Perfect Oracle

Perfect Oracle
Final Decision


__ADS_3

Ketika Jemima terbangun, tempat di sisinya sudah kosong. Apa Alek sudah berangkat? Tapi kelihatannya hari masih terlalu pagi untuk pergi ke kantor.


Jemima melihat jam di atas nakas. Belum ada jam tujuh. Dia segera bangkit dari ranjang dan menuju kamar mandi. Pusing yang melandanya sudah menghilang. Tubuhnya juga sudah lebih baik daripada kemarin.


Selesai mandi, Jemima merapikan tempat tidur.


"You're awake." Jemima menoleh mendengar suara Alek. Suaminya tersenyum dan terlihat sangat tampan meskipun hanya dalam balutan celana jins selutut dan kaus polo.


"Aku pikir kamu sudah berangkat ke kantor." Jemima melanjutkan pekerjaannya membereskan kamar.


"Sepagi ini? Hari ini aku tidak ke kantor."


Jemima menaikkan alis. "Kenapa?"


"Kamu sakit. Dan aku tidak akan meninggalkanmu sendirian."


"Aku sudah sembuh, Alek."


Suaminya menggeleng. "Aku tetap tidak akan pergi ke mana-mana hari ini."


Jemima mengalungkan kedua tangannya ke leher Alek. Memberikan ciuman singkat di bibir. "Terserah kamu saja."


Ciuman singkatnya berbalas. Namun Alek cepat menyudahinya. "Aku membawakanmu sarapan. Sebaiknya kita makan dulu. Setelah itu minum obatmu."


"Aku sudah sembuh. Tidak perlu minum obat lagi."


"Jangan membantah." Alek menggandeng tangannya menuju sofa. Kemudian menyuapinya hingga dia kenyang.


"Kita kencan saja hari ini." Ajak Alek tiba-tiba.


Tawa Jemima membahana. "Kencan?"


"Sejak pertama kita menikah, kita belum pernah kencan."


Jemima masih saja tertawa mendengar ide dadakan Alek. "Kamu pernah membawaku ke Paris," katanya setelah tawanya reda.


"Untuk bisnis," balas Alek cepat. "Kali ini aku ingin kencan yang sebenarnya."


Jemima menimbang-nimbang sebentar ide suaminya. Jika dipikir-pikir, mereka berdua memang tidak pernah pergi berkencan setelah menikah. Jadi, dia menganggukkan kepalanya tanda setuju.


——


Alek membawanya berjalan-jalan menyusuri sungai Thames. Tujuan pertama mereka adalah Big Ben. Mereka sengaja tidak membawa mobil. Jemima yang mengusulkan.


Mereka naik tube dengan tujuan Stasiun Westminster. Setelah sampai, mereka berjalan kaki menuju Big Ben yang terletak di Gedung Parlemen. Dari Big Ben, mereka naik cruise menyusuri Sungai Thames menuju Tower of London.


Memasuki awal musim gugur udara masih sedikit bersahabat. Hembusan angin yang tidak terlalu kencang serta suhu yang tidak terlalu panas. London masih saja sesak dengan wisatawan. Tidak pernah tidak. Dua sejoli ini berbaur bersama kerumunan yang juga ingin menikmati sisa matahari.


Jemima menghabiskan banyak waktu hanya untuk mengambil gambar-gambar yang dianggapnya menarik. Dalam setiap kesempatan, dia juga mengambil banyak gambar Alek di saat suaminya sedang tidak memperhatikan.


Sepanjang jalan juga mereka habiskan untuk menyicip makanan yang dijual di pinggiran. Berjalan sembari saling menyuapi. Saling mencuri ciuman di setiap kesempatan. Tidak peduli tatapan mata yang memandang iri.


Restoran-restoran penuh sesak. Alek menyuruh Jemima untuk melihat-lihat toko yang banyak menjual suvenir-suvenir cantik sementara dirinya membeli minuman.


" Thank you, honey." Jemima melesat pergi ke toko suvenir terdekat setelah mendaratkan ciuman di bibir Alek.


"Hi, Jem." Jemima menoleh mendengar suara yang sudah beberapa minggu ini tak didengarnya.

__ADS_1


"Max." Suara Jemima pelan. Dia tidak menyangka akan bertemu lelaki ini di sini. Di saat dia sedang bersama Alek. "What are you doing here?"


Max melebarkan bibirnya, tersenyum. "Sama sepertimu. Aku jalan-jalan."


"Oh. Maaf, Max. Aku harus kembali ke sana. Sepertinya Alek sudah selesai membeli makan siang kami."


