Perfect Oracle

Perfect Oracle
One Step Closer


__ADS_3

Alek menyilangkan tangan di depan dada. Tubuhnya bersandar pada pintu kulkas. Melihat Jemima yang sedang memasak sarapan untuk mereka adalah hal yang baru.


Mereka bangun kesiangan. Dan membuatnya harus membatalkan segala urusan kantor. Akhirnya Alek memutuskan untuk tidak masuk kantor sekalian.


"Aku benar-benar tidak percaya ini."


Alek menaikkan alis mendengar nada kesal dalam suara Jemima. Wanita itu menyudahi aksi potong memotongnya dan membalikkan badan.


"Kenapa kamu tidak memberitahuku dari awal?"


"Kamu tidak pernah membahasnya."


"Memangnya bagaimana caraku membahasnya? Seolah-olah kita sudah saling mengenal layaknya teman dan membahas ini itu. Damn you, Alek!"


Wanita itu membanting pisau di genggamannya ke atas meja dapur. Membuat cengiran di wajah Alek. Istrinya ini sepertinya terlihat sangat menyeramkan ketika marah.


"Honey, why don't you sit down and let Pavita cook for us?"


"Apa aku terlihat bodoh di matamu saat ini?" Wanita itu tiba-tiba saja sudah berada di depannya. Pisau yang tadi sempat dia banting kini berada di tangannya lagi. Sementara tangan kirinya berada di pinggang, tangan kanannya mengacungkan pisau penuh nafsu.


"Wow. Jemima, tidakkah benda di tanganmu itu terlihat berbahaya?" Alek mengangkat kedua tangannya di depan Jemima. "Bisakah kamu meletakkan pisau itu dan kita bicara baik-baik?"


Istrinya tampak kaget melihat pisau yang terangkat ke arahnya. Wanita itu menutup mata dan menghela napas panjang. Terlihat sedang berusaha meredakan emosi. Pisau yang ada di genggamannya kemudian ia letakkan kembali ke atas meja dan duduk di salah satu kursi makan.


"Ya Tuhan. Dalam hati pasti saat ini kamu masih menertawakanku." Jemima menyembunyikan wajahnya di antara telapak tangan.


Benar saja. Saat ini Alek memang sedang menertawakan istrinya dan berusaha sekuat tenaga menahannya. "Apa yang semalam belum cukup? Kamu mengomel tanpa henti hingga pagi, Jemima. Dan membuat kita bangun kesiangan."


"Ya! Karena aku merasa dibohongi dan dibodohi oleh nenekmu." Mata Jemima kini terlihat berkaca-kaca. Dia menggigit bibir bawahnya, kebiasaan ketika dia sedang marah, bingung, ataupun ketakutan.


Alek terbatuk pelan. Berusaha menyamarkan tawanya. Dia berjongkok di depan Jemima dan menggenggam tangan istrinya. Berusaha menenangkan.


"Nenekku—tidak bisa disalahkan atas hal ini. Dia bahkan tidak pernah mengatakan kepadamu bahwa dia mafia, bukan? Lelaki yang kamu temui malam itulah yang mengatakannya."


Jemima masih saja terlihat masam. Tidak peduli dengan penjelasan panjang lebar yang dia ungkapkan. Ini pertama kalinya Jemima merajuk. Dan Alek sadar, bayangan indahnya tentang menikmati sarapan berdua yang dibuat oleh istrinya seketika buyar. Dia harus melakukan sesuatu untuk membuat wanita di hadapannya ini kembali tersenyum.


"Ayo kita pergi." Alek menarik kedua tangan Jemima agar berdiri.


Istrinya mengerutkan alis. Terlihat malas menerima ajakannya. "Ke mana?"


Alek tersenyum penuh makna. Pelan dia mengecup kening istrinya. "Kita tidak boleh menyia-nyiakan tiket yang sudah dibelikan nenek. We'll go to honeymoon."

__ADS_1


——


Jemima tidak henti-hentinya mengumpat dalam hati. Seharusnya sejak awal dia tidak percaya pada Alek. Lelaki sialan itu meninggalkannya sendirian begitu mereka sampai di hotel. Sepanjang perjalanan dari Charles De Gaulle menuju hotel dihabiskan suaminya dengan mengangkat telepon dan membalas surel. Lelaki itu sudah bersikap tak acuh padanya dan membuatnya kesal setengah mati.


"Jemima, this is Matthew. You can call him Matt. I know that you both have known each other. But, I never introduce you properly."


Jemima mengingat dengan jelas perkenalan 'resmi' nya dengan teman Alek yang bernama Matthew tadi setibanya mereka di hotel. Tentu saja dia sudah tahu siapa Matthew ini. Lelaki yang dulu menjadi best man Alek ketika mereka menikah. And—yes. Mereka kala itu memang tidak diperkenalkan secara pantas oleh Alek.


Lelaki berkacamata yang seusia suaminya itu tampak tidak begitu bersahabat. Banyak kesan misterius yang tersirat oleh matanya. Jemima bersikap sesopan mungkin meskipun sebenarnya dia kurang nyaman dengan tatapan Matt. Entah mengapa, dia merasa ada sesuatu yang berbahaya dalam diri pria itu.


Di dalam kamar hotelnya, Jemima tidak bisa beristirahat dengan tenang. Semenjak Alek pergi dengan pria itu, pikirannya justru teralihkan. Siapa pria itu dan kenapa Alek bisa terlihat begitu mempercayainya? Instingnya kali ini mengatakan untuk pergi dan mengikuti mereka berdua.


Awalnya dia ragu. Tapi, rasa penasaran selalu menang, bukan? Meskipun Alek sudah meninggalkan hotel cukup lama, dia tetap melangkahkan kaki untuk mencari tahu keberadaan suaminya.


