
EPISODE 30
“Iya nak, ibu sama ayah gak bakal paksa kamu menikah lagi dengan anak pak Tarmajid.”
“Kamu pulang ya nak.” Tutur ibu membenarkan ucapan ayahku tadi.
Tentunya hal ini membuat aku senang, akhirnya ibu dan ayah aku sudah sadar jika menjodohkan anaknya bukanlah hal yang baik untukku. Sehingga pada saat itu aku benar-benar bisa lepas dari masalah yang membuatku betul-betul tersiksa sampai-sampai harus meninggalkan rumah.
Dan tentunya aku pasti akan pulang ke rumah. Apalagi aku sudha begitu merindukan suasan rumah yang sudah lama aku tinggalkan. Namun, aku yang hari itu juga sudah janji akan keluar dengan Verel pun berkata kepada ibu dan ayahku.
“Iya bu, yah. Ratih pulang.” Ucapku dan membuat senyuman bahagiapun terpancar dari wajah ibuku.
“Tapi Ratih ke rumah Melly dulu buat ambil barang-barang Ratih.” Sambungku.
“Oh ya udah kalau gitu. Ayo barengan ajah sekalian.” Sahut ayahku. Namun aku yang tidak ingin rencanaku dengan Verel gagal itupun memberi alasan:
“Gak usah yah, Nanti ada Melly kok yang anterin Ratih.” Pungkasku memberi alasan, dan untungnya Melly yang mungkin mengerti maksudku itupun membantuku meyakinkan ibu dan ayahku.
“Iya om gak apa-apa. Ntra biar aku ajah yang anterin Ratih.” Tutur Melly.
“Beneran gak apa-apa?” Tanya ibuku ingin memastikan.
“Iya gak apa-apa kok tante.”
“Ya udah deh kalau gitu, makasih ya Melly.” Ucap ayahku.
Setelah ayah dan ibuku sudah jalan. Aku dan Melly pun juga pergi menuju ke rumah Melly, dan setibanya kami disana akupun berkata kepada Melly.
“Makasih ya Mel udah bantuin yakinin ibu sama ayah tadi.” Tuturku.
“Ya elah santai ajah kali Rat, lagian aku ngerti kok kamu pasti gak mau kan rencana jalan sama Verel gagal.” Ucap Melly.
“Heheh kamu tau ajah deh.” Jawabku malu-malu.
Melly memang yang paling bisa dan selalu saja membantu aku. Rasanya aku betul-betul bersyukur mempunyai sahabat baik seperti Melly. Dan, semoga persahabatan ku dengan Melly selalu berjalan dengan baik meskipun nantinya aku sudah tidak tinggal dirumahnya lagi, tapi aku pasti akan selalu usahakan untuk main ke rumahnya.
Setelah sore hari tiba. dan Verel pun tak begitulah lama menungguku untuk siap-siap karena aku sudah bersiap jauh sebelum dia tiba dirumah Melly. Sehingga aku dan Verel pun langsung jalan pada saat itu juga.
__ADS_1
“Kita mau kemana Ver?” Tanyaku ketika sudah diatas motor.
“Ke suatu tempat yang bisa memanjakan mata.” Jawab Verel tidak mengatakan tempat nya dimana.
Mungkin saja dia tidak ingin memberitahukan aku terlebih dahulu untuk menjadikan surprise untukku. Tapi, dari jawabannya barusan sebenarnya aku sudah tahu bahwa dia itu ingin membawaku ke pantai. Namun aku memilih untuk diam saja agar dia tidak kecewa.
Dan benar saja Verel pun membawaku ke pantai tempat kebanyakan orang datang ketika ingin melihat sunset. Dan mungkin juga maksud tujuan Verel membawaku ke pantai tersebut untuk menyaksikan sunset bersamaku.
Meskipun aku tidak terlalu tertarik dengan pantai, tapi setidaknya ini sudah cukup membuat hatiku senang karena Verel ingin melihat sunset berdua denganku.
“Nah kita udah nyampe.” Ucap Verel ketika kami sudah berada di pantai tersebut.
Dan, terlihat di pantai itu bukan hanya kami berdua saja. Melainkan banyak orang lain juga yang berada di situ. Ada yang berdua dengan pasangannya dan ada juga yang membawa keluarganya.
