Perfect Oracle

Perfect Oracle
Prahara Destinasi Surat Kaleng (1)


__ADS_3

My name is Sherlock Holmes. (1)


Pesan itu terselip di bawah pintu flatnya ketika dia hendak berangkat kerja. Gita mengerutkan kening. Merasa tertarik dengan tulisan dalam selembar kertas pink tersebut.


“Sherlock Holmes.” Gita terkikik. Menggelengkan kepala dan memasukkan kertas tersebut ke dalam tas.


Dia sudah terlambat. Jika tidak bergegas, Arthur pasti akan mengomel. Kantornya hanya berjarak beberapa blok saja dari flatnya. Sebenarnya, jatah liburnya masih ada lima hari ke depan. Tapi, Arthur bilang ada keadaan darurat. Jadilah, dia disuruh masuk kantor.


Gita merapikan mantel dan syal di leher untuk menghalau rasa dingin. Dengan boots setinggi betis, dia berlari kecil membelah keramaian jalanan London. Jalanan yang licin membuatnya harus berhati-hati.


Tepat sebelum jarum panjang menyentuh angka sembilan, Gita sudah sampai di lantai kedua. Dia segera menuju ke ruangan Athur, tapi terhenti oleh keriuhan di luar ruangan.


Alek. Bersama istri dan anaknya. Gita terpaku sejenak. Melihat pemandangan indah di hadapannya. Alek dengan penuh kasih sayang menenangkan Brielle yang sedang menangis. Lelaki itu menggendong putrinya yang baru berusia 6 bulan. Membuat mimik wajah lucu agar Brielle diam.


Siapa yang tidak akan jatuh cinta pada lelaki sepertinya? Dia seorang suami impian para wanita. Seorang Ayah dambaan para putri.


“Anggita!”


Dirinya tersentak. Tiba-tiba saja Jemima sudah berjalan ke arahnya dan memeluk erat. “Kenapa diam saja? Arthur sudah menunggumu di dalam.”


Wanita itu menepuk pipinya pelan, kemudian kembali kepada suami dan anaknya. Alek melambaikan tangannya sekilas ke arahnya yang dia balas dengan senyuman kecut. Sudah begitu lama. Tapi, tetap saja dia masih belum bisa menyingkirkan rasa sukanya kepada Alek. Padahal jelas-jelas lelaki itu sudah punya istri dan anak.


“Sorry. I am late, Arthur.”


Lelaki di depannya bukan Arthur. Mata gadis itu menyapu sekeliling ruangan. Mencari sosok Arthur yang sangat dia kenal.


“He is in the bathroom.” Tangan lelaki itu menunjuk kamar mandi di sudut ruangan.


Pencariannya terhenti. Matanya beralih ke pemuda di depannya. “And--you?” Gantian tangannya yang menunjuk ke dada lelaki itu.


“Call me Sensei.” Sebuah tangan terulur. Diikuti senyuman manis yang membuatnya terpesona sesaat. Hatinya berdesir aneh.


“Anggita.”


Tangannya tidak begitu halus tapi juga tidak kasar. Jelas seorang tipe pekerja.


“So, you both meet." Arthur yang baru keluar dari kamar mandi berjalan mendekati mereka. "Dari yang aku lihat, kalian sudah berkenalan. Gita...Sensei akan menjadi klien kita selanjutnya. Dia baru saja tiba dari Jepang.”


Klien. Jadi, inilah keadaan darurat mereka.


Tatapan mereka bertemu. Sudut bibir lelaki itu terangkat. Untuk kedua kalinya dia terperangkap. Desir aneh di dadanya masih terasa.


__


Loving someone without return is a suicide.


Lagi. Dia menemukan kertas berwarna pink. Bedanya, kertas itu tertempel di pintu. Bukan di bawah pintu seperti hari sebelumnya.

__ADS_1


“Berengsek. Siapa sih yang iseng?” Saking kesalnya, Gita meremas dan langsung membuang kertas itu ke tempat sampah. “Orang ini pasti tidak punya kerjaan,” lanjutnya.


Masih dengan raut kesal, Gita meninggalkan flatnya untuk berbelanja ke supermarket. Kekesalannya memuncak. Pasalnya, sekembalinya dari belanja, lagi-lagi kertas warna pink mengundang perhatiannya. Kali ini ditempel di dinding sebelah pintu.


What the....


Lagi-lagi dia mencabut kertas itu dari dinding dengan cukup kasar. Merobeknya hingga menjadi bagian-bagian kecil. Kemudian membuangnya ke tempat sampah.


Matanya tampak awas. Orang yang mengirimi surat-surat aneh ini pasti masih di sini. Urung masuk ke kamar, Gita menyusuri setiap sudut di lantai flatnya. Mencari sesosok tak dikenal dan mencurigakan.


Ketemu!


Sekelebat bayangan berbelok ke arah tangga darurat. Gita berlari. Berharap bisa mengejar.


See you soon*\, Anggita.*


Bukan orang yang dia temukan. Melainkan kertas berwarna pink yang tertempel di pintu menuju tangga darurat.


"Dia tahu namaku," gumamnya penuh kekesalan.


