
Secangkir cokelat panas diletakkan di hadapannya. "Minumlah."
Jemima mengucapkan terima kasih dan mengambil cangkir tersebut. Kalimat terakhir yang dia ucapkan berhasil membuat Matt kaget dan mau tidak mau mempersilakannnya masuk.
"Apa yang dia katakan? Bahwa dia akan menggugurkannya jika kau benar-benar hamil?"
"Ehem." Jemima menyesap cokelat panasnya pelan-pelan.
"Apa kau sudah memeriksakannya?"
"Belum. Aku keburu panik setelah tahu aku terlambat seminggu."
"Dia benar-benar mengucapkan itu?" Lelaki di hadapannya lagi-lagi menanyakan hal yang sama. "Aku tidak percaya Alek mengatakan itu. Gila!"
"Karena itulah aku menemuimu. Kau teman dekatnya, bukan? Kau pasti tahu apa alasan Alek sebenarnya. Aku mohon, Matthew."
Jemima masih saja memohon. Dia benar-benar akan melakukan apa saja untuk memaksa Matt mengatakan yang sebenarnya.
Lelaki di hadapannya menghela napas. Raut wajahnya kini berangsur melunak. "Aku tidak tahu apa yang bisa kau lakukan setelah mengetahui ini. Tapi—aku akan tetap mengatakannya. Ya Tuhan. Alek pasti akan membunuhku."
Lelaki itu menengadah ke langit-langit. Terlihat kebingungan. Jemima tidak lagi mendesak—karena dia tahu, Matt pasti akan menceritakan semuanya. Malam ini juga, tanpa ada yang disembunyikan.
——
"Dia mengalami trauma. Ehm, sebenarnya aku bingung apakah itu sebuah trauma atau bukan. Yang jelas dia akan sangat ketakutan saat mendengar kata 'anak', hamil atau 'melahirkan." Matt memulai ceritanya.
"Trauma? Tapi aku tidak pernah melihatnya ketakutan seperti yang kau bilang." Jemima menaikkan alisnya tak percaya.
"Yeach. I know it sounds ridiculous. But, that's the truth. Suamimu orang yang pandai menyembunyikan perasaan. Tapi jika kau perhatikan dengan lebih jelas, ketakutan itu ada di matanya."
Matt tersenyum. Kemudian dia melanjutkan ceritanya. "Five years ago, Alek dan aku baru saja pulang dari urusan bisnis di luar kota. Di jalan, kami menemukan wanita hamil yang akan melahirkan. Kami membawanya ke rumah sakit terdekat."
Matt berdiri dari sofa, dan berjalan ke arah dapur. Sepertinya ingin mengambil sesuatu. Benar saja, lelaki itu kembali sambil membawa dua kaleng bir.
"Kami sampai ke rumah sakit terdekat dalam waktu kurang dari setengah jam. Tim dokter langsung menangani wanita itu." Matt berhenti sebentar untuk meminum birnya. Kemudian melanjutkan, "Awalnya kami ingin meninggalkan wanita tersebut, tapi tidak tega. Jadi kami menunggu sampai anaknya lahir. Kami menunggu selama hampir tiga jam. Kemudian dokter keluar dan membawa berita buruk itu."
Jemima menegakkan duduknya. Jantungnya mulai berdebar setelah mendengar kata 'buruk'. Jemima juga melihat wajah Matt yang menegang.
"Wanita itu meninggal." Matt berhenti cukup lama. Membuat Jemima semakin penasaran.
"Bagaimana dengan bayinya?"
"Meninggal setelah satu minggu dirawat dalam inkubator." Matt menghela napas panjang. Matanya terpejam. Seolah-olah sedang berusaha mengusir memori itu dari dalam benaknya.
Kali ini Jemima terdiam. Dia tidak akan banyak bertanya pada Matt. Dia akan membiarkan cerita ini mengalir dari mulut Matt dengan sendirinya.
"Kabar itu membuat Alek shock. Setelah itulah Alek mulai menutup diri terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan anak. Dia memutuskan tidak ingin menikah dan tidak ingin mempunyai anak."
"Tapi dia menikahiku," Jemima menyela.
