
"Dari mana saja kalian? Aku sudah menunggu selama berjam-jam!"
Jemima menghentikan langkahnya tiba-tiba. Beberapa hari tidak bertemu dengan Madam Rowena, membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Mungkin dia kaget dengan bentakan yang baru saja ditujukan kepadanya dan Alek. Mungkin juga masih ada sisa ketakutan di dalam dirinya ketika bertemu wanita tua itu.
Yang mana saja itu, tetap bisa membuat nyali Jemima menciut seketika.
"Kami hanya sedang berjalan-jalan, Grandma." Alek menariknya mendekat dan memeluk pinggangnya mesra. "Ada perlu apa nenek datang kemari?"
"Hah! Perlu kau bilang? Kalianlah alasanku datang kemari. Kenapa kalian tiba-tiba pulang ke London tanpa memberitahuku?"
"Aku ada urusan mendadak, Grandma. Dan urusan itu tidak bisa kutinggalkan begitu saja."
"Urusan apa yang lebih penting dari bulan madu kalian? Ambil ini." Madam Rowena melemparkan dua tiket penerbangan ke atas meja. "Aku ingin kalian berangkat secepatnya. Dan berikan aku cicit. Segera," lanjutnya.
"Stop, Grandma!!" Jemima tersentak mendengar suara Alek yang meninggi. Pelukan di pinggangnya mengencang. Membuatnya menahan ringisan.
"Tidakkah yang Grandma lakukan ini melebihi batas? Nenek menyuruhku menikah. Sudah aku lakukan. Dan sekarang apalagi? Berhentilah mengatur hidupku, Grandma."
"Alek! Dia nenekmu berbicaralah dengan lebih sopan." Jemima menyentak tangan suaminya dengan kasar.
Kali ini Alek sudah keterlaluan. Tidak seharusnya dia berbicara sekeras itu kepada orang yang lebih tua. Meskipun orang itu adalah Madam Rowena yang Jemima takuti setengah mati.
Alek memicingkan mata ke arahnya. Dan berkata pelan, "Jangan coba-coba ikut campur." Lelaki itu kemudian pergi meninggalkan dirinya bersama Madam Rowena.
"Maafkan Alek, Madam. Dia tidak bermaksud..."
"Urus saja urusanmu sendiri. Aku menikahkanmu dengan cucuku bukan hanya untuk mengajaknya jalan-jalan. Berikan saja aku cicit secepatnya."
Mulut Jemima hanya bisa terkatup rapat. Wanita tua itu melenggang pergi tanpa memandang ke arahnya. Raut mukanya begitu dingin. Tapi, sekilas dia bisa melihat raut dingin itu memancarkan kesedihan.
—–
Ini sudah yang ketiga kalinya Jemima mondar-mandir di dalam kamarnya. Hatinya masih terasa sakit membayangkan perlakuan Alek dan neneknya tadi. Mereka berdua mengatakan penolakan yang sama.
Rasa sakitnya semakin menjadi ketika terngiang kalimat terakhir Madam Rowena. Memangnya dia ini apa? Mesin pembuat anak?
"Punya anak itu juga butuh proses. Apa wanita tua itu tidak mengetahuinya?" Jemima masih saja mengomel. Merasa tidak terima.
Omelannya memang hanyalah sebentuk kekesalan yang coba dia tumpahkan. Sebenarnya, ada hal lain yang membuatnya tidak bisa tidur dan terus mondar-mandir sejak tadi.
Alek.
Lelaki itu belum keluar kamar. Bahkan setelah neneknya sudah lama pergi. Jemima kurang begitu yakin. Tapi, dia merasa setiap kali disebut kata 'anak', emosi Alek langsung tidak stabil. Dua kali dalam satu hari. Ketika mereka di kantor Alek dan ketika neneknya yang membahas.
Apakah ini ada hubungannya dengan perkataan Alek di kantornya? Bahwa dia benar-benar tidak menginginkan adanya anak?
Jemima menggelengkan kepala kuat-kuat. Masih terlalu dini memikirkan hal itu. Membuat pikirannya melantur kemana-mana.
__ADS_1
"Haruskah aku mengetuk pintu kamarnya dan membahas ini?" tanya Jemima. Lebih kepada dirinya sendiri.
Jemima menimbang-nimbang dan akhirnya memutuskan untuk menemui Alek di kamarnya. Tapi, begitu sampai di depan kamar Alek, dirinya merasa ragu. Apa yang akan dia katakan ketika mereka berhadapan nanti?
Terlalu banyak berpikir membuatnya mengurungkan niat. Dia berbalik untuk kembali ke kamarnya. Suara teriakannya menggema ketika tiba-tiba tangannya ditarik masuk ke dalam kamar Alek. Lelaki itu kemudian mengunci pintu kamarnya rapat-rapat.
——
Bayangan itu terlihat melalui celah kecil di bawah pintu. Berdiri diam, kemudian berbalik, dan kembali lagi ke depan pintu kamarnya. Tanpa melihat pun Alek tahu siapa yang ada di balik pintu itu.
Alek sengaja membiarkannya. Menunggu seberapa berani istrinya itu mengetuk pintu di hadapannya. Setelah beberapa lama pintu kamarnya tak juga terbuka, dia merasa gemas sendiri.
Saat bayangan istrinya berbalik pergi, Alek bergerak cepat. Membuka pintu kamar secepat yang dia bisa dan menarik Jemima masuk. Kemudian menguncinya rapat.
Kini, wanita yang dia tunggu kehadirannya itu berdiri merapat pada pintu. Sementara dirinya menahan tawa melihat raut ketakutan di wajah mungil istrinya.