Surat-surat ini mulai mengganggunya. Tujuannya sudah jelas, tentu saja untuk membuatnya cemas. Merasa kalah, Gita kembali ke flatnya dengan kertas pink di tangan.


Dua kertas yang lain sudah dia buang. Masih tersisa satu. Kalau tidak salah, dia langsung memasukkannya ke tas. Benar saja. Kertas pink itu masih ada di tas dan sudah lecek.


Gita meletakkan dua kertas itu berdampingan. Tulisan tangannya sama. Yang melakukannya satu orang.


My name is Sherlock Holmes.


Loving someone without return is a suicide.


See you soon*\, Anggita.*


Pesan yang kedua dan ketiga memang sudah dia buang. Tapi dia masih ingat dengan jelas isinya. Dan dia merasa pernah mendengar kalimat-kalimat ini. Gita bisa menyimpulkan lelaki ini tahu kehidupan pribadinya.


Lelaki? Bagaimana dia bisa seyakin ini bahwa pelakunya laki-laki?


Dilihat dari tulisan tangannya tentu saja. Tulisannya memang rapi, tapi masih kurang rapi dibandingkan tulisan tangan wanita. Lagipula, bayangan yang dia lihat jelas bayangan seorang laki-laki.


Dari keempat pesan, pesan kedua yang paling membuatnya kesal. Tahu apa dia tentang perasaannya ke Alek?


Kepalanya pusing. Sepertinya dia terlalu lelah. Dan dia butuh tidur. Urusan Sherlock ini, akan dia pikirkan lagi keesokan hari.


"We'll see, Sherlock. Tulisan apa yang akan kau tempelkan di pintu flatku besok."


__


Tidak ada tulisan apapun di pintu flatnya. Anggita mencari di bawah pintu, pintu, serta dinding. Dia bahkan mencari di sekitar tangga darurat. Siapa tahu pesan itu diselipkan di sana.

__ADS_1


Tidak ada.


Gita mengedikkan bahu. Memilih tak acuh. Dan memutuskan untuk berangkat ke kantor.


The world is full of obvious things which nobody by any chance ever observes. (3)


Sudut bibirnya melebar. Membentuk sebuah senyuman. Pesan yang dia cari ada di sini. Tertempel di meja kerjanya.


"Kau terlihat bahagia. Apa ini berkaitan dengan lelaki?"


Refleks, tangannya langsung meremas kertas pink yang mulanya tertempel. Menyembunyikannya di belakang punggung.


"Alek. Ap-apa yang kau lakukan di sini?"


Lelaki di hadapannya tertawa. Berjalan mendekatinya. "Jemima menitipkan ini. Dia sendiri yang membuatnya. Dia titip pesan, kau harus menghabiskannya."


Alek meletakkan kantong kertas di atas meja kerjanya. Dari bau yang tercium, isinya sudah pasti kue. Sebelum pergi, dia mengacak-acak rambut sebahunya yang tergerai.


"Jangan lupa kenalkan pada kami pacar barumu."


Belum sempat dia menjawab, pintu ruangannya sudah tertutup. Sial. Dia merasa pipinya panas. Padahal Alek hanya menyentuh rambutnya saja.


Bagaimana bisa dia melupakan Alek, kalau hampir setiap hari mereka bertemu. Parahnya lagi, dia juga harus menyaksikan kemesraan Alek dan Jemima di setiap kesempatan.


Perhatiannya teralihkan lagi ke pesan di tangannya. Berarti, orang itu kerja di sini? Mungkin Arthur bisa menjawab.


"Arthur." Gita melongok ke ruangan Arthur setelah mengetuk pintu dahulu.


Pelan-pelan dia mendekati meja kerja bosnya. Kepala lelaki itu menunduk. Sepertinya sedang menulis sesuatu.


"Ada apa?"


Gita menimbang-nimbang sebelum bertanya. "Aku hanya ingin tanya...apa ada seseorang yang masuk ke ruanganku hari ini?"


Lelaki itu menghentikan pekerjaannya. Mengerutkan kening tanda berpikir. Tampak bingung.


"Aku tadi masuk untuk mengambil berkas. Memangnya kenapa?"


Gita langsung menggelengkan kepalanya dan mengatakan tidak ada apa-apa. Bodoh. Di kantor ini hanya ada mereka berdua. Karyawan yang lain masih libur. Karena lelaki itu langsung melanjutkan pekerjaannya, dia tidak ingin mengganggu dan memilih kembali ke ruangannya.


He knows nothing about me.


Satu pesan lagi tertempel di pintu masuk ruangannya. Tidak ada siapapun di sana selain dirinya. Lelaki ini mulai menyebalkan. Dia seperti hantu yang bisa muncul kapan saja. Gadis itu berkata dalam hati akan membuat perhitungan nanti kalau tahu pelakunya.


Bunyi pesan masuk di ponselnya membuat perhatiannya teralihkan.


Hari ulang tahunku. Kita akan bertemu di tanggal itu. See you soon (again), Anggita.

__ADS_1


Gita hanya bisa melongo. Bukan pesan dalam kertas pink, melainkan pesan di ponsel. Lelaki ini benar-benar mengenal dekat dirinya. Tapi siapa?


__ADS_2