Perfect Oracle

Perfect Oracle
Some Reasons


__ADS_3

Alek membanting pintu kamar dengan keras dan menguncinya. Rahangnya mengetat. Tangannya masih menggenggam erat lengan istrinya. He feels like shit. Dia hampir gila karena mengelilingi sebagian London hanya untuk mencari istrinya dan tidak menemukannya.


Dengan kasar dia menyeret istrinya ke tengah kamar. Dia marah. Ya Tuhan. Dia marah dan khawatir. Dan sekarang dia bingung bagaimana menumpahkan kemarahannya di hadapan istrinya.


"Talk!" Bentakannya membuat Jemima melonjak kaget.


Alek tahu dirinya tidak bermaksud kasar. Tapi pikiran tentang istrinya yang pergi atau hilang dari rumah membuatnya kehilangan kontrol.


"Gosh. Bicaralah dan jangan hanya diam saja seperti itu!" Alek mengacak-acak rambutnya frustrasi.


"Seingatku tadi kamu yang ingin berbicara," jawab istrinya tak acuh.


"Hell, Jemima. Kamu hampir membuatku gila. Aku mencarimu kemana-mana. Bahkan pikiran buruk berkelebatan di dalam benakku. Bagaimana kalau dia menyakitimu? Jadi sekarang bicaralah. Katakan dari mana saja kamu."


Alek mendengar istrinya mendesah dan berjalan ke sofa yang ada di pojok kamar. Dia melepaskan sepatunya dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


"Aku dari apartemen Matt." Alek menaikkan alisnya mendengar jawaban istrinya. Berharap mendapatkan penjelasan lebih.


"I am late, Alek! That's why I went to Matt's apartment."


"What do you mean?" Alek mendengar istrinya menggeram marah. Sepertinya kesal karena dia tak juga mengerti.


Jemima berjalan mendekat ke arahnya. Tangan istrinya yang lembut memegang kedua pipinya. Memaksanya untuk melihat ke arahnya. Dengan tubuh yang jauh lebih pendek, Jemima harus berjinjit.


"I. Am. Late. My period." Istrinya mengucapkannya dengan pelan dan jelas.


Oh.


Oh. SHIT!


Kenyataan seolah menghantamnya setelah paham apa yang dimaksud istrinya. Hal inilah yang dia takutkan. Dia memang tidak menginginkan anak. Tapi keterpaksaan untuk membunuh anaknya sendiri juga tidak ingin dijadikan pilihan.


Alek memejamkan matanya. Berharap bahwa ini semua hanya mimpi. Dan ketika dia membuka matanya, semuanya tidak pernah terjadi. Tapi saat dia menatap mata istrinya dan wajahnya yang pucat, ini semua memang nyata.


Tiba-tiba saja gambaran-gambaran peristiwa yang coba dia lupakan kembali muncul. Ketakutan membayangi matanya. Dia melihat wajah Ibu dan kakaknya yang terlihat bahagia karena sedang mengandung. Namun, kemudian kebahagiaan itu terenggut dari hidup mereka. Digantikan oleh wajah pucat dan kaku mereka saat dua orang yang sangat disayanginya meninggal di hadapannya.


Bayangan wajah ibu dan kakaknya perlahan memburam. Dan yang terlihat dengan jelas selanjutnya adalah wajah istrinya. Terlihat bahagia dengan kehamilannya. Wajah bahagia itu kemudian berubah menjadi wajah penuh kesakitan.


Crap!


Alek bahkan tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang dia tahu, dia tidak akan pernah bisa melewati keadaan ini. Lagi. Satu kejadian yang sama terulang lagi, dan saat itulah dia tahu kehidupannya akan hancur.


——


Jemima melihat perubahan pada wajah suaminya. Wajah Alek yang tadinya penuh amarah berangsur memucat. Jemima bisa melihat dengan jelas ketakutan dan juga kesedihan di dalam mata Alek. Persis sama seperti yang dikatakan Matt.


