
Jemima langsung mencari ponselnya yang ada di dalam tas segera setelah pintu lift tertutup. Dia membutuhkan seseorang untuk menjemputnya di kantor Alek karena tidak membawa mobil. Astrid tidak mungkin bisa membantu karena harus kembali ke kantornya. Karena itulah dia memutuskan untuk menghubungi satu-satunya orang yang dia kenal di London.
Max.
"Ten minutes, Jemima." Itulah yang dikatakan Max ketika dia meneleponnya sambil menahan tangis.
Dan disinilah dia sekarang. Duduk di salah satu kafe yang ada di pinggir jalan. Menunggu Max yang mengambilkan minuman. Hal ini memang tidak bisa dibenarkan. Tapi dia butuh seseorang untuk diajaknya bicara.
Entah kenapa tiba-tiba dirinya menghubungi nomor Max. Yang jelas dia merasa Max selalu bisa diandalkan. Pria itu bahkan bisa menjadi seorang pendengar yang baik.
"Ini kopimu." Max menyodorkan secangkir kopi yang masih mengepul.
Jemima membalasnya dengan tersenyum. "Terima kasih."
"So, what's the problem?" Jemima memperhatikan Max yang menyeruput kopinya perlahan.
Pertanyaan yang ditujukan Max membuatnya menggigit bibir. Sewaktu menelepon Max tadi, dia juga sudah menduga bahwa pria itu akan menanyakan ini. Tapi begitu pertanyaan itu dilempar ke hadapannya, dia menjadi gugup.
Jemima sebenarnya bukan tidak mau menjawab. Tapi, menceritakan masalah rumah tangganya kepada orang lain, terlebih lagi kepada Max benar-benar membuatnya malu. Dia tidak mau masalahnya ini diketahui lebih banyak lagi orang.
"Come on, Jemima. Kau tahu kalau kau selalu bisa menceritakan apa saja kepadaku." Max menggenggam tangannya erat. Menimbulkan perasaan tidak enak.
Jemima menggigit bibirnya lebih keras. Menimbang-nimbang apakah akan menceritakan masalahnya atau tidak.
"Tidak ada, Max. Aku hanya butuh udara segar. Dan Alek sedang sibuk."
Sebisa mungkin dia berusaha bersikap biasa. Menahan air matanya yang mendesak keluar di depan Max. Menutupinya dengan tersenyum. Berbicara apa saja kecuali masalah rumah tangganya.
"Kau yakin baik-baik saja?" Lagi-lagi Max memegang lembut tangannya. Kali ini Jemima langsung menarik tangannya ke bawah meja.
Jemima tersenyum kecut. Ternyata meminta bantuan Max bukanlah tindakan yang tepat.
Dia tersentak ketika satu tangan Max membelai pipinya. Jemima semakin merasa tidak nyaman. Sesopan mungkin dia mengatakan ingin ke toilet. Cepat-cepat dia berdiri dari kursi.
Tubuhnya mematung ketika tiba-tiba Max ikut berdiri dan langsung mengecup bibirnya. Jemima langsung memutuskan kontak. Menatap tidak percaya ke arah Max.
Air mata yang sedari tadi dia tahan, lolos dengan sempurna. Tatapan matanya menyiratkan amarah.
"Maaf, Jemima. Aku...Aku tidak bermaksud melakukannya. Hanya saja aku terbawa suasana ketika melihatmu bersedih. Aku tidak tega melihatmu seperti ini dan aku ingin membuatmu merasa lebih baik," gumam Max meminta maaf.
Jemima merasa jijik. Entah pada dirinya sendiri atau pada lelaki di hadapannya. Tanpa menjawab permintaan maaf Max, dia keluar dari kafe.
Beruntungnya dia karena sesampainya di pinggir jalan, ada taksi yang melintas. Jemima menghentikan taksi tersebut dan menaikinya. Saat taksi sudah berjalan, dia melihat ke belakang melalui kaca dan Max masih berdiri di sana.
"I am sorry, Alek. I am really sorry," ucap Jemima pelan. Merasa sangat bersalah dengan apa yang sudah dilakukannya.
