
Setelah menunggu lama, akhirnya hasil putusan sidang keluar. Max dan Xander harus mendekam di penjara seumur hidup mereka. Ganjaran yang memuaskan. Mengingat apa yang mereka lakukan terhadap dirinya dan Jemima.
Setelah kejadian penembakannya, polisi bergerak cepat. Max dan Xander kalah jumlah. Mereka diringkus setelah Matthew dan Arthur berhasil membuat wajah keduanya babak belur.
Dan proses persidangan yang lama pun berlangsung. Hingga hari ini hasil putusan sidang akhirnya selesai.
"Kau akan langsung pulang?" Mereka berkumpul di depan gedung persidangan.
"Jemima menungguku di rumah. Aku tidak bisa meninggalkannya lama-lama."
Ucapannya menimbulkan tawa. "Masih ada dua bulan ke depan, Alek. Kau terlalu khawatir."
Alek mencibir. "Berengsek! Kalian akan rasakan sendiri nanti jika sudah punya istri. Dan sedang hamil besar, seolah-olah perutnya bisa meledak kapan saja."
Tawa mereka tidak terbendung. "Rileks, Alek. Istrimu akan baik-baik saja. Tidak perlu pucat seperti itu."
"Terserah kalian. Aku pulang." Alek berbalik dan melambaikan tangan. Kemudian dia berhenti dan membalikkan tubuhnya lagi.
"Kerjamu hari ini bagus, Gadis Kecil. Terima kasih." Yang dipuji menundukkan kepala. Tersipu.
Alek hanya tertawa kecil dan melanjutkan langkah. Benar yang dikatakan Jemima, gadis itu menyukainya.
Gita itu gadis yang baik. Sayang, Alek tidak bisa melirik wanita lain selain istrinya. Hatinya sepenuhnya milik Jemima. Dan dia cukup bahagia dengan kenyataan ini.
——
Jemima memasang senyum gembira mendengar langkah kaki memasuki ruang tengah. Suaminya pulang.
"Aku sudah mendengar hasil sidangnya. Kamu tidak merayakannya bersama Matt dan Arthur?"
Satu ciuman panjang diterima bibir Jemima. "Aku lebih memilih pulang kepadamu, Nyonya. Kamu baik-baik saja?"
Jemima memutar bola matanya. Sudah berkali-kali dia bilang tidak perlu khawatir. Alek tetap Alek. Lelaki itu tidak akan pernah berhenti menanyakan kabarnya setiap menit.
Jemima tahu sikap Alek tersebut hanya dikarenakan trauma terhadap apa yang menimpa Ibu dan Kakaknya. Karena itulah dia selalu mencoba bersikap setenang mungkin dan tidak pernah mengeluh. Keluhan sedikit saja bisa membuat wajah Alek pucat pasi.
Jemima mengelus perutnya yang membuncit. Hamil tujuh bulan membuat tubuhnya mengalami perubahan-perubahan besar. Terutama berat badannya yang naik drastis.
“Kamu yakin kita tidak perlu ke rumah sakit? Sejak kemarin kamu mengeluhkan punggungmu yang pegal, bukan?” Jemima menggeleng menjawab pertanyaan suaminya.
__ADS_1
“I am okay, Alek. Punggung pegal itu biasa bagi Ibu hamil.” Jemima berusaha menenangkan. “Buatkan saja aku teh, please?”
Jemima tersenyum melihat Alek yang langsung melesat pergi menuju dapur.
“Here is your tea.” Alek menyodorkan teh yang tadi Jemima minta. Dia mengucapkan terima kasih dan menyesap tehnya perlahan.
“Anything else?” tanya suaminya lagi.
Jemima terlihat berpikir sebentar kemudian mengangguk.
“What?”
“You.”
Alek terkekeh pelan mendengar jawaban Jemima. “You already have, Ma'am.”
Jemima balas tertawa mendengar bualan suaminya. Rasanya benar-benar bahagia. Alek mengambil cangkir yang ada di tangannya dan meletakkannya di meja. Setelah itu suaminya mendaratkan ciuman mesra di bibirnya, membuatnya mengalungkan kedua lengannya di leher Alek.
