
Tembakannya meleset. Menimbulkan tawa berderai memenuhi ruangan. Sementara bahunya menjerit-jerit minta diistirahatkan.
Alek geram. Menembak membabi buta. Air mata membuat pandangannya kabur. Sehingga sudah bisa dipastikan tembakannya kali ini pun tidak ada yang bersarang dengan tepat.
Tubuhnya ambruk. Selongsong pelurunya kosong. Dia tak lagi punya senjata.
"Kau benar-benar menyedihkan, Alek."
Benar. Dia memang sungguh menyedihkan. Matanya terpaku pada tubuh Jemima yang tergolek lemas. Darah yang keluar dari kulitnya tidak terlalu banyak. Itu berarti goresannya tidak terlalu dalam.
Bertahanlah. Aku mohon betahanlah, Jem.
Tubuhnya seakan mendapat kekuatan. Alek bangkit dan berlari ke arah Max dengan tangan terkepal. Satu bogem mentah berhasil mendarat di rahang lelaki itu.
Sebelum lelaki itu membalas, satu pukulan kembali membuat lebam pipi Max. Kali ini diikuti darah di sudut bibirnya.
Alek bermaksud memukul lagi, namun berhasil ditangkis. Perutnya mendapat balasan. Membuatnya mundur beberapa langkah dan terbatuk pelan.
Dia kembali berlari ke arah Max. Langkahnya tertahan. Dua orang anak buah Max memegangi kedua lengannya erat. Kesempatan itu digunakan Max untuk membalas.
Satu pukulan di pipi kanan. Satu di pipi kiri. Sebuah tendangan di ulu hati. Yang terakhir benar-benar membuatnya ambruk. Napasnya sesak.
Tidak boleh kalah. Dia harus bisa menyelamatkan Jemima. Alek bertumpu pada kedua lututnya. Mengambil napas sejenak. Sebelum akhirnya bangkit dan berlari. Kepalanya sengaja ditubrukkan ke tubuh Max.
Keduanya terjatuh. Satu pukulan dia sarangkan ke pipi Max. Bertubi-tubi. Tanpa berhenti. Hingga tangannya lemas sendiri.
Kesempatan itu diambil lawannya. Tubuhnya digulingkan. Max kini berada di atas. Melakukan hal yang sama dengan yang diperbuatnya. Alek mengangkat lengan ke depan muka. Mencoba menangkis setiap pukulan yang dia terima.
Tenaganya habis. Pandangan matanya mulai berkunang-kunang. Bagaimana bisa dia menyelamatkan keluarganya jika dia selemah ini?
Sial. Siaaaaaaal!!!
Dor.
Satu tembakan membuat lawannya mengerang kesakitan. Tangannya kirinya memegangi bahu kanannya yang terluka. Alek mendorong keras Max dari atas tubuhnya.
Matthew. Arthur. Astrid.
Mereka membawa serombongan bala bantuan. Sepertinya polisi. Alek tidak pernah merasa selega ini.
"Kau tidak apa-apa?" Astrid berjongkok di depannya.
"Jemima." Alek mendekati tubuh istrinya yang tergolek lemas.
"Aku siapkan mobil." Alek mengangguk. Dengan sisa tenaga dia mengangkat tubuh Jemima. Berlari mengikuti Astrid.
"Bertahanlah, Sayang. Aku mohon bertahanlah. Don't leave me."
Mobil Astrid memasuki pintu masuk pabrik. Dan terus berjalan mundur mendekati mereka. Alek menengok ke belakang sekali. Pergumulan masih terjadi.
"Bawa Jemima pergi dari sini, Alek!" Arthur yang berteriak.
Tatapan Alek kembali ke depan. Napasnya tersengal. Keringat membuatnya basah. Pandangannya memburam.
Mobil Astrid berhenti tepat di depan mereka. Alek menunggu Astrid membantu membukakan pintu. Suara tembakan masih bersahut-sahutan.
Suara tembakan terakhir rasanya begitu dekat di telinga. Panas menjalari punggungnya.
"Aleeeek!!" Dia tidak tahu siapa yang berteriak. Satu tembakan lagi. Panas itu kini menjalari kakinya.