__ADS_1
——
Alek mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Saat ini dia sedang kesal. Dia ingin menghajar siapa saja yang lewat di depannya.
Melihat Jemima pergi dengan Max sudah membuatnya mengamuk. Ditambah lagi melihat istrinya dicium lelaki yang sama. Membuatnya ingin membunuh seseorang.
Alek bermaksud mengikuti ke mana Jemima pergi kemudian mengajaknya pulang dan berbicara. Ketika dia melihat mobil Max diparkir di depan sebuah kafe, dia menghentikan mobilnya dan ikut parkir.
Alek berdiri cukup lama di luar kafe hanya untuk melihat kedekatan Max dengan istrinya. Melihat mereka saling berpegangan tangan dengan mesra. Dan puncaknya terjadi ketika pria itu mencium bibir istrinya.
Alek ingin menyeret Jemima saat itu juga keluar dari kafe. Namun diurungkannya. Dia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri dengan berbuat seperti itu.
Alek meninggalkan kafe dengan hati yang dipenuhi amarah. Dan di sinilah dia sekarang. Melajukan mobilnya dengan sangat kencang di jalanan. Apakah dia cemburu?
Ya Tuhan. Ya! Dia cemburu setengah mati.
"Fuuuuccckkkk!! " Alek mengumpat dengan keras. Berkali-kali dia memukul-mukulkan tangannya ke setir mobil.
Dia menyetir tak tentu arah. Hampir seperti orang gila.
Selama ini tidak ada satu orang pun wanita yang pernah membuatnya semarah ini. Dia tidak pernah melibatkan hatinya ketika berhubungan dengan banyak wanita. Jika ada seorang wanita yang mengkhianatinya, dia akan melepaskan wanita itu dan berkencan dengan wanita lainnya. Lagipula, tidak sulit baginya untuk mendapatkan wanita mana saja.
Sejak pertama Alek menikah dengan Jemima, dia juga tidak berniat untuk melibatkan hatinya. Meskipun begitu, dia selalu menganggap bahwa pernikahan itu sakral. Jadi, dia tidak akan pernah mencoba berhubungan dengan wanita lain selain istrinya. Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku bagi istrinya.
"Damn!" Alek lagi-lagi mengumpat. Bayangan istrinya bersama Max kembali melintas. Membuat emosinya naik.
Alek memutar haluan menuju kantor. Saat itulah dia menyadari satu hal. Ada mobil yang mengikutinya sejak tadi. Entah hanya perasaannya atau memang sebuah kebenaran. Yang jelas mobil yang ada di belakangnya sekarang sama persis dengan mobil yang ada di belakangnya sejak dia keluar dari parkiran kantornya.
Alek tidak terlalu memperhatikan plat nomornya. Sejak semula dia hanya mengira bahwa mereka mempunyai tujuan yang sama. Ketika dia berbelok dan berhenti di depan kafe, mobil itu terus melaju. Itulah yang membuatnya yakin bahwa mereka memang mempunyai tujuan yang sama.
Alek sengaja mempercepat laju mobilnya. Mobil itu ternyata mengikuti. Dia membelokkan mobilnya ke kiri, jauh dari tujuannya semula. Mobil itu masih juga mengikuti. Alek semakin menambah kecepatan mobilnya. Saat itulah ponselnya berbunyi.
"Craaap."
Dia bermaksud tidak mengangkatnya dan fokus pada mobil di belakangnya. Namun ketika melihat nama Matt tertera pada layar ponsel, dia mengangkatnya juga.
"What??" bentaknya.
"Wow. Easy, Man. What's wrong?" ucap suara Matt di seberang.
"Aku yang seharusnya bertanya, Matt. Ada apa?" tanyanya ketus. Alek sedikit mengurangi kecepatan mobilnya sambil sesekali melirik melalui kaca spion. Mobil itu masih mengikuti di belakang.
"Ada apa denganmu, Alek? Nadamu tidak seperti biasanya."
"Sebaiknya cepat katakan kenapa kau menghubungiku? Aku sedang tidak ingin berbasa-basi, Matthew."