“I love you, baby.”
“I love you more.” Jemima membalas mantap.
Enough. It is enough.
——
Madam Rowena menyesap green tea-nya perlahan. Senyum simpul tercetak di sudut bibirnya ketika melihat siapa yang saat ini sedang berjalan menghampirinya.
"Apa kabar? Sudah satu tahun, bukan?" Madam Rowena meletakkan cangkirnya dan mempersilakan wanita di hadapannya duduk.
Wanita itu masih terlihat sama seperti satu tahun yang lalu. Topi rajut merah marun yang biasa dia pakai juga masih menghiasi kepalanya. Bahkan, tidak ada tambahan keriput tanda penuaan pada wanita ini.
"You look good, Rowena." Wanita itu mengambil tempat di hadapan Madam Rowena.
"Same as you, Esme. Happiness makes life better and longer I thought." Kedua wanita itu, yang sama-sama berumur lebih dari 70 tahun, tertawa bersamaan.
"Apa yang membuatmu kembali ke kota ini, Esme?"
"Untuk menyatukan apa yang belum bersatu." Madam Rowena menaikkan alisnya tak mengerti.
__ADS_1
"Well, sepertinya cucuku...."
"Cucumu sudah menemukan kebahagiaannya, Rowena. Jangan khawatir. Aku kembali ke kota ini bukan untuk cucumu, tapi mereka."
Madam Rowena mengikuti lirikan mata wanita yang dipanggil Esme ini dan menggelengkan kepala. Seorang lelaki dan wanita berjalan di depan kedai tempat mereka bertemu. Mereka berjalan semakin menjauh.
"Apa kau yakin?"
"Kau tidak percaya pada ramalanku?"
"Ramalanmu tidak pernah meleset, bukan? Kita buktikan saja lagi untuk yang satu ini." Lalu kedua wanita itu tertawa lepas penuh kebahagiaan.
-FIN-
Note (Dari Pengarang) :
Menulis cerita dan menyelesaikannya tidak pernah semenyenangkan ini!
Saya pernah hampir mengubur mimpi saya untuk menjadi penulis. Kenapa? Ada banyak alasan. Beberapa draf novel remaja dan cerpen saya banyak yang berhamburan. Saya biarkan mereka hilang begitu saja. Tidak pernah benar-benar menyimpannya atau mencarinya.
Sewaktu lulus kuliah, ide cerita ini sudah jadi. Hanya saja tidak ada semangat untuk menuliskannya. Akhirnya, tahun 2012, saya (tidak sengaja) membaca Orange karya Windry Ramadhina dan berteriak kegirangan. Entah kenapa, waktu itu dengan membaca sedikit profil penulis di halaman belakang sampul Orange membuat semangat saya meletup. Saat itu juga saya memutuskan untuk mengagumi penulis ini. Dan ingin membuat karya seperti dirinya.
Saya mulai menulis kisah Alek-Jemima di tahun 2012. Dan menyelesaikannya tahun 2014. Ini bukan novel pertama yang saya tulis, tapi menjadi yang pertama saya selesaikan. (Jangan tanyakan novel saya sebelumnya di mana. Draf-nya pun sudah hilang. Tidak berbekas.)
Untuk itulah saya ingin mengucapkan terimakasih yang paling spesial untuk Mbak Windry Ramadhina. Atas buku-bukunya yang sangat menginspirasi. Untuk obrolan siang itu di Gedung Arsitektur dan memperkenalkan saya sebagai temannya. I'll send this love for you, Mbak. 😘
Terimakasih untuk semua pembaca di mangatoon, baik yang menyempatkan untuk memberikan komentar, memberikan like, atau sekadar menjadi silent reader. Dukungan kalian sangat berarti. Terimakasih, terimakasih, terimakasih. Dan terimakasih untuk mangatoon yang mau menjadi rumah untuk Novel saya.
Dengan ini, cerita Alek-Jemima saya nyatakan berakhir. Sampai jumpa di novel-novel saya selanjutnya. 😘
__ADS_1