Jemima bergegas meninggalkan Max ketika dia mendengar laki-laki itu berkata," Jangan pernah mencoba untuk menghindariku lagi, Jem." Jemima berhenti. Punggungnya masih menghadap Max. "Aku tahu kalau selama ini kau menghindariku," lanjut lelaki itu.


"I'm sorry, Jemima. Seems like i like you a lot. I can't get you out of my mind after that night." Jemima mengerti apa yang dimaksud Max. Malam di mana mereka berciuman. Malam di mana Alek mengalami kecelakaan.


"Max, please." Jemima segera berbalik dan menghadapi Max. Dia tidak mau terjadi salah paham di antara mereka. "I have Alek. And I love him to death. Masih banyak wanita lain yang pantas untuk kau dapatkan. Tapi itu bukan aku."


"I know. Tapi tetap saja..hanya ada kau di sini." Lelaki itu menunjuk kepalanya.


"Dan di sini." Kemudian menunjuk dadanya.


Jemima menelan ludah. Bingung mengungkapkan penolakan. "Maaf, Max." Akhirnya hanya itu yang bisa dia ucapkan.


"Jadi begitu. Tadinya aku berpikir setelah apa yang kau alami dengan Alek, seperti yang pernah kau ceritakan padaku, masih ada kesempatan untukku mendekatimu."


Jemima menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar penjelasan Max. "No, Max. Sekali lagi aku minta maaf kalau aku pernah membuatmu berpikiran seperti itu."


Jemima melihat lelaki di hdapannya memejamkan mata dan menghela napas panjang. Terlihat sekali bahwa Max berusaha mengusir rasa kecewanya.


"Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan lagi mengganggumu dan suamimu." Jemima menggigit bibir. "Bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir kali?"


"Max!" protesnya.


"Just for this time. I promise." Jemima akhirnya mengalah. Saat Max memeluknya, satu-satunya yang ada di pikiran Jemima adalah semoga Alek tidak melihat kejadian ini. Dia tidak mau hubungannya dengan Alek kembali keruh hanya karena salah paham.


Jemima menghembuskan napas lega. Setidaknya, satu masalah terselesaikan. Kini, tinggal satu masalah lagi. Bagaimana dia membujuk Madam Rowena untuk mengubah pikirannya agar tidak memaksanya bercerai dengan Alek.


——


"We'll get divorce as soon as possible, Jemima." Itulah kalimat pertama yang diucapkan Alek ketika mereka baru saja menginjakkan kaki di rumah sepulang dari kencan. Jemima sampai menjatuhkan tasnya karena kaget dengan apa yang baru saja diucapkan Alek.


"Excuse me?" tanyanya sembari mengambil tas yang terjatuh di lantai.


"You heard me the first time. Aku akan membebaskanmu, Jemima. We'll get divorce dan kamu bisa hidup bersama Max sesuai harapanmu."


Jemima ternganga mendengar penjelasan Alek. "Are you crazy? Apa yang terjadi padamu? Jangan melemparkan lelcon sembarangan!"


"Aku tidak sedang bercanda, Jem. Bukankah ini yang kamu inginkan? Bercerai denganku? Nenekku yang mengatakannya."


Kini Jemima percaya bahwa Alek tidak sedang main-main. Wanita sialan itu benar-benar sudah keterlaluan.


"Dengarkan aku..."


"Kamu tidak perlu mengatakan apapun," potong suaminya cepat. "Ini keputusanku. Kita akan mengakhiri pernikahan kita. Berikan saja alamatmu setelah kamu meninggalkan rumah ini. Berkas-berkas perceraian kita akan aku kirimkan ke alamat barumu."


"Kamu mengusirku?" Jemima berteriak. "Ya Tuhan. Jangan bercanda, Alek! Aku tidak ingin bercerai denganmu. Kumohon dengarkan aku. Ini semua..."


Jemima tidak melanjutkan kata-katanya ketika melihat Alek berbalik ke luar rumah menuju mobilnya dan melesat pergi.


Sebenarnya apa yang baru saja terjadi? Jemima masih belum percaya dengan apa yang dialaminya. Kejadiannya begitu cepat. Alek bahkan tidak mau mendengarkan dia berbicara.


Dan Alek juga menyuruhnya pergi dari rumah ini. Demi Tuhan. Suaminya mengusirnya!

__ADS_1


Jemima memutuskan untuk menunggu hingga Alek pulang dan berbicara lagi padanya. Dia tidak ingin pernikahannya hancur begitu saja tanpa ada usaha untuk mempertahankan. Tapi bagaimana jika usaha itu hanya datang dari dirinya sementara Alek diam saja?


