Perfect Oracle

Perfect Oracle
Home


__ADS_3

Alek meringis menahan sakit ketika berusaha duduk di ranjang Jemima. Setelah beberapa lama menangis, akhirnya istrinya bisa tenang.


Pedih yang dia rasakan sama seperti yang dirasakan istrinya. Tapi kepedihan itu tidak lantas membuatnya menangis untuk yang kedua kali. Justru sebaliknya, dalam diam dia berusaha menenangkan wanita yang paling dikasihinya ini.


“It doesn’t matter. We’ll make another baby,” ucap Alek menghibur setelah berhasil duduk di samping istrinya.


Jemima yang sudah berhenti menangis hanya tertawa kecil. Kemudian mereka berdua terdiam.


“I’ll sign the divorce letter as soon as i’m out from the hospital.” Jemima memulai kalimatnya, membuat Alek memelototkan matanya tak percaya.


“What did you...”


“Aku tidak ingin melihatmu merasa bersalah, Alek. Aku tidak ingin kamu melakukan semua ini hanya karena menyesal dan merasa kasihan.” Jemima tidak membiarkannya menyelesaikan protes.


Dalam hati Alek merutuki Astrid yang sudah memberitahukan tentang berkas perceraian mereka.


“Listen to me, Jemima. I never..”


“Aku ingin istirahat, Alek.” Jemima lagi-lagi memotong ucapannya. “Tinggalkan aku sendiri. Kumohon.”


Alek hanya bisa menatap tak percaya ketika melihat Jemima membalikkan punggung membelakanginya dan menarik selimut hingga menutupi leher.


Tuhan. Apalagi sekarang?


Setelah berita tentang bayi mereka, apakah kini dia juga harus kehilangan Jemima?


——


Sepanjang perjalanan menuju ke kamar rawatnya, Alek tidak berhenti mengumpat. Matthew yang sejak tadi menemaninya hanya diam. Beruntung, wanita yang dia cari berpapasan jalan dengannya.


"Aku menyuruhmu membuang, membakar, apapun itu terhadap surat perceraianku. Kenapa tidak kau lakukan?" sentaknya.


"Apa kau baru saja berteriak kepadaku? Apa masalahmu?"


"Surat perceraian, Astrid. Jemima mengatakan akan menandatangani surat perceraian kami. Secepatnya. Kenapa kau tidak melakukan apa yang kuperintahkan?"


Wanita di hadapannya memicingkan mata. Kedua tangannya menyilang di depan dada.


"Maaf. Apa aku salah dengar? Aku sudah membakarnya. Dan aku juga tidak pernah memberitahu Jemima tentang berkas itu."


"Apa? Bagaimana bisa? Jelas-jelas dia tahu tentang berkas perceraian kami. Kalu bukan kau, lalu siapa?"


"Aku akan mencari tahu. Tapi kau..." wanita itu memainkan telunjuk di depan wajahnya. "Hutang permintaan maaf padaku." Baru setelah itu pergi dengan muka masam.


"Kau sudah tanya Arthur?" Pada akhirnya Matthew ikut bersuara.


"Arthur tidak mungkin melakukan ini." Alek menggeleng cepat. "Apakah mungkin Max?"


"Lelaki itu sudah masuk penjara, Alek. Begitu pula Xander. Berkas ini rahasia. Dan hanya Astrid dan Arthur yang memegangnya. Jadi, jawabannya tidak mungkin."


"Kalau begitu siapa? Aku tidak ingin kehilangan Jemima lagi."


"Kau butuh istirahat, Sobat. Aku akan mencari tahu nanti."


——


Jemima memasuki rumah sewaannya dengan langkah gontai. Mulai sekarang, rumah ini yang akan menjadi tempat tinggal tetapnya. Setelah seminggu dirawat di rumah sakit, akhirnya Dokter mengizinkannya pulang. Sementara Alek, dia sudah diperbolehkan pulang dua hari sebelumnya.


Alek.


