
I Warn You!
Mengandung Konten Dewasa / NSFW.
Alek memenuhi janjinya. Sekeluarnya dari rumah sakit, suaminya benar-benar langsung menuju kantor. Rayuannya agar dia beristirahat beberapa hari di rumah tidak mempan.
Jemima masih saja kesal mengingat perdebatannya dengan Alek. Dia langsung minta diantarkan pulang dan menghabiskan waktu seharian di perpustakaan.
"Kamu terlihat sangat menikmati waktumu." Jemima menjerit tertahan dan menjatuhkan satu buku yang sedang dipegangnya.
"Gosh. Alek!" Dia membungkuk. Mengambil buku yang terjatuh. "What are you doing here, Tuan Keras Kepala? Ini masih sore. Aku pikir kamu akan pulang malam," ujar Jemima sinis. Dia berjalan menuju rak berikutnya.
"Hei. Kamu masih marah? Maaf. Ada pekerjaan yang tidak bisa aku tunda lagi."
Tubuhnya dipeluk dari belakang. Satu kecupan disematkan Alek di lehernya yang jenjang. Rambutnya yang disanggul rapi memberikan akses mudah bagi suaminya.
"Alek. Le-pas-kan." Jemima mengucapkannya dengan rahang terkatup rapat. Tidak bisa begitu saja memaafkan.
"Kalau aku tidak mau?" Kecupan Alek tidak mau berhenti. Membuat bulu kuduknya meremang.
Jemima bisa merasakan Alek membuka risleting gaunnya. Semburan udara dari pendingin ruangan menerpa punggungnya yang sudah setengah terbuka.
"Alek. Hentikan. Nanti ada yang masuk."
"Sudah kukunci."
Satu tangan Alek menyusup melalui celah gaun. Mengusap perut dengan ibu jarinya terus turun ke bawah. Menimbulkan pekik tertahan meluncur dari bibirnya.
Buku yang sejak tadi Jemima pegang sudah jatuh entah ke mana. Digantikan remasan kuat pada lengan kemeja Alek.
"Alek, don't. Your leg." Jemima mengucapkannya di sela-sela desahan. Matanya terpejam. Kepalanya mendongak, bersandar pada dada. Menikmati setiap sentuhan yang diberikan suaminya.
"Sstt. Don't say any word. Just let me touch you."
Gaunnya kini sudah teronggok ke lantai. Kaitan bra-nya terlepas. Menyisakan kulit mulus yang seputih susu.
Pemberontakannya hanya bertahan sementara. Alek membawanya ke sofa terdekat. Mencumbunya hingga kehabisan napas. Tubuh suaminya pun sudah telanjang.
"Alek. I'm not on the pill." Jemima mengingatkan di antara napas tersengal.
"So?" Alek seolah tidak peduli.
"What if I'm..."
Kalimatnya terputus. Lidah Alek mencecap titik sensitif di bawah dada. Membuat tubuhnya melengkung ke atas.
Jemima menggigit bibir. Menahan teriakan.
__ADS_1
"Sudah aku peringatkan jangan mengatakan apapun. Biarkan tangan dan lidahku yang bekerja."
Dan dia menurutinya. Tidak ada lagi kata-kata yang keluar. Hanya ada suara lenguhan ketika bibir bertemu dengan kulit.
Alek mulai kehilangan kendali. Lidahnya menyusuri setiap lekuk yang ditawarkan tubuh indah Jemima. Menciptakan tanda kemerahan di setiap tempat.
Udara dari pendingin ruangan seakan tidak berpengaruh. Tubuh mereka seolah kepanasan. Terbakar gairah yang ditawarkan satu sama lain.
Bulir-bulir keringat mereka bercampur jadi satu. Lidah saling beradu. Kedua tubuh melekat seperti candu.
Seberkas cahaya matahari sore berhasil masuk melalui celah tirai. Berpadu dengan lampu ruangan, menyinari tubuh mereka yang kini menyatu.
Jemima menikmati setiap rasa yang dihidangkan Alek. Mulutnya terbuka. Sesekali berteriak. Mengikuti serangan yang dilancarkan suaminya.
Tangannya meremas rambut Alek. Menggapai apapun yang bisa digapai. Terkadang mencengkeram erat sofa sebagai pegangan.
Keringat sudah benar-benar membuat keduanya basah. Seakan Alek tidak memberikannya jeda untuk bernapas. Dia tersengal di antara teriakan.
Jemima tersentak ketika Alek menggulingkan tubuhnya. Membuatnya berada di atas. Menimbulkan pekikan panjang dalam satu hujaman.
——
Alek menatap lurus ke arah tirai jendela yang sejak tadi tertutup. Tidak ada lagi pendar cahaya yang masuk melalui sela-sela tirai. Menandakan bahwa hari sudah gelap.
Berapa lama mereka di sini? Lima jam? Enam jam? Seingat Alek, mereka di sini sejak sore. Terjaga hanya untuk bercinta lagi.
Alek meringis ketika berusaha menggerakkan tubuhnya. Kaki kanannya berdenyut, membuatnya mengetatkan rahang menahan rintihan. Dia tidak ingin membangunkan Jemima dan membuatnya khawatir.