"Atas desakan neneknya," Matt membalas cepat.
Ya benar. Dia dan Alek menikah karena dipaksa.
"Hell." Jemima tertawa setelah mendengarkan cerita Matt. "Aku tidak percaya hanya karena masalah itu dia bersedia membunuh anaknya sendiri."
"Tidak jika Ibu dan Kakakmu meninggal dengan cara yang sama, Jemima."
——
Jemima menghentikan tawanya setelah mendengar kalimat terakhir Matt.
"Apa maksudmu?" Dia menatap Matt tajam.
"Aku belum selesai bercerita." Matt berdiri dan berjalan mendekati jendela kaca rumahnya. Terdiam sebentar untuk menikmati keramaian London dari apartemennya.
__ADS_1
"Matt?" Jemima bertanya pelan. Hampir seperti berbisik. Entah kenapa Jemima merasa Matt berat menceritakan apa yang hendak diceritakannya.
"Elissa, Ibu Alek, meninggal saat dia akan melahirkan adiknya."
Napas Jemima tertahan karena kaget. Tapi dia tidak berusaha memotong cerita Matt.
Lelaki berkacamata itu kemudian berbalik menghadap dirinya yang masih terpaku di atas sofa. Ada kesedihan di mata Matt. Lelaki itu melepas kacamatanya.
"Tapi Alek mengatakan kalau ibu dan ayahnya meninggal karena kecelakaan sewaktu dia masih kecil."
Matt menghela napas berat. "Ayahnya memang benar meninggal karena kecelakaan, tapi tidak dengan Ibunya."
"Alek berbohong padaku? Dia berbohong?" Amarah mulai timbul dalam dirinya.
"Kalian baru saja saling mengenal, Jemima. Apakah kau akan begitu saja menceritakan semua rahasiamu pada seseorang yang baru saja kau kenal?"
"Tapi aku istrinya!" Jemima mulai berteriak.
"Ya tuhan, Jemima. Berhentilah berteriak. Kalian baru dua bulan menikah dan aku yakin kau juga tidak bercerita tentang semua hal yang ada dalam hidupmu kepadanya."
Jemima terdiam. Ya. Kalimat Matt masuk akal. Dia memang tidak pernah bercerita apapun pada Alek tentang hidupnya. Tiba-tiba amarah yang tadinya mulai terbangun kembali runtuh.
"Maaf." Akhirnya hanya kata itulah yang bisa dia keluarkan.
"Apakah kau masih ingin mendengar kelanjutan ceritanya?" Jemima mengangguk. Kemudian dia berdiri dan berjalan mendekati Matt. Mereka berdiri bersisian. Jemima menyandarkan punggungnya ke kaca. Menatap tajam ke arah Matt dan menunggu kelanjutan ceritanya.
"Saat itu usianya baru 7 tahun dan Ibunya hamil 8 bulan. Aunt Elissa orang yang baik dan juga ramah. Dia sangat menyayangi Alek dan juga Judith, kakak Alek."
Jemima meresapi setiap kata yang meluncur dari mulut Matt. Judith. Alek bahkan tidak bercerita bahwa dirinya punya kakak perempuan. Dia hanya mengatakan bahwa dia anak tunggal. Kenapa?
"Saat itu liburan musim panas, Aunt Elissa mengajak Alek dan Judith pergi piknik. Mereka ditemani oleh beberapa pengawal dan pelayan wanita yang menjaga mereka. Waktu itu Madam Rowena juga ikut. Di tengah piknik, Aunt Elissa mengalami pendarahan. Dia sama sekali tidak menyangka hal ini akan terjadi karena dokter kandungannya mengatakan dia dan bayinya sehat."
Matt berhenti sebentar untuk meneguk bir yang ada di tangannya. Kemudian dia melanjutkan.
"Mereka segera membawa Aunt Elissa ke rumah sakit. Tapi, tidak ada rumah sakit di dekat sana. Mereka berlibur jauh di daerah pedesaan. Jarak rumah sakit terdekat membutuhkan waktu hampir tiga jam." Matt berhenti lagi sejenak. Rahangnya tampak menegang. Tanpa Matt lanjutkan, Jemima sudah tahu kelanjutan ceritanya.