__ADS_1
Tubuhnya ambruk bersama Jemima yang masih dalam gendongannya.
——
Apakah dia sudah mati? Ah..sepertinya dia memang sudah mati. Jika tidak, dia tidak akan merasa setenang ini. Dia merasakan angin berhembus pelan. Meniup pelan ujung rambutnya yang berwarna kecokelatan.
“Wake up.”
Samar-samar dia mendengar suara. Dia juga merasakan seseorang mengguncang bahunya perlahan.
“Hey, wake up!”
Kali ini dia merasakan tepukan yang lebih keras, bukan di bahunya, melainkan di salah satu pipinya.
“Come on. Alek. You’re okay now. Open your eyes.”
Okay? Siapa yang baik-baik saja? Apakah dirinya yang baik-baik saja? Lalu kenapa dia bisa merasa setenang ini?
Alek ingin membuka matanya tapi terasa berat. Sekali lagi dia merasakan tepukan di pipinya, kali ini lebih keras. Sakit. Tepukan itu terasa sakit. Bisakah orang mati merasakan sakit?
Of course not!
Dia belum mati.
Meskipun berat, Alek memaksa kedua matanya agar terbuka. Cahaya menyilaukan langsung menusuk matanya dan membuatnya harus mengerjap berkali-kali.
“Ah. Finally.”
Alek mengarahkan tatapannya ke arah suara. Rasa pusing mengambil alih. Dia merasa sangat mual dan ingin muntah.
“Are you okay?”
Matthew, tentu saja. Dia berusaha untuk bergerak, tapi rasa sakit yang teramat sangat membuatnya mengerang kesakitan.
“Kau tertembak dua kali, Alek. Di bahu dan kaki. Jadi jangan banyak bergerak dulu.”
Tertembak?
Benar juga. Dia memang tertembak. Kini dia ingat semuanya.
Jemima?
Alek seketika bangkit dan berteriak kesakitan.
“Demi Tuhan Alek! Tidak bisakah kau diam? Kau masih terluka.” Matt berusaha mencegahnya turun dari ranjang. “Dia baik-baik saja.” Kalimat terakhir Matt berhasil membuatnya berhenti meronta.
“Jemima baik-baik saja, Alek.” Matt kembali menegaskan. “Dia sedang istirahat sekarang.”
“I want to see her.” Alek menyingkirkan tubuh Matt yang menghalangi dan berhasil turun dari ranjang. Dia mengerutkan kening menahan sakit. Kakinya seolah kaku. Sakit sekali untuk digerakkan.
“For God’s sake! Kau tidak sadarkan diri seharian. You need to take a rest. Jemima baik-baik saja dan kau bisa melihatnya nanti.”
“Sekarang, Matthew! Sekarang.”
Matt hanya menggelengkan kepala ketika akhirnya menyerah pada kekeraskepalaan Alek. Dia menyuruh Alek duduk sementara dirinya mengambil kursi roda di sudut ruangan.
Matt mendorong kursi roda Alek hingga sampai di depan lift. Kamar Jemima satu lantai di atasnya. Selama perjalanan singkat itu Matt memberitahu kondisi Jemima yang sebenarnya.
Sayatan di lengan dan perutnya tidak membuat Jemima kehilangan banyak darah. Beruntung sayatan itu tidak terlalu dalam, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Selebihnya, Jemima hanya mengalami luka-luka kecil.
__ADS_1
Bayinya?
Alek ingin sekali menyuarakan itu, tapi lidahnya kelu. Dia takut. Dia terlalu takut mengetahui kenyataan yang seolah-olah bisa meremukkan hatinya.
Kehilangan bayi mereka.
——
Mereka berhenti di depan kamar inap Jemima. Matt membuka pelan pintu dan mendorong kursi roda yang Alek tumpangi masuk.
“See? Like i’ve told you. Dia sedang istirahat. And she is okay.” Kalimat penegasan keluar dari mulut Matt.
“Can you leave us?” pinta Alek.
