Perfect Oracle

Perfect Oracle
Pull The Trigger


__ADS_3

Jemima terbangun dengan kepala berputar. Tubuhnya seakan remuk ditimpa berkarung-karung beras. Begitu pegal di sana-sini. Ditambah lagi rasa mual ketika memaksa dirinya bangun hanya untuk sekedar duduk.


Kombinasi antara hangover dan kelelahan akibat pesta pernikahan semalam bukanlah hal yang bagus.


Jemima melirik jam di atas nakas. Tujuh kurang seperempat.


Nakas? Wait—


Masih dengan kepala sedikit pusing Jemima melihat sekeliling. Dia berada di kamar hotel. Since when? Bukankah semalam dia ada di luar? Lantas bagaimana bisa dia berada di kamar hotelnya sekarang?


Rasa mual sekali lagi menyerangnya. Jemima memejamkan mata rapat-rapat. Berharap mual dan pusing yang dialaminya menghilang.


Dengan memegangi kepalanya, Jemima berjalan menuju kamar mandi. Ketika itulah dia melihat satu gelas air mineral dan pil tersedia di meja.


Drink this.


Begitu yang tertulis di secarik kertas yang diletakkan di bawah gelas.


Jemima menimbang-nimbang apakah dia akan meminumnya atau tidak. Dia tiba-tiba saja sudah berada di kamar hotel dan ditinggali obat. Bisa jadi obat ini racun.


"Kamu sudah bangun? Aku bermaksud meninggalkan pesan itu agar kamu meminumnya."


Jemima menoleh dan mendapati seorang lelaki-yang baru saja dia ingat sebagai suaminya- berdiri hanya dengan memakai celana pendek. Tanpa kaos. Tanpa alas kaki. Dan rambutnya basah.


"Itu bukan racun. Dan obat itu akan membantu mengurangi mual dan pusingmu."


Jemima masih bergeming. Sementara lelaki di hadapannya mengenakan jubah untuk menutupi tubuh atasnya yang telanjang. Dan melingkarkan handuk di lehernya.


"Kalau aku jadi kamu—aku akan langsung meminumnya."


Jemima menelan ludah. Dia teringat kejadian semalam dan rasa takut yang menghinggapinya. Ketakutan itu kini hadir kembali hanya dengan menatap mata hijau di depannya.


Sedikit gemetar, Jemima mengambil pil itu dan menelannya. Saat ini dia berharap yang diminumnya adalah racun. Sehingga dia mati dan terbebas dari ancaman yang diperlihatkan lelaki ini.


"Good," ujar Alek sembari tersenyum. "Setelah ini mandi dan buat dirimu segar. Aku akan menunggumu di dekat kolam renang untuk sarapan."


Dan setelah mengucapkan itu, Alek meninggalkan kamar.

__ADS_1


Tanpa sadar Jemima menghembuskan napas lega. Entah kenapa berada di dekat suaminya lama-lama membuatnya sesak.


Jemima menunggu sebentar. Berpikir kalau obat yang diminumnya benar-benar racun dan akan membunuhnya saat ini juga. Sayang sekali, Tuhan masih berbaik hati dan berangsur mualnya hilang.


Jemima akhirnya memutuskan untuk mandi dan menyusul Alek menuju kolam renang.


——


Alek mengayun lengannya kuat-kuat. Entah sudah berapa putaran dia berenang. Dia ingin mendinginkan seluruh tubuhnya. Mulai dari kepala sampai ujung kaki.


Alek tak menghiraukan jeritan tubuhnya yang mulai kelelahan. Karena jika dia berhenti, dirinya akan teringat kejadian semalam dan dia tidak ingin mengingatnya.


Resepsi. Pesta. Pernikahan sialan ! Ditambah lagi pengantin wanita yang mabuk-mabukan dan tidak sadarkan diri.


Ketika akan memulai lagi putaran berikutnya, Alek melihat istrinya berjalan mendekat.


"Oh, shit!!" umpatnya.


Dengan terpaksa Alek menghentikan kegiatan renangnya dan keluar dari kolam. Dia mengambil handuk dan melilitkannya di seputar pinggang.


Dari pinggiran kolam, Alek memandangi istri barunya. Wanita itu tidak banyak bicara semenjak kemarin mereka menikah. Berbeda dari cerita neneknya yang mengatakan bahwa wanita—yang sekarang berdiri tidak jauh darinya ini—mempunyai jiwa pemberontak.


