Perfect Oracle

Perfect Oracle
Prahara Destinasi Surat Kaleng (Last Part)


__ADS_3

221b Baker St, NW1 6XE


Setelah dua hari terbebas dari pesan-pesan tanpa nama, hari ini Gita kembali mendapatkan pesan-pesan serupa. Tiga pesan sekaligus. Satu pesan melalui kertas pink yang tertempel di pintu flatnya, dua pesan melalui ponsel.


Kau tidak lupa hari ulang tahunku, bukan?


Adalah bunyi pesan yang tertempel di pintu. Kalau tidak salah, pesan terakhir yang dia terima yaitu si pengirim pesan mengajaknya bertemu di hari ulang tahunnya. Pertanyaannya... Bagaimana dia bisa tahu tanggal lahirnya ketika dirinya sendiri tidak tahu lelaki itu siapa?


Gita berangkat ke kantor tanpa mau ambil pusing dengan pesan terakhir. Hari ini Jumat. Tanggal 6 Januari. Dia melakukan ritual tahunan setiap tanggal ini. Sesampainya di kantor, gadis itu langsung mengeluarkan ponselnya dan membuka akun twitter.


Happy birthday to my fav detective, Sherlock Holmes!


Kalimat yang dia tulis sendiri inilah yang kemudian membuatnya tersentak. Ulang tahun, Sherlock. Satu menit kemudian, sebuah pesan masuk ke ponselnya.


Sudah ingat sekarang? Temui aku di 221b Baker St, NW 6XE.


Pesan ini yang kemudian membuatnya harus menghadapi tatapan penuh selidik Arthur. Tiba-tiba dia minta izin. Padahal belum ada satu jam dia sampai di kantor. Beruntunglah Arthur tidak bertanya terlalu banyak. Lelaki itu tetap memberikannya izin meskipun terlihat terpaksa.


Dan di sinilah dia berada sekarang. Duduk di dalam bus menuju Baker St, di kursi paling belakang. Bus yang dia tumpangi berhenti di White City Bus Station. Bersama beberapa penumpang lain, Gita turun dari bus. Suhu 5 derajat membuatnya harus mengenakan pakaian berlapis untuk mengurangi rasa dingin. Sudah setengah tahun lebih, dan ini adalah musim dingin pertamanya di London. Dia masih belum terbiasa.


Gita berjalan selama kurang lebih 10 menit menuju Wood Lane Station. Dari sini dia akan menaiki kereta hingga ke Baker Street Station. Suasana stasiun cukup ramai. Mungkin karena masih dalam suasana libur Natal dan tahun baru.


Begitu pintu kereta terbuka, Gita langsung mencari tempat duduk yang kosong. Agar terlihat sibuk, dia membuka kembali pesan dalam ponselnya. Pesan ketiga dia baca ulang.


I stood before the man. He is a genius, a philosopher, an abstract thinker. He has a brain of the first order. (4)


Professor Moriarty. Kini dia ingat di mana pernah melihat pesan-pesan itu. Dalam buku-buku Sherlock Holmes yang pernah dia baca.


Turun di Baker Street Station, Gita disuguhi siluet detektif kesayangannya di lorong stasiun. Berjalan dengan lebih cepat, dia berharap bisa segera sampai di tempat tujuan. Dia tidak sabar untuk bertemu dengan pelakunya dan memberinya pelajaran.


The Sherlock Holmes Museum. Gita berdiri cukup lama di depan museum. Mengatur debar jantungnya agar lebih tenang.


Semua clue menunjukkan tempat ini. Dia tidak mungkin salah, kan? Setelah membeli tiket masuk, Gita segera berjalan menuju lantai empat. Tidak ada waktu untuk mengagumi setiap ruangan. Yang dia inginkan hanya segera bertemu dengan orang yang sudah mencuri perhatiannya selama beberapa hari ini.


Kalau tidak salah, dulu ketika berkunjung ke sini, dia pernah membaca tulisan 'I stood before Professor Moriarty'. Tepat di samping patung lilin Professor Moriarty sendiri. Dan patung itu hanya ada di lantai empat.


Semakin dekat dengan tempat yang dituju, langkah kakinya melambat. Namun, debar di jantungnya malah semakin cepat. Dia berjalan terpatah-patah. Antara ragu harus maju atau mundur.


Bukankah tadi dia begitu bersemangat? Kenapa sekarang nyalinya ciut?

__ADS_1


Gita menghalau segala pikiran negatif dalam otaknya. Memberi dirinya sendiri semangat. Sekarang atau tidak sama sekali.


Seorang lelaki berdiri tak jauh dari patung Profesor Moriarty. Diakah orangnya? Gita tidak bisa melihat wajahya. Punggung tegap yang dibalut sweater putih adalah pemandangan pertama yang dia lihat. Selangkah demi selangkah. Dia semakin mendekatkan jarak.


