Perfect Oracle

Perfect Oracle
First Ultimatum


__ADS_3

Alek melihat Ibu dan kakaknya duduk di atas rumput hijau. Mereka tertawa riang. Bercengkerama sambil menikmati suara burung berkicau. Air danau yang mengkilat terkena cahaya tampak begitu memukau.


Ibu dan kakaknya menengok ke arahnya. Melambaikan tangan kepadanya dengan senyum merekah. Menyuruhnya ikut bergabung bersama mereka. Dengan bernyanyi riang, dirinya berlari menyambut uluran tangan keduanya.


Itu adalah sosok dirinya ketika masih kecil.


Kemudian Alek mendengar tangisan. Dia menghentikan larinya dan menengok ke belakang. Seorang wanita cantik sedang menangis tersedu-sedu. Di samping wanita itu berdiri sosok neneknya dengan wajahnya yang penuh dengan keriput. Mata neneknya terlihat lelah.


Sosok dirinya sewaktu kecil berubah menjadi sosok dirinya yang sudah dewasa.


"Alek, come back. Please."


Wanita itu mengucapkannya sambil sesekali terisak. Perlahan, Alek mengenali sosok wanita itu.


Jemima


Istrinya.


Tapi kenapa Jemima menyuruhnya kembali? Memangnya dia mau ke mana?


Alek kembali menengok ke arah Ibu dan kakaknya berada. Namun, mereka sudah menghilang. Dia kemudian menengok ke arah neneknya dan istrinya. Mereka juga sudah menghilang. Dia sendirian.


Hamparan rumput luas nan hijau di sekitarnya perlahan berubah menjadi kegelapan. Dia ingin berteriak. Dia ketakutan. Dia memejamkan matanya erat. Berharap kegelapan itu akan berganti menjadi cahaya.


"Alek, come back. Please." Lagi-lagi suara Jemima menggema di telinganya.


Alek ingin membuka matanya. Namun, dia takut kegelapan masih terus menyelimutinya. Karena itulah dia masih saja memejamkan mata.


——


Jemima terduduk lemas. Badannya gemetaran ketika melihat tubuh Alek mengejang. Matt segera berteriak memanggil dokter. Sementara dirinya tidak mampu bergerak juga berbicara.


Saat tim dokter yang menangani Alek datang, Jemima merasakan dua buah tangan menariknya berdiri. Kemudian menuntunnya keluar kamar. Dia lelah. Bahkan sangat lelah. Untuk berjalan di atas kedua kakinya sendiri saja dia tak kuasa.


Ini sudah hari ke tujuh. Dan Alek belum mau membuka matanya. Air mata Jemima sepertinya sudah hampir kering. Karena dia tidak lagi bisa menangis.


"He will be okay, Jem. He is strong enough to pass this." Suara lembut Astrid mencoba untuk menenangkannya.


Dia ingin membalas perkataan Astrid dan mengucapkan terima kasih. Tapi sepertinya dia masih belum mampu. Lidahnya kelu. Seluruh tubuhnya lemas.


Dalam hati dia berusaha mengulang perkataan Astrid. Ya. Alek pasti kuat. Dia pasti bisa melewati semua ini.


Bagaimana kalau dia tidak bisa? Bagaimana kalau Alek tidak akan bangun lagi? Selamanya.


Rasa nyeri menjalari dadanya. Dia tidak pernah menyangka bahwa membayangkan Alek pergi meninggalkannya akan sesakit ini.


God, please save my husband. Aku akan melakukan apapun yang Alek minta. Asalkan dia sadar dan sehat kembali.


Jemima langsung berdiri ketika pintu kamar Alek terbuka. Namun, tubuhnya oleng. Untung saja Astrid dengan sigap menopangnya. Matt yang sejak tadi hanya diam, berjalan mendekati Dokter yang baru keluar dan menanyakan keadaan suaminya.


"He is stabil now. Don't worry much. Dan kau, Nyonya..." Dokter itu menunjuk ke arah Jemima. "Sebaiknya kau pulang dan beristirahat sejenak. Wajahmu tampak begitu pucat. Makanlah sesuatu untuk memulihkan tenagamu. Suamimu tidak akan senang melihatmu seperti ini."


Setelah mengucapkan kata-kata itu, dokter yang diketahui Jemima bernama Peter itu menepuk lembut pundaknya sambil tersenyum. Kemudian dia pergi meninggalkan mereka yang masih berdiri diam di depan kamar perawatan Alek.