Menyebut nama suaminya membuat hatinya nyeri. Setelah pembicaraan mereka tempo hari, Jemima tidak membiarkan Alek menemuinya. Hingga akhirnya dia mendapat kabar kalau Alek sudah diperbolehkan pulang.


Jemima menekan dadanya, mencoba mengusir perih yang masih tersisa. Terkadang, manusia harus rela melepaskan hal paling berharga yang dimilikinya, bukan? Dalam hal ini, Alek. Bukan karena dia tidak cinta maupun sayang, melainkan dia harus membiarkan Alek meraih kebahagiaannya sendiri.


Jemima sudah berulang kali memikirkan keputusan ini setelah melihat berkas perceraian yang ditunjukkan kepadanya. Beberapa jam setelah sadar, gadis cilik itu memasuki kamarnya.


Gita. Dia memperkenalkan dirinya. Asisten Arthur. Pengacara Alek.


Seperti kiamat rasanya melihat gadis cilik itu menyodorkan berkas perceraiannya dengan Alek. Padahal sebelumnya, dia sudah membayangkan akan kembali ke pelukan Alek. Memulai semuanya dari awal. Dan menghadapi kesedihan ini bersama-sama.


Mimpi belaka.


Dan ketika melihat Alek berada di kamarnya waktu itu. Menangis. Membuat mimpinya seolah akan menjadi nyata. Tapi bayangan tentang berkas itu membuatnya buyar kembali.


Alek hanya merasa kasihan padanya. Juga merasa bersalah. Karena penyebab semua kejadian ini adalah suaminya. Dia tidak ingin tetap menjadi istri Alek hanya karena dua kata itu.

__ADS_1


Jemima memasuki kamarnya yang sudah beberapa minggu tidak dia tempati. Pandangannya menyapu sekeliling ruangan, saat itulah dia tahu ada yang berubah dari kamarnya.


Buku-buku yang biasanya dia baca tidak ada di rak, melainkan di meja sisi tempat tidur. Selain itu, scrapbook buatannya yang berisi foto-fotonya dengan Alek ada di atas tempat tidur.


Bagaimana bisa semua benda-benda ini ada di sini? Pikirnya dalam hati.


Jemima berjalan mendekati ranjang dan membereskan semuanya. Bermaksud menyimpan kembali barang-barangnya ke tempat semula.


“Selama kau menghilang Alek selalu tidur di sini.” Jemima mendongakkan kepala dan melihat Astrid berdiri di ambang pintu.


“You don't have to do this, Jem. Aku tahu kau mencintainya. Berhentilah menyiksa dirimu dan kembalilah padanya.”


“Tapi dia mengirimiku surat cerai. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari itu.” Suara Jemima bergetar. “Lagipula aku hanya ingin Alek bahagia. Dia tidak pernah mencintaiku.”


“Bullshit!” teriak Astrid. “Semua orang juga bisa melihat bahwa Alek cinta mati padamu. Kalau kau....”


“Enough, Astrid.” Potong Jemima cepet. “Yang Alek rasakan itu hanya rasa kasihan dan bersalah. Aku ingin istirahat. May I?” Astrid hanya mengedikkan bahu dan meninggalkan kamar Jemima. Dia tersentak kaget ketika melihat Alek sudah berdiri di belakangnya.


——


Jemima masih belum menyadari kedatangan Alek. Dia hanya duduk termenung sembari melihat scrapbook-nya dengan tatapan kosong.


“Kamu tidak ingin membukanya?” Jemima tersentak melihat Alek sudah berdiri di depannya dan kemudian berjongkok. Alek menggenggam tangannya erat.


“What are you doing here?”


“Home.” Alek menjawab singkat.


“Ini bukan rumahmu. Jika kamu ingin pulang, sebaiknya pulang ke rumahmu sendiri,” balasnya ketus.


Alek hanya tersenyum mendengar balasan Jemima. “Aku akan selalu menganggap setiap tempat yang kamu tinggali sebagai rumah. Di manapun kamu berada, di situlah rumahku. Because you are my home.”


