Perfect Oracle

Perfect Oracle
Silence


__ADS_3

Tiba-tiba saja London diguyur hujan. Bukan hal baru memang, karena beberapa hari ini cuaca sering tidak menentu.


Jemima menyapukan matanya ke setiap sudut jalan yang dilaluinya melalui kaca jendela taksi. Dengan tubuh yang masih saja gemetar, bahkan setelah dia mencoba sebaik mungkin menenangkan dirinya, tidak mungkin dia bisa selamat sampai ke rumah sakit dengan menyetir sendiri.


"Jangan takut. Saya tidak akan melukai Anda, Nyonya."


Kalimat pertama yang diucapkan Clayton terngiang jelas di telinga. Membuat Jemima bergidik ngeri membayangkan kembali peristiwa yang terjadi beberapa jam ke belakang. Matanya terpejam. Semakin tercetak jelas semua peristiwa tadi.


"Saya hanya harus memeriksa dokumen ini."


Lelaki itu menyimpan kembali senapan yang sempat teracung. Tangannya mulai bergerak memberesi dokumen milik Alek yang tercecer. Tubuh Jemima masih bergetar. Duduk di lantai dan bersandar pada pintu masuk utama.


Antara percaya dan tidak, Jemima membiarkan lelaki itu melakukan apa yang dia inginkan. Mereka belum lama saling mengenal. Tapi setidaknya, tidak ada lagi pistol yang mengancam jiwanya.


Jemima mengamati lelaki itu dalam diam. Tidak berani bergerak maupun berbicara. Menunggu langkah selanjutnya yang akan dilakukan Clayton.


Selesai membaca, lelaki itu berjongkok di hadapannya dan menyerahkan kembali dokumen milik Alek.


"Dengar, Nyonya. Xander menyuruhku untuk mengambil dokumen itu. Dia sangat..sangat menginginkan perusahaan milik suamimu untuk menjalankan bisnis ilegalnya. Dia akan melakukan apa saja untuk mendapatkan yang dia inginkan. Termasuk membunuhmu." Lelaki itu tersenyum tipis ke arahnya, kemudian melanjutkan. "Larilah, Nyonya. Lari selagi kau bisa sebelum aku berubah pikiran. Dan jangan beritahukan suamimu."


Rem yang diinjak mendadak membangunkannya dari lamunan. Jemima kembali fokus pada jalanan. Di sinilah dia sekarang. Duduk diam di dalam taksi yang sudah dia tumpangi hampir dua jam. Membawanya berkeliling tak tentu arah.


Jemima tidak ingin Alek tahu. Dia harus menenangkan dirinya terlebih dahulu sebellum bertemu dengan suaminya.


"Nyonya, kita sudah sampai."


Jemima menggigit bibir. Menghembuskan napas pelan melalui mulut. Kemudian turun dari taksi untuk bertemu dengan Alek dan menjelaskan alasan keterlambatannya. Dengan cerita-cerita karangan yang sejak tadi sudah menari-nari di otaknya.


——


Alek hampir saja nekat keluar rumah sakit untuk mencari istrinya ketika akhirnya wanita itu dengan anggun melangkahkan kaki memasuki kamar.


"Where have you been? Ini sudah lewat jam makan malam dan kau baru kembali."


"Maaf." Pertanyaannya hanya dijawab singkat. Tidak ada penjelasan yang menyertai.


"Are you okay?" Alek mengerutkan kening melihat wajah pucat istrinya.

__ADS_1


Jemima menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Ada raut ketakutan di wajahnya. Matanya juga terlihat sembab. Baru menangiskah dia? Apa penyebabnya? Alek akan mencari tahu nanti.


"Kamu sendiri baik-baik saja bukan selama aku tinggal?"


"Yeah. Aku hanya khawatir karena kamu tidak juga kembali. Ponselmu pun tertinggal."


"Maaf, aku benar-benar lupa membawanya." Permintaan maaf lagi. Wanita itu hanya berdiri diam di sisi ranjangnya. Sama sekali tidak menyentuhnya. Seolah-olah tidak berani mendekat.


Memang terjadi sesuatu pada istrinya. Jemima tidak pernah pandai berbohong. Bahkan, sekarang pun dia bisa melihat bahwa tubuh istrinya gemetar.


"Hei. Kemarilah." Alek mengulurkan tangan. Menyuruh Jemima mendekat. Istrinya tampak ragu. Seolah-olah jika dia menyentuhnya, tubuh ringkihnya akan tersakiti.