“Oh ternyata di sini.” Ucapku dan kemudian disahuti oleh Verel.
“Iya Rat di sini. Hmm kamu gak suka ya Rat kalau aku bawa ke sini?” Tanya Verel yang sepertinya dia bisa membaca dari raut wajahku yang terlihat biasa-biasa saja ketika sampai dipantai itu.
“Ah, gak kok Ver. Aku suka kok.” Jawabku dengan terpaksa karena tidak ingin mengecewakan Verel.
“Kalau gak suka bilang ajah Rat, gak apa-apa kok. Kita bisa cari tempat lain.” Ujar Verel. Namun aku yang tidak ingin mengecewakan dia pun kembali meyakinkan dia jika aku menyukai tempat itu.
“Udah ayo kita cari tempat.” Sambungku.
Kemudian kami pun mencari tempat untuk bersantai. Sehingga aku yang melihat ada sebuah kursi pantai yang tidak terisi itupun mengajak Verel ke sana.
“Itu ada kursi kosong tuh, ayo kita duduk di sana ajah.” Ujarku dan kemudian kami pun ke kursi tersebut.
“Wah pas banget.” Ucap Verel terlihat senang.
Disela-sela menunggu sunset tiba. Kami pun mengobrol dan bercerita pada saat awal kami bertemu. Yang dimana dulunya kami bermusuhan hingga bisa berbaikan dan dekat seperti ini.
“Ratih…” Tegur Verel ingin memulai obrolan. Sehingga akupun menoleh.
“Ehm iya.”
“Kamu ingat gak waktu awal kita ketemu.?” Ucap Verel flashback ke masa lalu.
__ADS_1
“Ingatlah. Dan gak mungkin bisa aku lupain.” Jawabku memperlihatkan wajah judes kepada Verel karena mengingat awal pertemuan kami bukanlah kisah yang menyenangkan yang dimana pada waktu itu Verel menynggol aku dengan motornya sehingga hal itu tidak mungkin aku lupakan begitu saja.
“Kamu waktu itu nyenggol aku tau, sampai-sampai kaki aku pincang.” Sambungku, dan Verel pun tertawa.
“Hahahah. Iya-iya”
“Waktu itu nyenggol kamu.” Ungkap Verel.
“Tapi sumpah deh, waktu itu aku gak bermaksud seperti itu. Tapi…” Sambung Verel yang belum selesai menjelaskan akupun memotong:
“Gak bermaksud tapi main pergi-pergi ajah.” Tuturku menyalahkan dia.
“Sumpah aku gak bermaksud kayak gitu. Cuman waktu itu aku lagi emosi karena kalah balapan. Makanya aku main pergi ajah, gak nolongin kamu.” Ucap Verel melanjutkan ucapannya yang aku potong tadi. Sehingga, akupun mendehem dengan keras.
“Hmmm, dasar.”
“Iya deh aku minta maaf kalau gitu. Tapi sumpah loh aku gak bermaksud kayak gitu.” Ujar Verel merasa bersalah.
“Udah terlambat. Gak usah minta maaf, semuanya uda terlambat kali.” Ucapku dengan ekpresi bercanda.
“Hahaha, jangan kayak gitu dong, aku kan jadi gak enak sama kamu.” Ujar Verel.
“Kalau gak enak mah di kasi kucing atuh.” Tuturku kembali bercanda.
“Hahahah.”
“Heheheh” Kami pun tertawa.
Meskipun awal kisah pertemuan ku dengan Verel terkesan tidak baik. Namun kisah itu bagiku terbilang unik yang dimana dulunya aku tidak begitu menyukai Verel serta sangat membencinya. Namun kini aku sudah jalan berdua bahkan menyukai orang yang dulunya aku benci itu.
“Tapi kamu juga pernah loh buat aku celaka.” Tutur Verel lagi sehingga akupun tercengang.
“Hah, sejak kapan aku buat kamu celaka?” Tanyaku penasaran.
“Tuh, kan lupa. Coba deh ingat-ingat.” Ucap Verel. Namun aku yang sepertinya memang lupa itupun kembali bertanya:
“Yang mana sih. Kapan dan dimana aku buat kamu celaka? Perasaan gak pernah deh.” Ungkapku merasa hal itu tidak pernah aku lakukan terhadap Verel.
__ADS_1
Bersambung