Jemima hampir saja menangis mendengar kata-kata Alek. Jantungnya memompa lebih cepat. Mungkinkah yang dikatakan Astrid benar? Bahwa Alek sungguh-sungguh mencintainya? Tapi suaminya tidak pernah mengatakannya secara langsung. Jemima ragu.


Tanpa menghiraukan genggaman tangan Alek, Jemima berdiri dan mengambil sesuatu dari dalam tas.


“Aku akan menandatanganinya. Sesuai yang aku janjikan padamu.”


Ketika tangannya sibuk mencari pena di dalam tas, Alek merebut berkas itu. Merobeknya menjadi potongan-potongan kecil.


“Alek! What are you doing?”


Jemima membelalakkan matanya tak percaya. Alek masih saja merobek kertas itu hingga menjadi bagian-bagian kecil, kemudian membuang semua robekannya ke tempat sampah.


“We are still husband and wife.”


Jemima tidak bisa berkata-kata. Dia hanya menatap Alek lekat-lekat. Perasaannya campur aduk.


“Aku hanya perlu menandatanganinya dan kamu akan bebas.”


Alek tertawa mendengar ucapan istrinya yang polos.


“So? Merasa kasihan dan bersalah. Selama ini kamu menganggap rasa cintaku hanya sebatas itu?” Alek berjalan mendekat dan mengelus pipinya lembut.


“Why did you send me that divorce letter?” Jemima menggigit bibirnya, menahan tangisnya yang hampir pecah.


“I thought that was the only way to make you happy. Why do you want to sign that letter then?”Alek balik bertanya.


Jemima mengambil napas dalam-dalam, tapi tetap saja air matanya sudah mengalir. “To make you happy. I thought that you never love me. That’s why I want to let you go.” Jemima menangkupkan kedua tangannya menutupi wajah dan terisak. Rasanya sakit sekali ketika harus diingatkan bahwa Alek tidak mencintainya.


Alek menyingkirkan kedua tangan Jemima dan menangkupkan kedua tangannya di pipi. Memaksa Jemima menatapnya.


“Hidupku kacau sejak kamu meninggalkanku. Saat Astrid datang padaku dan mengatakan kamu menghilang aku seperti kerasukan. Emosiku benar-benar tidak bisa dikendalikan. Ketika aku melihat fotomu dengan tangan dan kaki terikat, aku ingin membunuh siapa saja. Hanya untuk menyalurkan penderitaan ini. Dan ketika mereka melukaimu tepat di hadapanku, jantungku rasanya berhenti berdetak. Saat itu juga aku ingin mati. Apa kamu bisa menjelaskan padaku perasaan apa ini?”


Jemima tidak menjawab. Dia langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher Alek. Memeluknya erat dan menangis keras. Ya Tuhan. Alek mencintainya. Ini sudah lebih dari cukup.


Jemima merasakan Alek juga balas memeluknya tak kalah erat.


“I love you, Jemima. Tidak semua ungkapan cinta itu harus diucapkan. Tapi, jika kamu ingin mendengarnya—setiap hari aku akan mengatakannya. Maybe every minute.”


Isakan Jemima terdengar semakin keras. Dia tidak bisa berkata-kata. Hanya menyusupkan wajahnya semakin dalam ke leher Alek dan mengangguk berulang-ulang. Kebahagiaan membuncah di dadanya.


Madam Rowena yang melihat adegan itu hanya tersenyum tipis. Ada titik bening yang muncul di kedua sudut matanya. Dia langsung menghapusnya, berharap tidak ada seorangpun yang melihat. Tapi Astrid dan Matt yang memang sejak tadi berdiri di sampingnya menyaksikan semua adegan itu terlanjur melihat dan hanya diam saja ketika wanita tua itu pergi meninggalkan rumah Jemima tanpa kata.


Kemudian, mereka berdua melakukan hal yang sama. Meninggalkan Alek dan Jemima yang sedang diliputi kebahagiaan.

__ADS_1


——


"Ya Tuhan. Ranjang ini sempit sekali."