"Jem," panggilnya lagi. Ketika istrinya mendekat, Alek langsung menariknya untuk duduk di atas ranjang. "Ada apa?" ujarnya sembari merapikan rambut panjang istrinya yang tergerai.


"Nothing. Aku hanya lelah dan ingin tidur."


"Naikkan kakimu kalau begitu. Aku akan memelukmu supaya kamu cepat tidur." Ucapannya ditanggapi cubitan keras di lengannya.


"Ini rumah sakit. Aku akan tidur di sofa seperti biasa. Lagipula ranjang ini tidak akan cukup untuk kita berdua."


"Hell."


"Apa kubilang. Ranjang ini terlalu sempit. Kaki kananmu bisa..."


Bibirnya langsung menekan bibir Jemima. Istrinya akan tetap menyerukan serentetan protes jika tidak dibungkam paksa.


God. It's heaven!


Betapa dia sangat merindukan bibir istrinya yang berasa leci. Sepertinya sudah lama sekali mereka tidak berciuman dengan benar.


Alek tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia mengalungkan kedua tangan Jemima ke lehernya dan menariknya lebih dekat. Memperdalam ciuman mereka.


"Alek, we have to stop!" Alek tidak mempedulikan permintaan istrinya. Dia menjelajahi seluruh wajah Jemima dengan bibirnya. Mulai dari bibir, hidung, dahi, kedua pipi, telinga, dan berakhir di lehernya. Apa yang dia lakukan membuat istrinya kewalahan.


"For God's sake, Alek! We're in hospital!" desis Jemima di antara napasnya yang terengah.


"So?" Hanya itulah tanggapan Alek. Dia masih melanjutkan serangan ciumannya yang bertubi-tubi.

__ADS_1


"Bagaimana kalau ada yang masuk dan melihat kita?"


"I don't care."


"But, I care."


Kepanikan istrinya berhasil membuatnya berhenti. Dengan napas yang sama terengahnya Alek menempelkan keningnya ke kening Jemima.


Berengsek.


Dia menginginkan istrinya. Bahkan setelah apa yang Jemima lakukan di belakangnya bersama Max. Dia menginginkannya untuk selalu ada di sampingnya. Menjadi miliknya seorang.


Dia akan tetap mempertahankan Jemima di sisinya, apapun caranya.


——


Posisi tidur yang tidak nyaman membuatnya terbangun. Matanya hanya mampu terpejam tidak lebih dari tiga jam. Selebihnya, Jemima terjaga sepenuhnya.


Alek sendiri sudah tertidur pulas. Mereka tidur saling berhadapan. Tangan kanan Alek melingkari pinggangnya erat. Sementara tangan kirinya dia pakai sebagai bantal.


Rasa bersalah itu kembali muncul ketika melihat wajah damai suaminya. Belum juga dia meminta maaf, dirinya harus kembali berbohong. Kejadian tadi siang tidak boleh diketahui Alek.


Diam tidak pernah menjadi pilihannya. Jemima ingin membagi semuanya dengan Alek. Seperti janji pernikahan mereka dulu. Dalam suka maupun duka.


Dia membayangkan mereka layaknya dua sahabat. Yang duduk berdampingan. Menceritakan apapun yang terjadi tanpa ada rahasia.


Jemima menginginkan itu semua.


Bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dengan Max. Bercerita tentang neneknya yang memaksa mereka berdua untuk bercerai. Bercerita tentang kejadian hari ini. Ancaman yang dia dapatkan. Dan bagaimana dirinya hampir saja kehilangan nyawa.


Tapi dia tidak bisa melakukan itu semua. Rasanya sakit sekali ketika harus menyembunyikan segala sesuatu dari orang yang kita cintai.


"Maaf." Jemima berujar lirih. Jari-jarinya menyusuri wajah Alek dengan lembut. "Aku tidak bermaksud menyembunyikan semua ini darimu," lanjutnya masih dengan berbisik.


"Aku benar-benar minta maaf."


Jemima menempelkan bibirnya ke bibir Alek. Menciumnya seringan mungkin. Satu isakan lolos dari mulutnya.

__ADS_1


Jemima langsung menutupi mulutnya dengan tangan. Meredam tangisannya. Berharap Alek tidak akan terbangun gara-gara mendengarnya menangis.


Masih sambil memandangi wajah pulas suaminya, Jemima melanjutkan tangisannya tanpa suara.


__ADS_2