
Jemima meronta sekuat tenaga. Lagi-lagi dia diikat di kursi. Hanya saja, kali ini dia dibawa ke sebuah tempat yang terasa asing. Setelah pertemuannya yang begitu mengejutkan tadi pagi dengan Max, dirinya dikunci lagi di dalam kamar.
Pikiran Jemima tidak bisa tenang sama sekali. Apalagi setelah mendengar rencana Max terhadap Alek.
"Max!!" Jemima berteriak keras. Dia terus berteriak hingga suaranya serak. Namun, tidak ada satu pun orang yang menjawab.
Jemima bertanya-tanya dalam hati. Kemana semua orang pergi? Mengapa tidak ada satu pun yang menjawab teriakannya?
Sekali lagi Jemima melihat sekelilingnya. Tempat ini seperti pabrik tua yang sudah lama tidak dipakai. Tidak terlalu gelap dan sangat luas.
Jemima melihat banyak sekali gelondongan kayu yang ditumpuk jadi satu. Apakah sebelumnya tempat ini merupakan pabrik kayu? Ada juga tumpukan-tumpukan besi kecil di tempat itu. Sebenarnya tempat apa ini?
"Teriakanmu terdengar sampai luar, Nyonya."
Lelaki berkepala plontos itu. Memasuki ruangan dengan senyum sinis di sudut bibirnya.
Baru sekali ini dia bertemu muka secara langsung. Nikolay Xanderov.
Gigi Jemima bergemeletuk. Antara takut, tegang, dan benci. Satu hal yang masih dia pertanyakan. Apa hubungan orang ini dengan Max?
"Ada apa, Jemima?" Jeritan kaget keluar dari mulutnya secara refleks ketika tiba-tiba Max sudah ada di belakangnya dan berbicara pelan di dekat telinganya.
"Ini sudah lebih dari tengah malam. Dan suamimu belum terlihat. Mungkin dia sudah benar-benar tidak peduli padamu."
Ucapan lelaki itu tidak dia pedulikan. Jemima berusaha menjauhkan kepalanya dari Max. Merasa jijik.
"Kau tahu, Jem? Padahal aku benar-benar tidak berniat menyakitimu. Kalau memang benar Alek sudah tidak peduli padamu, aku masih bisa menerimamu. Bagaimana?"
Cuh.
Jemima meludah tepat di wajah Max. Membuat rahang lelaki itu mengeras seketika.
"Lebih baik aku mati." Suaranya bergetar. Jika sebelumnya dia memohon untuk dibiarkan hidup, kali ini berbeda. Jemima benar-benar lebih memilih mati jika Alek sudah tidak peduli lagi padanya.
"Hentikan permainanmu, Max. Bunuh saja wanita ini secepatnya dan selesaikan masalahmu dengan suaminya."
"Diam! Aku tidak pernah menerima perintah, Berengsek."
Tidak pernah menerima perintah.
Tandanya lelaki berkepala plontos ini bukan bosnya. Jemima sempat mengira bahwa mereka ayah dan anak. Tapi, melihat ketidakmiripan di wajah mereka, opsi itu langsung dia coret.
"Terserah kau saja. Aku hanya memberikan saran sebagai teman."
"Dan kau bukan temanku, Xander. Kau bidakku."
Nah, itu.
"Jadi selama ini kau yang ada di balik semua? Bersembunyi di bawah nama Xander? Tak kusangka kau sepengecut itu, Max."
Ucapannya dihadiahi cengkeraman kuat pada rahangnya. Jemima sampai meringis menahan sakit.
"Be careful of your words, Woman. Aku memang menyukaimu, tapi bukan berarti kau bisa menghinaku semaumu."
Wajah lelaki di hadapannya tampak geram. Tidak ada lagi raut sedikit ramah yang tadi masih diperlihatkan.
"Mungkin kau ada benarnya, Xander. Dia sepertinya memang harus disingkirkan."
Max mengeluarkan pisau lipat dari balik sakunya. Sepertinya benda itu selalu dia bawa ke mana-mana. Dengan pasrah Jemima memejamkan mata. Diiringi dua butir bening mengaliri pipinya.
Maafkan Ibu, Nak.
"If you lay a finger on her, I swear I'll cut you into pieces!!"
__ADS_1
"Alek!!!"
Jemima membuka mata dan menghembuskan napas lega ketika melihat Alek berdiri tak jauh darinya. Isakan tertahan keluar dari tenggorokannya. Dadanya bergemuruh hanya dengan melihat wajah suaminya.
Namun, kebahagiaannya hanya bertahan beberapa detik saja. Karena setelah itu, tubuh Alek tiba-tiba saja roboh.
Jemima mendengar seseorang berteriak dengan kerasnya. Dan pada saat itu dia sadar, teriakan itu berasal dari mulutnya sendiri.
