Penjahat Itu Kekasihku!

Penjahat Itu Kekasihku!
Kerinduan Ibu dan Ayah


__ADS_3

EPISODE 29


Tak lama setelah kepergian Verel, Melly pun datang. Sehingga Melly yang melihat ku masih berada di depan rumah itu pun berkata:


“Loh, Rat? Kamu ngapain di luar?” Tanya Melly ketika baru saja tiba.


Dan, karena susasana hatiku yang masih bergitu senang. Akupun berkata sambil melemparkan senyum:


“Hihi, ada deh.” Ucapku penuh kegembiraan.


Melly tentunya bingung dengan tingkahku. Yang tadinya pada saat pergi ke kampus dia masih melihatku bersedih namun sepulangnya dari kampus kesedihan yang tadi aku perlihatkan sudah tak nampak lagi. Sehingga pada saat sudah berada di dalam rumah Melly pun kembali bertanya:


“Kamu kenapa Rat?” Tanya Melly dengan ekspresi wajah yang begitu penasaran.


“Kenapa apanya si Mel?” Jawabku pura-pura tidak tahu.


“Kamu kok kelihatan begitu senang? Bukannya tadi…” Ujar Melly belum selesai berkata tiba-tiba akupun memeluknya.


“Mel makasih ya.” Tuturku sambil memeluk Melly.


“Makasih untuk apa?”


“Untuk segalanya. Makasih kamu selalu ada buat aku.” Ungkapku penuh penghayatan.


Dan, setelah itu akupun menceritakan kepada Melly tentang Verel yang datang tadi.


“Verel tadi kemari Mel.” Ucapku sehingga membuat Melly pun tercengang.


“Hah, Verel?” Tutur Melly masih tidak mengerti.


“Bukannya Verel dipenjara ya?” Sambung Melly bertanya.


“Dia udah bebas Mel.” Tuturku.


“Kok bisa? Bukannya kasusnya…”


“Iya emang, tapi polisi gak ada bukti.” Ujarku memotong ucapan Melly.


Kemudian akupun menjelaskan secara terprinci mengenai kasus Verel tersebut. Dan, setelah menjelaskan akhirnya Melly sudah paham dan mengerti mengapa aku terlihat begitu gembira dan senang.


“Oh, syukur deh kalau gitu.” Ungkap Melly setelah mendengar ceritaku.


“Iya Me, sumpah aku awalnya takut banget Mel.” Tuturku.

__ADS_1


“Kan aku udah bilang, kamu pasti baik-baik ajah kok.” Ujar Melly.


“Iya. Kan aku parno Mel, kamu tau kan gimana kalau orang udah parno.” Tangkasku.


“Ya udah, yang penting sekarang kamu udah gak apa-apa.” Ujar Melly dan kemudian Melly pun melontarkan sebuah pertanyaan yang membuatku susah untuk menjawab pertanyaannya tersebut.


“Terus sekarang gimana?”


“Setelah tahu Verel orangnya seperti itu, apa kamu masih mau dekat sama dia?” Tanya Verel.


Sontak, akupun terdiam tak tahu harus memberi jawaban apa kepada Melly. Karena, di satu sisi aku ingin terus dekat dengan Verel. Tapi, disisi lain Melly pasti tidak akan setuju jika aku dekat dengan Verel yang dimana karena Melly sudah tahu tentang keburukan Verel.


“Kok diam Rat?” Ucap Melly menunggu tanggapan dariku.


“Ah, iya Mel.”


“Kok kamu gak jawab pertanyaan aku?” Ujar Melly lagi dan kemudian melanjutkan.


“Aku tau kamu suka sama Verel Rat, tapi sebaiknya kamu pikir-pikir dulu deh. Apalagi, kamu kan udah tau kalau Verel itu orangnya kayak mana.” Sambungnya.


“I-iya Mel.” Jawabku singkat.


Gini banget nasib aku. Sepertinya ini memang sudah garis hidupku, aku sepertinya memang ditakdirkan untuk tidak menjalin hubungan dengan seseorang, yang diamana pada saat masih bersama Ibas, kisah cintaku harus kandas begitu saja karena kepergian Ibas ke Jakarta sehingga akupun memilih untuk mengakhiri hubungan kami. Dan kemudian, ketika aku bertemu dengan Nopal. Tapi aku harus merelakan dia begitu saja ketika aku mengetahui ternyata Nopal menyukai perempuan lain. Dan kini, di saat aku jatuh cinta lagi. Ternyata orang yang aku suka adalah seorang penjahat.