——


Jemima menggenggam erat tangan Alek. Dia baru saja tiba di rumah sakit. Dengan sedikit pemaksaan, semalam dia berhasil dibujuk pulang.

__ADS_1


Hari ke delapan dan keadaan Alek masih belum menunjukkan ada perkembangan. Jemima menatap lekat-lekat wajah Alek yang pucat. Wajah yang biasanya terlihat tampan itu kini seperti kehilangan cahaya.


Delapan hari. Sampai kapan kamu terus seperti ini, Alek?


Air mata Jemima kembali menitik. Dengan penuh kelembutan diangkatnya tangan Alek dan diciumnya lama. Tubuhnya semakin lama semakin berguncang. Dia menangis tanpa suara. Hanya butiran-butiran bening yang kini mengalir dengan deras.


Sebuah tepukan lembut di pundak membuatnya menengok. Matthew. Dengan cepat dia menghapus sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya.


"Are you okay?" Jemima membalas dengan senyum yang dipaksakan. Mengangguk pelan.


"Aku membawakan sarapan untukmu. Sebaiknya kau makan dulu." Matt mengangkat kedua tangannya yang penuh dengan kantong plastik.


"Terima kasih, Matt. Tapi aku tidak lapar."


Matt menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak bisa. Kau harus makan, Jemima. Atau kau yang akan jatuh sakit."


"Tapi aku benar-benar tidak lapar. Tadi sebelum ke sini Astrid sudah membuatkanku makanan dan dia memaksaku untuk menghabiskannya."


Matt tidak mempedulikan semua alasan yang keluar dari bibir Jemima. Dengan lembut, dia menyeret wanita keras kepala itu keluar dari ruang perawatan Alek dan menyuruhnya duduk di kursi tunggu.


"Sekarang makan. Atau kau mau aku suapi?"


"Tidak. Terima kasih." Jemima menjawab ketus.


Akhirnya dengan wajah ditekuk Jemima menghabiskan satu buah sandwich dan satu cangkir teh hangat yang dibelikan Matt.


"Puas?!" Jemima merasa kesal melihat seringai jail yang tampak di sudut bibir Matt.


"Kau mau berjalan-jalan sebentar?" Jemima mengangkat alis mendengar pertanyaan lelaki yang duduk di sampingnya.


"Maaf, Matt. Tapi, Alek..."


"Tapi Alek tidak akan ada yang menjaga."


"Pergilah. Aku yang akan menjaganya. Matthew benar. Kau memang butuh udara segar." Suara Madam Rowena menyelesaikan perdebatan mereka.


Jemima menatap wanita tua yang kini ada di hadapannya. Gurat kelelahan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya. Selama Alek di rumah sakit, Madam Rowena menggantikan semua pekerjaan Alek bersama dengan Matt.


Meskipun selama Alek dirawat Madam Rowena baru mengunjunginya sekali--ditambah hari ini menjadi dua kali. Tak bisa dipungkiri bahwa dia sangat mengkhawatirkan keadaan cucu satu-satunya. Jemima tahu dibalik sikap kerasnya, Madam Rowena menyimpan kasih sayang luar biasa untuk Alek.


"Tapi..." Jemima masih mencoba untuk menolak.


"Aku akan menghubungimu jika sesuatu terjadi pada cucuku." Nada bicara Madam Rowena menyiratkan sebuah keputusan final dan tak ingin dibantah.


Wanita tua itu segera masuk ke ruang perawatan Alek tanpa menggubris Jemima dan Matt lagi. Dengan terpaksa, dia menurut dan mengikuti langkah Matt. Jemima bahkan menurut saja ketika tangan Matt menuntun lengannya saat keluar dari area rumah sakit.


——


"Kenapa kita kesini? Kau mengatakan bahwa kita tidak akan pergi jauh dari rumah sakit." Jemima menampakkan nada tidak suka saat menanyakan hal ini kepada Matt.


Mereka sedang berada di Taman yang letaknya cukup jauh dari rumah sakit. Entah apa yang ada di pikiran Matt ketika mengajaknya ke sini.


"Aku ingin berbicara serius denganmu, Jem. Mengenai kecelakaan Alek."


Mendengar nama suaminya disebut, Jemima langsung memfokuskan perhatiannya pada Matt.