Jemima hanya bisa menertawakan tingkah suaminya yang seperti cacing kepanasan. Tidak berhenti bergerak demi mendapatkan posisi yang enak.


"Salah sendiri. Aku sudah menyuruhmu pulang."


"Dan mengajakmu berkendara malam hari sampai ke London? Tidak, terima kasih."


Lagi-lagi dia tertawa. "I am fine, Alek."


"No. You are not. Kamu baru saja keluar dari rumah sakit. Kamu butuh banyak istirahat. Actually, we need to take a rest." Lelaki itu melingkarkan sebelah lengannya ke pinggang Jemima.


"Bahu dan kakimu masih sakit?"


"Tembakan itu tidak berarti apa-apa. Yang penting kamu dan bayi kita selamat."


Mendung membayangi wajah Jemima. Dia tidak tahu sampai kapan bayinya bisa bertahan.


"Dia akan baik-baik saja. Percayalah. Dia kuat. Sama seperti kita."


Jemima menampakkan senyumnya yang paling lebar. Bukankah ini yang dia inginkan? Melalui semuanya bersama Alek.


"Minggu depan dokter menyuruhku USG. Untuk melihat perkembangannya."


"She will be fine. Everything will be fine."


"She? Bagaimana kamu bisa seyakin itu?"


"Anggap saja perasaan kuat seorang calon Ayah."


Tawa mereka mengudara. Jemima semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Alek. Mencium cambang tipis yang sudah lama dia rindukan.


"Jem."


"Ehm?"


"Siapa yang memberikanmu berkas perceraian itu?"


"Apa itu penting?" Dia melonggarkan pelukan. Membelai kerutan yang muncul di dahi suaminya.


"Tentu saja! Dia hampir membuatku kehilangan dirimu."


"Kalau begitu tidak usah kukatakan. Karena itu hanya akan membuat kerutan di dahimu ini semakin banyak. Tidurlah, Tuan Pemikir. Kamu bilang kita butuh istirahat, bukan?"


Jemima merapikan selimut yang menutupi tubuh mereka. Menjadikan lengan Alek sebagai bantalan. Dan mencoba memejamkan mata. Dia ingin menikmati kebahagiaan yang dia dapatkan hari ini.


Rasanya baru sepersekian menit matanya terpejam. Alek mengagetkannya dengan umpatannya yang cukup keras.


"Gadis itu! Pasti dia. Kenapa aku tidak menyadarinya dari awal?"


"Alek. Hentikan! Kamu mengagetkanku."


"Gadis itu yang memberikanmu berkas perceraiannya, bukan?"


"Gadis siapa?"


"Gita. Asisten Arthur yang baru. Sejak awal dia memang tidak pernah menyukaiku."


Jemima tertawa mendengar ucapan Alek. "Sebaliknya. Dia sangat menyukaimu. Karena itulah dia memberikan berkas itu kepadaku."


"Ah. Jadi, benar dia. Gadis cilik itu...akan aku beri dia pelajaran."


"Tapi aku menyukainya. Dia lucu. Lagipula, jika bukan karena dia, kita tidak akan seperti ini. Jadi, jangan apa-apakan dia. Please." Jemima memohon.


"Apa semua wanita hamil melankolis seperti ini?"


Ucapan suaminya dia hadiahi kecupan bertubi-tubi di seluruh wajah. Menimbulkan tawa geli yang saling bersahutan. Terakhir, Alek menghentikan kecupannya dan menyematkan ciuman panjang di bibir.


"Aku minta satu hal lagi, Alek." Jemima menyudahi ciuman mereka.


"Apa?"


"Berhentilah mengumpat selama aku hamil. Itu tidak baik bagi bayi kita." Permintaannya kembali memecahkan tawa. Alek menariknya ke dalam pelukan. Satu tangannya mengelus perutnya lembut.

__ADS_1


"I'll try."


Mereka berdua sama-sama memejamkan mata. Jemima terlelap diiringi detak jantung Alek yang begitu menenangkan di telinga.


__ADS_2