"Bagaimana kau bisa tahu sedemikian detail, Matt?" Jemima bertanya. Suaranya gemetar karena menahan tangis.
"Karena aku juga ikut berlibur waktu itu."
Jawaban Matt menjelaskan kenapa selama ini Matt dan juga suaminya terlihat sangat dekat. Tidak seperti bos dan bawahannya. Ternyata mereka berdua teman sejak kecil.
Jemima menghapus air mata yang ada di pipinya. "Bagaimana dengan bayinya? Apakah selamat?"
Matt menggelengkan kepalanya."Meninggal saat masih dalam kandungan. Ketika bayi itu dikeluarkan, dia sudah tidak bernapas." Napas Jemima tertahan. Butir-butir air matanya hendak keluar lagi namun ditahannya.
"Judith. Apa yang terjadi padanya?"
Matt menghela napas. Dia melempar kaleng birnya yang sudah kosong ke tempat sampah yang ada di sampingnya.
"Meninggal waktu usia Alek 20 tahun. Dengan cara yang sama dengan Aunt Elissa." Matt berjalan mendekat ke jendela kaca dan bersandar di sana. Matanya terlihat sedih saat menceritakan ini semua.
"Judith sedang mengandung anak pertamanya. Usianya waktu itu 26 tahun. Tidak seperti Aunt Elissa yang sehat. Judith adalah wanita yang lembut dan lemah secara fisik. Sejak awal dia hamil, dokter sudah mengatakan kalau kandungannya lemah. Dokter bahkan menyarankan untuk menggugurkannya, tapi Judith menolak. Dia tetap ingin melahirkan anaknya."
Matt menutup matanya. Berusaha menyembunyikan kesedihannya. Kemudian melanjutkan, "Ketika usia kandungannya baru menginjak 3 bulan, dia mengalami pendarahan hebat. Tubuhnya tidak mampu bertahan dan akhirnya dia meninggal."
"Karena itulah Alek tidak menginginkan anak." Matt mengangguk.
"Begitulah. Alek berusaha sangat keras untuk melupakan rasa kehilangannya. Tapi kejadian lima tahun lalu saat kami bertemu wanita itu membuatnya menjadi lebih buruk. Dia menutup diri dari sebuah hubungan yang melibatkan perasaan. Karena itulah dia selalu berganti-ganti pasangan. Tidur dengan lebih dari satu wanita." Matt memberikan jeda.
"Madam Rowena menginginkan Alek untuk berubah. Bukannya bermain-main dengan wanita-wanita yang menurutnya hanya mengejar kekayaan Alek. Kau tahu sendiri kelanjutannya." Matt tersenyum pada Jemima.
Jemima mengangguk paham.
"Karena alasan itulah dia menikahkan kami. Untuk menghilangkan kebiasaan buruknya yang selalu berganti-ganti pasangan." Entah kenapa ketika mendengar bahwa suaminya senang berkencan dengan banyak wanita membuatnya merasa...cemburu.
__ADS_1
Crap. Jemima menggeleng-gelengkan kepalanya. Mencoba mengusir perasaan yang tidak diharapkannya untuk ada.
"Bukan, Jemima. Madam Rowena menikahkan kalian bukan karena itu. God, dia bahkan tidak peduli dengan siapa Alek berkencan. Tapi dia peduli akan kebahagiaan Alek." Matt tertawa melihat mata Jemima yang tidak berkedip sama sekali.
Jemima megerutkan kening dan bertanya tak mengerti, "Are you sure?"
"Yap." Matt mengangguk mantap. "Dia menikahkan kalian agar kau, nyonya, bisa segera mempunyai anak dan menghilangkan trauma Alek. Ini harapan satu-satunya agar Alek bisa segera melupakan kesedihannya dan memiliki keluarganya sendiri." Matt mengakhiri ceritanya.
"Bisa saja Alek menolak pernikahan ini." Jemima mengangkat alisnya. Menatap tajam ke arah Matt.
"Alek terlalu sayang pada neneknya untuk bisa menolak. Dan Madam Rowena memanfaatkannya untuk bisa melaksanakan rencananya."
