepaskan tembakan ke-arah kami sehingga mengenai betis Verel, dan membuat Verel tak bisa bergerak pada saat itu juga.
‘DOR’
“Aghhh” Teriak Verel merintih kesakitan pada saat terkena tembakan sang polisi.
“Verel..” Ujarku panik.
“Aghhh!” Ujar Verel terus merintih menahan sakit sambil memegang betisnya yang tertembak itu.
“Verel kamu gak apa-apa? Gimana ini ya ampun. Verel!!” Tuturku semakin cemas dan panik, apalagi ketika melihat si polisi sudah berlari menghampiri kami.
“Ratih, lari Rat lari!” Tutur Verel memintaku untuk terus berlari.
“Tapi, kamu gimana Ver?” Tanyaku sudah tidak bisa berpikir jernih.
“Udah gak usah pikirin aku, kamu lari ajah” Ujar Verel memaksaku untuk tidak memghirukan dia.
__ADS_1
“Tapi..”
“Lari Rat, cepat lari!!” Pungkas Verel terus menyuruhku lari meninggalkannya.
Sehingga akupun dengan sangat terpaksa membiarkan dia sendiri disitu. Meskipun aku tidak ingin meninggalkan dia, tapi aku juga tidak ada pilihan sehingga akupun dengan cepat lari agar tidak diringkus juga oleh polisi.
Aku terus berlari menjauhi jangkauan polisi dan mencari tempat persembunyian agar polisi tidak dapat menemukan aku. Sehingga, pada saat melihat situasi sudah mulai aman aku pun keluar dari tempat persembunyianku dan kemudian aku buru-buru kembali ke rumah Melly.
Setibaku di rumah Melly, dengan perasaan cemas dan parno karena kejadian tadi akupun seketika memeluk Melly dan menangis. Dan tentunya hal itu membuat Melly bingung karena aku tiba-tiba saja memeluknya dan menangis dipelukannya.
“Mel..” Tuturku buru-buru memeluknya.
‘Hiks, hiks, hiks’
“Loh kamu kenapa Rat?” Tanya Melly kebingungan.
‘Hiks, hiks hiks’ Aku terus menangis dipelukan Melly.
“Udah-udah, kamu tenang dulu ya” Ucap Melly berusaha menenangkan aku.
Seketika Melly pun melepaskan pelukanku dan lalu pergi mengambilkan aku segelas air.
“Minum dulu Rat biar perasaan kamu lebih tenang” Pungkas Melly memberikan gelas yang sudah berisi air tersebut.
Setelah selesai meminum air itu akupun menundukkan kepalaku dihadapan Melly sehingga Melly pun menyanyakan:
“Kamu kenapa Rat?” Tanyanya.
Namun aku tetap saja diam dan sepertinya berat untuk menceritakan kejadian barusan kepada Melly.
“Hei Ratih, kamu kenapa? Kalau ada masalah cerita sama aku.” Tutur Melly lagi.
“Tapi Mel” Ucapku dengan nada sedih.
“Gak apa-apa cerita ajah, aku siap kok dengerin semuanya.” Ucap Melly namun tetap saja susah untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Melly.
“Rat, aku ini sahabat kamu. Kalau ada masalah cerita ke aku, jangan kamu tutup-tutupi seperti ini” Ucap Melly. Sehingga, akupun menarik nafas dalam-dalam dan mencoba memberanikan diri untuk menceritakan kepada Melly.
Sepertinya memang aku harus menceritakan kepada Melly, dan sepertinya sudah saatnya untuk tidak mentutup-tutupi lagi. Apalagi Melly adalah satu-satunya orang yang bisa aku percaya dan sudah semestinya aku menceritakan baik itu tentang Verel maupun permasalahan yang terjadi kali ini.
__ADS_1
Bersambung