At least, she will act like her favourite detective ever, Sherlock Holmes.


——


Jemima berputar-putar hampir satu jam lamanya ketika akhirnya dia melihat sosok Alek dan Matt duduk di sebuah restoran mewah yang letaknya cukup jauh dari hotel. Pantas saja dia sulit menemukan mereka. Ketika dia akan berjalan menuju restoran tempat Alek berada, seseorang tiba-tiba menepuknya dari belakang.


"Maximillian! What are you doing here?" Jemima sontak memeluk teman lamanya. Hatinya benar-benar girang atas pertemuan tak terduga ini.


"Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini?" Lelaki di hadapannya melepaskan pelukan mereka dan ikut tertawa senang. Sebuah lesung kecil hadir di bawah mata kanan lelaki itu. Membuat Jemima menggigit bibir, kagum akan ketampanannya.


Sesuai dugaannya. Max-begitu dia memanggilnya-terlihat kaget. "Are you married now?"


Jemima mengangguk. Membuat lelaki dengan rambut pirang ini menggeleng tidak percaya.


"Aku rasa kita perlu banyak bicara hari ini. Ayo! Aku akan mentraktirmu kopi di kedai sebelah sana." Tanpa menunggu jawaban Jemima, lelaki itu langsung menggamit lengannya menuju tempat yang dituju.


"Katakan dengan siapa kau menikah. Dan kenapa kau tidak pernah memberitahuku?"


Jemima menimbang-nimbang jawabannya. Pasalnya, Max mengetahui dengan jelas tentang Madam Rowena. Karena Max inilah lelaki yang waktu itu Madam Rowena maksud.


"Aku menikahi cucunya."


"Sorry?" Kerutan tampak di dahi Max.


"Aku menikahi cucu dari nenek yang waktu itu aku ceritakan."


Lelaki itu menyipitkan mata. Tampak berpikir dengan keras siapa nenek yang dia maksud. "I don't get it, Jemima. Why don't you just—Oh My God! You mean that Grandma?"

__ADS_1


Jemima menganggukkan kepalanya berulang-ulang.


"Are you kidding me?" Kali ini dia berganti menggelengkan kepala. "Oh. Shit!" Kepalanya kembali mengangguk mendengar umpatan dari mulut Max.


"Bagaimana bisa, Jem?"


Jemima menyesap kopinya dan menjawab," Ceritanya panjang."


"Dan sayangnya saat ini istriku tidak punya waktu banyak untuk bercerita padamu."


——


Kemarahan Jemima kemarin membuatnya menyadari sesuatu. Terlalu banyak hal yang belum istrinya ketahui tentang dirinya. Memang benar waktu itu mereka sudah bercerita tentang siapa dirinya dan pekerjaannya. Alek tahu itu semua belum cukup. Mereka membutuhkan waktu berdua saja untuk lebih dekat mengenal satu sama lain.


Saat itulah dia teringat tiket yang neneknya lempar di meja ruang tengahnya. Dan dengan cepat Alek merencanakan bulan madunya yang tertunda. Unfortunately, bulan madu yang dia harapkan tidak berjalan sesuai rencana.


Dalam perjalanan menuju Paris, Matthew tiba-tiba meneleponnya dan memberikan kabar buruk. Dia benar-benar merasa bersalah ketika harus meninggalkan Jemima sendirian di kamar hotel. Sementara dirinya di sini berbicara masalah bisnis yang sedang dia hadapi.


Padahal, dengan kemarahan yang diperlihatkan istrinya kemarin, membuatnya ingin kembali mengukir senyum di wajah Jemima. Kenyataannya, raut wajah istrinya semakin berubah kesal ketika dalam perjalanan menuju hotel dia sibuk sendiri dengan surel dan telepon yang masuk.


Bukannya dia tidak tahu kalau saat itu Jemima kembali marah. Tapi, urusannya dengan Matt saat ini benar-benar tidak bisa dia abaikan. Matt yang sebenarnya sedang berada di Roma pun langsung menyusulnya ke Paris. Lelaki itu bahkan sudah menunggunya di lobi hotel ketika mereka tiba.


"Kita bicarakan lagi nanti urusan kita Matt."


"Apa?" Ucapannya yang tiba-tiba menimbulkan protes dari mulut Matt.


Terpaksa. Dia langsung kehilangan konsentrasi ketika melalui jendela kaca dia melihat dengan jelas Jemima sedang berpelukan dengan lelaki asing. Tiba-tiba saja emosinya memuncak. Karena itulah dia menyudahi pembicaraannya dengan Matthew dan berlari keluar menyusul istrinya.


"Alek! Ada apa?"


Dia bahkan tidak menghiraukan ketika Matt menanyakan apa yang terjadi. Yang ada di pikirannya saat ini, mereka sedang berada di negara asing. Dan Jemima di luar sana sendirian bersama lelaki yang juga asing.


Seketika Alek teringat akan kejadian di hari pertama mereka kembali ke London dan sms ancaman yang menyertainya. Rasa panik luar biasa mengambil alih kerja otaknya. Berbagai macam pikiran buruk mengikuti.


Calm down, Alek. Istrimu bahkan berpelukan dengan lelaki itu. Tandanya, istrimu kenal dekat dengannya.


Berengsek! Suara di dalam kepalanya semakin memperparah emosinya.


Alek memasuki kedai tanpa sepengetahuan Jemima. Dan langsung memotong pembicaraan mereka.


"Dan sayangnya saat ini istriku tidak punya waktu banyak untuk bercerita padamu."

__ADS_1


Setelah mengucapkan itu, Alek langsung menarik istrinya berdiri dan tidak menghiraukan umpatan demi umpatan yang dilontarkan Jemima untuknya.


__ADS_2