——
Alek merasakan panas di bahu kanannya. Rasanya sakit sekali untuk digerakkan. Dia mendengar Jemima berteriak histeris. Untung saja hanya bahunya saja yang terkena pukulan.
Dengan sekuat yang dia bisa, Alek berusaha bangkit. Giginya bergemeretak menahan sakit. Sebisa mungkin dia menyembunyikan rasa sakitnya. Dia tidak ingin Jemima bertambah panik.
Belum sampai Alek mengatur napas, rasa sakit yang sama menghantam bahu kirinya. Kali ini dia tidak lagi bisa menahan erangan. Pukulan ini pasti sudah meninggalkan bekas kemerahan dan biru pada bahunya.
"Ya Tuhan, Alek!! Hentikan. Please stop it! Aku mohon... "
Alek mendengar rengekan Jemima. Air mata mengalir deras di pipi istrinya. Dalam hati Alek mengumpat. Dia tidak akan membiarkan istrinya melihat penyiksaan ini lebih lanjut.
Dalam kesakitannya, Alek mengatur strategi agar serangan terhadap dirinya dapat terhenti. Dia melirik sekilas ke samping, berharap ada sesuatu yang bisa dijadikannya senjata.
Namun, lagi-lagi dia dihantam sebelum sempat berdiri. Kali ini hantaman itu mengenai punggungnya.
God. It hurts like hell!
Alek menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir perih yang mulai merambati tubuhnya. Namun, yang dirasakannya hanyalah denyutan yang semakin menyiksa. Bagaimana dia bisa menyelamatkan Jemima jika dia sendiri terkapar tak berdaya seperti ini?
"You look terrible, Alek." Ejekan sinis keluar dari mulut Max yang diikuti tawa membahana.
Max.
Dia masih belum percaya bahwa lelaki inilah yang ada di balik semua. Xander hanya orang suruhan. Sementara otak dari kekacauan yang terjadi adalah lelaki berengsek itu.
Alek merasa geram. Tanpa memedulikan rasa sakitnya, dia segera berlari mengambil potongan besi kecil yang sejak tadi dia incar.
Dengan tenaga yang tersisa, dia mengayunkan potongan besi itu ke arah salah satu anak buah Max yang berdiri tak jauh darinya. Saat itulah suara tembakan terdengar melengking di telinganya.
——
Jemima menutup mata dan menahan napas ketika mendengar desing suara tembakan diikuti besi yang beradu dengan lantai.
Tubuhnya seakan lumpuh. Dia sama sekali tidak bisa bergerak. Bahkan berteriak pun dia tak mampu. Hanya air mata yang menuruni pipinya dengan deras tanpa suara.
“Open your eyes, baby.” Jemima langsung membuka matanya dan menangis lega melihat Alek masih berdiri dengan kokohnya di hadapannya. Tidak ada darah yang mengucur keluar dari tubuh Alek. Berarti tembakan tua bangka itu meleset.
Melihat Xander yang memegang tangannya, Jemima bisa langsung tahu bahwa Alek melemparkan besi tadi dan mengenai tangannya.
Jemima tersenyum sinis melihat raut kesakitan di wajah Xander. Namun, senyumnya tak bertahan lama, karena beberapa detik kemudian Max meletakkan mata pisau di lehernya. Sebelum akhirnya melepaskan seluruh ikatan tali yang melilit kaki dan tangannya.
"Coba saja melawan. Tapi, istrimu yang akan terluka."
"Berengsek kau, Max!"
Lelaki itu tertawa bengis. Jemima bisa merasakan besi dingin menyentuh lehernya ketika tubuh Max berguncang karena tawa.
"Oh. Tidak. Aku ralat ucapanku. Bukan hanya istrimu."
Udara dingin menerpa tubuhnya yang terbuka. Max menarik ke atas blus yang dia pakai. Memperlihatkan gundukan kecil di perutnya.
"Jangan. Aku mohon jangan, Max." Jemima merengek. Meronta sekuat tenaga. Mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Max.
"Kubunuh kau, Max!" Alek berlari ke arahnya. Dan berhenti seketika melihat pisau yang berada di lehernya kini berpindah ke perutnya.
__ADS_1
Tangis Jemima semakin keras. Berulang kali mulutnya menggumamkan permohonan. Tubuhnya sendiri tidak berani bergerak. Takut pisau itu menggores sedikit saja kulit perutnya.
"Jangan. Aku mohon." Giliran Alek yang memohon. Jemima bisa melihat ketakutan yang sama di mata suaminya.
"Aku akan berikan semua yang kau minta. Termasuk perusahaanku yang selama ini kau incar. Apapun, Max. Apapun!"
Tawa Max semakin kencang. Diikuti Xander dan beberapa anak buah mereka. Tawa kemenangan.