__ADS_1
Alek memanggil Matt dengan lengkap. Itu tandanya dia sedang tidak main-main. Matt yang sudah mengenalnya sejak kecil juga sudah hafal mengenai kebiasaan Alek yang satu ini. Karena setelah itu, Matt tidak bertanya-tanya lagi dan langsung mengatakan kepentingannya.
"Xander lolos dari pemeriksaan, Alek. Aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi. Tapi yang jelas, dia tahu kalau kau yang merencanakan penangkapannya. Aku hanya ingin memperingatkan supaya kau berhati-hati. Kau tahu Xander bisa mencelakai kita kapan saja dia mau."
Alek mendengarkan penjelasan Matt dengan saksama. Berengsek. Ternyata Xander lebih pintar dari yang dia duga. Seharusnya dia sudah memprediksi kenyataan ini sebelumnya.
"Aku sedang menuju kantor, Matt. Kita bertemu di sana."
"Baiklah. Hati-hati, Alek."
"Oh, shit!"
Alek membanting setirnya ke kiri. Mobil itu bermaksud untuk menabraknya dari sisi kanan. Dugaannya tentang mobil di belakangnya benar. Untung saja dia bergerak cepat dan dapat menghindar.
"Alek ada apa? Di mana kau?"
Suara Matt menampakkan kecemasan. Tapi saat ini Alek sedang tidak bisa menjawab pertanyaan Matt. Mobil itu masih saja mengejarnya. Dia harus segera memikirkan cara untuk bisa lepas dari kejaran mobil itu.
Sekarang mobil itu tepat di belakangnya. Alek merasakan sentakan keras ketika mobil itu menabrak sisi belakang mobilnya.
"Berengsek!"
Alek mengurangi kecepatan, bermaksud untuk menyejajarkan mobilnya dengan mobil asing itu. Dia ingin tahu siapa pengemudinya. Namun saat mobilnya dan mobil itu sejajar, mobil itu langsung menabrak sisi kanan mobilnya dengan keras.
Alek sedikit kehilangan kendali. Dia terpaksa membanting setir ke kiri untuk menghindari serangan dari mobil itu. Mobil itu bermaksud melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya.
Alek berusaha menghindar dengan sekali lagi membanting setir ke kiri. Karena terlalu fokus pada mobil itu, dia tidak terlalu memperhatikan kondisi jalanan.
Skak mat.
Sebuah truk melintas dengan cepat dari arah belakang. Alek sudah tidak mungkin lagi menghindar. Jaraknya dengan truk itu sangat dekat.
Samar-samar dia mendengar decitan roda yang direm secara mendadak. Namun, tabrakan sudah tak dapat dihindarkan. Mobilnya terguling beberapa kali sebelum akhirnya berhenti dan menabrak pembatas jalan.
Rasa sakit yang luar biasa menimpa seluruh tubuhnya, terutama di bagian kepala dan kaki kirinya.
Di detik-detik terakhir kesadarannya, Alek masih bisa melihat mobil asing itu melaju di sampingnya. Kaca jendelanya dibiarkan terbuka. Menampilkan sosok yang tidak dia kenal sama sekali. Wajah itu tersenyum mengejek ke arahnya. Seolah mengucapkan selamat tinggal untuk yang terakhir kali.
——
Jemima tak berhenti menangis sejak diberitahu Alek mengalami kecelakaan. Kondisinya kritis. Sangat kritis. Dan sudah berjam-jam operasinya belum juga selesai.
Dia menunggu di depan ruang operasi ditemani Astrid. Madam Rowena dan Matt juga berada di tempat yang sama. Jika sejak tadi Jemima menangis. Wajah Madam Rowena justru terlihat datar. Tidak menampakkan ekspresi apapun.
Ketika lampu ruang operasi mati, Matt yang pertama menghampiri dokter. Tubuh Jemima hampir saja ambruk melihat dokter menggelengkan kepala.
__ADS_1
Dokter mengatakan kondisi Alek cukup parah. Saat ini dia memang masih bernapas.
Tapi dinyatakan koma.