"Kenapa kamu tidak jadi masuk? Padahal kamu berdiri cukup lama di depan pintu ini." Alek sengaja meletakkan satu tangannya di atas kepala Jemima. Sementara tangannya yang lain membelai lembut pipi istrinya.
"Aku....aku...." Tawa Alek hampir meledak melihat kegugupan istrinya.
"Oh. Aku bisa asumsikan bahwa kamu setuju untuk pindah ke kamar ini mulai sekarang. Jadi, Jemima...bisa kita mulai sekarang?" bisiknya di dekat telinga istrinya.
"Mulai—apa????"
Tawanya tak bisa dibendung lagi. Begitu kerasnya hingga air matanya keluar. Pupil mata Jemima yang membesar karena kaget. Ditambah ketakutan yang dia perlihatkan. Terlihat lucu di mata Alek.
"Aku hanya bercanda. Maaf. Dan maaf juga atas ucapanku tadi di hadapan Grandma."
Tubuh Jemima mulai rileks. Perlahan kedua tangan wanita itu juga diletakkan di kedua pinggangnya. Membalas pelukannya.
"Kamu dimaafkan."
Mereka bertahan di posisi itu selama beberapa saat. Tidak ada yang bersuara ataupun bergerak. Hanya desahan napas masing-masing yang saling beradu.
"Ada apa sebenarnya, Alek?" Suara Jemima lirih. Ada nada kekhawatiran yang menyertainya.
Alek terpaksa menyudahi pelukannya dan berjalan menuju ranjang.
"Apa kamu punya waktu semalaman untuk mendengarkanku bercerita?" ucapnya sembari menepuk sisi tempat tidur yang kosong. Mengundang Jemima untuk mendekat.
Keraguan membayang di wajah istrinya. Hanya sementara. Karena setelah itu, Jemima sudah duduk manis di sampingnya. Siap untuk mendengarkan.
——
"Jadi, sejak kecil nenekmu selalu mengaturmu? Kamu tidak pernah membantah?"
Mereka berdua saling berimpitan di atas ranjang. Masih dengan pakaian lengkap. Duduk di pinggir ranjang sembari bercerita selama berjam-jam ternyata juga melelahkan. Karena itulah mereka mengubah posisi. Bercerita di atas ranjang sambil berbaring. Tanpa melakukan apa-apa.
__ADS_1
Selimut menutupi separuh badan mereka. Kepala Jemima dia letakkan di atas dada Alek. Sementara tangan kanannya memeluk pinggang suaminya erat.
Suaminya menggeleng. Matanya terlihat lelah. Sinar kehijauannya bahkan sudah semakin meredup.
Jemima menertawakan dirinya sendiri. Tadinya dia sudah berpikir yang bukan-bukan. Bahwa Alek akan mengambil kesempatan. Kenyataannya, dia terlalu berpikiran negatif tentang suaminya.
"Kenapa tidak pernah?" tanyanya lagi. Penasaran. Alek bukanlah tipe orang yang mudah menyerah. Jemima tahu itu.
"Karena nenekku itu seorang diktator." Jawaban Alek kurang memuaskannya. Pasti alasannya lebih dari itu.
"Kamu tidak mempercayaiku." Jemima menyurukkan kepalanya lebih dalam ke dada Alek. Kini giliran dirinya yang menggelengkan kepala.
Jemima bisa merasakan tarikan napas berat suaminya sebelum menjawab. "Karena hanya dialah yang aku punya. Sejak kecil aku bergantung padanya. Bukan hanya aku, tapi seluruh keluargaku bergantung kepadanya."
"Bisa kubayangkan. Mafia memang cenderung seperti itu, bukan? Diktator, suka memerintah, sedikit kejam."
"Sorry?"
Jemima terduduk karena gerakan Alek yang tiba-tiba. "Apa?" tanyanya tak mengerti.
"Yang kamu katakan baru saja. Mafia?"
"Ohh. Tidak perlu kaget seperti itu. Aku sudah tahu semuanya." Jemima menguap lebar. Merasakan matanya sudah semakin berat.
"Dan—darimana kamu tahu?"
"Lelaki yang waktu itu nenekmu kejar."
"Lelaki yang mana, Jemima?"
Jemima merebahkan kembali tubuhnya di atas kasur. Dia menguap lagi. "Apa aku belum bercerita kepadamu tadi?"
"Sejak tadi, Jemima sayang{akulah yang bercerita. Bukan kamu."
Jemima sebenarnya sudah sangat mengantuk. Tapi melihat rasa penasaran di wajah Alek, membuatnya tidak tega. Secara singkat, dia akhirnya bercerita tentang liburannya waktu itu ke London. Dan pertemuan pertamanya dengan Madam Rowena.
"Ada lagi yang ingin kamu tanyakan, Tuan Alek?"
"Tidak. Sekarang sudah hampir pagi. Dan kamu terlihat sangat mengantuk. Tidurlah, Jemima."
Alek membenarkan letak selimutnya. Tak berapa lama, lelaki itu turut merebahkan tubuhnya. Lengan kekarnya menariknya mendekat.
Alek memposisikan lengan kanannya sebagai bantalan tidur. Jemima tidak pernah merasa senyaman ini. Begitu hangat dan terlindungi.
"Sebelum kamu benar-benar tertidur, aku ingin mengatakan satu hal kepadamu, Jemima."
"Hhmm." Jemima menjawabnya dengan mata terpejam.
__ADS_1
"Nenekku bukan seorang mafia."