
Hari ini tepat sebulan setelah pertengkarannya dengan Madam Rowena. Wanita tua itu jadi semakin sering ke rumah sakit. Mereka berdua bagaikan kucing dan anjing. Madam Rowena tidak pernah berbicara dengannya semenjak kejadian itu kecuali ada hal penting yang memang harus dibicarakan.
Dan akhirnya dia membuat keputusan yang membuatnya menangis setiap malam. Dirinya setuju untuk bercerai dengan Alek. Dengan syarat setelah suaminya sadar dan sembuh.
Namun setelah satu bulan, Alek belum juga sadar.
Katakan, bagaimana caranya hidup dengan rasa bersalah? Rasa itu seakan menggerogoti kekebalan hatinya sedikit demi sedikit. Hampir setiap berbicara, Madam Rowena selalu mengungkit bahwa dialah penyebab Alek seperti ini. Dan dia tidak pantas bersanding dengan lelaki itu.
Dari hari ke hari Jemima sudah seperti mayat hidup. Dia makan, minum, dan pergi ke rumah sakit. Setiap malam dia pulang ke apartemen Astrid. Karena dia tidak akan sanggup tinggal sendiri di rumah mereka tanpa kehadiran Alek. Sementara Madam Rowena tidak memperbolehkannya tidur di rumah sakit.
Dia mencintai suaminya. Hingga sakit rasanya setiap kali membayangkan Alek tidak akan bangun lagi.
Sebut dia egois. Di satu sisi, dia ingin Alek bangun segera. Kembali mengisi hari-harinya yang sepi. Tapi di sisi lain, dia tidak ingin mata itu terbuka. Karena dengan begitu, dia akan tetap bisa menjadi istrinya.
“Jem, kau harus makan. Sampai kapan kau seperti ini? Wajahmu pucat. Lagipula, kau belum makan sejak tadi siang.”
Jemima mengalihkan perhatiannya dari Alek yang masih tertidur lelap untuk melihat Astrid. Matanya terlihat memohon agar dibiarkan tinggal di sini lebih lama.
Wanita di hadapannya menggelengkan kepala. Permohonannya tidak dikabulkan. Jemima melihat Astrid berjalan ke arah sofa yang ada di ruang perawatan. Mengambil tas mereka berdua. Sudah saatnya mereka pulang.
"Yuk." Astrid mengulurkan tangan padanya.
Jemima ragu-ragu sejenak sebelum meraih uluran tangan Astrid.
"Kita makan di luar saja, ya. Lagipula, ini sudah jam kau pulang. Aku tidak mau melihatmu diusir oleh neneknya seperti waktu itu," ucap Astrid lembut.
Jemima mengalihkan kembali perhatiannya pada Alek. Dia mencium tangan suaminya lama. Setengah berdiri, dia juga mendaratkan ciuman di dahi dan kemudian bibir.
Kali ini Jemima mencium bibir Alek agak lama dan berbisik, "I love you so much. Please, come back to me. Just get the hell out of that stupid darkness and come back to me!"
Jemima mendesis pelan. Dahinya menempel pada dahi Alek. Air mata mengucur deras membasahi pipi mereka berdua.
"Jem, stop it." Jemima menampik tangan Astrid yang menyentuh bahunya. Dia benar-benar tidak ingin meninggalkan Alek.
"Jemima..." suara Astrid terdengar memohon. Wanita itu tidak tahu lagi bagaimana harus membujuk temannya supaya berhenti menyiksa dirinya sendiri.
Jemima sendiri tidak mau menggubris bujukan Astrid. Yang dia inginkan saat ini hanyalah berada di sisi Alek. Dia tidak peduli seandainya saja dirinya diusir. Dimaki-maki. Atau ditampar sekalipun. Yang dia inginkan hanya berada di sini.
"Jemima..."
Lagi-lagi Jemima mendengar namanya diserukan. Dia tetap bergeming. Beberapa detik kemudian tubuhnya menegang. Itu bukan suara Astrid.
Jemima menghentikan isakannya dan menengok ke Astrid. Matanya kemudian menyusuri seluruh ruangan. Tidak ada siapapun di ruangan ini kecuali mereka bertiga.
"Did you hear it?" Dia bertanya pada Astrid.
__ADS_1
Temannya tampak mengerutkan kening. "Hear what?"
"Ada yang menyebut namaku baru saja. Dan itu bukan kau."
Temannya berjalan mendekat. Meraih tangannya. "Kau sudah lelah. Sebaiknya kita pulang sekarang."
Astrid tidak mendengarnya. Tapi dirinya yakin bahwa tadi ada suara yang memanggilnya.
"Dengar, Astrid...Aku bersumpah ada suara. Benar-benar ada suara. Mungkin itu Alek. Mungkin dia sudah sadar. Mungkin..."
"Jem!" Suara wanita itu meninggi. "Tidak ada suara apapun. Kita pulang."
Astrid langsung menarik tangannya. Membawanya—lebih tepatnya menyeret dirinya keluar ruangan. Tapi baru beberapa langkah, dirinya kembali mendengar namanya disebut.