Matt hanya mengedikkan bahu dan meninggalkan mereka berdua. Sepeninggal Matt, Alek mendorong kursi rodanya mendekat ke arah Jemima yang sedang tertidur pulas di ranjang.
Wajah Jemima masih terlihat pucat. Dia mengenakan pakaian rumah sakit. Setengah badannya tertutupi selimut. Selang infus terpasang di tangan sebelah kirinya.
Pelan Alek mengelus puncak kepala istrinya. Dia tidak ingin Jemima sampai terbangun karena gerakan yang dia buat. Satu tangannya yang lain menggenggam erat tangan Jemima dan menempelkannya ke sudut bibirnya, menciumnya perlahan.
Alek tidak banyak bicara, dia hanya diam melihat wajah Jemima dan sesekali mengecup jari-jari istrinya tanpa bosan.
Satu menit. Dua menit. Sepuluh menit berlalu. Tatapan mata Alek kini beralih ke perut Jemima. Dengan napas tertahan Alek memberanikan diri meletakkan tangannya di atas perut Jemima dan mengelusnya.
Apa kabar putranya di sana? Putra? Bagaimana jika mereka mendapatkan seorang putri?
Alek mengejek dirinya dalam hati dan tersenyum getir. Seolah dia pernah menginginkan seorang anak saja.
Alek masih ingat ketika meminta Jemima menggugurkan kandungannya jika saja ia ketahuan hamil. Dia juga masih ingat dengan jelas raut kecewa yang tergambar jelas di wajah cantiknya. Sejak saat itu, raut muka itulah yang tidak pernah Alek lupakan.
Dengan kepala sedikit menunduk, Alek kembali meyapukan jari-jarinya di atas perut Jemima. Bibirnya bergetar seakan ingin mengucapkan sesuatu, namun yang terdengar hanyalah helaan napasnya yang semakin berat.
Alek menatap nanar. Matanya kini terasa panas seolah ditusuk ribuan jarum. Akhirnya dengan berbisik dan bibir bergetar Alek mengatakan, ”God. Please save my child. Beri aku kesempatan untuk menjadi seorang Ayah.”
Setelah membisikkan doa itu Alek menelungkupkan kepalanya di atas tangan Jemima. Dan dia mulai menangis tanpa suara.
——
God. Please save my child. Beri aku kesempatan untuk menjadi seorang Ayah.
Jemima menahan tangis ketika mendengar suaminya membisikkan doa itu. Meskipun hanya bisikan, dia bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
Alek menangis. Jemima merasakan tangan kanannya basah. Selama mereka menikah, ini pertama kalinya dia melihat suaminya menangis.
Jemima tetap bergeming selama beberapa saat. Tidak ingin menghapus momen ini. Dia membiarkan Alek menangis sampai puas. Hingga seluruh beban kesedihan yang suaminya rasakan terangkat. Mereka tetap seperti itu sampai gemuruh di dada mereka mereda.
Jemima melihat Alek mengangkat kepalanya dan menghapus titik air mata yang masih tersisa tanpa menyadari bahwa dia melihat itu semua. Alek kemudian juga menghapus sisa-sisa air matanya yang tumpah di tangannya.
Jemima langsung meremas tangan Alek yang membuat suaminya itu mendongakkan kepala menatapnya. Ada rasa malu di mata itu.
Jemima melepaskan tangan Alek dan mengelus pipi suaminya dengan punggung tangan. Seperti berusaha menenangkan sementara dia sendiri tidak tenang dengan apa yang akan dia katakan.
Setelah mengambil napas beberapa kali, Jemima akhirnya angkat bicara.
“Mereka bilang kemungkinannya untuk selamat kecil, Alek.” Jemima berusaha untuk terdengar biasa. Dengan suaranya yang masih lemah dan bergetar dia kembali berujar.
"Dokter itu mengatakan guncangan yang aku alami selama beberapa hari ini berpengaruh buruk pada kandunganku. Mereka memang belum bisa memutuskan dengan pasti. Tapi banyak kemungkinan yang mengatakan bahwa janin ini tidak akan selamat.”
Setelah itu, giliran dirinya yang menangis tersedu.
__ADS_1