
Keadaan masih sama seperti kemarin. Jemima makan sendirian tanpa Alek. Sejak kemarin, suaminya tidak pulang ke rumah. Ruang makan yang kursinya bisa terisi sepuluh orang itu hanya terisi dirinya.
Jemima mulai jengah. Sepertinya, dia harus mulai terbiasa ditinggalkan Alek terus-terusan. Menyudahi sarapannya, Jemima mulai beranjak.
"Apa Anda membutuhkan sesuatu, Nyonya?" Pavita tiba-tiba saja sudah berdiri di dekat meja makan.
"Tidak ada, Pavita. Terima kasih. Aku hanya ingin keluar dan berjalan-jalan sebentar." Jemima tersenyum ramah.
"Kalau begitu, Saya akan memanggil sopir untuk mengantarkan Anda." Sebelum Pavita sempat beranjak, Jemima mencegahnya.
"Tidak perlu. Aku hanya ingin jalan kaki di sekitar sini saja. Sendirian."
Ucapannya mengundang kekhawatiran di mata wanita itu. Jemima mendekati Pavita dan memegang bahunya lembut.
"Aku tidak akan lama. I promise." Jemima mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil. Dan langsung mengecup pipi wanita itu ketika akhirnya dia diperbolehkan pergi.
Musim semi sudah menggantikan musim dingin. Jemima menghirup udara dalam-dalam dan menikmati pagi di lingkungan barunya.
Jemima melangkahkan kakinya keluar gerbang. Jalanan masih sepi. Beberapa mobil terparkir rapi di pinggiran jalan. Dan hanya ada sedikit orang yang berjalan kaki di sepanjang trotoar.
Dia tidak terlalu memperhatikan keadaan selama perjalanan dari Heathrow menuju rumah ini kemarin. Dan ternyata lingkungan di sekitar rumahnya cukup indah.
Rumah-rumah dibangun saling berimpitan. Sesuai khas London. Hanya saja, di daerah sini semua rumahnya sangat mewah, besar dan rata-rata mempunyai halaman yang cukup luas.
Pohon-pohon menjulang tinggi mulai menampakkan daunnya yang hijau. Bunga-bunga mekar dengan aneka warna.
Jemima berbelok ke kiri dan terus berjalan. Dia tidak punya tujuan. Dia hanya butuh udara segar. Hingga akhirnya dia berhenti di sebuah taman yang luas. Holland Park.
Sepuluh menit berjalan dari rumah Alek tidaklah sia-sia. Dia puas dengan suguhan yang diberikan alam untuknya. Apalagi, udara di musim semi cukup hangat.
Jemima memilih untuk memasuki Kyoto Garden. Tertawa senang dengan tingkah tupai-tupai yang berlari cepat ke sana kemari. Dia benar-benar betah berada di tempat ini. Sampai dirinya lupa waktu. Dia hendak mengeluarkan ponselnya untuk memotret ketika menyadari sesuatu.
"Sial. Aku lupa membawa ponselku."
Belum hilang rasa sesalnya, hujan turun tiba-tiba. Membuat Jemima panik mencari tempat berteduh. Lima menit yang lalu, langit sangat biru dan cerah. Lima menit kemudian, hujan turun dengan derasnya. Cuaca London memang sungguh mengejutkan.
Jemima akhirnya berlari menuju pohon yang menurutnya paling rindang dan berteduh di sana. Mungkin ini bukanlah pilihan yang tepat. Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada tempat terdekat yang bisa dipakai untuk berteduh. Kalaupun ada--membutuhkan waktu untuk ke sana dan dia pasti sudah basah sebelum sampai di sana.
__ADS_1
Jemima menunggu cukup lama. Tapi, sepertinya hujan malah bertambah deras. Dan pakaiannya kini mulai basah.
"Ke mana semua orang? Bukankah tadi ada beberapa orang di sini? Kenapa sekarang sepi sekali?"
"Karena mereka berhasil melarikan diri lebih dulu sebelum hujan bertambah deras."
Jemima menengok dan kaget secara bersamaan.
"Where have you been, Jemima? You scared me to death!"
——
Jam sudah berada di angka 8 ketika Alek sampai di rumah. Dia langsung naik ke kamarnya di lantai dua untuk mandi. Dia belum mandi sesampainya dirinya di London. Dia bahkan belum tidur sama sekali.
Sejak kemarin hingga pagi ini, Alek ditemani Matthew memperbarui sistem keamanan kantor. Dia mengganti semua sistem keamanan kantor dengan yang baru. Dan di tiap divisi, diberi kode keamanan masing-masing. Kali ini dia tidak mau kecolongan lagi.