"Aku tidak tahu kalau ternyata nenek itu punya hati juga."
Matt tertawa kecil mendengar pernyataan Jemima. "Sekarang kau sudah tahu kebenarannya. Apa yang akan kau lakukan?"
Jemima berjalan mendekati meja. Mengambil cangkir cokelatnya yang sudah mendingin. Menyesapnya sampai habis. "Aku akan membunuh Alek sesampainya di rumah. Mungkin."
Lagi-lagi jawabannya membuat Matt tertawa. "Kau bisa membunuhnya nanti setelah tiba di rumah. Sekarang kemasi barangmu dan kuantar kau pulang. Ini sudah hampir tengah malam. Dan dia pasti akan membunuhmu terlebih dahulu sebelum kau melakukannya karena sudah membuatnya khawatir."
Jemima melihat jam di pergelangan tangannya. Great. Sepertinya Alek akan benar-benar membunuhnya terlebih dahulu karena pergi tanpa pamit sampai selarut ini.
——
Jemima melihat mobil Alek yang diparkir asal di halaman rumah. Dia turun segera setelah Matt menghentikan mobilnya. Sebelum Jemima sempat menutup pintu mobil, pintu depan rumahnya terbuka dengan kasar.
Oh. My. God.
Sepertinya Alek benar-benar marah. Jemima bermaksud menjelaskan kepada suaminya ketika Alek tiba-tiba mencengkeram lengannya.
"God. Where have you been, Jemima?" Alek membentaknya. Dia bahkan mengguncang-guncang lengannya sampai terasa sakit karena cengkeraman tangannya.
"Alek, kau menyakitinya." Ucapan Matt membuat Alek tersadar. Dia mengendurkan cengkeramannya tapi tidak melepaskannya.
Saat itulah Jemima melihat seorang wanita berjalan mendekati mereka. Wajah khawatir juga tampak di raut mukanya.
"Astrid!" Jemima berteriak tak percaya.
Dia memaksa Alek melepaskan cengkeramannya dan berlari ke arah sahabatnya. Mereka berpelukan lama. Jemima bahkan bisa merasakan air mata mulai membasahi pipinya. Betapa dia merindukan sahabatnya yang satu ini.
"Kemana saja kau?" tanya Astrid setelah mereka melepaskan pelukan. Jemima menghapus air mata di pipinya.
"Ke apartemen Matt. Ada sedikit urusan di sana." Astrid menaikkan alisnya tak percaya.
"Akan aku ceritakan nanti. Bagaimana bisa kau ada di sini?" Jemima tersenyum lebar. Tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya karena sahabatnya berkunjung ke sini.
"Your husband is a crazy man." Astrid menunjuk Alek yang berdiri di belakang mereka. "Kami tidak sengaja bertemu di Heathrow. Dia bilang kalau kau menghilang. Dan memintaku menemaninya mengobrak-abrik London hanya untuk mencarimu."
Jemima menengokkan kepalanya ke belakang dan meringis. Ternyata Alek benar-benar khawatir padanya.
"Oke. Reuni sudah selesai. Aku harap kalian segera pergi dari rumahku karena aku ingin berduaan dengan istriku." Alek melangkah ke sisi Jemima dan menarik tangannya. "Matt, kau bisa mengantar Astrid ke hotelnya, kan?"
"Aku bisa naik taksi, Alek. Terima kasih."
"Dan aku tidak suka membiarkan wanita pergi sendirian tengah malam." Matt menjawab cepat.
Astrid melotot ke arah Matt yang dibalas Matt dengan tatapan dingin.
"Tidak bisakah Astrid menginap di sini, Alek?"
"Tidak malam ini, Jemima."
"Sudahlah, Je. Lebih baik aku kembali ke hotel bersama dia." Astrid terdengar enggan menyebutkan nama Matt.
Setelah berpelukan sebentar, Astrid dan Matt berpamitan.
__ADS_1
"We need to talk. Now!" Alek menarik tangan Jemima dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Jemima yang juga ingin berbicara dengan suaminya hanya diam saja ketika Alek membawanya masuk dan langsung naik ke lantai dua menuju kamar mereka. Correction, kamar Alek. Jemima mendesah, sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi mereka.