Isakan tertahan keluar dari tenggorokan Jemima. Jika Alek memang tidak menginginkan pernikahan ini dilanjutkan, itu tandanya semua usahanya akan sia-sia. Tentu saja Alek pasti masih menginginkan pernikahan mereka baik-baik saja. Bukankah Alek juga mencintainya?


Benarkah Alek mencintainya? Lelaki itu bahkan belum pernah mengucapkannya.


Tiba-tiba Jemima merasa sangat lelah. Dia memutuskan untuk pergi ke kamar dan beristirahat sebentar sambil menunggu kepulangan Alek. Namun, belum sampai melangkahkan kakinya, rasa pusing melanda. Dia harus memejamkan matanya rapat-rapat untuk mengusir rasa pusing tersebut. Untung saja hal ini hanya bertahan selama beberapa detik saja.


Jemima lantas melangkah pelan menuju kamar. Menunggu Alek.


Penantiannya sia-sia. Dua hari menunggu tidak pernah ada artinya. Seluruh panggilannya ditolak. Alek tidak pernah pulang ke rumah.


Karena inilah, Jemima berpikir bahwa Alek memang sudah tidak menginginkannya lagi. Dengan berat hati Jemima menyatakan bahwa pernikahannya memang sudah benar-benar berakhir.


——


Selama dua hari Alek mencoba menghindar dari Jemima. Tidak menjawab telepon. Tidak pulang ke rumah. Dan memutus akses Jemima untuk bertemu dengannya.


Jika dia pulang ke rumah dan bertemu lagi dengan istrinya, Alek yakin bahwa dia akan menjilat ludahnya sendiri dan tidak akan membiarkan Jemima pergi.


Aku tidak ingin bercerai denganmu.


Bullshit.


Bagaimana bisa Jemima mengatakan itu ketika hatinya menginginkan sebaliknya? Alek dengan jelas melihatnya berpelukan mesra dengan Max. Dia bahkan juga bisa melihat kesedihan yang ada di mata istrinya ketika dia dengan Max berpisah.


Satu kali pengkhianatan sudah cukup. Dua kali adalah bencana.


Istrimu ingin bercerai.


Satu kalimat dari neneknya membenarkan segalanya. Seandainya saja dia tidak menghubungi neneknya pagi itu. Mungkin Alek akan menutup mata sekali lagi. Membiarkan Jemima tetap berada di sisinya.


Apakah patah hati memang sesakit ini? Emosinya menjadi tak terkendali. Mengumpat sejadi-jadinya. Mengurung dirinya di kamar hotel. Serta mengabaikan semua orang.


Satu kalimat yang terucap dari mulutnya sendiri berhasil membuatnya sesak.


Dia mengusirnya. Dia mengusir Jemima. Padahal dia tahu Jemima tidak mengenal siapapun di London kecuali dirinya dan segelintir orang yang sudah dikenalkannya.


Alek mengerang membayangkan istrinya yang harus mencari tempat tinggal sendiri di jalanan London. Tidak seharusnya dia melakukan ini. Tidak pada Jemima.


Alek tahu bahwa selama dua hari ini Jemima masih berada di rumah mereka. Mencoba menghubungi dan mencarinya.


Dia memutuskan untuk pulang dan mengatakan pada Jemima bahwa dia bisa tinggal di rumah mereka sampai proses perceraian mereka selesai. Hanya ini yang bisa dia lakukan untuk saat ini.


Tanpa pikir panjang Alek segera beranjak dari hotel menuju rumah. Dia tidak mungkin tega membiarkan Jemima terlantar di London.


Sesampainya rumah dia langsung ke kamar mencari Jemima. Kamar itu gelap. Tidak ada satu cahayapun yang menerangi. Tirainya tertutup rapat. Alek mengambil napas dalam-dalam sebelum akhirnya memberanikan diri untuk memanggil istrinya.


Alek mengira bahwa Jemima sudah tidur ketika dia tidak juga mendengar sahutan. Alek berbalik menuju pintu dan menyalakan sakelar lampu yang ada di dinding dekat pintu.


Kosong.


Tidak ada tanda kehidupan di dalam kamarnya. Seketika hati Alek berdebar kencang. Perasaan tidak enak menyelusup hatinya. Dia langsung berjalan menuju lemari pakaian. Hanya ada pakaian-pakaiannya yang terjajar rapi di sana dan beberapa gaun yang dia belikan untuk Jemima.


Entah sejak kapan hal ini berlangsung. Tapi satu hal yang pasti, Jemima sudah tidak ada di rumah ini.


Istrinya benar-benar sudah pergi.

__ADS_1


__ADS_2