Semua proses itu ternyata membutuhkan waktu yang sangat lama. Dia sampai lupa memberitahu Jemima bahwa dia tidak bisa pulang. Dan bisa dipastikan hal ini menambah daftar kesalahannya kepada Jemima.
Keluar dari kamar mandi, Alek baru menyadari sesuatu. Semua barang-barang Jemima tidak ada di kamar ini. Dan dia belum melihat wanita itu.
"Pavita!" Alek menuruni tangga sambil berlari.
"Barang-barang Nyonya ada di kamar lain, Tuan. Sementara Nyonya—."
Perkataan Pavita terhenti oleh dering yang berasal dari ponsel Alek. Sebuah sms masuk dan langsung membuat wajahnya pucat.
You have a beautiful wife, Alek. I can't believe that you are married now. You give me another way to destroy you.
"Di mana istriku, Pavita?" Alek hampir berteriak.
"Nyonya—dia sedang jalan-jalan. Dan itulah yang membuatku takut, Tuan. Dia sudah pergi terlalu lama dan tidak membawa ponsel."
Penjelasan Pavita semakin membuat perasaan Alek tidak tenang. Pikiran buruk menguasai otaknya.
"Dari jam berapa dia pergi?"
"Sudah lebih dari dua jam."
__ADS_1
Jawaban Pavita sudah cukup untuk membuat Alek kalang kabut. Dia menyuruh semua pengawalnya untuk mencari tahu keberadaan Jemima.
Di luar hujan deras. Sementara istrinya belum terlalu mengenal daerah sini. Alek pun ikut turun tangan. Dia menyisir setiap jalanan di sekitar rumahnya. Berlari seperti orang kesetanan.
Pesan yang dia terima masih dapat ia ingat dengan jelas. Dia sekarang mempunyai satu orang lagi untuk dilindungi.
Alek mencarinya sampai ke Holland Park. Dia masuk ke taman itu dan mencari di setiap sudut. Dia tidak memedulikan tubuhnya yang sudah basah kuyup. Dan bisa bernapas lega ketika istrinya berteduh di bawah pohon sambil menggigil kedinginan.
"Where have you been, Jemima? You scared me to death!"
Dan tanpa sadar, Alek langsung memeluk istrinya dengan sangat erat.
——
Jemima berjengit kaget ketika pintu kamarnya tiba-tiba dibuka dengan kasar.
"Mau apa kamu?" Jemima refleks menutupi tubuhnya yang hanya memakai tanktop dengan handuk yang dia pegang.
"We need to talk, Jemima."
"About what?"
"Us." Jemima melihat Alek menutup pintu kamar dan berjalan mendekatinya. "Mulai sekarang, kamu harus selalu berada dalam pengawasanku."
Jemima melihat mata zamrud suaminya menyiratkan kekhawatiran. Dia tidak habis pikir--dirinya hanya berjalan-jalan sebentar. Kenapa hal itu harus membuat Alek ketakutan seperti tadi? Sampai menyuruh beberapa pengawal untuk ikut mencarinya.
"Why?" Jemima nyaris berbisik ketika menanyakannya.
"Because..I need you to be safe. Trust me."
Jawaban yang sama. Alek mengatakan alasan yang sama ketika dia menanyakannya di taman tadi.
"Aku butuh alasan yang lebih dari itu, Alek." Jemima berjalan lambat mendekati Alek. Handuk yang tadinya menutupi bagian atas tubuhnya dibiarkannya melorot.
"Kamu menyebutkan alasan yang sama dua kali. Tetapi kamu tidak menjelaskannya." Jemima memberikan jeda. "Alek..aku dipaksa menikah denganmu karena keadaan. Aku bahkan tidak mengenalmu sama sekali. Nenekmu melarangku untuk bertemu denganmu sampai hari pernikahan kita."
Suaranya mulai bergetar. Sergapan rasa sakit menderanya. Jemima dapat merasakan kembali bagaimana ketakutannya dirinya. Hingga dia menangis tak henti-henti. Bagaimana dia harus bersikap tegar di hadapan kedua orang tuanya. Padahal hatinya rapuh.
__ADS_1
Membayangkan kehidupan pernikahan yang akan dia jalani. Di bawah ketakutan dan tekanan. Alek pasti tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. Dan sekarang lelaki itu memintanya untuk mempercayainya tanpa menjelaskan apa-apa. Dia sudah lelah dipermainkan.
"If you want to start talking about 'us', you have to explain more reasons. Why should I trust you, Alek? I know nothing about you. Nothing—about—you."