
Pesta telah usai. Semua tamu maupun pihak keluarga sudah tidak ada yang tersisa. Jemima bersyukur karena semuanya berjalan dengan lancar. Kecuali satu hal.
Sikap suaminya yang jauh dari pikirannya.
Alek. Jemima mengira bahwa Alek kurang lebih sama dengan neneknya. Angkuh, berkuasa, dan misterius. Dan sepertinya dia salah.
Alek yang baru hari ini dia temui, benar-benar lelaki di luar dugaannya. Dia lebih ke seorang yang—romantis?
Tapi, itu adalah gambaran pikirannya sebelum Alek tiba-tiba saja menciumnya di depan semua orang. Hanya dengan satu ciuman saja, Jemima bisa merasakan bahwa suami barunya tidak lebih baik daripada neneknya.
Mereka sama-sama seorang penguasa. Hanya saja, Alek lebih bisa bermain dengan lembut. Dan—itu semua tercetak jelas dalam tatapan mata Alek serta seringai sinis yang dia tunjukkan sesaat sebelum menciumnya.
——
"Menungguku?"
Suara itu mengagetkan Jemima. Dia langsung menoleh dan seketika bertemu pandang dengan mata hijau itu lagi.
Jemima menelan ludah. Tidak tahu harus menjawab apa. Kenyataannya, dia memang sedang menunggu Alek.
Tapi menunggu untuk apa? Mungkin untuk sebuah penjelasan.
Lelaki itu pergi segera setelah pesta usai. Menyuruhnya—tidak, lebih tepatnya memerintahkannya untuk masuk ke kamar hotel lebih dulu.
Lama-lama Jemima muak. Duo nenek-cucu ini main perintah sesukanya. Apakah dia akan seperti ini terus tanpa melawan?
"Kenapa tidak menjawab, Manis?" Alek berjalan mendekat. Membuat degup jantung Jemima sedikit lebih cepat.
"Aku bertanya padamu," lanjutnya.
Jemima memalingkan wajah ketika punggung tangan Alek menyentuh pipinya. Matanya terpejam rapat. Dan dia menggigit bibir tanda gelisah.
"Jangan menggigit bibirmu terlalu keras. Bisa berdarah nanti." Kali ini Alek memalingkan wajah Jemima ke arahnya dan memisahkan kedua bibirnya sehingga gigitannya terlepas.
"Rasanya akan berbeda ketika kamu mencium bibir yang berdarah." Lelaki itu membungkuk ketika mengucapkannya. Napas hangatnya mengenai wajahnya.
"Apa kamu akan terus diam seperti ini, Jemima?" Alek tiba-tiba saja menjauh. Mata hijaunya berkilat. Seolah meminta Jemima untuk menyuarakan jawaban.
__ADS_1
"Aku—kamu darimana saja?" Akhirnya Jemima bisa bersuara.
"Apa kamu takut padaku, Jemima?" Lelaki itu berjalan menuju meja dan membuka tutup sampanye yang sudah disiapkan pelayan untuk mereka. "Bukankah tadi di pesta kamu mengatakan bahwa aku membuatmu—nyaman? Kenapa sekarang berbeda?"
"Kamu—kamu berbeda." Gugup menyertai suara Jemima. Dia benar-benar ketakutan saat ini. Alek yang dia lihat sekarang berbeda dengan Alek yang ada di pesta.
Lelaki itu tertawa mengejek. Dia menuang sampanye ke dalam gelas dan menenggaknya sampai habis.
"Get some sleep, Jemima. Dirimu butuh istirahat." Lelaki itu kembali memerintah. Suara gelas beradu dengan meja terdengar. Dalam hitungan detik, dia sudah berada di depan pintu.
"Dan jangan menungguku. Aku mungkin tidak akan kembali hingga pagi."
——
Jemima terduduk lemas sepeninggal Alek. Dia bahkan sudah menghabiskan dua gelas sampanye dan membuat kepalanya berputar.
Dia jarang minum. Batas toleransinya hanya satu gelas saja. Lebih dari itu, bisa dipastikan dia mabuk. Dan satu hari ini, dia sudah minum melebihi batas toleransi.
Dengan kepala yang sedikit berputar, Jemima masih bisa mengetahui bahwa sekarang sudah hampir jam 1 pagi. Sementara dia sama sekali belum bisa tidur.
Sambil terhuyung, Jemima berusaha keluar dari kamar. Ketika mencapai lift, dia langsung menyandarkan tubuhnya dan menunggu hingga angka 1 berdenting.
Petugas hotel masih banyak terlihat di sekitar lobi. Jemima mencoba berjalan setegak mungkin. Dia tidak ingin dikembalikan ke kamar hanya karena ketahuan mabuk.
Beruntungnya dia, karena saat ini dia sudah berdiri di taman hotel. Jemima terus berjalan hingga menemukan sebuah gazebo dan memutuskan duduk di sana.
Udara malam yang dingin menyelimuti tubuhnya. Jemima menggosok-gosok kedua lengannya.
"Sial. Aku lupa membawa jaket."
Dua gelas sampanye rupanya tidak benar-benar membuatnya mabuk. Nyatanya, dia masih bisa sampai di sini tanpa bantuan siapapun. Dia juga masih bisa mendengar dengan jelas suara orang bercakap-cakap.
"Suara?" Jemima mengerutkan kening.
Merasa penasaran, Jemima beranjak mendekati sumber suara. Dia menajamkan mata dan telinga. Masih terhuyung, dia menopang tubuhnya pada salah satu pohon palem.
"Ah. Di sana rupanya."
__ADS_1
Jemima memicingkan mata. Mencoba mengenali dua orang yang sedang berbicara dalam keremangan cahaya.
Hanya dua orang lelaki asing. Jemima memutuskan untuk masa bodoh dan kembali ke kamar hotel. Dia sudah sangat kedinginan.
Ketika mulai melangkah, tubuhnya oleng. Kakinya tidak sengaja menginjak ranting kering yang terjatuh.
Jemima menyeimbangkan tubuhnya terlebih dulu sebelum kembali melangkah. Niat itu sirna ketika tiba-tiba saja seseorang membentaknya dari arah belakang.
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
——
"Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu mendengar semua perkataan kami? Kenapa diam saja? Jawab, Berengsek!"
"Alek! Dia mabuk. Aku yakin dia tidak mendengar apa yang kita bicarakan."
Satu tangan Alek mengusap wajahnya frustrasi. Sementara tangan satunya menopang tubuh istrinya agar tidak jatuh.
"Dan jangan membentaknya, Aleksi. Wanita ini istrimu sekarang."
Alek menatap tidak suka pada lelaki di hadapannya. Dia benci diingatkan bahwa sekarang dia sudah menikah.
"Seharusnya kau katakan itu pada nenekku. Dia yang merencanakan pernikahan sialan ini. Bukan aku!"
"Calm down, Alek. Sebaiknya kau bawa dia ke kamar. Pembicaraan kita tunda dulu."
Mau tidak mau Alek mengangguk. Matanya mengikuti langkah kaki temannya yang kian menjauh. Setelah jejak temannya sudah tidak ada, dia mengalihkan pandangan pada wanita yang sekarang sedang terkulai lemas di bahunya.
"Berengsek. Nenek harus membayar mahal untuk ini semua."
Alek menggendong tubuh Jemima seakan tak berbobot. Membawanya pergi melewati tamu-tamu hotel serta petugas hotel yang masih terjaga. Bersikap tak acuh pada tatapan mata mereka yang penuh tanya.
What a night. Pikirnya dalam hati.
Benar-benar malam pertama pernikahan yang takkan terlupa.
__ADS_1