"Alek." Jemima menepuk-nepuk pipi suaminya pelan. Mencoba membawanya kembali dari lamunan. Namun Alek tetap bergeming.


"Alek." Ditepuknya lagi pipi suaminya. Kali ini lebih keras. Tapi, Alek masih diam saja seperti batu.


"Alek! Ya Tuhan, sadarlah!" Jemima mengguncang-guncang bahu Alek dengan keras.


Saat kesadaran menyentak suaminya, Jemima menghembuskan napas lega.

__ADS_1


"Breath. Just tak a deep breath." Alek mengikuti instruksinya.


Jemima kemudian menuntun suaminya menuju sofa dan mendudukkannya di sana.


"I'm sorry, Jemima. I just...".


"Sstt.. Aku sudah tahu semuanya. Matt yang menceritakannya padaku." Jemima mengusap-usapkan telapak tangannya di pipi Alek.


Dia hanya ingin menenangkan suaminya dan menghapus semua ketakutan yang ada di mata hijau itu.


Jemima kaget ketika Alek menghentikan gerakan tangannya dan meletakkan telapak tangannya di bibirnya. Menciumnya lama. Membuat jantungnya berdebar tak beraturan.


"Jadi itu alasan kamu menemui Matt?" Jemima mengangguk. Membiarkan Alek yang sekarang mengelus-elus tangannya dengan lembut.


"Look at me, Alek." Jemima meminta dengan nada lembut tapi tegas. "Aku bukan mereka. Aku bukan ibumu atau kakakmu. Dan aku juga bukan wanita yang kamu temukan di pinggir jalan waktu itu. Jadi aku mohon, jangan biarkan ketakutan itu menghantuimu lagi."


Jemima menahan wajah Alek agar tetap melihatnya ketika Alek berusaha menghindari tatapan matanya.


"I'm sorry, Jemima. But I can't."


"Of course, you can! Kamu hanya perlu mencobanya. Please?"


"How?" Jemima terdiam mendengar pertanyaan Alek.


Bagaimana caranya menghilangkan ketakutan suaminya? Apakah dengan meminta Alek untuk mempertahankan bayi mereka? Jemima bahkan belum bisa memastikan kalau dia benar-benar hamil. Bagaimana jika ternyata dia tidak hamil?


"Later. Kita akan memikirkan bagaimana caranya nanti. Setelah kita mendapatkan kepastian aku hamil atau tidak. " Hanya itulah kalimat yang terlintas di pikiran Jemima saat ini.


Jemima menggeleng. "Mungkin besok."


"Perlu aku temani?" Lagi-lagi dia menggeleng.


"Aku akan meminta Astrid menemaniku besok. Kebetulan dia ada di sini. Aku boleh pergi dengannya besok, kan?"


Jemima melihat suaminya tersenyum dan memekik kaget ketika tiba-tiba Alek mengangkat tubuhnya ke dalam pangkuan.


"Pertanyaan bodoh macam apa itu? Kamu boleh pergi ke manapun, asalkan memberitahuku terlebih dahulu."


"Maaf, karena sudah membuatmu khawatir."


"Maaf juga karena aku sudah marah. And Thank you." Jemima mendengar Alek berbisik..


Dia mengalungkan lengannya ke leher Alek dan tersenyum lembut. "Pleasure is mine."


Mereka terdiam cukup lama. Hanya saling menikmati hembusan napas satu sama lain, tanpa ada satu pun kata terucap. Dahi mereka melekat erat. Berada di pangkuan Alek membuat Jemima merasa tenang.


——


"Siapa dia, Alek?"


Alek mengerutkan kening mendengar pertanyaan istrinya. Mereka masih berpelukan. Namun kali ini posisi mereka sudah berpindah ke atas ranjang. "Maksudmu?"


