
EPSIODE 33
“Makasih ya Tante.” Turur Melly terlihat senang dan bahagia.
Tentunya aku yang melihat Melly sudah kembali tersenyum pun turut merasa senang dan bahagia, serta aku berharap Melly tidak sedih seperti ini lagi nantinya.
Hari-hari pun berlalu, kini hari-hari yang aku lalui begitu bahagia. Setelah semua kesedihan yang aku lewati kini kebahagiaan itupun telah tiba. Dari hubunganku dengan Verel yang kini sudah resmi berpacaran, sampai dengan ibu dan ayahku yang sudah tidak menjodohkan aku lagi dengan anak pak Tarmajid.
Suatu ketika pada saat hari libur telah tiba. Verel pun mengajakku kencan di sebuah café. Di sela-sela menikmati kencan kami berdua, tiba-tiba seseorang pun datang menghampiri meja tempat aku dan Verel duduk. Dan, ternyata orang itu adalah Nopal dan tentunya dengan hadirnya Nopal itu membuatku sedikit risih, karena dia banyak memberi pertanyaan yang seolah-olah menyudutkan aku dan Verel.
“Ratih…” Tegur Nopal dan aku pun menoleh lalu menjawab.
“Ah, Nopal. Kamu di sini juga?” Pungkasku.
“Kamu ngapain di sini Rat? Melly mana?” Tanya Nopal dan sesekali melirik kepada Verel.
Nampaknya dari wajah Verel terlihat jika dia tidak menyukai Nopal berbincang-bincang denganku. Apalagi mereka pernah terlibat perkelahian tempo dulu, sehingga aku yang melihat ekspresi Verel mulai muram itupun bingung harus berbuat apa.
“Oh Melly gak ada Pal.” Jawabku.
“Lah terus? Kamu sama siapa ke sini?” Tanyanya lagi sehingga Verel pun mendehem dengan keras.
“Ehemmm” Deheman Verel, dan kemudian Nopal pun kembali bertanya.
“Kalian jalan berdua Rat? Bukannya kalian gak akur ya?” Tanya Nopal lagi sehingga akupun mulai risih.
“Apa urusannya bro sama kamu?” Ujar Verel tiba-tiba menyahut karena kesal.
“Santai dong bro, kan aku ngomongnya sama Ratih. Bukan sama kamu.” Ucap Nopal dan membuat suasana pun menjadi tegang.
Aku sebetulnya sangat terganggu dengan hadirnya Nopal ditengah-tengah kami berdua. Ya meskipun dulu aku pernah suka dengannya. Namun semenjak kejadian waktu iti aku sudah tidak pernah lagi berhubungan dengan Nopal. Dan, kenapa di saat-saat seperti ini dia muncul kembali.
“Bukan siapa-siapa Ratih juga tapi nyolotnya minta ampun.” Sambung Nopal mengoceh kecil sehingga Verel pun menjawab dengan nada keras.
“Eh aku ini pacarnya Ratih…”
“Kamu itu harusnya malu, ngapain ganggu-ganggu pacar orang.” Ungkap Verel penuh ke emosian.
__ADS_1
Nopal pun tercengang ketika mendengar ucapan Verel barusan, sehingga iapun melirikku lalu bertanya untuk memastikan.
“Benar Rat? Kalian udah pacaran?” Tanya Nopal berekspresi kaget, dan kemudian aku pun membenarkan dengan cara menanggukkan kepala. Sehingga, membuat Nopal pun geleng-geleng kepala.
Aku tahu jika Nopal pasti tidak menyangka ketika aku membenarkan hal tersebut. Apalagi dia tahu jika aku dan Verel dulunya tidak akur, dan pasti sekarang dia bingung dan bertanya-tanya kenapa aku yang begitu membenci Verel dulunya, kini sekarang bisa berpacaran dengan orang itu.
Seketika Nopal pun pergi dengan ekspresi wajah yang dia perlihatkan itu penuh kebingungan dan sedikit menyelipkan emosi di dalamnya, sehingga iapun pergi tanpa sepata-kata pun.
Tapi ya biarkan sajalah. Aku juga tidak memikirkannya. Lagipula dia pernah buat aku kecewa, buat apa aku pikirkan. Dan, jika dipikir-pikir untuk apa juga dia marah. Kan, aku juga bukan siapa-siapa nya dia.
“Uh dasar orang aneh.” Tutur Verel ketika Nopal sudah pergi.