"Lama sekali kau datang." Lelaki itu berbalik. Membuat langkahnya terhenti tiba-tiba.


Senyum itu...


Gita terpaku. Lidahnya kelu. Untuk ketiga kalinya, dia terpesona.


*


Kerumunan orang dewasa dan anak-anak kecil menghalangi jalannya. Beranjak siang, jumlah pengunjung museum semakin banyak. Gita kewalahan menyejajarkan langkah.


"Hei. Aku bertanya padamu. Apa alasanmu mengirimiku pesan-pesan itu?"


Lelah sudah dia bertanya. Tidak ada jawaban yang keluar. Semua pertanyaannya hanya dijawab dengan senyuman dan gelengan. Lelaki itu sibuk melihat ruangan demi ruangan yang ada di dalam museum.


"Baiklah. Lebih baik aku pergi. Tidak ada gunanya juga aku di sini."


Dengan wajah merah padam Gita keluar dari museum. Udara dingin langsung menyambutnya. Kedua tangannya dia silangkan di depan dada.


Giliran dirinya yang tak acuh. Tanpa mengucapkan terima kasih, Gita terus berjalan menuju stasiun terdekat.


"Kemarikan tanganmu." Tangan kirinya ditarik paksa. Gita berusaha melepaskan, tapi genggaman lelaki itu terlalu kuat.


"Hei, kau!! Lepas... "


"Sensei. Sudah kubilang panggil aku Sensei."


Percuma dia melawan. Dia tidak akan menang. Gita menurut saja ketika lelaki itu menggandeng tangannya. Ada rasa nyaman dan hangat yang dia rasakan.


"Maaf. Aku tidak bermaksud menakutimu." Sensei memulai. Langkah kaki mereka yang sebelumnya cepat kini melambat.


"Bagaimana kau tahu tentang aku?"


"TV dan koran." Gita mengerutkan kening. "Kasus Alek dan penculikan istrinya. Aku melihatmu dan mulai tertarik. Aku mengikuti semua akun sosial mediamu."


"Kenapa?"

__ADS_1


Pertanyaannya dijawab dengan tawa. Sensei menghentikan langkah mereka. "Karena aku menyukaimu." Hidungnya dipencet dengan gemas.


Pipinya memanas. Ini pertama kalinya ada lelaki yang bilang suka padanya. "Berhentilah menyukai Alek. Lelaki itu terlalu tua untukmu."


"Apa? Aku... "


"Jangan khawatir." Sensei membungkukkan badan. Wajah mereka sejajar dan begitu dekat. Hidung mereka hampir bersentuhan. "Aku akan membuatmu melupakan Alek."


Cup.


Kecupan singkat mendarat di pipinya. Wajahnya semakin panas. Belum hilang rasa terkejutnya karena ungkapan suka yang dia terima, kini dia dikejutkan oleh kecupan pertamanya.


Aliran darahnya seolah terhenti. Dia bahkan merasa orang lain yang lewat bisa mendengar bunyi jantungnya yang begitu keras.


"Tiga bulan. Beri aku waktu tiga bulan. Jika aku bisa membuatmu melupakan Alek, kau harus menikah denganku."


Mulut Gita ternganga. "Me-menikah?"


Sensei tertawa lepas. Genggaman tangan mereka terlepas. Lelaki itu berjalan menjauh. Meninggalkannya yang masih terpaku di belakang.


"Kita taruhan, ya." Sensei membalikkan badan dan berjalan mundur. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku mantel. Tawanya digantikan senyuman menggoda.


Senyuman itu. Sepertinya sudah benar-benar menjeratnya.


Note :


(1) (2) Dialog dalam buku serial Holmes yang berjudul The Adventure of The Blue Carbuncle.


(3) Dialog dalam buku serial Holmes yang berjudul The Hound of the Baskervilles.


(4) Dialog dalam buku serial Holmes yang berjudul The Final Problem.


Catatan Penulis :


Terimakasih kepada semua pembaca yang sudah mengikuti kisah Jemima-Alek sampai selesai. Aku tahu cerita ini sudah lama sekali TAMAT. Akan tetapi aku masih menambahkan 2 bab sebagai bonus. Aku hanya merasa sayang saja jika kedua bab tambahan ini tidak aku bagikan. Semoga kalian terhibur ya.


Jangan lupa untuk membaca cerita tentang Matthew dan Astrid ya. Judulnya PERFECT MATCH. Maafkan karena kesibukanku cerita yang satu ini jadi agak tersendat. Semoga kalian masih berkenan menunggu dan membacanya.


With love,

__ADS_1


Ulfa Fauzi


__ADS_2