Kelegaan memenuhi rongga dada Jemima ketika pelan-pelan Max menjauhkan pisau. Tangisnya berubah menjadi isakan. Dia ingin semua ini cepat berakhir. Pulang ke rumah. Dan memeluk Alek sepuasnya. Berharap secepatnya lupa akan semua yang terjadi beberapa hari ini.
Harapan itu hanya bertahan tidak lebih dari beberapa menit. Selanjutnya, yang dia rasakan adalah tenggorokannya yang panas karena berteriak. Perih merambati bagian atas perutnya.
“Maaaxxx!!! For heaven’s sake I am going to kill you.”
Hanya itulah kalimat terakhir yang bisa tertangkap oleh telinga Jemima. Setelahnya, dia tidak merasakan apa-apa.
——
Alek merasakan gemuruh di dadanya memuncak ditambah ketakutan yang luar biasa ketika Max tiba-tiba menggoreskan pisaunya di perut istrinya.
Darah mulai berlomba-lomba keluar melalui luka sayatan itu. Alek segera berlari menghampiri Jemima. Tanpa dia duga, kesempatan itu digunakan Xander untuk melumpuhkannya.
Lelaki itu mengambil tongkat besi yang tadi dilemparkan Alek dan memukulkannya dengan keras ke lutut sebelah kanannya.
Alek seketika terjatuh. Namun dia berusaha bangkit lagi tanpa menghiraukan nyeri di kakinya. Dia tahu, dirinya tidak punya apapun yang bisa dijadikan senjata untuk menghadapi mereka berdua. Dan bisa jadi, hari ini mungkin dirinya akan mati. Tapi sebelum itu terjadi, dia harus bisa menyelamatkan Jemima dan bayi mereka.
Alek melihat Xander kembali mengayunkan tongkat itu. Dengan sigap dirinya berhasil menghindar. Tapi malang, Max melayangkan tinju dari samping dan berhasil menggores lengan kirinya dengan pisau.
Kali ini Alek tidak dapat menahan erangannya.
Demi Tuhan. Rasanya benar-benar sakit. Keringat dingin mulai mengalir membasahi seluruh tubuhnya. Alek ingin menyerah pada rasa sakit saat itu juga, tapi ketika melihat Jemima yang terkulai lemah, dia kembali bangkit.
Lagi-lagi Max memukul wajahnya ketika dia hendak bangkit. Alek sudah benar-benar kesulitan untuk berdiri. Dia mendengar Xander dan Max tertawa keras. Mengejeknya.
Napasnya mulai terengah-engah. Dia memandang satu-persatu wajah Xander dan Max yang masih tertawa.
Mereka pasti menertawakan kebodohannya selama ini. Pelan-pelan Max mulai berjalan mendekati Alek.
“Well..Well. The last time i saw you like this, Alek, when you laid in the hospital from a terrible crash.” Max berjongkok di dekat Alek dengan tampang meremehkan.
“Look at her.” Alek mengikuti tangan Max yang menunjuk ke arah Jemima. “She is so beautiful, right?”
Alek mengepalkan tangannya menahan amarah. “Ini semua salahmu. Jika kau tidak menikahinya, mungkin dia tidak akan semenderita ini,” lanjut Max.
Ya. Ini semua salahnya. Jika saja dia bisa mengetahui kebohongan Max lebih awal. Dan bukan malah mencurigai Jemima berselingkuh.
Jika.
Alek berusaha tidak menghiraukan rasa sesal yang mulai merambat. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk menyesali semua.
“I’m going to kill you, Max. You and of course you!” Alek menunjuk wajah mereka berdua.
Keheningan mulai menyelip setelah Alek mengucapkan ancamannya. Beberapa detik kemudian, tawa berderai menggema ke seluruh ruangan.
Alek mengepalkan tangannya dengan geram. Rasa marah, takut, dendam, dan penyesalan bertumpuk jadi satu.
Ditatapnya Jemima yang masih terkulai lemah. Tuhan. Beri dia kekuatan untuk menyelamatkan keluarganya.
Dua titik bening muncul di kedua sudut matanya. Dia mengedip beberapa kali, menghalau agar bulir-bulir bening itu tidak tumpah.
Tatapan Alek kini beralih ke kedua lawannya. Melawan mereka berdua sama halnya dengan menjemput kematian. Alek tahu itu. Ditambah lagi beberapa anak buah mereka yang sejak tadi bersiaga di sekeliling mereka.
Dia tidak punya pilihan lain. Benar-benar tidak punya pilihan lain kecuali menghadapi mereka. Dengan penuh perhitungan Alek bangkit dan berlari ke arah Jemima, mengambil pistol yang sejak tadi tergeletak di dekat kursi, kemudian menembakkan pistol itu ke salah satu di antara mereka berdua.
__ADS_1