“Hai Rat.” Tergur Verel ketika jam perkuliahan ku baru saja selesai.


“Loh Ver, ngapaian di sini?” Tanyaku penasaran karena Verel datang ke fakultasku.


“Ntar sore jalan yuk.?” Ujar Verel mengajakku jalan.


Dan, tiba-tiba Melly pun keluar dari ruangan kelas sehingga membuat aku bingung harus menjawab apa.


“Ehem..” Melly mendehem sepertinya memberi kode agar aku tidak menerima ajakan Verel tersebut.


“Gimana Rat? Kamu mau kan.?” Tutur Verel lagi menunggu jawabanku.


Sehingga, aku yang bingung itupun kemudian menoleh ke-arah Melly untuk meminta izin. Tapi, hal yang tidak ku sangka-sangka pun terjadi. Melly mengizinkan aku dengan cara menganggukkan kepalanya. Sepertinya karena melihat ekspresi wajahku yang begitu ingin pergi bersama Verel sehingga iapun tidak tega jika harus melarangku. Sehingga dengan cepat akupun menanggapai ajakan Verel tadi.


“Iya aku mau.” Jawabku sambil tersenyum.


Verel pun tersenyum sepertinya dia juga begitu senang ketika aku mengiyakan ajakan nya barusan.


“Oke, ntar sore aku jemput ya di rumah Melly.” Ujar Verel berekspresi senang.

__ADS_1


“Kalau gitu aku kuliah dulu ya, ntar sepulang kuliah aku langsung jemput kamu.” Sambung Verel.


Sehingga, pada saat Verel sudah pergi. Melly pun cepat-cepat menghampiriku lalu berkata:


“Ingat ya, aku bolehin kamu jalan sama Verel itu bukan berarti aku setuju kalau kalian pacaran.” Tutur Melly dengan nada mengancam.


“Iya Mel, enggak kok.” Jawabku meyakinkan Melly.


“Hmmm” Melly mendehem.


Setelah itu kami pun bermaksud ingin pulang. Tapi tiba-tiba saja pada saat keluar dari gerbang kampus, Aku melihat mobil ayah aku sedang terparkir depan gerbang, sehingga pada saat baru saja keluar dari gerbang kampus. Tiba-tiba ayah aku menghadang kami dan memberhentikan motor Melly.


“Stop!” Teriak ayah memberhentikan memberhentikan motor Melly.


Dan terlihat dari dalam mobil ibuku pun keluar lalu dengan cepat menghampiriku dan memelukku.


“Ratih…” Ucap ibu berlari menghampiriku.


“Kamu ke mana ajah nak, kenapa gak pulang-pulang.” Ungkap ibu dengan nada sedih sembari memelukku seperti sedang melepaskan rindu.


“Iya nak, kamu ke mana ajah? Ibu dan ayah khawatir sama kamu.” Ucap ayah juga.


Namun mau bagaimana lagi aku ini juga seorang anak yang merindukan kedua orang tuaku sehingga aku yang begitu rindu pun terbawa suasana sehingga tidak bisa membendung air mata ketika ibu memelukku penuh perasaan.


‘Hiks, hiks, hiks.”


“Ibu rindu sama kamu nak. Ayo kita pulang.” Tutur ibuku sambil menangis.


‘Hiks, hiks hiks.’


“Iya bu. Ratih juga rindu sama ibu dan ayah.” Ungkapku merasakan hal yang sama.


“Ayo nak kita pulang.” Sahut ayah yang juga ingin jika aku pulang ke rumah.


“Tapi…” Ucapku belum selesai berbicara, ayah pun memotong dengan berkata:


“Ayah tau kamu pasti gak mau pulang karena perjodohan itu.”


“Ayah minta maaf nak. Seharusnya ayah gak lakuin hal itu, seharusnya ayah bisa mengerti perasaan kamu.”


“Mulai sekarang ayah janji. Ayah gak bakal jodoh-jodohin kamu lagi dengan anak pak Tarmajid.” Ungkap ayahku.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2