"Tadi, sewaktu kamu marah kamu mengatakan 'bagaimana kalau dia menyakitimu?' Jadi aku bertanya--siapa dia yang kamu maksud?"

__ADS_1


Alek melonggarkan pelukannya dan berpura-pura membenarkan letak selimut. "Sudah malam. Sebaiknya kita bicarakan ini besok."


"Another secret? Ada berapa banyak rahasia yang kamu sembunyikan?"


Alek bisa merasakan istrinya bergeser menjauh dan menarik selimut hingga sebatas bahu. Memunggunginya.


Dalam hati dia mengumpat. Alek tidak ingin mereka yang baru saja berbaikan kembali bertengkar.


Pelan Alek ikut menggeser tubuhnya. Memeluk istrinya dari belakang. Dia mengecup puncak kepala Jemima cukup lama.


"Namanya Nikolay Xanderov. Dia orang yang ingin mengambil alih perusahaanku. Hanya saja--dia sering melakukan tindakan-tindakan yang seringnya mencelakai orang lain demi mencapai keinginannya."


"Orang Rusia?"


"Ya. Setelah kita tiba di London waktu itu, aku mendapatkan kabar bahwa salah seorang pegawaiku ditemukan tewas."


Alek bisa merasakan tubuh Jemima menegang. Tapi, dia sudah berjanji pada dirinya akan mengatakan semuanya kepada istrinya.


"Itu alasanmu mengajakku pulang ke London tiba-tiba?"


"Ya. Beritanya bahkan sudah ada di koran. Dia ditemukan tewas di hari kita menikah."


Kalimat terakhirnya berhasil membuat Jemima tersentak. "Matt mengatakan kalau dia tewas dibunuh."


Kali ini istrinya sudah dalam posisi duduk tegak. Menatap cemas ke arahnya.


"Tenang, Jem. Itu hanya dugaan sementara waktu itu. Setelah diselidiki, pegawaiku itu meninggal karena bunuh diri."


"Apa ini ada hubungannya dengan si Rusia itu? Siapa namanya?"


"Xander. Panggil saja seperti itu. Ya. Bisa dibilang ini ada hubungannya. Dia orang suruhan Xander."


"Lalu, apa kaitan si Rusia ini dengan kekhawatiranmu malam ini?"


Mau tidak mau Alek ikut bangun dan mengambil ponselnya yang ada di nakas. Dia memperlihatkan satu pesan masuk yang pernah dikirimkan Xander kepadanya. Pesan yang berisi ancaman.


"Ini—tanggal pesan ini dikirim, ketika aku jalan-jalan di taman waktu itu? Apa ini alasan kamu begitu mengkhawatirkanku saat itu?"


Alek mengelus puncak kepala Jemima. Mengangguk membenarkan. Baru dia sadar ternyata Jemima wanita yang cukup cerdas. Dia bisa mengerti semuanya tanpa Alek harus menjelaskan dengan begitu rinci.


"Alek..ceritamu ini benar-benar membuatku takut. Tidak bisakah kamu hidup dengan normal?"


"Tenanglah, Jem. Aku bisa mengatasinya. Sebaiknya kita tidur. Ini sudah terlalu larut."


"Satu pertanyaan lagi." Istrinya memotong cepat. "Kenapa nenekmu memilihku untuk dijadikan istrimu?"


Cukup lama Alek terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Karena dirinya sendiri tidak tahu alasan sebenarnya kenapa neneknya memilih Jemima. Dia juga tidak pernah menanyakannya.


"Aku tidak tahu." Jawaban singkatnya membuat istrinya tidak puas. "Aku benar-benar tidak tahu. Kalau kamu mau, kita akan pergi ke rumah nenek dan menanyakannya langsung. Untuk saat ini--aku sangat lelah dan butuh tidur."


"Tomorrow? Promise me, Alek."


Alek tidak menolak maupun mengiyakan. Dia menjawab dengan menarik Jemima ke dalam pelukannya dan mulai memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2