——
Alek merasakan tetesan hujan pada wajahnya. Semakin lama semakin deras dan membasahi seluruh wajahnya.
"I love you so much."
Samar-samar Alek mendengar suara itu. Kemudian dia merasakan cengkeraman kuat pada kedua bahunya. Kuku-kuku tajamnya menancap di sana. Tidak kuat memang, tapi berhasil membuatnya meringis.
Ragu-ragu Alek ingin membuka matanya. Namun dia masih takut bagaimana jika kegelapan masih menyelimutinya? Dia bisa merasakan bahwa wajahnya kini sudah penuh dengan tetesan air. Tapi dia tidak mendengar sama sekali ada suara hujan. Yang dia dengar hanyalah suara isakan.
"Jemima..." Alek memanggil nama itu dengan susah payah. Entah kenapa kerongkongannya terasa sangat panas.
Merasa yakin bahwa itu memang isakan istrinya, Alek mulai berani membuka matanya perlahan. Cahaya yang sangat menyilaukan langsung menyambutnya. Membuat matanya kembali tertutup. Sekali lagi dia mencoba membuka matanya. Kali ini lebih lebar. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali.
Saat itulah Alek bisa melihat sedikit lebih jelas wajah Jemima yang berdiri di sampingnya. Wajah istrinya terlihat tegang. Matanya merah dan sembab. Kenapa Jemima menangis hingga seperti itu?
Matanya yang berat mengedip perlahan. Dia melihat Jemima berjalan menjauh.
"Jemima..." Sekuat tenaga dia mencoba mengeluarkan suara. Tenggorokannya rasanya seperti terbakar. Ditambah lagi rasa pusing dan mual yang membuatnya terengah.
Alek bisa merasakan tubuhnya dipeluk dengan sangat erat. Jemima menyusupkan wajahnya ke dadanya dan menangis dengan keras. Memeluknya erat, seolah-olah tidak ingin melepaskannya lagi.
Alek bermaksud mengangkat kepalanya untuk melihat Jemima. Namun, rasa pusing dan mual yang amat sangat masih menyerangnya. Dia mengerang kesakitan. Kepalanya rasanya seperti baru ditimpa berton- ton batu bata.
"Alek, kau baik-baik saja? Di mana yang sakit? Tahan sebentar. Dokter akan ke sini sebentar lagi."
Alek menahan dirinya agar tidak muntah. Namun rasa mual itu tidak juga pergi darinya. Di samping itu, dia merasakan seluruh tubuhnya mati rasa. Dia hanya sanggup menggerakkan jari-jari tangannya. Dan yang lebih parah, dia sama sekali tidak bisa menggerakkan kakinya.
It hurts like hell!
Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Kenapa dirinya begitu lemas. Sakit. Dan tidak berdaya.
__ADS_1
Alek bisa merasakan wajahnya dihujani ciuman dan air mata. Tak berapa lama ciuman itu terhenti. Digantikan tangan-tangan cekatan yang memeriksa semua anggota tubuhnya.
"Dia sudah sepenuhnya sadar dari koma, Jemima. Dan dia akan baik-baik saja."
Koma? Siapa yang koma? Apakah dirinya?
Alek ingin memanggil Jemima sekali lagi. Bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Tapi matanya kelewat berat. Dia kembali memejamkan mata. Bertemu lagi dengan kegelapan. Hanya saja, kali ini hanya sementara.
——
Sebuah tangan membelai lembut rambutnya. Jemima membuka mata dan mendapati Alek tersenyum memandangnya.
"Hai." Suara Alek terdengar parau dan masih lemah.
"Hai." Jemima menangkup tangan Alek. Mengecupnya ringan. "Kamu sudah lama bangun?"
"Cukup lama untuk memandangi wajah cantikmu." Jemima tersipu.
Bohong sekali jika Alek mengatakan dia cantik. Semalaman dia terjaga. Dia bahkan belum mandi. Tidak ada make up yang mempercantik wajahnya.
"Apa yang kamu rasakan? Kamu lapar?"
"Kakiku. Rasanya sakit sekali. Apa yang terjadi?"
"Dokter bilang kakimu patah. Untuk sementara kamu harus memakai kursi roda."
Jemima bisa merasakan tangan Alek menyentuh bibirnya. Mengelus pipinya.
Dia merindukan belaian ini. Rindu suara Alek. Sentuhannya. Sikap romantisnya. Semuanya.
Tanpa sadar air matanya kembali menetes. Dia terlalu bahagia bisa melihat kembali cahaya di mata hijau suaminya.
"Jangan menangis." Kali ini dia tidak bisa menahan lagi. Isakannya justru bertambah keras.
"Kamu membuatku takut," ucapnya di sela-sela isakan.
"Mereka bilang aku koma. Berapa lama?"
"Dua Bulan."
"Selama itukah kamu menangis?" Jemima mengangguk. Membenamkan wajahnya ke lengan Alek. Terisak di sana.
"Jangan pernah menakutiku seperti ini lagi."
"Tidak akan, Jem. Tidak akan. I promise."
__ADS_1