"Kamu hanya akan berdiri di situ atau duduk untuk sarapan bersamaku?"


Alek mulai berjalan mendekat, menarik satu kursi untuk istrinya. Dan dengan isyarat mata, dia menyuruh Jemima duduk.


Alek menggelengkan kepala menyadari sifat penurut yang diperlihatkan Jemima. Pikirnya ini membosankan. Dia justru berharap mendapatkan perlawanan dari Jemima agar pernikahan ini lebih menyenangkan.


Sepertinya Alek harus melakukan sesuatu mengenai hal ini.


Alek masih berdiri di belakang kursi yang diduduki Jemima ketika dia mengatakan, "Apa kamu benar-benar takut kepadaku, Jemima?"


Pertanyaannya hanya disambut dengan keheningan. Membuat Alek memejamkan mata dan mengetatkan rahang karena menahan emosi.


Sekali lagi Alek mencoba. Kali ini dengan cara yang berbeda. Dia membungkukkan badan sehingga kepala mereka sejajar. Perlahan, Alek menyibak rambut Jemima yang dibiarkan tergerai dan mengecup cuping telinga istrinya.


"Kamu tidak ingin menjawab pertanyaanku?" ucapnya lembut tepat di samping telinga Jemima.

__ADS_1


Berhasil. Jemima mulai bereaksi. Walaupun bukan dengan menjawab pertanyaannya.


Jemima terlihat menegakkan punggungnya. Alek juga melihat kedua tangan istrinya terkepal erat di atas pangkuannya.


Masih dengan posisi yang sama, Alek mendongakkan kepala Jemima ke arahnya. Memaksa mata mereka saling bertatapan. Tanpa menunda, dia langsung mencecap bibir istrinya. Pertama-tama dengan lembut. Lama-kelamaan, bibir Alek mulai menuntut lebih.


PLAK!


Alek langsung menghentikan ciumannya. Tubuhnya seketika berdiri tegak. Tangan kanannya refleks memegang pipi kirinya yang terasa panas.


Berengsek.


Alek mengumpat dalam hati. Di depannya, kini berdiri Jemima yang jauh berbeda dengan Jemima lima menit yang lalu. Dada wanita itu terlihat naik turun. Napasnya memburu. Mata cokelatnya menantang mata zamrud miliknya.


Ini bukanlah akhir seperti yang dia inginkan. Dia—ditampar istrinya sendiri di hadapan beberapa pelayan dan tamu hotel lainnya.


——


Pria di hadapannya mengetatkan rahang. Mata hijaunya tampak menyala penuh amarah. Entah keberanian darimana, dirinya bisa menampar Alek sekeras itu.


Dalam hati Jemima tertawa. Ketakutannya akan sosok Alek berangsur menghilang. Tubuhnya memang masih gemetar. Tapi, kali ini dengan gemetar yang berbeda.


"Aku—tidak takut padamu." Jemima menekankan setiap kata yang dia ucapkan.


Jemima mendekati suaminya yang masih berdiri mematung dengan bertelanjang dada. Sisa-sisa air mengalir di sepanjang tubuhnya.


"Semalam dan pagi ini aku memang ketakutan. Setengah mati ketakutan." Nada suaranya bergetar.


"Aku bahkan berharap kamu—, " Jemima menempelkan telunjuknya di dada Alek. "Atau nenekmu langsung membunuhku saja."


Dia mengambil napas untuk memberikan jeda. Tanpa Jemima sadari, air matanya sudah mengalir deras melewati pipinya.


"Tapi hari ini—melihat apa yang kamu lakukan pada diriku—aku memutuskan untuk melawan. Kamu ataupun nenekmu tidak bisa menyuruhku untuk melakukan semua hal sesuai kehendak kalian. Aku bukan budakmu, Alek. And will never be!"


Setelah menyelesaikan kalimatnya, Jemima berlari meninggalkan Alek. Persetan dengan semua mata yang kini tertuju padanya. Lagipula, ini bukan pertama kalinya dia menjadi pusat perhatian.


Sesampainya di dalam lift, tubuh Jemima merosot. Kakinya lemas sekali. Ditambah gemetar hebat yang sekarang melandanya. Air matanya bahkan semakin deras mengalir. Untungnya dia hanya sendirian di dalam lift.

__ADS_1


__ADS_2