Percintaan mereka berlangsung cukup panas. Alek sadar, dirinya bertindak seperti manusia gua yang sangat kelaparan. Dan yang lebih parah, lagi-lagi mereka tidak menggunakan pengaman.
Sebelumnya Jemima sudah mengingatkan. Tapi entah kenapa Alek tidak mengacuhkannya. Yang dia inginkan hanyalah berada di dalam tubuh Jemima tanpa ada sesuatupun yang menghalangi.
Persetan dengan pengaman. Terakhir kali mereka membicarakan masalah ini, wajah istrinya terlihat mendung. Ada kekecewaan di sana. Dan Alek tidak menginginkan hal itu terjadi lagi.
Perasaan macam apa ini? Alek merasa ketika bersama dengan wanita di sebelahnya ini, dia mampu menghadapi ketakutan apapun.
Alek memandangi wajah Jemima dengan saksama. Jika dibandingkan dengan wanita-wanita yang selama ini dekat dengannya, Jemima jelas kalah jauh.
Ada sesuatu di dalam diri istrinya yang membuatnya tidak bisa jauh. Perhatian yang diberikan istrinya selama dia sakit membuatnya bahagia.
Tapi, masih ada masalah yang mengganjal pikirannya. Sikap gugup Jemima kemarin. Ada yang wanita ini sembunyikan. Dan Alek tidak tahu itu apa.
Alek tahu bahwa dirinya memutuskan untuk tidak bertanya. Dia akan membiarkan Jemima bercerita dengan sendirinya. Tanpa paksaan. Tapi tetap saja, masalah ini tidak mau jauh-jauh dari kepalanya.
Apakah ini ada hubungannya dengan sikap neneknya yang berubah menjadi lebih keras? Atau...ada hubungannya dengan Max?
Tangan Alek mengepal erat ketika mengingat nama itu. Max. Pria yang sudah dengan berani mencium istrinya di depan umum.
__ADS_1
Selama ini Alek sengaja tidak mengungkit-ungkit masalah itu di depan istrinya. Sudah cukup dia melihat kesedihan yang tersirat dari mata Jemima. Dia tidak ingin menambah kesedihannya dengan mengungkit-ungkit hubungannya dengan Max.
Bagi Alek, selama Jemima masih mau menjadi istrinya, dia akan memaafkan segala perbuatan yang sudah dilakukannya bersama Max.
Lord. Orang pasti mengira dirinya sudah gila. Tapi begitulah yang dia rasakan. Dia tidak akan mempermasalahkan semua kelakuan Jemima menyangkut Max selama Jemima masih menjadi istrinya.
Karena itu berarti Jemima masih menjadi miliknya seutuhnya.
Alek tertawa dalam hati menyadari betapa Jemima sudah menjadi seseorang yang sangat penting dalam hidupnya. Padahal, sejak awal dia tidak pernah berniat menyertakan hatinya dalam hubungan pernikahan ini.
Apakah ini berarti dia sudah jatuh cinta pada istrinya sendiri? Tidak. Tentu saja tidak. Jemima memang sudah menjadi salah satu orang terpenting dalam hidupnya. Tapi bukan berarti dia akan menjadi ratu dan penghuni tetap di hatinya.
——
"Apa aku menyakitimu?"
Ucapannya disambut tawa yang memecah kesunyian.
"Seharusnya aku yang bertanya begitu, Jem. Aku yang seperti orang kerasukan. Remember?"
Jawaban Alek menimbulkan semburat kemerahan di kedua pipinya. Dia menyurukkan kepalanya lebih dalam ke dada suaminya.
"Pertama kali kita melakukannya—kakiku yang bermasalah. Sekarang, giliran kakimu. Apa kamu yakin kakimu tidak apa-apa?" Jemima mendongakkan wajahnya. Sedikit khawatir.
"No. I am fine. Apa aku perlu membuktikannya lagi?" Jemima memekik ketika Alek menggulingkan tubuhnya. Meninggalkan jejak basah yang membuat buku kuduk istrinya meremang.
"Ya Tuhan, Alek. Kamu bisa membuatku mati lemas." Jemima menggigit bibir.
"Mati lemas atau nikmat?" Ucapannya dihadiahi satu pukulan keras. Suaminya hanya tertawa.
"Sebaiknya kita pindah ke kamar. Aku tidak mau para pelayan melihatku keluar dari perpustakaan keesokan harinya dengan berantakan."
"Mereka tidak akan berani berkomentar."
Bibir Alek kini sudah berpindah ke perutnya. Membuat lingkaran di sana dengan lidah. Menghisap sisa keringat yang belum sepenuhnya kering.
"ALEK!" Tubuh Jemima mulai bereaksi. Sampai kapan suaminya puas?
"Aku tidak akan pernah puas menikmati tubuhmu." Seolah bisa mendengar suara hatinya, Alek menimpali.
"Demi Tuhan, Alek. Kita harus kembali ke kamar sebelum pagi. I insist."
Serangan Alek tetap tidak berhenti. Kain yang menutupi tubuh mereka sudah menghilang. Memperlihatkan kaki mereka yang saling terbelit.
"One more, baby. Setelah itu, kita akan melanjutkannya di kamar."
Alek sudah benar-benar membuatnya gila.
__ADS_1