"Ada apa dengan kecelakaan Alek?" Jemima mengerutkan kening tak mengerti.

__ADS_1


Matt menghela napas dalam sebelum menjawab, "Itu bukan kecelakaan biasa, Jem. Ada seseorang yang ingin membunuh suamimu."


Jemima terperangah. Pikirannya kembali ke kejadian-kejadian yang berlangsung selama beberapa hari ini. Jadi inikah alasannya Matt harus bolak-balik menemui polisi? Inikah alasan lelaki itu mengerahkan banyak pengawal untuk berjaga di sekitar rumah sakit? Inikah alasannya...


"Dari mana kau tahu?" Jemima menghentikan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam benaknya dan mencoba menggali informasi sebanyak-banyaknya dari pria di hadapannya ini.


"Apakah kau tahu bahwa selama ini Alek punya musuh?"


"Xander maksudmu?"


Lelaki di hadapannya mengangguk. "Kecelakaan Alek kali ini kemungkinan besar karena ulahnya."


"Sudah ada bukti?"


"Belum. Dia lelaki yang pintar. Sulit sekali untuk menangkapnya. Aku mengatakan ini agar kau berhati-hati mulai sekarang."


Alisnya bertaut. "Memangnya apa hubungan semua ini denganku?"


"Bisa jadi dia juga mencincarmu. Karena itulah aku ingin kau selalu ditemani pengawal setiap kali kau pergi."


Jemima memijat kepalanya yang berdenyut. Kenapa semua ini bisa menjadi begitu rumit? Seperti sihir. Hidupnya berubah 180 derajat setelah menikah dengan Alek.


"Matt, can we go back to the hospital now?" Kali ini, lelaki itu langsung menurutinya.


Selama perjalanan, mereka hanya diam. Matt menyetir dengan kecepatan sedang.


——


Matt tidak ikut masuk ke rumah sakit. Dia hanya mengantarkan Jemima hingga depan rumah sakit. Setelah menggumamkan terima kasih, dia segera melangkah masuk menuju ruang perawatan Alek.


"Aku ingin kau bercerai dengan cucuku segera," adalah kalimat pertama yang dia dengar sesampainya dia di kamar Alek.


"Excuse me?" Jemima takut salah dengar.


"Aku ingin kau bercerai dengan cucuku!"


Jemima terperangah setelah sadar bahwa sejak tadi dia tidak salah dengar. Ya Tuhan. Apalagi sekarang?


"Tunggu dulu, Madam. Saya tidak mengerti maksud Anda." Jemima merasakan napasnya sudah tidak beraturan. Perutnya seakan dipilin-pilin.


"Ikut aku!" Madam Rowena melangkah keluar dari kamar Alek, sementara Jemima yang masih terperangah hanya berdiri diam menatapi wajah suaminya yang masih tertidur entah sampai kapan.


"Duduk!" Perintah Madam Rowena yang tidak langsung diturutinya. Dia berdiri menantang wanita tua yang juga melakukan hal yang sama terhadapnya.


"Katakan saja dengan cepat apa sebenarnya yang Anda inginkan." Jemima melipat kedua tangannya di depan dada. Gemuruh di dadanya tak juga berhenti.


"Aku sudah mengatakannya tadi. Aku ingin kau menceraikan cucuku."


"I am so sorry, Madam. But, are you out of your mind?" Jemima mengucapkannya dengan rahang mengeras. Pelan tapi tegas.


"No. But, you are. Tega-teganya kau berselingkuh di belakang cucuku dan menyebabkan dia kecelakaan!" Wanita tua itu tidak lagi bersikap tenang. Dia menunjuk-nunjuk dada Jemima hingga bisa merasakan ujung kukunya.


Apa? Wanita tua ini bilang apa? Selingkuh? Dirinya selingkuh?


"Dengar, Madam. Bagaimana bisa kau menuduhku...." Belum sempat dia selesai berbicara, wanita di hadapannya melempar beberapa lembar kertas ke arahnya.


Jemima memungut satu di antaranya. Foto dirinya bersama Max ketika berada di kedai kopi. Bukan foto biasa. Itu adalah foto ketika Max tiba-tiba menciumnya. Dan di luar kafe, berdiri lelaki yang melihat kejadian tersebut. Meskipun hanya punggungnya yang terlihat, Jemima tahu pasti dia siapa.

__ADS_1


Alek.


Dan dirinya langsung terduduk lemas.


__ADS_2