Perfect Oracle

Perfect Oracle
Revealed


__ADS_3

"If you want to start talking about 'us', you have to explain more reasons. Why should I trust you, Alek? I know nothing about you. Nothing—about—you."


Pernikahan ini mulai membuat Alek hilang konsentrasi. Pertengkaran demi pertengkaran yang dilaluinya dengan Jemima selalu bisa membuat pikirannya terbagi. Dia tidak pernah membayangkan, bahwa istrinya tipe wanita yang sulit didekati.


Sulit bukan berarti tidak bisa. Setidaknya kalimat itulah yang selalu Alek pegang.


Perkataan Jemima tempo hari membuatnya berpikir terus-terusan. Alek menimbang baik dan buruknya jika istrinya mengetahui siapa dirinya.


Sms yang berisi ancaman. Ditambah masalah yang saat ini dihadapinya di kantor. Mungkinkah itu semua akan membuat Jemima histeris ketika mengetahui segalanya?


Well. Dia tidak akan tahu kalau belum mencobanya. Dan saat ini, wanita yang mengisi pikirannya sedang duduk manis di beranda rumah mereka. Menikmati teh dengan sebuah buku di tangan.


"You have your time. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Apa kamu bisa ikut denganku?"


Wanita di hadapannya mendongak. Mengerutkan kening ke arahnya. Dengan kacamata baca yang bertengger di atas kedua sisi telinganya, membuat kecerdasannya kentara. Entah mengapa Alek berpikiran bahwa Jemima terlihat seksi. Dan saat ini dia ingin mencium istrinya sampai mereka kehabisan napas.


"Alek!"


 Alek!"


"Aduh! Apa-apaan kamu?" Alek meringis ketika buku yang tadi Jemima baca mengenai lengannya dengan keras.


"Ada apa denganmu? Kenapa melamun seperti itu?" Istrinya itu kini menyedekapkan kedua lengannya. "Kamu mau membawaku ke mana?"


"Nanti kamu juga akan tahu."


Dan tanpa persetujuan Jemima, Alek langsung menarik tangan istrinya sampai masuk ke dalam mobil.


——


Jemima menurut saja ketika Alek membawanya masuk ke sebuah gedung perkantoran yang mewah. Tiga puluh lantai. Dengan tulisan raksasa berwarna emas bertengger di puncak gedung.


The Earl's Company.

__ADS_1


Gedung itu sepi. Hanya ada beberapa security yang sedang berjaga. Mungkin dikarenakan jam pulang kantor telah usai.


Mereka berdua berjalan berdampingan memasuki lift. Jemima melihat Alek menekan angka 30. Lantai tertinggi gedung ini.


Jemima tidak bertanya lebih lanjut ke mana suaminya itu akan membawanya. Dia terlalu takjub dengan seisi gedung.


Lantai dan tiang penyangga yang semuanya terbuat dari marmer. Berbagai peralatan elektronik canggih. Furniture yang juga berharga sangat mahal. Membuat Jemima berpikir, seberapa kaya sebenarnya suaminya ini?


"Kita sudah sampai." Alek tersenyum kepadanya.


Ketika pintu lift terbuka, Jemima mengerutkan kening. Ruangan itu begitu besar dan—kosong. Tidak ada pajangan-pajangan di dinding. Karena semua dindingnya terbuat dari kaca.


Di depan lift terdapat sebuah meja dengan seperangkat komputer. Alek membawanya berjalan melewati meja tersebut dan masuk ke sebuah ruangan yang cukup besar. Yang juga dikelilingi oleh kaca.


"Ini ruang kerjaku." Alek merentangkan kedua tangannya.


Ruangan ini terlalu besar untuk ukuran ruang kerja. Hanya ada satu set sofa, satu meja kerja yang cukup besar, sebuah rak buku yang tinggi, dan sebuah tangga. Sisanya berisi udara.


"Kenapa ada tangga di situ?" Jemima menunjuk tangga kecil yang ada di pojok ruangan. Letaknya cukup tersembunyi.


"Uhm—what is this all about? Kamu membawaku kemari tiba-tiba tanpa menjelaskan apa-apa."


"Aku akan menjelaskannya. Tapi, sebaiknya kita naik terlebih dulu."


Mau tidak mau Jemima mengikuti langkah suaminya menaiki tangga itu. Dan untuk ke sekian kalinya dia dibuat ternganga.


Ruangan ini lebih tertutup. Lantainya bukan lagi terbuat dari marmer, melainkan kayu mengkilat. Dinding kaca hanya ada di satu sisi ruangan saja. Selebihnya adalah dinding bata. Dan ruangan ini terisi sebuah ranjang king size, satu set sofa, sebuah kulkas, tv plasma, dan mini bar.


"Aku jarang pulang karena lebih banyak menghabiskan waktu di sini. Pekerjaan yang terlalu banyak seringnya mengharuskanku untuk tidur di kantor."


Jemima mengerutkan kening mendengar penjelasan Alek.


"Sebenarnya ada apa dengan semua ini, Alek? Aku sama sekali belum mengerti maksudmu."

__ADS_1


Suaminya itu tertawa kecil mendengar nada bingung dalam suaranya.


"Bukankah waktu itu kamu mengatakan ingin mengenalku lebih dalam? Aku—akan mengatakan semua tentang diriku kepadamu, Jemima."


——


"Aku anak tunggal. Kedua orang tuaku sudah meninggal sejak aku masih kecil. Selama ini, kakek dan nenekku yang membesarkanku."


Jemima mendengarkan dalam diam. Kedua matanya tidak beralih dari wajah suaminya ketika ia bercerita. Ada kesepian dalam mata Alek.


Setelah jeda sesaat akhirnya Alek melanjutkan ceritanya.


"Kakek nenekku orang yang cukup kaya. Aku hidup serba kecukupan tanpa harus memikirkan hari ini aku harus makan apa dan lain sebagainya. Tapi sayangnya mereka berdua terlihat seperti menguasaiku. Mungkin karena Ayahku satu-satunya anak mereka."


Jemima memusatkan perhatian penuh pada Alek."Bagimana dengan Ibumu? Jangan bilang kalau Ibumu juga anak tunggal."


"Sayangnya begitu," ucap Alek akhirnya.


"Well, hal itu bisa menjadi alasan utama kenapa nenekmu sangat ingin mendapatkan cicit darimu," Jemima tertawa.


"Apa katamu?" Alek memicingkan mata ke arahnya. Terlihat sedikit terkejut.


"Apa?" Jemima menaikkan alisnya, balik bertanya.


"Yang kamu katakan baru saja. Kamu mengatakan kalau nenekku ingin mendapatkan cicit dariku? Kapan?"


"Yep. Seminggu setelah dia melamarku untukmu. Kenapa? Kamu terlihat tidak senang."


Alek berjalan mendekat ke arahnya. Kedua tangannya meraih pinggangnya. Jemima bisa merasakan bibir suaminya mendarat lama di keningnya. Setelah itu, kening mereka bertemu. Jemima bahkan bisa mendengar desah napas Alek yang terasa berat.


"Dengar, Jemima. I want you. I do—really want you in my bed. Karena itulah aku menginginkan kamu untuk pindah ke kamar kita malam ini juga."


Lagi-lagi Jemima mendengar desahan. Pelukan Alek di pinggangnya semakin erat.

__ADS_1


"Tapi, aku tidak menginginkan adanya anak. Tidak dari kamu—atau wanita lain."


__ADS_2