“Udah ah, jangan gitu gak baik.” Tangkasku memperingatkan Verel.
“Iya aku kan cuman kesal ajah.” Ujar Verel lagi.
“Kesal kenapa sih sayang, kamu jangan kesal-kesal gitu dong, ntar cakepnya hilang loh” Ujarku merayu.
“Iya sayang aku gak marah kok, cuman tadi kesal ajah karena dia ganggu kita.” Ungkap Verel lagi, dan akupun kemudian meletakka tanganku di atas tangan Verel lalu berkata.
Dan begitulah yang terjadi. Setelah itu, kami pun kembali menikmati kencan kami berdua sambil membahas tentang kedepannya harus bagaimana.
“Sayang…” Tuturku berekspresi serius.
“Iya kenapa sayang?” Tanya Verel.
“Kamu kapan mau selesaikan studi kamu?” Tanyaku serius.
“Iya aku selesaikan kok sayang.” Jawab Verel namun jawaban itu tidak membuatku puas sehingga akupun kembali bertanya.
“Iya tapi kapan?”
“Secepatnya sayang.” Jawab Verel lagi dan tetap saja bukan jawaban itu yang aku inginkan.
Aku bertanya seperti ini kepada Verel bukanlah tanpa alasan, yang di mana aku itu ingin dia menyelesaikan kuliah secepatnya. Apalagi sekarang dia sudah semester 11, dan sudah seharusnya dia betul-betul fokus untuk menyelesaikan, ini bukannya fokus untuk itu. Skripsi saja belum dia sentuh sama sekali.
“Secepatnya! Secepatnya!. Pokoknya aku gak mau tau, kamu harus ambil tugas akhir semester depan, kamu harus mulai susun skripsi.” Tangkas ku dengan tegas memperingati Verel.
__ADS_1
“Loh kok semester depan sayang, ya belum bisa lah.” Jawab Verel sehingga mendengar jawabannya itupun membuatku terpaksa mengomelinya.
“Terus mau sampai kapan? Tunguu 2 semester lagi? 3 semester atau 4 semester?” Tanyaku dengan nada kesal.
“Ya gak gitu juga sayang, tapi setidaknya jangan semester depan lah.” Ujar Verel.
“Enggak-enggak, pokoknya semester depan kamu udah mulai skripsi.” Ujar ku kembali memaksa dia.
“Tapi kan…” Ucap Verle belum selesai berbicara akupun memotong.
“Gak ada tapi-tapi.” Tangkasku memotong perkataannya barusan, namun tetap saja dia ngotot memberikan penjelasannya.
“Tapi gak segampang itu sayang, apalagi jurusan yang aku ambil itu teknik, di teknik itu gak gampang.” Ucap Verel memberi penjelasan.
“Semua itu ada tahapnya sayang, sekarang ini judul ajah aku belum punya, gimana mau skripsi.” Sambungnya.
“Iya karena kamu gak mau usaha, kamu masih ajah sibuk sama genk kamu itu.” Jawabku terus mengomel.
“Udahlah, kalau kamu gak mau juga gak apa-apa aku gak maksa-maksa lagi.” Sambungku memberi jurus jitu dengan cara memperlihatkan ekspresi badmood ku.
Dan benar saja, jurus jitu ku itupun mempan terhadapnya sehingga Verel pun berkata:
“Ya udah kalau gitu, semester depan aku ambil tugas akhir.” Ungkapnya.
Meski dia berkata seperti itu, aku tidak boleh memperlihatkan senyum dulu kepadanya agar dia menyangka jika aku betul-betul marah kepadanya. Sehingga akupun kembali berkata dengan ekspresi badmood ku tadi.
“Gak usah, kalau kamu gak mau turuti ya gak apa-apa, itu kan hak kamu.”
“Aku mah siapa nyuruh-nyuruh kamu kayak gitu.” Sambungku dan kemudian Verel pun mengambil tanganku lalu berkata.
“Hei… kamu kok ngomongnya gitu, jelas dong aku bakal turuti, kamu itu kan pacar aku.” Ucap Verel merayu.
“Aku janji sama kamu, aku pasti bakal selesaikan studi aku semester depan.” Sambung Verel meyakinkan aku.
Dan, inilah saatnya aku memberikan senyum padanya agar supaya dia merasa jika aku sudah sangat berharap dengan janjinya itu.
Bersambung
__ADS_1